GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
Sebuah Rasa


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


"Apa sih adidas itu?"


"Abang di bawah adek di atas."


Rangga langsung merangkul mesra tubuh mungilku dan berbisik,"Kamu sudah mau main di atas ya?"


"Aish ... maksud aku itu ya aku di atas naik kuda-kudaan."


Aku langsung berlari-lari kecil dan di kejar Rangga. Ia berusaha menangkapku tapi aku selalu berusaha meloloskan diri. Tak perduli orang melihat kami, kami enjoy berlari dengan riang gembira.


Ada bangku yang diduduki sepasang orang ngedate kami putari bangku itu karena Rangga belum berhasil menangkapku. Sepasang muda mudi itu tertawa geli melihat kami.


Dan aku berlari lagi menjadikan abang penjual gulali sebagai tameng menghindari Rangga. Lucu sekali abang gulali tertawa melihatnya.


Dan sambil berlari putar-putar aku memesan gulali karena suka jalan-jalan mengemut gulali. Manis sekali. Tak berapa lama gulali untukku berbentuk hati sudah jadi.


Aku memesannya berukuran jumbo, biar lama kuemut. Tapi saat akan mengambil gulali itu Rangga menangkapku dari belakang.


Rangga memutarkan pelukannya sambil tertawa dan berkata,"Akhirnya dapat."


Aku tertawa juga dibuat Rangga, ia berhasil menangkapku. Kini ia melepas pelukannya tapi tangan kirinya menggenggam tanganku begitu erat.


Usai membeli gulali kami jalan kaki bersama dengan santai.


"Kak, lepasin tangan aku dong." rengekku.


"Bodo amat."


Rangga semakin erat menggandeng tanganku. Menyusahkanku saja. Aku terus mengemut gulaliku sambil sesekali melirik Rangga,CEO menyebalkan seperti orangtua takut anaknya hilang digandeng berlebihan.


"Haichi!"


Rangga bersin, ia membuka maskernya dan membuangnya. Kini Rangga merapikan topinya dan kami kembali melanjutkan perjalanan santai.


Dan ketika melewati sederet mahasiswi Rangga jadi pusat perhatian, semua ladies membidikkan kameranya pada Rangga.


"Dek,itu abangnya ya?" tanya seorang cewek.


Aku dianggap adiknya Rangga, apakah aku tidak mencerminkan sosokku yang sesungguhnya. Bahwa aku adalah isteri cowok yang sedang kalian puja.

__ADS_1


Melihatku halu tak karuan Rangga menghampiriku semakin membuat para ladies panik. Para ladies langsung bertingkah aneh.


Ada yang sampai mengunyah bungkusan snacknya, ada yang minum air di botol terbalik sehingga tumpah,ada yang memetik dedaunan bunga dan memakannya, ada banyak kelakuan aneh mereka ketika Rangga berada di dekat mereka.


Aku hanya diam melihat itu semua. Rangga menarikku, aku masih asyik melihat tingkah absurd cewek-cewek itu.


"Hai, kakak ganteng." cegat seorang cewek mengenakan rok mini dengan atasan switer sewarna dengan Rangga.


Dia dan Rangga saling bertatapan.


"Uuuuuuuuu ... !" goda semua ladies yang ada, se geng dengan cewek itu.


"Boleh gue minta nomor wa nya." cewek itu menyerahkan ponselnya pada Rangga, dengan senyum seksinya.


Rangga menarik nafas panjang dan tak mengubris request cewek tadi, dia malah terus menarik tanganku.


Hap!


Cewek itu menarik tanganku, Rangga menoleh dan melihat ulah cewek itu yang begitu berambisi mendapatkan nomor Rangga.


Aw!


Rangga langsung menggendongku dengan keadaan memikulku terbalik di pundaknya, seperti adegan penculikan. Aku meronta mau turun tapi Rangga tak perduli.


"Kak, kok maen bawa saja adeknya?" teriak cewek tadi.


Rangga membawaku ke mobilnya. Dan ia langsung tancap gas memecah keramaian. Rangga kuperhatikan mengenakan topi memang mempesona, pantas dia diuber para ladies.


"Kak."


"Hmmmm,"


"Kakak."


"Apa sih, kamu mau kepo tentang siapa lagi?"


Kucubit pipi Rangga, membuatnya menatapku dengan manik menggodanya. Lagi Rangga mengulanginya, mengedipkan matanya membuatku menggigit bibirku sendiri. Rangga tersenyum.


