GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
Oh, No


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


Sampai di kamar Rangga membaringkanku di ranjang lalu ia membiarkanku. Aku sudah tak sabar. Aku sudah merasa melayang di awan putih empuk nan lembut.


Aku sudah siap saat Rangga datang.Kini aku bersiap kubuka semua bajuku dan kumasuk dalam selimut tebal. Aku merinding disco.


Lama sekali Rangga datang. Aku sudah tak sabar. Pasti dia mandi, tapi baru saja ia mandi apakah mandi lagi. Tubuhnya berkeringat saja tetap harum apalagi jika mandi lagi. Oh Rangga mendekatlah.


Tapi sudah berapa menit Rangga belum juga datang. Bunyi air di kamar mandi kamarnya juga tidak ada. Apakah dia sedang pub.


Kutarik selimut tebal ini, kulihat sekelilingku tak ada Rangga. Pintu kamarnya juga tetap tertutup. Aku bangun dengan tetap menutupi tubuhku karena sudah siap dimangsa macan keceku.


Tapi Rangga tidak ada. Kucari saja. Kuturunkan kakiku tapi kenapa lantai Rangga terasa aneh apakah dia memasang karpet model baru. Empuk-empuk kenyal. Lalu penasaran kulihat, Oh My God.


Bukan karpet tapi Rangga ketiduran di lantai. Aku cepat mengangkat kakiku dan menarik baju-bajuku yang entah di mana-mana kulempar saking tak sabar memulai pertempuran canduanku.


Kini gatot gagal total meremas roti sobek dan menyesap lehernya. Karena mpuhnya tidur pulas. Kumencoba mengangkat tubuh Rangga, tapi sungguh berat.


Tapi kasihan dia tidur di lantai. Akhirnya bedcover kulipat dua lalu kugeserkan tubuh Rangga. Dia tetap pulas. Karena nafsu sudah mendobrak hasratku, kudekatkan wajahku.


Kukecup bibir Rangga dan belai puncak rambutnya, Rangga menggeliat dan matanya tetap terpejam. Aku tersenyum melihatnya. Bagiku dia menggemaskan. Hilang rasa dongkolku selama ini, spontan begitu saja.


Triiiiiing!


Ponselku berdering, kuraba sakuku dan kuraih ponselku. Panggilan dari Al. Kumenjauh dari Rangga tak ingin tidurnya terganggu dengan suaraku.


"Ra,kamu di mana?"


"Di rumah, kakak sendiri?"


"Masih di resort, baru mau pulang dan rencananya ingin mengajakmu jalan-jalan."


"Oh,ya kita mau ke mana kak?"


"Terserah kamu mau ke mana."


"Cafe Esmiralda yuk, kak itu cafe langganan aku sama teman-teman."


"Baiklah, aku jemput sekarang."


"Ajak teman boleh gak,karena sudah lama Siska dan Gebi tidak ke sana."


"Temanmu itu 'kan sakit."


"Astaga, iya aku lupa kak. Emmm ajak Siska ya please."


"Oke, bersiap-siaplah aku langsung ke sana."


Aku tersenyum akan di jemput Al. Kembali kukecup bibir Rangga dan kutinggalkan ia yang masih pulas. Kutelepon Siska dulu.


"Kenapa, Ra?"


"Mau ke Esmiralda gak?"


"Gue gak ada duit."


"Gue ada duit sedikit, kita dijemput CEO Al."


"What? Lo ngembat CEO Al?"

__ADS_1


"Enggaklah, dia anggep gue ini adiknya begok."


"Oh gue kirain Rangga itu kurang buat lo."


"Gila lo, udah lo dandan sekarang dan Gebi mau ikut ajak jika fisiknya oke."


"Gebi sih cuma lemes tapi dia sehat kok, karena bawaan hamil muda aja."


"Oke,gue jemput sekarang.


Tak berapa lama mobil Al datang, kami langsung menuju kosan.Menjemput Siska dan Gebi mau ikut juga. Semoga Gebi tidak lemas seperti tadi pagi.


Dan berjalan sebentar kami tiba di cafe Esmiralda.Kami pilih meja di pojokan. Kami duduk dan memesan minuman semua sama coffelatte dan puding tiramissue untukku dan Al, sedangkan untuk Siska dan Gebi puding mocha dan blackforest.


"Kak, kenalin ini sahabatku."


"Siska."


