
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
"Aku ngerti, Ra! kamu orang biasa, meski di hatimu ada cinta sulit dilukiskan saat kamu merasakan perih dihianati. Aku tidak sengaja melakukan kesalahan itu, karena aku selama ini tidak pernah menyentuhnya sedikit pun." ucap Rangga yang terus memelukku.
"Iya, kookie!"
"Saat marah luapkan kemarahanmu, jangan kau simpan!"
Kini Rangga mengusap airmataku dan kami pun langsung menuju mobil Rangga. Ia membuka pintu mobil untukku, sebelum menutupnya Rangga mengecup dahiku juga hidung dan bibirku.
Barulah kami menuju rumah sakit, Rangga mengusap rambutnya yang gondrong dan ia masih suka rambutnya diblonde. Damage. Sesekali Rangga menoleh ke arahku dan ia memainkan maniknya membuatku tertawa.
Dan akhirnya kami tiba di rumah sakit, kulihat Rangga melangkah dengan santai. Kuingat dulu ia amat gelisah berada di rumah sakit dan terus memburuku untuk segera pulang. Tapi malam ini tidak.
Tiba-tiba ada sebuah kereta kosong yang di dorong para perawat hampir saja mengenai perutku, tapi Rangga menahan kereta itu. Karena para perawat sedang asyik bercanda tak menyadari kereta kosong itu hampir mengenai orang lain.
"Eh, bu kalau jalan itu liet-liet dong!" omel seorang perawat.
"Kalian yang hati-hati, jika menyakiti istri dan anakku maka akan kutuntut!" tegas Rangga.
"Eh, masa udah nikah istrinya muda begini kayak cabe-cabean!" seloroh seorang perawat, mengundang tawa para perawat lainnya.
Rangga membuka masker yang menutupi wajahnya membuat para perawat kaget dan terpukau,"Kalian tidak perlu kerja di sini lagi."
"Hah, ini bapak Rangga Ryuga ya. Maafkan saya, bapak!" ucap perawat yang menghinaku cabe-cabean tadi.
Suamiku setiap kegiatannya dan kekayaannya akan tersiar di media sosial dan media layar kaca. Membuat semua orang mengenalnya, tersebut CEO Playboy internasional. Banyak duit dan bertubuh macho. Sekarang sudah beristri.
Selesai memperkenalkan rupa damagenya, ia pun menarik ponsel di saku celananya dan ia memerintahkan asistennya untuk datang ke rumah sakit dan memberhentikan berapa perawat yang hampir saja memyakiti perutku.
Asisten itu seorang lelaki tampan langsung datang dan ia langsung mengurus pemecatan berapa perawat tadi dengan pihak rumah sakit swasta ini. Dan datang pula bodyguard Rangga menghalangi para perawat tadi memohon ampun pada suamiku.
"Sayang, kamu kok gitu main pecat-pecat anak orang."
"Kamu dan anakku lebih berharga dari kehadiran mereka."
__ADS_1
Aku diam,ini menandakan sifat Rangga tidak suka dengan orang lain.Dulu ia sempat memakiku dan juga membuat Louise muntah darah di club Sultan. Dia memang tipe tak pernah menganggu orang lain, dan jangan coba-coba mengganggu miliknya.
Kupasrah akan keputusan Rangga, kini kami sampai di ruang tunggu icu. Semua yang hadir kebanyakan OB kantor, mereka langsung berdiri melihat kami datang.
Mas Odi menyerahkan kursi untukku dan Rangga, kuacuhkan itu dulu. Aku memilih menemui suter di ruang tunggu icu.
"Mba apa bisa menjenguk pasien Ariel?"
"Tidak bisa, bu karena pasien sudah kritis dan sudah pompa jantung. Mohon doanya."
Aku terdiam, kulihat Ariel di dampingi orangtuanya dan juga dokter dan perawat lainnya. Mereka memompa jantung Ariel, aku tak sanggup melihatnya.
Rangga memelukku,menenangkanku. Aku berusaha tegar dalam pelukan suamiku. Rangga merapikan rambutku dan juga merapikan maskerku yang terbuka sejak tadi kini ia membawaku ke ruang tunggu.
Kami duduk dan Mas Odi menyodorkan roti bakar yang baru saja ia beli juga ada minuman kopi susu untuk Rangga dan teh susu hangat untukku.
Mas Odi memberanikan diri mengajak Rangga ngobrol, tapi Rangga menjawab seperlunya saja. Karena dengan orang asing susah buat Rangga bicara.
