
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
Chiiiit!
Al berhenti di depan kantor. Dan lagi security terkejut melihatku turun dari mobil Al, aku hanya tersenyum saja pada bapak-bapak perut roti isi itu.
Bersama Al memasuki kantor dan kembali diriku jadi pusat perhatian.Acuhkan saja, biarkan mulut mereka mengerjakannya. Mau dijelaskan nanti malah aku yang salah faham, mereka mengagumi kakak iparku. Kurasa begitu.
"Kak, sini kopinya."
"Ini, saya ke ruang Rangga dulu ya."
"Oke, makasi kakakku."
Dia tersenyum dan langsung berjalan menuju ruang Rangga.Aku perbaiki dulu posisi kantongnya takut kopinya tumpah, sekarang sudah siap diantar. Saat tak sengaja melihat Al, dia berbalik dan tersenyum lagi padaku.
Kubalas senyuman Al dan langsung menemui para pemesan kopi. Membuka kantong dan mengantar ke tiap meja, ini rutinitas yang jarang tidak kulakukan.
"Ra, kamu mesra banget dengan CEO?" tanya seorang karyawan.
"Memangnya kenapa?" kubalik bertanya.
"Kamu keluarga CEO ya?"
Aku tersenyum, tak menyangka akan mendapat pertanyaan ini. Harus ngeprankah diriku saat ini. Aku belum siap mengatakan posisi sesungguhnya.
"Rara!"
"Eh,iya ada apa mba?"
"Orang bertanya itu dijawab, kamu ini siapanya CEO sampai digandeng masuk kantor?"
"Dia jangan-jangan adiknya deh,beb." sambung karyawan lainnya.
Aku masih berkutat dengan kopi, mencari nama pemilik dan mengantarkannya ke meja pemesan.
"Mungkin juga beb, karena tadi sama pak Al deket banget."
"Wah, kita jangan main-main sama nih anak. Bahaya jika dia ngadu ke abangnya, brabe!"
Aku dengar ghibah dua mama muda itu dan berpura tak tahu saja.
"Rara, sayang makasi ya kopinya. Kamu baik banget." ucap pengghibah.
Tersenyum, mengangguk lalu kembali ke ruang OB. Aku tak tahu lagi ghibah apa yang akan kuterima di ruang OB nanti, di ruang devisi ditebak adik dua CEO tampan itu.
Ceklek!
__ADS_1
Kubuka ruang OB, terlihat para OB tak seberapa. Aku masuk dan duduk di bangku panjang.
"Sudah kamu antar kopinya, Ra?" tanya Ani ratu ghibah.
Aku mengangguk. Ani mendekatiku dan ia menatapku begitu sinis.
"Berapa bayaran untukmu dari CEO Rangga?" introgasinya.
"Eh, mba Ani kok ngomong begitu?" cegat Siska.
"Saya tidak bicara sama kamu!" gertak Ani.
Para OB saling bertatapan serius.
"Jawab, Ra!"
"Mba sudahlah, jangan tanya hal-hal aneh deh sama Rara." bela Siska.
"Saya tidak bicara sama kamu, jadi jangan buang-buang waktu membela pelakor cabe-cabean kayak dia."
"Mba, dia ini bukan cabe tapi dia ini adalah ...!"
Kututup mulut Siska, manikku mengisyaratkan jangan bongkar posisiku saat ini. Semakin membuat suasana ruang OB tegang.
"Ra, lo simpanan CEO gue ya?" desak Gebi.
Aku tersenyum saja, sebenarnya nanti memberitahu Gebi tapi dia malah menebak diriku selingkuhan orang yang dia puja.
Aku haus memdengarnya, saat akan pergi mengambil minuman Ani menahanku. Dan para geng Ani menghadang jalanku. Para sahabatku pun ditahan yang ingin membantuku.
"Kamu harus serah uang keamanan jika mau hubunganmu tetap aman, jika tidak saya akan memberitahu istri CEO Rangga!"
Aku menarik nafas panjang dan geng Ani menggeledah bajuku, mereka mengambil uang yang kuselipkan di saku bajuku.
"Mulai sekarang kamu adalah budak kami, ingat jika kamu melanggar. Aibmu akan kami bongkar!"
Aku tetap diam dan berusaha menahan senyuman. Bahagialah sementara. Berapa menit lagi akan kulibaskan mahluk aneh seperti Ani.
