
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
Kubuka pintu kamarnya, Rangga masih tidur. Hatiku berdebar takut ia bangun dan memakiku. Kubuka lemarinya dan tetap kusiapkan stelan jasnya. Dan kusiapkan juga sepatunya. Semoga Rangga menyukai baju pilihanku. Juga kuambil baju kotornya.
Rangga begitu pulas tidur dalam keadaan mabuk. Dia tampan dalam keadaan seperti itu. Menggemaskan. Tapi tidak pada sikapnya, bertolak belakang dengan pesonanya.
Ceklek!
Kubuka pinta kamar Rangga, ia menggeliat segera kututup kembali. Diriku pun segera mandi dan ganti pakaian. Dalam hatiku berharap semoga bertemu Al di kantor nanti. Karena ia jarang berkunjung, dia mengerjakan cabang Elang Grub di tempat lain.
Setelah selesai kubuka pintu kamarku dan berpas-pasan dengan Rangga, terlihat ia menatapku. Aku menunduk takut menatapnya. Aku takut api kemarahannya belum padam.
Kami bersama berjalan turun ke bawah. Rangga berjalan duluan, dia tambah tampan mengenakan jas yang sudah kusiapkan. Tak lupa tadi kusiapkan celana yang ia butuhkan.
Karna kemarin pagi karena celana sampai mahkotaku jadi korbannya. Sampai meja makan Rangga duduk di kursi yang sudah kusiapkan. Ia menatapku menyendok nasi goreng sayuran sosis ala diriku.
Kami makan dengan kidmat. Aku sudah belajar makan dengan cara seperti ini. Sangat baik dan nafsu makan stabil. Usai makan Rangga meminum susu yang kusiapkan. Segera kurapikan perabotan makan.
Saat Rangga menuju mobilnya kuikuti, kini menutup pintu dulu. Kulihat Rangga tancap gas, segera kuberlari mengejarnya bagaimana aku bisa kerja jika ditinggal. Aku lelah berlari.
Aku pun duduk kelelahan berlari dan terlihat dari jauh mobil Rangga mundur dan sampai di hadapanku. Rangga membuka langsung pintu untukku. Aku segera masuk.
Saat aku sudah duduk terlihat CEO mesum itu tersenyum dan melajukan mobilnya lagi. Kami diam tak bersuara sampai di kantor.
Rangga langsung ke ruangannya dan diriku ke belakang. Semua OB menatapku sinis kecuali sahabatku Siska, Gebi, Deodoran, dan Dana karena aku datang bukan pada waktu OB.
"Eh liet deh OB baru kesiangan terus."sindir OB wanita yang hobinya berdandan.
Aku berlalu menghela nafas. Baru mau meletakkan tasku wanita itu langsung menghampiriku memintaku membeli beragam kopi untuk para karyawan divisi produksi.
Aku tak berkata apa-apa langsung menerima daftar menu kopi dan uang dari wanita itu. Langsung menuju kopi shop terdekat yang kemarin kudatangi bersama Al.
Menuju wanita yang menunggu langsung menyerahkan daftar menu. Karena pagi masih sepi jadi begitu cepat proses pembuatan pesanannya. Saat akan berbalik seorang lelaki berjas hitam menabrakku.
Laki-laki itu tampan dan tersenyum kepadaku, aku cukup menganggukan kepalaku lalu segera berjalan. Sampai di pintu kopi shop kumenoleh ke arah lelaki yang menabrakku tadi. Dia masih menatapku dan kembali ia memberiku senyum yang manis.
Aku segera berlari menuju ojek onlineku. Langsung tancap gas. Sampai di kantor langsung menyerahkan kopi pesanan dengan bertanya karena belum hafal nama karyawan devisi produksi.
__ADS_1
Setelah itu saat kembali ke belakang lagi diriku mendapat tugas di minta membersihkan toilet, karena dikatakan karyawan mengeluh bau dan kotor. Seingatku bukan bagianku bagian kamar mandi. Aku menurut saja sebagai karyawan masih baru.
Kini menyikat seluruh lantai kamar mandi, selanjutnya oh tidak menyikat kloset. Bagiku bersih tapi dipantau wanita yang merupakan asisten mas Odi.
