
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
Aku memesan coffelatte pada pelayan perempuan yang tak tahu kenapa dia senyum-senyum tak karuan melihatku dan Louise. Sampai ia pergi masih menoleh melihat kami dan kembali senyum-senyum sendiri.
"Kamu ke mana waktu itu tidak mengejarku lagi?"
"Kakiku menendang vas bunga dari semen, sakit minta ampun. Setelah membaik aku mencarimu, tapi kamu menghilang."
"Aku takut kita akan ...!"
Louise tersenyum mendengar kalimatku yang menggantung. Ia bersender ke kursinya.
"Aku normal, Ra. Jika kita tidak berada di kamar mungkin aku tak akan senakal itu. Seperti saat kita tidur di ayunan, aku tetap melindungimu dari gerimis kecil malam itu."
Kulompatkan pandanganku ke tempat lain, mencoba menerawang akan peristiwa malam itu bahwa memang Louise tidak menyentuhku sama sekali. Hanya di pagi itu tubuh kami tak lagi bersekat.
Seakan saling memompa semangat untuk berperang, tapi kesadaran menyadarkanku menahan nafsu membahana itu. Dia teman suami. Mantan calon penikmat tubuhku saat gila dulu.
"Sudahlah jangan bahas itu lagi, Ra!"
"Oh,iya kak. Kita bahas lain saja."
"Hey, sahabat munafik!" semprot Gebi membuat suasana kopi shop tegang.
Kulihat tatapan Gebi begitu tajam, setajam silet. Melebihi tatapan Rangga yang menyeramkan.
"Mba, tolong jangan buat keributan di tempat saya. Jika melanggar saya akan mengusir anda!" keras Louise.
Segera kutarik tangan Gebi ke luar kopi shop takut ia akan bermasalah dengan Louise. Pengunjung kopi shop sangat ramai jam istirahat. Kuseret Gebi sampai di ujung parkiran.
"Gebi, lo kenapa sih?"
"Hey, munafik. Kenapa lo rebut CEO Rangga. Diam-diam lo nikah dengan dia, hati gue sakit tau."
"Oh,ya. Sakit? sakit mana dengan berhianat?" tanyaku keras.
Gebi melemah, ia terdiam dan tatapannya datar seketika mendengar pertanyaanku.
"Aku tidak bisa menolak keinginan CEOmu, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku juga tidak mencintai dia, tapi takdir menyatukan kami. Dan hatiku lebih sakit sudah berpisah dengan Ariel kini menghadapi penghianat sepertimu."
Gebi tak bersuara.
"Jawab Gebi, jawab. Rangga itu bukan pacar lo, dia cuma bos yang lo puja setengah mati. Apa gue salah menikah dengannya? coba lo inget perbuatan lo main gila dengan calon suami sahabat lo, gila mana?"
Gebrak!
Gebi mendorongku sampai tubuhku menimpa deretan sepeda motor, membuat semua sepeda motor terjatuh. Dan kurasakan nyeri pada tulang rusukku mengenai motor.
Dan ada Al yang membantu mengangkatku. Juga ada petugas parkir membantu mengangkat semua motor yang roboh ulah Gebi mendorongku tadi.
Al membawaku ke mobilnya, tak ingin ada orang julid. Sampai di mobil Al segera melajukan mobilnya menjauhi kopi shop.
"Ra, sakit gak?"
"Sedikit kak, nyeri pada rusukku!"
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit ya, cek keadaan rusukmu."
"Tidak usah, kak."
"Nanti parah, Ra!"
"Semoga tidak sampai begitu, kak."
"Ini kamu mau ke mana, biar saya antar."
"Aku tak punya tujuan, kak. Fikiranku sedang kacau."
"Kita ke taman ya."
"Baiklah, kak."
Al langsung mengarahkan mobilnya menuju taman tempat kami sering bersantai. Dan tidak butuh waktu lama kami sudah sampai.
Sebelum turun kuusap rusukku dengan minyak kayu putih yang sering kubawa. Dan barulah ikut Al turun. Kami bersama berjalan ke taman. Lalu memilih lokasi duduk yang teduh dan nyaman.
Al melihat ada abang penjual gulali, ia mendekati abang itu dan membeli dua gulali. Aku tersenyum melihatnya. Kini mengemut gulali yang lucu berbentuk bebek.
Begitu pun Al terlihat lucu mengemut gulalinya berbentuk bebek juga. Rasanya begitu manis. Gulali tempo dulu.
"Hmm, Ra bagaimana sih sampai kejadian kayak di kopi shop itu?"
"Em, ada masalah pribadi dengan temanku, kak!"
"Masalah pribadi?"
"Jangan dibiarkan, Ra! takut memicu dendam. Lebih baik saat emosi sudah mereda segera diselesaikan."
"Iya, kak. Nanti Rara akan menemuinya."
Al tersenyum dan mengajakku jalan-jalan lagi. Dengan riang gembira aku mengajak Al menuju wahana bermain anak-anak.
