GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
Berita Duka


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


Baru selesai mandi bareng Rangga ponselku berdering begitu nyaring. Karena rumah ini tak ada suara, maka bunyi ponselku membahana. Saat akan meninggalkan kamar Rangga, ia menarikku untuk memberi kecupan di keningku.


Aku tersenyum pada Rangga, menuju kamarku membawa baju-bajuku dan sambil mengenakan handuk melilit tubuhku langsung kuangkat ponselku. Kulihat Siska meneleponku.


"Kenapa, Sis?"


"Maaf ganggu, Ra. Gue dapet kabar duka, Ariel kecelakaan sekarang kritis."


Ariel kecelakaan dan kritis. Aku panik begitu panik. Aku segera mengenakan pakaianku dan menarik slimbagku.


Tok!


Tok!


Tok!


Kugedor pintu kamar Rangga begitu kuat dan aku langsung membukanya, Rangga yang berbaring tersentak terkejut melihat kedatanganku.


"Kak, anterin aku yuk."


"Ke mana?"


"Rumah sakit, Ariel kecelakaan dan dia kritis."


Rangga segera bangun dan meraih topi dan maskernya. Dan kami langsung menuju rumah sakit. Rangga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga kami cepat sampai di rumah sakit.


Aku langsung berlari menuju ruang informasi mencari ruangan perawatan Ariel, di icu. Sambil berlari aku terus mencari letak icu. Cukup pusing dalam keadaan seperti ini mencari sebuah ruangan, dicari terburu-buru. Akhirnya sampai.


Saat akan masuk aku dihalangi petugas icu karena jam besuk sudah habis, semakin membuatku menangis sejadi-jadinya. Aku memeluk Siska dan Gebi ikut memelukku.


"Gimana bisa begini, Sis?" tanyaku dengan suara sudah mau habis karena terlalu terisak dalam tangisan.


"Dia lembur, pas ke luar dari kantor langsung ditabrak sepeda motor." jelas Siska.


"Ya Tuhan, Ariel."


"Udah, Ra. Lo yang sabar ini ujian buat bebeb lo." Gebi coba menenangkan hatiku sedang semraut saat ini.


Kumendekati jendela kaca ruang icu, menatap belahan jiwaku terbujur kaku dengan selang disekujur tubuhnya. Menatap monitor detak jantung pun tak bisa. Aku tak tahu harus berbuat apa.


Aku terus menangis memegang jendela kaca ruang icu, terus menatap Arielku. Tiba-tiba ada minuman dingin mengenai pundakku, aku menoleh. Rangga memberiku minuman ion dingin. Kuambil minuman itu dan aku lihat semuanya dapat, kutenggak habis minuman itu.


Hap!


Kupeluk tubuh Rangga dan kembali menangis. Terasa Rangga membelai rambutku sampai ke punggungku. Aku terus menangis, seakan tak mampu lagi merangkai kata mengukir suasana hatiku saat ini. Dan biarkan airmata ini yang berbicara.


'Aku merasa akulah orang terjahat pada Ariel. Sudah menghianatinya sampai saat ini, saat Ariel membutuhkanku aku terhalangi dengan lelaki yang kupeluk saat ini' batinku berteriak.


Airmata terus membanjiri pipiku, hidungku terasa tersumbat penuh akan isak tangis tak berkesudahan. Aku menetap di tepi jendela, masih menatap tubuh kaku Ariel. Kuyakin dia mengharapkanku saat ini.


Tapi aku sudah tak bisa berada di dekatnya, aku benci rumah sakit memiliki aturan seperti ini. Dia membutuhkanku.

__ADS_1


"Ra."


Rangga menyapa dan mengusap pundakku.


"Kita pulang,yuk."


Aku menggeleng. Aku kekasihnya. Aku harus tetap di rumah sakit.


"Sudah larut malam lho, Ra." lagi bisik Rangga.


Aku tetap menggeleng dan kudorong tubuh Rangga. Dan Siska segera menarik tanganku. Membawaku ke koridor yang jauh dari icu. Kulihat Rangga menatapku dari kejauhan.


"Ra, lo pulang ya." bujuk Siska.


"Gila, lo nyuruh gue pulang. Gue ini kekasihnya."


"Ra, inget lo udah punya suami."


"Ariel butuh gue."


"Ra, kami bisa jaga Ariel. Lo mesti inget posisi Rangga di sini. Dia atasan kami semua dan dia suami lo."


"Tapi, Sis ...,"


"Ra, plis gue mohon lo balik ikut suami. Dia dari tadi ngikutin lo, udah beliin minuman dan makanan buat semua di rumah sakit. Tanpa sepengetahuan lo, dia udah biayai rumah sakit ini buat Ariel." ungkap Siska mengejutkan.


"Apa lo bilang, Rangga ngelakuin itu semua?"