"Bapak." seru semua wanita OB senior yang berdiri di pintu kamar mandi mengawasiku.
Aku ikut menoleh. Yang datang CEO. Semua wanita yang menghalangi pintu itu mundur memberi jalan pada CEO siapa tahu mau masuk.
"Siapa yang memerintahkan dia membersihkan kamar mandi ?" tanya CEO.
"Saya, pak. Dia ini sering terlambat, jadi suruh bersihin ini aja mana tuh masih kotor." kata wanita itu.
CEO memasukkan kedua tangan ke saku celananya dan ia terus menatapku.
"Siapa yang berani memberi perintah di luar perintahku pada Rara akan mendapat teguran dariku langsung. Ayo Rara, pergi dari sini." titah CEO membuat wanita-wanita itu terkaget.
Aku tersenyum dan segera bangun meninggalkan kamar mandi. Kini ikut Rangga.
"Kutelpon kenapa tidak angkat ?"
"Hapeku hilang."
"Buatkanku kopi susu sekarang."
"Oke,"
Rangga meninggalkanku dan aku langsung menuju dapur kantor. Meracik kopi susu dan mengantarkannya ke ruangan Rangga.
Sampai ruang Rangga kuletakkan kopinya, kulihat Rangga sedang mengetik di laptopnya.
"Ra, tunggu duduk dulu saya ada perlu."
Aku menghentikan langkahku dan duduk di sova putih. Kulihat ada majalah jadi kubaca saja. Saat kutarik majalah umum. Banyak artikel pengusaha di dalamnya. Membosankan baca ini karena tidak sejalur dengan otakku.
Rangga terus mengetik dan sambil ia menerima panggilan dari telepon dan ponselnya. Dan menunggu orang sedang bekerja membosankan. Kini kulihat Rangga menutup laptopnya dan ia segera bangun.
Dengan senyum menggodanya Rangga mendekatiku membawa kopi susunya. Rangga duduk di sebelahku. Ia terus menatapku.
Kini Rangga menarik tanganku, aku langsung berkeringat dingin. Rangga terus menggenggam tanganku.
__ADS_1
"Mau apa sih, kak ?"
"Ya mau dekat kamulah."
Aku tercengang mendengarnya, dasar CEO mesum. Kutarik tanganku membuat alis Rangga angkat ke atas. Ia tersenyum melihatku.
Usai menyeruput kopinya Rangga bersender ke sova dan tangannya mengotak-atik ponselnya. Tak berapa lama pintu ruang Rangga di ketuk Kirana, mengatakan ada Al yang ingin bertemu.
Rangga menyuruh Al langsung masuk tanpa merubah posisinya Rangga tetap menempel di sisiku dan tangannya berusaha menarik tanganku.
Al menatap kami serius lalu ia tersenyum dan duduk di dekat kami. Al tertawa kecil melihat Rangga sedang bermain ponsel berusaha menarik tanganku.
"Ada apa, kak ?"tanya Rangga.
"Mau antar ponsel, Rara."
Rangga menghentikan bermain ponselnya dan meletakkan ponselnya di atas nakas. Rangga melihat Al meletakkan ponselku yang langsung kuambil dengan girang.
"Kamu kemana dengan Luna semalam ?" tanya Al pada Rangga.
"Aku menemaninya ke bar."
"Sampai tengah malam, apa kamu tidak memikirkan Rara ?"
"Ini semua karenamu, kak kenapa menolak Luna. Kau yang bersalah dan kau tidak bertanggung jawab."
"Perasaan itu tidak bisa dipaksakan."
"Aku mencintai Luna, jadi jangan pernah lukai perasaannya. Paham!"
"Hargai istrimu."
Rangga membuang nafas beratnya dan ia kembali bersender. Al tetap tenang tidak seperti Rangga dengan nafas memburu tak beraturan.
Aku diam saja tak berani bersuara jika Rangga sedang menyalakan api kemarahannya. Karena tingkahku bagai bahan bakar, kala menyentuh api akan menghantam semuanya terbakar.
Cukup semalam Rangga marah atas tamparanku maka jangan mengundang itu terjadi lagi. Coba saja suamiku Al, tidak akan buruk seperti sekarang. Salah bersikap bersiaplah akan nasib diulah Rangga.
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...
__ADS_1
💋💋💋