GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
Sebuah Kesempatan


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


Bangun tidur kulihat Al tidak menggangguku, ia pulas tidur di sofa di depan teve. Kubuatkan teh susu hangat dan kumasakan nasi goreng untuk sarapannya.


"Kak, bangun yuk!"


Kududuk berjongkok di dekat Al, kulihat lucu melihatnya tidur. Kucolek hidungnya membuatnya terganggu, ia pun menggeliat dan bangun. Al tersenyum melihatku duduk di depannya.


Al mengacak-acak pucak rambutku, kemudian ia bangun. Setelah mandi kemudian kami sarapan bersama.


Kulihat Al menambah porsinya, ia begitu lahap menikmati nasi goreng kampung buatanku. Masak mewah seperti Al, jelas aku belum menguasainya. Hanya sup iga yang kubisa, selain itu tidak sama sekali.


Usai makan aku dan Al rebutan mencuci piringnya, ia membuatku tertawa hingga akhirnya Al yang mencuci semua piring dan aku hanya menyusunnya saja.


Kini kami menonton televisi bersama, sesekali kulihat Al menelepon sekretarisnya untuk mengatur semuanya dan terdengar ia mengcancel berapa pertemuan. Aku merasa tak enak hati Al melakukan semua ini hanya untuk bersamaku.


***


POV Rangga.


Kumenggeliat dan terkejut melihat Luna masih tertidur pulas, ia masih nyenyak dalam selimut. Segera aku meninggalkannya, duduk di ruang santai meregangkan tulang leherku.


Aku bingung kenapa seumur hidupku menjadi seeprti ini dengan Luna. Aku berusaha menolak setiap ajakan kala ia mabuk, tapi kenapa saat ini kulepas kendali.Semalam aku menyukainya tapi tidak lagi sekarang.


Anehnya ketika dilabrak Rara dan Al membuat niatku tidak goyah berbuat hal di luar batas ini,dan aku kerasukan apa menodai adik angkatku seperti semalam.


Kuraih ponselku dan kulihat tak ada chating atau panggilan dari istriku, sepertinya ia sedang merasakan kemarahan yang besar. Dan kulihat Rara mengganti foto profil aplikasi hijaunya, di mana dulu ia memasang fotonya sendiri duduk di ayunan di rumah.


Kini hanya tangan sepasang kekasih, kurasa ini hanya tangan yang ia dapat dari google. Dan aku stres bagaimana menjelaskan dengan Rara.


Kurasa ia tidak tahu jika aku bertahan di kamar ini dan tetap merajut hubungan terlarang ini. Aku yakin Rara akan mengira aku pergi meninggalkan Luna. Yang jadi permasalahan adalah apa penyebabku ingin melakukan hubungan terlarang itu.


"Sayang!"


Kulihat Luna sudah bangun, ia datang mendekatiku dan merebah dalam pelukanku. Sebenarnya aku risih, tapi aku berusaha menahan sikap tergangguku. Tak bisa lagi menolak manjanya. Meskipun bagiku tetap istriku yang terbaik.


"Sayang, kita jalan-jalan yuk!" rengek Luna membuatku tak enak mendengarnya.


Aku menarik nafas dalam-dalam,"Aku ada meeting nanti dengan Al dan yang lainnya."


"Aku ikut ke kantor ya, sayang."


"Jangan nanti apa kata Rara."


"Aku mohon, aku gak mau jauh dari kamu."


"Terserah!"

__ADS_1


Luna tersenyum dan membelai daguku.


"Aku mau pulang sekarang, nanti kujemput jika diizinkan Rara!"


"No, aku gak mau kamu begitu. Aku tak mau luka lagi, aku beneran sayang kamu sayang!"


Aku tak mau berdebat. Aku pulang biarkan Luna mau mandi dan ganti baju sendiri, itu urusan dia. Dalam kejengkelan aku pulang.


Sampai di rumah kulihat kosong, sepi. Aku berjalan memasuki kamar Rara, hatiku pedih melihat kamar ini tak berpenghuni.


Coretan lipstik masih ada di kaca riasnya, membuatku semakin jengkel kenapa aku melakukan itu. Berangkat kerja terasa malas, tapi aku harus kerja. Semoga aku bertemu istriku.


Sehabis sarapan langsung berangkat ke kantor, tadi mengirim pesan singkat pada Luna. Aku katakan diminta papa pulang karena ada perlu. Berdusta. Hatiku dibuat jengkel sosok yang kusayangi selama ini.


Sampai di kantor membuat kesal mendengar laporan Kirana, Al membatalkan pertemuan. Mau apa lagi kakakku itu,membuatku penasaran dia membawa istriku kemarin. Apa benar Al menyukai Rara. No, itu omong kosong.


