
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
Pagi ini sudah kusiapkan sarapan untuk Rangga. Nasi goreng sederhana, jika berlebihan aku tak bisa. Sudah kubuatkan susu panas dan juz jeruk seperti saat sarapan di rumah mertua dulu.
Semua sudah beres. Tinggal menunggu Rangga. Tapi kenapa dia belum datang. Apa dia tak enak badan karena semalam keluyuran.Kupanggil saja.
Tok!
Tok!
"Kak,"
Krucuk!
Krucuk!
Bunyi air gemerincik. Rangga masih di kamar mandi. Aku mengetuk lagi.
"Iya."
Terdengar jawaban Rangga, ceklek! Rangga membuka pintu kamarnya masih dengan handuk yang masih menempel dan juga ia mengeringkan blonde memukaunya.
"Kok lama mandinya, kak ?"
"Iya,"
"Itu karena bangun telat ya ?"
"Iya,"
"Makanya jangan keluyuran, kak. Gak baik begadang itu."
"Ra, siapkan baju saya sekarang!"
Aku tercengang. Diriku diminta menyusun bajunya padahal aku datang ke kamarnya untuk memanggilnya sarapan. Tapi malah menyiapkan baju untuknya. Apakah Rangga tidak suka dimarahi atau ini alasan Rangga.
"Kak kenapa tidak disiapkan sendiri bajunya ?" tanyaku sembari menyilang kedua tanganku di dada.
Rangga yang baru saja berbalik menoleh ke arahku memperlihatkan manik hitamnya. Dian terus mengacak-acak blondenya.
"Biasa ada maid, sekarang tidak ada." demikian penjelasan Rangga menyadarkanku dia sungguh memintaku menyiapkan bajunya.
Benar kata Rangga itu karena dia ada maidnya sewaktu tingga di mansionnya, sekarang tidak. Hanya ada aku dan dia di rumah ini. Kumenarik nafas panjang lalu berjalan memasuki kamar Rangga.
Pertama kali menyiapkan baju untuk lelaki menyandang gelar suami rahasiaku. Kubuka lemari Rangga mengambil jas, kemeja, dasi, kaus kakinya.
__ADS_1
Kulihat Rangga duduk di kursi melihatku membongkar lemarinya. Bagiku ini membingungkan karena aku tak pernah menyiapkan baju untuk lelaki.
"Ini kak,"
Kuserahkan baju-baju Rangga.
"Ya pilihlah lalu berikan satu-satu."
"Apakah maid, kakak begitu dulunya ?"
"Hmmm," dia mendeham.
Membuat bibirku monyong. Kumulai menyerahkan baju kaos dalam untuk Rangga. Dia mengambilnya tapi tidak ia kenakan.
"Kak pakai dong bajunya."
"Celananya mana ?"
Kuserahkan stelan jasnya. Rangga menggeleng membuatku bingung apa maunya. Kemudian Rangga membuka kedua tangannya dan memajukan area berbahayanya yang masih terbungkus handuk. Apa maksud Rangga.
"Kak mau apa sih ?" tanyaku mulai tak tenang.
"Ya mau celanalah."
"Ya ini celananya."
'Aaaaaaaaaa' jeritku begitu kencang.
PLAAAAAKKKKK!
Saat mau berlari aku langsung berbalik membuat kepalaku terbentur lemari Rangga tepat di belakangku. Membuatku terjatuh juga terlentang dan kepalaku terbentur tempat tidur Rangga.
Spontan Rangga mendekatiku memeriksa kondisiku lalu segera ia menggendongku. Manik kami saling menghadap. Beradu pandang lagi.
Rangga menatapku dan terasa erat pelukannya. Diriku panik melihat adik kecil Rangga tadi. Sampai membuatku terbentur sana sini. Sakit pelipisku.
Rangga menurunkanku di tempat tidurnya lalu ia menarik handuk dan membungkus adiknya lagi. Terlihat Rangga mengambil sesuatu di laci meja kerjanya dan ia mendekatiku.
Tanpa berbicara Rangga mengusap pelipisku dengan minyak kayu putih. Bearti memar di pelipisku karena terasa begitu sakit.
"Kak, makasih ya."
"Hmmmm,"
Rangga terus mengusap pelipisku. Kini sudah selesai dia melihatku terbaring di atas tempat tidurnya.
