
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
Kembali jadi sorotan, berjalan bersama lima CEO tampan di kantor. Diriku tetap berdampingan dengan Rangga.
Saat akan memasuki mobil kutarik tangan Rangga membuatnya menoleh dan kukatakan,"Bisakah kita ke rumah sakit izinkan aku menjenguknya."
Rangga menggelengkan kepalanya menolak keinginanku. Driiiiiiing! ponsel Rangga berdering dan ia lihat layar ponselnya dahulu, Rangga melepas tanganku dan berbicara dengan si penelepon itu.
"Aku akan mengizinkanmu ke rumah sakit dengan supir dariku." demikian kata Rangga mengejutkanku secara tiba-tiba.
"Kookie akan pergi juga?" tanyaku lembut.
"Aku akan menemui, Luna!"
GAAARRRRRR!
Serasa ada bunyi guntur menggelegar di siang bolong mendengar nama itu. Diriku menatap Rangga yang sama sekali tidak melihatku.
"Aku yang akan mengantarnya!"
Aku dan Rangga menoleh ke belakang, ada Al mendekati kami dengan damage melebihi standarnya. Rangga diam, ia hanya terdengar menarik nafas panjang.
"Ya sudah, tolong jaga dia!" Rangga memasuki mobilnya dan ia langsung meninggalkan kantor.
"Kamu mau menjenguk siapa ke rumah sakit?" tanya Louise yang masih berada di dekat kami.
"Menjenguk temanku, sakit." jawabku mendapat anggukan dari empat CEO itu.
Dan kini mobil Al tiba, kami pamit pada tiga CEO damage itu dan langsung menuju rumah sakit. Bersama Al berbeda saat ini, diriku kurang menyukai candaan yang sering ia berikan.
Aku banyak diam karena hatiku terus memikirkan keputusan Rangga tadi. Bisa membuatnya lupa waktu.
"Kamu tidak suka Rangga menemui Luna?" Al membuatku tersadar dari lamunanku, aku tersenyum melihatnya.
"Tidak, kak."
"Terus kenapa dari tadi diam, diajak ngobrol tidak direspon. Kasihan aku bicara sendiri."
"Maafin aku, kakakku sayang."
"Apa? bisa diulangi?"
Aku tertawa kecil mendengarnya,"Kakakku damage dan tersayang!"
"Aku juga sayang kamu, sangat menyayangimu!"
__ADS_1
Tak sengaja manik kami berhadapan sesaat, lalu Al fokus menyetir lagi. Ia selalu tersenyum, walau kami tidak ngobrol lagi.
Al memberhentikan mobilnya di toko bakery dulu, ia mengajakku membeli aneka roti lembut untuk Ariel yang kami belum tahu kondisi saat ini. Dengan harapan Ariel sudah siuman.
"Sini!" kata Al mendekatiku dan mengejutkan membuat jantungku tidak aman, ia menggandeng tanganku dan tangan sebelahnya menyentuh kulit ari tanganku.
Aku diam melihat Al yang memilih roti terbaiknya dan selai vanila. Habis membayar roti kami masuk ke mobil, Al tadi special membuka pintu mobil untukku dahulu. Ada apa dengan Al.
"Kamu kenapa diam terus?"
"Hah, em anu eh anu!" aku gugup dan kebingungan.
Dahi Al mengkerut dan alisnya terpaut melihat ke arahku, Al tertawa kecil. Aku juga ikut tertawa, melihatku tertawa membuat Al mengusap puncak rambutku.
Kini kami tiba di rumah sakit. Kami menuju langsung ke ruang icu, yang menunggu Ariel teman kosannya. Kuserahkan roti lembut dari Al kepada teman Ariel, karena Ariel masih tidak sadarkan diri.
Sedang ada jam besuk segera aku masuk diikuti Al, setelah dilakukan chek suhu tubuh dan menggunakan hand sanitizer kini kami diperbolehkan menjenguk Ariel dari dekat.
Di hatiku sangat rindu tapi kehadiran Al membuatku harus menjaga sikapku. Aku hanya melihat Ariel, menahan hati menyentuhnya.
Al mengusap punggungku seakan dia ingin memberi kekuatan batin, mungkin ia bisa menebak orang yang terbaring tak berdaya ini memiliki arti bagiku. Tapi Al enggan mempertanyakannya.
Sampai jam besuk habis kami meninggalkan rumah sakit. Al sesekali menoleh melirikku dengan senyumannya membuatku tertawa melihatnya.
"Kakak kenapa sih?"
"Seneng kamu tertawa lagi, dari tadi kamu diam terus."