Kali ini aku naik komidi putar bersama Al. Lucu sekali permainan ini. Duduk santai dan menatap dari ketinggian seratus dua puluh satu meter. Lucu-lucu ekstrim.
Usai bermain komidi putar aku mengajak Al menaiki kuda poni putar, tapi Al sama dengan Rangga menolaknya. Jadi aku naik ditemani anak-anak saja, merasa menyenangkan.
Dan dilanjutkan kami jalan-jalan sambil menikmati es krim vanila, aku antara suka dan kehausan aku memakan empat es krim. Aku tak tahu sekarang lelah sedikit nafsu makanku bertambah. Jika tidak makan perutku akan miscall.
"Ra, kita makan yuk sekarang."
"Makan apa, kak?"
"Ya, makan apa saja yang kamu sukai."
"Aku mau makan nasi, kak."
"Lauknya?"
"Terserah yang penting makan nasi, karena aku tersiksa makan quaker oats!" keluhku teramat tersiksa.
"Quaker oats, bagus dong itu Ra."
"Tapi aku terbiasa nasi, kak."
__ADS_1
"Lalu kenapa pilih quaker oats, cantik?"
"Itu pilihan Kak Rangga."
Al tersenyum dan ia fokus menatap jalan. Kuajak Al singgah di warung goyang nasi padang saja. Aku tak mau nanti Al kembali membawaku ke restoran elite dengan menu harganya puluhan jut, aku tak ingin menguras dompet kakak iparku.
Sampai di warung Al tersenyum melihat menuku, banyak sekali. Kuah pun ada berapa macam kuambil. Ayam pun seperti orang kerasukan hantu, berapa potong ayam. Rendang pun bagai baru pertama kali makan, porsinya jumbo.
Aku menikmati semuanya dengan lahap. Hampir habis tapi aku merasa sudah kenyang. Al porsinya sedikit dan ia penyuka makanan kering, kulihat nasi Al tetap putih bersih sedangkan nasiku warnanya sudah melebihi warna pelangi.
Perut kenyang kembali kami jalan-jalan cuci mata. Akhirnya Al mengajakku ke resortnya. Aku berdebar memasuki kawasan resortnya. Kuingat kejadian absurd dengan Louise dulu. Benar-benar menegangkan.
Kami bersantai di tepi pantai menikmati pemandangan yang indah. Dan Al mengajakku bakar cumi dan ikan, aku suka yang namanya makan karena kembali aku merasa lapar. Rasa merdeka tidak ada Rangga, jika ada dia menunya quaker oats saja.
"Ra, ini cuminya sudah matang." Al memberiku berapa potong cumi bakar.
Kuambil cumi itu dan selagi panas kucolek dengan mayones dan langsung santap. Panas dan manis daging cumi bakarnya membuatku mencoleknya lagi, lagi, dan lagi.
"Nafsu makanmu bertambah ya, Ra."
Aku tersenyum dan mengangguk. Aku tak bisa menjawabnya karena mulutku penuh. Aku makan habis berapa potong cumi bakar. Kini Al mengajakku menyangap ikan bakarnya. Aku merasa masih mau, makan lagi. Sampai aku menyerah membuat Al tertawa.
Melihat Al masih menyantap ikannya kuraih ponselku, dan mataku terbelalak melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Rangga. Aku lupa ponselku dalam keadaan silent.
Dan kulihat jam menunjukkan pukul sebelas malam. Aku tak menyadari aku lupa pulang. Tapi kurasa tak mengapa karena Rangga menginap di luar kota malam ini.
Kulihat ada lambang pada status aplikasi hijauku, dari Rangga. Biasanya Rangga tidak pernah membuat story aplikasi hijau. Kulihat hanya sebuah pesan -Bisakah kita mempercayai orang yang mengabaikan sebuah kejujuran-.
Aku menelan ludah. Aku merasa ketakutan dan bersalah. Semua panggilan dari Rangga kuabaikan. Dan pastilah supir suruhannya itu melaporkan aku tidak ada di rumah.
"Kamu kenapa, Ra?"
"Kak, anterin aku pulang yuk!"
"Hayoook!"
Al menyudahi makannya dan ia segera membersihkan tangannya. Kami langsung menuju mobil dan segera Al tancap gas.
Diperjalanan aku terus diam dengan hati dihantui wajah garang Rangga. Saat ini dia tidak ada tapi aku sudah merusak kepercayaannya.
'Membuatku tambah takut saat sampai di rumah ada mobil Rangga, matilah aku.'
"Kak, aku masuk dulu ya."
"Kamu baik-baik saja kan, Ra."
"Aku baik, kak. Aku masuk dulu ya, kak. Terima kasih!"
Aku berlari meninggalkan Al yang juga langsung pergi. Dalam hati aku berdoa tidak mendapat kutukan dari suamiku.
Ceklek! bunyi pintu kubuka.
"Baru pulang?"
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...
💋💋💋
__ADS_1