"Buruan ngomong mau ngomong apa!" desak Rangga yang kembali fokus menyetir.


"Gak jadi."


"Eh, kok gak jadi!" Rangga menyetir senyum sendiri.

__ADS_1


Aku tidak konsentrasi dengan niat awalku setelah melihat kebiasaannya, cewek mana yang kuat jika cowok kece main mata menggodanya. Mletoy melihatnya.


Kami langsung pulang. Tak lama kami sampai di rumah. Rangga buru-buru memegang tanganku saat akan turun, aku menoleh. Dia tidak mengkerlipkan matanya.


"Ada apa,kak?"


"Ada hal serius yang ingin saya berikan saat ini." ungkap Rangga serius.


Manikku melotot, apa yang ingin ia berikan. Kurasa Rangga tidak terlihat membeli bunga seperti tadi pagi jadi apa yang akan ia berikan.


"Tutup matamu, please!"


Aku mengikuti titah CEO Mesum menggoda ini. Kututup mataku. Rangga melepas genggamannya. Ah! yang kuterima bukan sebuah kado, tapi sesuatu membuatku terbang sejauh mungkin.


Rangga mencharge gairahku, ciuman maut kembali ia berikan. Membuat tubuhku gemetar. Kala dua benda menyatu begitu lembut dan menggoda.


Satu tarikan pelan terasa kurang, naikan amphere tarikan merasa nyeri-nyeri nikmat, dan kurasa masih kurang karena tarikan pertengahan semua tetap standar tanpa gelutan.


Kumencoba lakukan apa yang biasa Rangga lakukan, kusentuh kedua sisi lehernya. Terasa sesuatu, Rangga segera mendekapku membiarkan gunung exotic mendarat di dataran yang begitu luas.


Maka kutambah kecepatan tarikanku, semakin nyeri semakin bergairah. Dan jarak tak lagi terpisah. Benda bawah Rangga kutarik, seperti menyedot minuman cola dingin dengan pipet. Antara nikmat dan kehausan, rakus menggila.


Dan benda kenyal yang tahu semua rasa menari begitu liar, kusambut dengan gerakan kiri kanan. Duet maut. Semua sisi terjamah membuat dua benda kenyal itu menyatu, semakin nyatu. Menghisap dan menggebu nafsu.


Hanya dua benda kenyal membuat keringat membanjiri seluruh tubuh, bagai dihempas hujan penuh kenikmatan. Pipi Rangga pun terasa basah. Memperlicin gerakan wajah naik turun, dan kiri kanan.


Leherku pun merasa cairan peluh mengalir tanpa hambatan, dan tubuh Rangga yang menempel begitu panas. Sepanas keinginan yang tak bisa dipatok lagi, melebihi segalanya.


Cukup lama membuat lelah yang terus menggoda. Rangga melepas hisapannya dan menatapku begitu dekat dengan hidung saling menempel.


"Ke atas yuk." bisik Rangga.


Kuanggukan kepalaku dan kugigit bibir bawahku, berusaha menahan rasa yang menggebu atas bawahku. Rangga tersenyum lalu ia turun dan segera menggendongku.


Rangga mengerti, ia sepertinya paham hasratku yang sudah tidak tahan. Rangga menggendongku dengan duduk di roti sobeknya, maka kutekan benda itu pada roti sobek dan kupeluk Rangga.


Kami berhadapan dan ia terus tersenyum melihatku. Kukecup sedikit bibirnya dan Rangga tersenyum, kubelai hidung bangirnya dan kugigit mesra. Kembali Rangga tersenyum.


Saat akan membuka pintu kamar Rangga, ia menahan tanganku dan langsung ******* benda kenyalku. Hidung Rangga menghembuskan nafas dengan kecepatan luar biasa, dia sudah on tingkat tinggi.


Kubalas dengan gaya yang kusuka, kusedot benda kenyal Rangga. Semakin kuat sedotanku semakin liar kedua tanganku. Menjamah leher basah Rangga dan menarik rambutnya.


Kini Rangga membalas sedotanku, membuatku kesakitan tapi semakin menggila. Hanya sedotan benda kenyal yang kurasa benda di atas roti sobek ini butuh sesuatu. Dia memberontak ingin segera menatap sesuatu itu dan hanya itu yang ia mau.

__ADS_1


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...


💋💋💋


__ADS_2