
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
Rangga menatapku, beribu tanda tanya dan cerita dalam fikirianku. Apa yang harus kupilih. Hatiku merindu dia sebelum aku mengenal Rangga.
'Susah senangku selalu bersamanya. Dan kini apa yang harus kupilih. Aku bingung.'
Wushhhhh! angin berhembus pelan dan semakin mendinginkan tubuh ini hingga kebelulang.
Kini aku dan Rangga tak ada yang bersuara, manik seakan menyampaikan salam. Entah salam pertemuan atau salam perpisahan.
Dan rintik itu pun datang, airmataku tumpah. Kuhamburkan tubuh ini memeluk Rangga. Terasa erat pelukan lelaki sahku.
Kami meresapi pelukan ini, gerimis datang dan menandai perpisahan sudah di depan mata. Menyampaikan rengkuh tubuh kekar ini yang tak kan lagi bisa ku rasa.
Tubuh ini terus kupeluk erat seeratnya. Tubuh ini sudah selesai masa tugasnya. Tubuh ini tak lagi bisa kurasa. Tubuh ini dijemput hujan.
"Ra, jangan lupakan aku." bisik Rangga terus menguras airmataku.
"Maafkan kesalahanku selama ini,kak."
"Kamu tidak pernah salah, Ra."
"Aku sayang, kakak."
"Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu."
"Kakak ...!"
Rangga menyentuh daguku, kulihat matanya berkaca-kaca. Senyuman Rangga begitu perih kulihat. Senyum ini selalu hiasi hariku, senyum yang hanya bisa kurasa terakhir kali malam ini.
Dia mengacak-acak rambutku. Getar bibir Rangga ingin mengucapkan banyak kalimat yang ia tahan. Aku takut dengan takdir ini, aku merasa tak ingin berpisah tapi hujan menjawab pertanyaan akan pilihan.
"Aku mencintaimu, Ra."
"Aku juga mencintai, kakak."
"Jalani pilihan hatimu, Ra. Dan jangan pernah lupakan aku."
Kupeluk lagi tubuh Rangga. Begitu erat. Aku merasa sayang dengan lelaki yang setiap hari kubenci. Kebersamaan menumbuhkan rasa ini.
Wuuuusssshhhhhh!
Kembali angin menjamah tubuh ini. Dan kuresapi kulit ariku tak lagi merasakan cumbuan basah gerimis yang tadi datang begitu ramai.
Kulihat surat kontrakan itu terbakar karena gerimis dibawa angin pergi menjauh. Dan langit mulai menyembulkan berapa bintang berkilaunya.
"Kak, liet itu." kutunjuk arah surat kontrakan itu.
Rangga tersenyum memperlihatkan gigi putihnya, surat itu semakin besar api yang menyantapnya. Akhirnya surat itu hangus.
"Tuhan tak ingin kita pisah, sayang." teriak Rangga dan ia langsung menggendongku.
Aku menangis lagi, menangis bahagia. Kupeluk tubuh kekar Rangga. Ia terus berputar-putar mengayunkanku dalam gendongannya.
"Jangan pernah tinggalkan aku, Ra."
Aku mengangguk. Malam ini Tuhan memberi sebuah jawaban mengejutkan, gerimis sudah hadir dibawa angin begitu saja sampai membuat awan mendung pergi menjauh. Kini kami suami istri sesungguhnya. Terasa mimpi. Aku bahagia.
__ADS_1
***
Mulai malam ini kami satu kamar. Rangga terus jahil mencubit hidungku. Dia terus mendekapku, sungguh takut istrinya pergi. Kami mulai lembaran baru.
Kini diriku harus siap menjalani semuanya, karena seorang istri seorang CEO tidak seperti kemarin. Menjadi resmi special dan menantang.
'Diriku tidak lagi bisa asal-asalan. Harus menjaga sikap dan ucapan. Aku harus bisa. Aku mencintaimu, suamiku. Cinta tumbuh setelah menikah. Menggemaskan.'
"Ayo tidur, nanti besok bangun kesiangan." peringatan Rangga.
Aku tersenyum dan memeluk dada bidangnya, detak jantung Rangga sungguh tenang. Tidak seperti detak jantung biasanya.
"Kak."
"Hmmmm."
"Aku panggil kakak apa ya?"
"Kakak itu 'kan nama panggilan juga."
"Tapi aku mau yang special antara aku dan suami aku, yang unch unch ini."
"Mulai deh, terserah kamu aja lah."
"Panggil apa ya, aduh bingung."
"Terserah."
"Kakak mau dipanggil Kookie, Sugar bear, atau ...,"
"Sugar daddy."
Dia tersenyum membuatku semakin gemas dan kucubit hidung bangirnya,Rangga mengelak membuat poni rambutnya menutupi sedikit keningnya semakin menggemaskan.