Merasa senior semua junior dibully sesukanya dan kini dia tidak tahu berhadapan dengan siapa.
"Kamu cuci semua perabotan kotor di kantin!"
"Baiklah." jawabku singkat.
Semua geng Ani membuka jalan untukku dan aku didorong sampai terjatuh ke lantai, mereka semua tertawa. Detik ini masih kunikmati.
Siska dan yang lainnya menghampiriku. Mereka membantuku bangun, dahiku terasa cenat-cenut karena terbentur pintu.
"Ra, kok lo diem sih?"
__ADS_1
"Udahlah Sis biasa aja."
"Tapi Ra, posisi elo itu ting ...!"
Kututup mulut Siska dengan jari telunjukku.
"Ra, lo ini siapanya CEO sih?"
"Cuma OB aja , Geb."
"Tapi lo beda lho dengan kami OB lainnya bahkan tadi mba Ani bilang kalau lo pelakor!"
"Mba Ani aja ngiri kali."
"Eh, Ra awas jika lo berani ngerebut CEO dari istri sahnya. Gue walau sakit hati CEO merid tapi lebih sakit jika lo berubah jadi pelakor!"
Kuacuhkan atensi Gebi, kami berjalan ke kantin. Disusul Dana dan Deodoran. Sampai di kantin kami semua mencuci semua perabotan yang begitu banyak. Petugas kantin tertawa melihat perabotannya dicuci sukarela. Mereka teman Ani.
"Hey, Rara nih sapu ama pel nanti karyawan mau makan gak enak kalau kotor." perintah petugas kantin melempar sapu dan pengepel lantai padaku.
Aku santai menerimanya. Semua teman-temanku melihatku seorang diri menyapu dan mengepel lantai. Setelah itu aku sendiri mengeringkan semua perabotan kantin dengan kain bersih.
Kurasa bajuku basah akan peluh yang bercucuran. Tapi aku nikmati saja. Aku suka dibully karena terasa berkesan saat mereka mengetahui siapa aku sebenarnya.
Kulihat semua teman-temanku ditahan bagai dipenjara, dilarang pergi dan dilarang membantu. Kurasa para orang ghibah tak mau teman-temanku pergi, takut melapor pada Mas Odi.
Selesai membersihkan lantai kini di minta pergi belanja segala bahan masakan untuk dimasak di kantin. Kulihat semua sudah di masak tapi mereka masih memberikan diluar tugas.
Meninggalkan teman-teman aku segera ke pasar. Membeli banyak terigu, mentega, aneka sayuran, dan daging-dagingan. Apes saat uang yang diberikan kurang.
Untung saja saat ke pasar kubawa tasku, jika tidak maka aku kekurangan dana. Kugunakan uang pribadiku. Juga untuk ongkosku ojek online nanti.
Kini kumerasa lelah berjalan membawa banyak belanjaan. Kulihat jam masih lama untuk makan siang, aku berhenti di sebuah warung makan. Aku isi perutku dulu buat tenagaku.
Aku memesan lontong sayur saja. Saat menikmati kulihat ada seorang lelaki berjacket panjang sampai dilututnya dan ia mengenakan topi dan masker. Mirip dengan ah! sudahlah jangan halu. Sekarang saatnya makan.
Aku makan satu porsi terasa kurang. Aku memesan satu porsi lagi. Makan dengan lahap seperti orang begitu kelaparan. Menghabiskan dua porsi lontong sayur dan tiga gelas es teh. Begitu mengenyangkan.
Kini saatnya membayarnya. Kulihat penjaga toko itu tersenyum dari jauh melihatku.
"Berapa mba?"
"Sudah dibayar Mas itu mba."
Mataku terbelalak dan melihat ke arah orang berjacket tadi, dia duduk di pojokan ujung sambil membaca surat kabar. Kudatangi orang itu.
"Mas, terima kasih."
Dia hanya mengangguk. Lalu dia pergi meninggalkan mejanya. Dia tidak mau membuka surat kabarnya, kacamata, atau maskernya, tapi sudahlah ini keberuntunganku. Kutinggalkan warung saja dan membawa banyak belanjaan. Melihat lelaki itu berjalan jauh masuk ke dalam pasar, siapakah orang itu.
__ADS_1
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...
💋💋💋