"Iya, Ra. Lo harusnya bersyukur punya suami kayak dia jadi gue mohon lo pulang ya."


Aku menatap Rangga dari kejauhan, bahwa saat aku terus menangisi cerita pahitku dia melakukan semuanya untuk Ariel.


Siska mengangguk dan memelukku.


"Lo nikah sama siapa, Ra?"


Miss lebay mengejutkan. Aku menarik nafas panjang karena kuketahui dia begitu memuja Rangga. Bisa benci bukan main saat ada wanita di kantor mendekati Rangga, apa jadinya jika dia tahu.


"Kasih tau sekarang, Ra." pinta Siska.


Aku menggeleng. Dan kukecup dahi Gebi. Aku pun berlalu meninggalkan mereka berdua. Kutatap Ariel dari cermin, hatiku berharap ia segera membaik. Bersamaan dengan kami pulang adalah Al, dia ikut mengantar Siska dan Gebi dan menetap sampai aku dan Rangga datang.


Di mobil diriku diam dengan pandangan kosong. Aku bingung harus bagaimana. Hatiku tak jelas. Aku membayangkan campur aduk. Membingungkan.


Rangga juga diam, dia tidak seperti biasa yang selalu membuat hal yang jahil tapi malam ini dia membiarkanku meratapi kisah hidupku.


Sudah sampai rumah aku segera turun dan duduk di ayunan, aku butuh ketenangan. Aku terus memikirkan Ariel. Aku khawatir Ariel sedang kritis jika tina-tina mendapat kabar kalau dia menghembuskan nafas terakhirnya. Itu yang sangat menakutkan.


"Ra, masuk yuk."


"Kakak saja, aku butuh ketenangan."


"Ini udah tengah malam, kamu harus istirahat."


Aku keukeuh di ayunan dan Rangga mendekatiku, lalu ia ikut duduk di ayunan. Tangan kanan Rangga menggenggam tanganku.

__ADS_1


"Ra, aku tahu kamu memikirkan dia tapi jangan menyiksamu. Kamu harus istirahat."


Aku menatap manik Rangga, dia tidak biasanya bicara lembut soal Ariel. Dia selalu marah-marah saat bicara soal Ariel.


"Aku gak tenang mikirin kekasihku kritis."


"iya, tapi kamu sudah nikah lho."


"Kak, kita ini cuma nikah kontrak harusnya kamu biarin aku sama Ariel di rumah sakit. Dia butuh aku."


"Aku butuh kamu."


"Apa? kakak mau berbuat itu lagi?"


"Apa maksudmu?"


"Harusnya kakak tidak menyentuhku, karena kita cuma nikah sementara dan bentar lagi udah berakhir."


"Rara, kamu kenapa bicara begitu?"


"Aku mau ke rumah sakit malam ini, aku takut tak bisa lagi bersama Ariel."


"Aku ini suamimu."


"Ariel itu calon suamiku sesungguhnya."


Terlihat Rangga menekan gigi gurahamnya dan nafasnya tak beraturan. Rangga menarik tanganku, meski kulawan tenaga Rangga tak bisa di kalahkan.


Rangga menyeretku ke lantai atas dan barulah ia melepas tanganku. Kulihat tanganku memerah.


"Ambil surat kontrak itu sekarang, aku akan mengizinkanmu pergi."


Aku terdiam melihat Rangga, dan ia memasuki kamarnya. Tak berapa lama Rangga ke luar kamarnya.


"Mana surat kontraknya?"


Aku diam dan berjalan menuju kamarku. Kubuka lemari bajuku dan kuambil surat kontrak pernikahan kami. Dengan perasaan takut kuserahkan surat itu pada Rangga.


Rangga mengajakku ke taman belakang, aku semakin takut. Dan kulihat ia mencari sesuatu di dapur. Kini kami di taman belakang.


"Ra, kamu lihat cuaca saat ini."


Aku melihat langit tak berbintang dan kurasakan dingin malam ini. Mendung menutupi langit biru.


"Sebentar lagi hujan." kataku pelan.


"Kamu lihat ini."


Kulihat Rangga meletakkan surat kontrakan itu di atas batu hamparan yang di kelilingi rumput hijau.


"Kakak mau apa?"


"Jika hujan membatalkan surat kontrakan ini terbakar maka akan kuantarkan kamu ke rumah sakit dan tidak akan menjemputmu lagi. Tapi jika cuaca membiarkan surat ini tetap terbakar dan hangus, maka kamu seutuhnya menjadi istriku."


Manikku menatap surat kontrakan resmi antara aku dan Rangga di atas batu itu dan kulihat lagi awan semakin pekat menutupi langit. Aku diantara dua pilihan. Hatiku berharap di sisi Ariel tapi hatiku berat meninggalkan Rangga. Tuhan, berilah aku sebuah jawaban.

__ADS_1


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...


💋💋💋


__ADS_2