"Kita mau kemana nih? kita makan dulu ya."
"Makan masakan kakak aja, gak enak makan di restoran!" protesku berharap belajar masak juga.
"Oke, kita ke apartemenku."
Aku mengangguk. Al mencubit hidungku dengan lembut. Kini kami menempuh perjalanan hampir tiga puluh menit sampai di apartemennya.
Kami langsung naik ke lantai atas dan memasuki apartemen Al, ia tersenyum terus seperti sedang bahagia. Aku melihat Al membuka jas dan dasinya, menggulung lengan kemejanya.
Kini kami berjalan menuju dapur Al. Ia memasak nasi karena sudah kuminta harus ada nasi, aku tidak kenyang makan sebanyak apa pun tanpa nasi.
Dan Al mengeluarkan dari freezernya aneka seafood. Kuikut membantu Al membersihkan lobster dan cumi. Kami sambil bercanda terkadang memercikkan air kran, kadang saling menyenggol, kadang saling mencolek hidung lawan.
Selesai membersihkan lobster dan cumi kini kulihat Al menyiapkan bumbunya dan banyak saus aneka rasa yang kutak mengerti mix aneka saus memjadi sesuatu yang nikmat.
"Kak mau masak apa sih?"
"Teriyaki seafood, praktis sayang!"
__ADS_1
"Hah! sayang!"
Al berhenti mengupas bawang bombay dan ia menatapku, terlihat ada kemerahan di pipi Al. Ia tersenyum dan menunduk.
"Em, kamu suka gak seafood?" tanya Al mengalihkan pembicaraan tadi dan aku mengangguk.
Al tersenyum dan ia menatapku lagi.
"Sini bantuin." ajak Al.
Aku tersenyum dan mengangguk. Mendekati Al dan membantu menyiapkan alat memasakanya. Al memintaku memanaskan margarin dahulu untuk menumis bawang bombay dan daun jeruk juga bawang bombaynya.
Ktek!
Kunyalakan kompor dan menuangkan margarinnya, tiba-tiba Al mengambil penggoreng yang kugunakan untuk mengaduk margarin di atas taplon.
"Isss kakak, sini penggorengnya nanti hangus tuh bawang."
Al tak memberinya, aku berusaha mengambilnya tapi Al memainkan tangannya membuatku susah mengambilnya. Bahkan kami main kejar-kejaran namun secara tiba-tiba tak sengaja Al berhenti dan berbalik membuatku menubruk tubuhnya.
Tak bisa diduga bibirku mencium bibir Al membuat mata indahnya melek begitu besar. Nafasku ngos-ngosan dan detak jantungku tak beraturan.
Berapa menit kami rebahan, Al diam begitu pun diriku. Akhirnya aku turun dari tubuh Al dan ian segera bangun. Aku malu dan takut menatapnya, ia pasti akan marah.
Al bangun dan ia langsung menuju dapur, kulihat Al memasak seorang diri. Aku pun malu, aku berdiri mematung di ruang tamu Al.
Aroma teriyaki pun menyeruak begitu harum dan nikmat. Tak berapa lama Al datang menghampiriku.
"Yuk, makan."
Aku gugup, aku serba tak enak dengan Al tak sengaja mencium bibir damage. Aku mengangguk dan berjalan mengikuti Al ke dapur.
Al menyendok nasi ke piringku dan menambahkan lobster dan cumi.
"Semoga kamu suka." demikian perkataan Al.
Aku langsung makan begitu pun Al. Kami diam selama makan, sampai semuanya habis. Kubantu Al mencuci piringnya.
Priiiinng! aku tak sengaja menjatuhkan gelas Al hingga pecah. Aku mendadak ketakutan membuat kesalahan lagi.
Buru-buru kuambil pecahan gelas di pinggir kakiku dan tak sengaja lagi, saat akan bangun kembali tak sengaja mencium bibir Al yang baru akan ikut mengambil pecahan gelas itu.
Cukup lama manik kami saling memandang. Al menyentuh daguku,"Agh!" gertak Al membuatku terkejut.
Ia malah mengambil gelas pecah dari tanganku dan membuangnya ke tongsampah. Kini Al ruang keluarga meninggalkanku. Kulihat Al duduk membungkuk menekan siku kedua tangan dengan lututnya, dan memegang kepalanya yang menunduk.
Al seperti banyak fikiran saat ini, dalam kebingungan kuikut duduk di sofa dekat Al. Kini ia mengangkat kepalanya dan menatapku begitu dalam. Aku tak mengerti ada apa dengan diri Al.
__ADS_1
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...
💋💋💋