"Nanti aja, kak."
Rangga memejamkan matanya terus memelukku, dan diriku terus memikirkan nama panggilan untuk Rangga.
Tiba-tiba perutku terasa lapar. Aku memikirkan apa yang ada dalam kulkas untukku makan. Jika asak jelas malas, karena bisa menunggu lama prosenya. Aku makan buah saja.
"Mau ke mana,Ra?" tanya Rangga yang terbangun saat melihat kuturun dari ranjang.
"Mau ke dapur, laper."
"Aku ikut."
Aku melongo melihat Rangga yang sudah ngantuk berat ingin ikut ke dapur, ia turun dan mengucek-ucek matanya.
"Kakak, aku cuma ke dapur cari buah kok."
"Ya, aku ikut gak mau nanti kamu kabur."
Aku tersenyum mendengar alasan Rangga. Ia rela ikut ke dapur cuma karena takut istrinya kabur. Kugandeng tangan Rangga dan terus berjalan sambil tersenyum.
Sampai di dapur Rangga duduk di dekat meja makan dan aku mencari buah-buahan di kulkas. Kurasa makan pisang saja, dia padat mengenyangkan.
Kuhidangkan pisang di atas nakas dan aku pun duduk. Langsung mengambil satu pisang, mengupas, dan memakannya.
'Uweak'
__ADS_1
Kembali Rangga mual. Dia berlari ke wastafel dan langsung muntah. Kubawa pisangku karena masih sedikit sambil memijat tengkuk Rangga. Dia mendorongku.
"Kenapa, kak?"
'Uweak'
Cukup lama Rangga muntahnya sampai kini baru selesai. Wajahnya pucat. Saat aku ingin menyentuhnya, kembali Rangga mendorongku.
"Kamu kenapa sih, kak?"
"Aku mual bau pisang, jijik."
Mulutku menganga. Awal nikah buah apa saja di kulkas ia makan dengan lahap. Dan malam ini dia jijik dengan pisang.
Rangga membuka kulkasnya dan segera mengambil jeruk, mengupasnya tidak rapi lalu ia mencium aroma jeruk itu dan langsung naik ke atas.
Aku mencuci tanganku dan kukumur mulutku, semua untuk menghilangkan aroma pisangnya. Lalu kususul Rangga ke atas. Di kamar saat akan kugosok Rangga dengan minyak kayu putih, dia menolaknya.
"Kenapa lagi sih, kak?"
"Aku gak bisa cium bau banyak-banyak, mau muntah rasanya."
"Cuma bau minyak telon lho ini, kak."
Rangga menggeleng-geleng kepalanya dan ia langsung masuk ke kedalam selimut. Sungguh aneh, sejak menikah dia tidak pernah berkata benci aroma itu dan ini tapi sekarang dia mual dan benci aroma pisang dan bau minyak telon pun tak mau.
Kugeserkan minyak telon itu dan segera masuk dalam selimut juga, hanya aku tidak bergelumbus seperti Rangga. Aku punya niat usil, ngeprank Rangga yang tidak mau itu ini malam ini.
"Kak, masih mual ya?"
"Hmmmm."
"Kakak istirahat saja, aku ke rumah sakit ya."
Sleeekkk!
Rangga membuka paksa selimutnya, dia langsung bangun dan melotot melihatku. Aku tersenyum melihat CEO tampanku dan kupeluk ia begitu gemas.
Kugoncang-goncangkan tubuh Rangga karena gemas melihat dia ngambek. Saat melihat dia masih melotot, kupeluk lagi. Lihat lagi, masih melotot peluk lagi.
"Kalau ngeyel ke rumah sakit ya adidas lho."
Aku berhenti memeluk husband unch unchku dan kutatap dia keheranan.
"Apanya yang adidas,kak?"
"Berani bilang mau ke rumah sakit ya adidas, adik di bawah abang di atas."
Aku menganga akankah Rangga mengulanginya. Kucubit lengan Rangga sampai dia kesakitan, lalu kutarik selimutku dan giliran aku yang bergelumbus dengan selimut.
"Katanya mau ke rumah sakit." goda Rangga tapi tidak mempengaruhiku.
Aku tetap dalam selimut. Meski Rangga menyenggolku berkali-kali, aku tetap dalam selimut.
"Ayo, katanya mau ...!"
"Gak jadi." kupotong perkataan Rangga membuatnya terkekeh mendengarnya.
Dan terasa Rangga masuk dalam selimut juga dan ia langsung memelukku. Aku niat mau ngeprank tapi malah Rangga mengajak emah emahan. Tadi saja masih nyeri bagaimana jika diulangi, wadidau bisa nano-nano rasanya.
__ADS_1
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...
💋💋💋