"Gebi."


Siska dan Gebi berjabat tangan dengan Al.Tapi Al berbeda sejak sampai di kos ia tidak senyum sama sekali, jika diajak senyum maka ia tersenyum manis sekali.


Kini pesanan kami sudah datang dan kami berempat menikmatinya. Ting! ponselku berdering menandakan ada pesan masuk. Kulihat dari aplikasi si hijau.


'Uhuk uhuk'


Aku tersedak dan langsung menyeruput coffelatteku, mataku terbelanga.


"Siapa ?" tanya Al.


"Rangga." jawabku masih panik.


Aku mengangguk.


"Rangga kirim apa?" tanya Al.


"Dia tanya aku di mana."


"Oh."


Aku balas pesan hijau Rangga, kukatakan padanya aku sedang di kosan. Tak berapa lama Rangga membalasnya.


From Rangga;


Sudah bisa bohong ya.


Aku panik, kenapa Rangga berkata seperi ini. Kubalas lagi pesan Rangga.


From Rara;


Kakak di mana?


Terbaca oleh Rangga dan kuamati ia sedang mengetiknya, dan langsung ia balas.


From Rangga;


Aku di depanmu.


Mataku melotot dan mulutku mengangga. Aku melihat lelaki mengenakan kaos oblong putih dan bercelana pendek warna hitam di meja di depan mejaku mengangkat topi hitamnya. Rangga.


Aku panik, entah darimana Rangga tahu aku di sini. Aku menelan ludah. Rangga memperlihatkan tatapan sinisnya dan ia mengirim pesan lagi.

__ADS_1


From Rangga;


Ayo pulang.


Aku menghela nafas akhirnya aku pamit dengan terpaksa karena aku terciduk berbohong pada suami.


"Kak, aku titip dua sahabatku ya."


Al mengangguk.


"Ra, lo pulang sama bos lo ya?" tanya Gebi.


Aku mengangguk karena Gebi belum mengetahui statusku dan Rangga.Kini kuberlari menuju parkiran dan langsung masuk mobil Rangga. Dia langsung tancap gas.


"Bagus ya sudah belajar bohong." sindirnya.


Aku diam merasa takut dan bersalah.


"Makanya harus hati-hati jangan berdusta dengan Rangga."


Rangga menoyor kepalaku dengan pelan lalu ia mencubit hidungku. Tak berapa lama Rangga berhenti, kulihat ia membeli bunga segar dari bapak-bapak yang menjual bunga segar di pinggir jalan.


"Nih." ucap Rangga seraya menyerahkan bucket bunga ros merah untukku.


Kuambil dan kucium bunga mawar ini, cantik dan wangi. Kulihat Rangga fokus menyetir.


"Jangan jadikan berbohong itu kebiasaan,ya." pesan Rangga.


"Maafin,aku ya kak."


Rangga tersenyum dan tanganya mencubit mesra bibirku. Aku malu diciduk Rangga. Dia sepertinya tahu aku meninggalkan rumah.


Kini Rangga parkir di parkiran taman kota. Lalu kami turun bersama dan Rangga mengenakan maskernya karena tak ingin wajahnya terekspos media,dia disadari ingin menikmati santai di taman kota.


Kami duduk di sebuah bangku taman. Rangga mengutak-atik ponselnya dan aku melihat anak-anak sedang bermain.


"Kak, kita naik wahana yuk." ajakku.


Rangga menghentikan utak-atik ponselnya dan ia menatapku lalu mengangguk. Kami langsung berjalan menuju wahana. Aku pilih naik mainan kuda.


Rangga tertawa melihatku seperti anak-anak dan ia memegang slimbagku seperti Al pagi tadi.


"Kak!" teriakku.


Rangga melambaikan tangganya.


"Adidas ya?" godaku.


Rangga menatapku keheranan, ia belum mengetahui makna adidas seperti lelucon Al tadi pagi.


Aku cukup lama berputar dan kini selesai. Aku langsung turun dan mendatangi Rangga.


"Ra,siapa sih adidas itu?"


"Abang di bawah adek di atas." jawabku santai.


Berapa warga yang ikut bermain kuda putar mengolokku mengucapkan makna adidas yang memang viral saat ini. Karena di wahana tadi pagi selalu mendengar kata adidas yang diplesetkan jadi menggemaskan. Rangga yang tak paham ikut tertawa.


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...


💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2