Ada perasaan malu saat lama menatap Rangga. Terlihat kedua tangganya menekan kiri kanan tubuhku. Rangga semakin merendahkan posisinya. Dan nafasku semakin memburu.
__ADS_1
Aku mulai gelisah. Namun Rangga terus merendahkan tubuhnya sampai tak ada lagi jarak di antara kami.
Bibir Rangga menempel pada bibirku tapi ia diam tidak melakukan gerak liarnya. Berapa menit posisi kami seperti ini. Sampai terasa berat pada tubuh mungilku mulai ditekan Rangga.
Kedua tangannya beralih menekan kedua tanganku. Bibir Rangga pun mulai menggedor pintu mulutku, berkali ia menarik sesuka hatinya.
Dan terasa kedua kaki Rangga sudah di atas kakiku tapi ia tidak sepenuhnya menindih tubuh mungilku. Aku terus gelisah berharap ada celah untuk kabur. Tapi Rangga semakin liar dan ia mengunci kaki dan tanganku.
Dan secepat kilat Rangga membuka paksa baju kaos dan celana pendekku. Aku terus berusaha kabur tapi tak bisa. Tenaga Rangga begitu kuat.
Kini panik diriku saat Rangga membuka paksa kedua kakiku, dan terlihat jelas ia mengarahkan adiknya super jumbo. Aku berusaha bergerak ke atas untuk lari.
Tapi percuma kakiku bergeser di atas kasur karena kepalaku mentok pada puncak tempat tidur Rangga. Dan Rangga terus mengarahkan adiknya. Sampai tak dapat lagi bisa mengelak adik Rangga menerobos sarangnya.
Aku memejamkan mataku merintih kesakitan. Kuremas sisi bantal sekuat hatiku. Dan terdengar suara Rangga bernafas begitu memburu.
Semakin sakit. Rangga meremas puncak gunungku dan ia begitu lama meremas dadaku. Sampai Rangga kini memegang pinggangku dan menghantam begitu kuatnya. Semuanya selesai.
Rangga membiarkanku di atas tempat tidurnya. Dia langsung mandi dan barulah ia mendekatiku. Rangga mengusap airmataku dan mengecup keningku.
"Kamu mandi ya, ganti bajumu jika mau ikut ke kantor tak mau sepi di rumah." bisik Rangga terus membelai rambutku.
Aku berusaha bangun dibantu Rangga. Dalam keadaan tanpa busana Rangga menggendongku ke kamarku, terlihat ia duduk di tempat tidurku menungguku mandi.
Aku segera mandi dan mengenakan baju OB milikku. Selanjutnya kami makan. Kulihat Rangga lahap makan nasi gorengku, padahal ini berbeda dengan menu sarapannya di mansion.
Aku belum bisa masak, merasa tak enak melihat orang kaya makan seadanya. Maafkan aku, Rangga. Kami tak berbicara karena hatiku juga sebal atas sikap Rangga memaksaku melayaninya.
Aku tidak nafsu. Semua terasa sakit. Aku sama sekali tidak memancing nafsunya, tapi kenapa semudah itu Rangga berhasrat kotor. Sampai di pagi hari ia memaksaku.
Aku istri kontraknya. Aku takut hamil. Aku sungguh takut hamil. Nanti hamil dan melahirkan, sungguh mengerikan. Aku deg deg gan mengenang melahirkan.
"Ra, kok melamun!"
Aku tersadar dipanggil Rangga. Sungguh aku melamun berlebihan. Aku tidak menjawab apa-apa tapi melanjutkan sarapanku.
Kini kami berangkat menuju kantor. Setengah jam sampai. Sampai di parkiran khusus untuk tempat mobil Rangga, kami turun bersama membuat mata security bagian di parkir kaget melihat kami.
Kami bersama langsung masuk, kantor sudah ramai sekali. Kami terlambat. Semua karena Rangga bernafsu pagi-pagi. Kini Rangga menuju ruangannya dan diriku menuju ruang belakang khusus OB. Menunggu tugas dari Mas Odi.
Sampai di ruang OB semua orang kaget melihatku karena sudah berapa hari tidak bertemu. Diriku berpelukan dengan kedua sahabatku Siska dan Gebi.
Jika tidak kerja aku akan menahan hati terkurung di rumah Rangga itu, lebih baik melepas rindu dengan sahabtku.
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...
💋💋💋
__ADS_1