Al sulit jatuh cinta, secantik Luna pun ia tolak apalagi bocah ingusan itu. Membuatku semakin jengkel.


Aku masuk ruang kerja dulu, merelaxkan fikiranku nanti ingin bertemu Al. Aku harus bertemu. Harus.


Ceklek!


Tanpa permisi Luna membuka pintu ruang kerjaku, ia mengenakan dress menunjukkan belahan dadanya. Aku menarik nafas panjang.


Luna berjalan mendekatiku dan duduk dipangkuanku, ia membelai rambutku.


Pintu ruang kerjaku di ketuk, aku berusaha mengangkat tubuh Luna tapi ia enggan, ia malah memelukku dan berusaha mencium bibirku.


"Na, turun nanti itu Rara."


"Aku juga mau jadi istri kamu kok, jadi aku gak mau turun."


"Turunlah!"


"Cium dulu."


Luna memajukan bibirnya, aku tetap berusaha menolaknya. Aku terus mengelak dan ketika ia berusaha menjelajah dada bidangku segera aku bangun, membuat Luna hampir terjatuh. Tapi kuacuhkan begitu saja.


Tak berapa lama pintu terbuka, aku berdebar melihatnya namun lega yang datang adalah Kirana. Kirana menundukkan kepalanya melihatku dan Luna berdekatan, ia meletakkan berapa berkas.


Kuchek dahulu dan beberapa laporan penting, segera kutanda tangan dan serahkan pada Kirana lagi. Sekretarisku langsung pamit kembali ke mejanya.


Hatiku merasa gatal ingin bertanya soal Rara, tapi tak mungkin. Aku tak mau orang mengetahui kemelut rumah tanggaku.


"Na,aku antar kamu pulang ya soalnya aku ada urusan."


Luna menggeleng membuatku bingung harus bagaimana, ia berubah begitu cepat. Setelah ia dingin kini ia bucin denganku dan berhasil membuatku terperangkap.


***

__ADS_1


Kembali pada POV Rara.


Kini aku dan Al jalan-jalan ke wahana di resortnya. Aku dan Al tertawa melihat anak-anak dan orang dewasa bermain suka cita.


Kulihat Al membeli gulali lagi, aku tertawa dan menikmatinya. Tiba-tiba tubuhku ditarik, aku dan Al terkejut melihat Rangga datang.


Aku tepis tangan Rangga dan ia mengejarku,"Aku mau bicara!"


"Tak ada yang harus dibicarakan!"


Rangga menarik tanganku membuatku berhenti melangkah, aku berbalik dan kutatap manik Rangga dari dekat.


"Ra, aku minta maaf. Aku tak bermaksud melakukan itu."


"Aku tak perduli."


"Aku tak ingin kamu pergi."


"Apa? tak ingin aku pergi, kamu kira aku mainan. Dengar Rangga, aku sudah mengambil keputusan bulat dan aku mengizinkanmu bahagia dengan pilihanmu."


"Maksudmu?"


"Aku akan mengurus surat cerai kita, aku lebih membutuhkan surat cerai ketimbang itu ini yang tidak penting."


"Semudah itu kamu mengambil keputusan cerai, kamu tak akan bisa hidup tanpaku."


"Hey, kata siapa? dulu kamu merebutku darinya dan sekarang dia akan merebutku darimu."


"Maksudmu?"


"Kau pilih Luna dan aku pilih orang yang lebih baik darimu."


Aku menyenggol Rangga dan berlalu kembali pada Al yang melihatku dari jauh.


"Kau pilih Louise?"


Aku berhenti melangkah, kenapa Rangga mengingat Louise. Rangga ingat malam berdarah di club Sultan dulu, saat ia merebutku dari Sugar daddy yang membokingku.


Biarkan ia memikirkan siapa lelaki yang kumaksud, aku masa bodoh. Kini kutarik tangan Al mengajaknya meninggalkan wahana, kami melangkah pergi menjauh membiarkan Rangga mematung di sana.


'Melihatnya membuat hatiku panas, ingin rasa hati menjadi psikopat saja. Mengikat Rangga lalu memutilasi hidup-hidup. Fikiranku gila karena sakit hati.'


'Membuatku semakin benci dengan Luna, walau dia orang asing tapi bagiku sangat benci dengan kehadirannya. Kurasa Al menolaknya karena tahu sifatnya murahan. Semudah itu mengajak Rangga bercinta.'


'Kuingat jika bukan terjebak tak akan diriku kehilangan kehormatan. Kini menyesal menikah dengan lelaki bejat itu.' kuterus membatin dengan berjalan tetap kupegang tangan lelaki pengganti pilihan hatiku. Biar Rangga patah hati.


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...


💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2