Tak berapa lama kedua orangtua Ariel ke luar dari ruang icu, keduanya menangis sejadi-jadinya. Semua OB langsung menghampiri orangtua Ariel, tapi saat aku akan ikut Rangga menahan tanganku untuk tetap duduk tenang.
Lantas aku yang menenangkan kedua orangtua Ariel itu, dan mengajak mereka duduk di kursi yang ingin ku ambilkan dan dibantu Mas Odi.
"Bapak bos, kami ini orang tak punya. Dulu bapak menebus biaya rumah sakit ibu saya sampai membeli kami rumah. Kini bapak membiayai biaya rumah sakit putra sulung kami, tak tahu bagaimana menebus kebaikan bapak." ucap bapak Ariel dengan airmata berlinang.
"Tenang bu, semua itu keikhlasan suami saya." pelanku dengan mengusap pundak bapak Ariel.
"Kami tak bisa menebus kebaikan ibu dan bapak." sambung ibu Ariel.
"Saya menghargai dan menghormati setiap karyawan saya, tanpa mereka takkan berdiri perusahaan itu!" tutur Rangga tegas tapi menangkan perasaan yang mendengarnya.
Terlihat manik puluhan ob basah usai mendengar pengakuan bos besar mereka,sedangkan diriku berusaha menahan tangisku. Tak ingin berlebihan menangisi hal yang bearti bagiku, tapi keadaan aku telah bersuami.
Aku berusaha mengatur nafasku menahan kesedihan yang dalam, dan aku bangga dengan suamiku. Begitu menyayangi karyawannya walau hanya ob, tak menyangka dari sifat acuhnya selama ini.
"Kini bagaimana keadaan anak ibu dan bapak?" tanya Rangga.
Kedua orangtua Ariel menunduk, mereka tak hentinya menangis membuat kami semua terheran dan menyimpan seribu tanda tanya.
__ADS_1
Rangga menatapku dan memberi isyarat dari pandangannya untukku segera duduk di sebelahnya. Segera kuturuti perintah suamiku, dan Rangga langsung menggenggam tanganku.
"Ariel sudah berpulang ke Rahmatullah." Mas Odi yang menjawabnya.
Terjadilah tangisan akbar di ruang tunggu ruang icu, Rangga menatapku yang sedang berjuang menahan tangisanku.
"Saya dan keluarga besar PT. Elang Grub turut berduka cita, bu dan pak. Dan segala keperluan akan Elang Grub urus!" ucap Rangga.
Suamiku memerintahkan asistennya yang tadi diminta mengurus pemberhentian paksa para perawat yang hampir memyakiti perutku, diperintahkan mengurus kepulangan jenazah kekasihku dan mengurus pemakaman beserta segala acara kematian sesuai adat dan ajaran agama yang diinginkan keluarga Ariel.
Kutatap langit-langit rumah sakit, berusaha menepis segala bayangan orang yang teramat mencintaiku.
Dan bersama Rangga, kami memasuki ruang icu. Kulihat lelaki yang bersamaku sebelum dipersunting Rangga. Lelaki yang sering membeli chesee burger, lelaki yang selalu membantuku mengerjakan pekerjaan kantor.
Kini tugasnya di dunia telah usai. Diriku tak ada yang bisa kulakukan, selain mengikhlaskan kepergiannya. Setiap pertemuan, akan ada perpisahan.
Kini semua sudah diproses,Rangga mengajakku pulang duluan dari karyawan lainnya. Sampai di mobil Rangga menjalankan mobilnya dengan tetap ia diam.
Kemudian ia menepikan mobilnya di taman kota, taman tetap jalan di malam hari. Ia tidak turun, tapi Rangga menyentuh dan menggenggam tanganku.
"Sayangku, istriku terima kasih kamu menghormatiku sebagai suamimu. Kini menangislah, menangislah dalam pelukanku!"
Brugh! kupeluk tubuh kekar Rangga dan barulah kumenangis sejadi-jadinya. Diriku tak bisa bersama dan membahagiakan kekasihku di detik-detik terakhirnya.
Mengingat segala kebaikannya, kini semua tinggal kenangan. Tak bisa dilihat,dirasakan, selain hanya dikenang.
"Aku tahu kamu menyukainya, kini ikhlaskan kepergiannya. Berdoalah untuk kebaikannya!"
"Iya, Kookie! kamu udah lakukan terbaik untuknya, terima kasih Kookie!" ucapku sesenggukkan.
"Aku akan lakukan apa pun itu untuk membahagiakanmu, istriku!"
Rangga mempererat pelukannya dan ia mencium dahiku.Manusia hanya bisa berencana, dan Tuhan penentu segalanya.
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...
💋💋💋
__ADS_1