
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
Sampai akhirnya di taman kota, selesai membayar ongkos taxi kini langsung memasuki taman kota. Hari ini sangat ramai. Saat memasuki kulihat ada kakek tua menjajakan buah jeruk lokalnya.
Kubeli satu kilo dan kubayarkan lebihnya. Di taman kota lama ini selain asik di sini diizinkan berdagang tapi dilarang memenuhi area taman kota, jadi berdagang seperlunya saja.
Usai membeli jeruk aku kesusahan mencari tempat duduk karena banyak anak sekolahan berkunjung ke sini, jadi susah saat baru memasukinya.
Kulihat ada satu bangku putih kosong, aku harus segera ke sana sebelum diduduki orang lain. Dengan kesusahan aku menerobos rombongan anak sekolahan yang sedang asik selfee di pintu masuk taman kota.
Brugh!
'Aw'
Ketika duduk tak sengaja aku menabrak seorang pria yang sama-sama ingin duduk di bangku putih ini, saat melihat lelaki yang kutabrak itu membuat manik kami sama-sama terbelalak.
"Rara!"
"Rangga!"
Bersama kami jadi celingak-celinguk tapi tetap duduk di bangku ini, karena bangku santai lainnya sudah terisi pengunjung lainnya.
"Kamu sama siapa,Ra?"
"Sendiri, em kookie eh emm kakak emmm kamu sama siapa?" mendadak aku gugup.
Kulihat Rangga tersenyum,"Aku sendiri, masih mau panggil Kookie ya?"
Aku menggeleng. Rangga menarik ponselnya dan kuintip ia memainkan game ninjanya yang kutak mengerti.
Aku pun mengalihkan pandanganku, kulihat ada beberapa anak sekolahan berdiri di dekat kami.
'Ayo kita makan di sana aja, mana sambel matahnya?'
'Itu baru dia ambil di mobil'
'Hey, cepatlah bawa sini sambal matahnya'
Aku menoleh ke arah belakang, kulihat seorang anak perempuan membawa sebuah box besar dalam keadaan terbuka. Dan mereka katakan yang dibawa gadis itu adalah sambal matah untuh cocolan ikan kakap bakarnya.
Gadis itu semakin dekat membuatku panik, kulihat Rangga tetap asyik bermain game. Dan ketika gadis itu lewat tepat di sebelah Rangga, spontan kukupas cepat jeruk yang kubawa dan kusumbat hidung Rangga dengan kulit jeruk.
Membuat Rangga terkejut, ia tidak melepas tanganku tapi ia menatapku keheranan. Sampai gadis itu beserta rombongannya menjauh baru kulepaskan hidung Rangga.
"Kamu kenapa,Ra?"
"Itu, anak-anak itu membawa sambal matah dan aku takut kakak akan muntah lagi saat mencium bau bawangnya."
Rangga tersenyum membuatku bingung, apakah ia merasa lucu panikku ini. Aku hanya ingin membantunya, tapi malah ditertawakannya.
"Kenapa sih, kak?"
"Kamu masih ingat aku muntah ya, aku tambah sayang padamu!"
"Sayangi Luna saja."
"Hey, jangan sebut nama wanita gila itu. Aku benci dengan penipu."
__ADS_1
"Tapi dia mencintaimu."
"Terserah, tapi aku tidak."
Kulihat raut wajah Rangga berubah, sepertinya ia membenci Luna. Dia tidak tahu Luna meminta bantuanku menyerahkan suamiku, damage.
Aku diam tak lagi meneruskan membicarakan Luna. Dan kupandangi Rangga yang bermain game, pertemuan yang tidak disengaja. Seperti sudah digariskan, Tuhan.
"Kak, mau jeruk lokal?"
Rangga melihat jeruk yang kusodorkan, ia mengangguk dan mengambil satu lalu membuka dan memakannya.
Aku suka melihat seorang CEO menikmatinya meski ini buah lokal, tapi kuingat memang hanya buah jeruk yang disukai Rangga.
Sampai akhirnya habis buah jeruknya kami makan bersama. Tapi aku masih lapar, diriku celingak-celinguk mencari orang jualan yang mengenyangkan.
"Kamu cari apa, Ra?"
"Aku masih laper, kak."
"Kamu mau makan?"
"Iya, makan juga mau banyak karena sekarang aku rakus. Lihatlah perutku sudah buncit terlalu banyak makan berlebihan."
Kutarik kaos oblongku dan memperlihatkan perutku sedikit membesar pada Rangga. Tapi aneh, Rangga fokus menatap perutku tanpa ia berkedip sedikit pun.
"Kak, ada yang salah dengan perutku?"
Rangga menatapku sebentar lalu ia melihat perutku lagi, merasa tak enak kututupi perutku dengan slimbagku.
"Ra, apa kamu ada mual?"
"Ish ... ya aku makan cukup kak jadi enggak mual-mual kayak kakak."
Aku menggeleng,"Yang ada juga yang mual itu kakak dan makan cerewet itu ya kakak juga. Emangnya kenapa sih,kak?"
"Apa? aku yang mual dan cerewet, bukan kamunya!"
Aku bingung dengan Rangga,"Kak, kita cari makan dulu yuk aku laper."
Rangga mengangguk, akhirnya kami putar-putar cari makanan yang bisa dimakan Rangga karena ia susah soal makanan saat ini.
Dia tak ingin makan yang berkuah, karena dia tak suka baunya. Akhirnya kami makan sate, kulihat Rangga seperti orang kerasukan. Sama seperti diriku menghabiskan lima porsi plus lontong mungilnya.
Usai makan kami segera pulang, aku bersedia diantar Rangga pulang. Tapi aku tidak mengajaknya ikut menginap, diriku masih mau sendiri.
Rangga pun langsung pamit pulang. Aku benar tak menyangka bertemu Rangga dan bersamanya seakan lupa rumah tangga kami sedang dilanda masalah yang besar.
***
Di malam harinya aku duduk santai di teras kosan. Duduk melihat jalanan setapak mulai sepi. Dan dari jauh manikku menatap lelaki bertopi dan berswiter hitam mengenakan celana jeans panjang. Serba hitam.
"Hey cantik!"
Lelaki itu membuka tutup kepala switernya, Louise. Dia tersenyum dan duduk di sebelahku.
"Aku sudah tahu kabar rumah tanggamu, makanya aku mencarimu untuk menghiburmu."
Aku diam, dan mataku amat berat karena memang sudah berkali-kali menguap. Merasa mengantuk berat.
__ADS_1
"Makasih, kak. Tapi besok saja kita ngobrol karena aku sudah mengantuk."
Louise melihatku, ia mendekati diriku. Aku menguap lagi tiba-tiba Louise mengecup bibirku membuatku terkaget.
"Kakak mau apa?" panikku.
"Aku merindumu, Ra. Maafkan aku, jika mengantuk tidurlah."
Aku mengelap bibirku dan aku segera masuk ke rumah. Segera kukunci pintunya dan langsung mematikan lampu kamar, terjun ke dunia mimpi.
***
Pov Rangga.
Mataku terbelalak melihat mobil Louise ada di depan gang kos Rara. Aku datang ke sini mau menjemput Rara, karena mama ingin bicara dengannya. Karena ada hal yang kuceritakan pada mama tadi.
Aku segera turun dan berjalan menuju kos Rara, kulihat pintu kos tertutup. Kupegang knop pintu dan kubuka, tidak terkunci.
Lampu semua mati,aku menyelinap masuk. Mencari adakah suara di dalamnya. Tapi tak ada suara siapa-siapa.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka dan langsung kunyalakan lampu rumahnya.
"Rangga!"
"Louise!"
Louise tersenyum dan ia menjilat bibirnya sendiri.
"Mana istriku?"
"Dia sudah tidur."
"Kau apakan istriku?"
"Dia bukan lagi istrimu."
"Siapa bilang?"
"Dia sendiri, dia tidak membutuhkanmu."
"Katakan kau apakan istriku?"
"Aku hanya memuaskannya malam ini."
Tanpa basa-basi kulayangkan dua tonjokan di wajah Loiuse, ia meraba bibirnya yang berdarah dan lagi ia tersenyum.
Kutinggalkan Louise, segera masuk ke kamar. Kunyalakan lampunya. Kulihat baju Rara tetap utuh begitu pun tempat tidurnya tetap rapi.
Kudekati tubuh Rara dan kucium semuanya mencari adakah bau Luoise melekat di tubuhnya tapi tak ada apa-apa. Rara tertidur begitu pulas.
Kudekati Luoise lagi yang masih ada di ruang tamu, ia tersenyum sinis melihatku,"Kau tidak menyentuh istriku bukan?"
"Kau datang terlalu cepat, baru saja aku mau melampiaskan nafsuku pada wanitaku tapi kau menggangguku."
Aku menarik nafas panjang, tak ingin Rara terbangun kutahan amarahku. Segera masuk ke kamar dan kugendong istriku.
Melihatku menggendong Rara membuat Louise terbelalak dan mulutnya mengangga, aku tak memperdulikan itu. Kubawa pulang bidadariku.
__ADS_1
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...
💋💋💋