
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama ceo hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
Dia tertawa puas-puas. Lalu dia kembali menatap mataku dan seakan menahan tawanya sedemikian rupa dan mengatur nafasnya perlahan.Ada hal yang bikin CEO aneh ini kegelian hatinya.
"Berikan ponselmu." pinta CEO tampan itu.
Mataku melotot kaget. Orang ini minta ponsel bututku untuk dia apakan ponselku. Tidak jelas. Tapi aku turuti takut bila aku tolak permintaan atasan.Nanti dia marah. Aku ambil dengan cepat ponselku dan memberikannya kepada CEO itu.
Dia memperhatikan ponselku dan bibirnya mengkerut lalu ponselku dimainkan dibolak-balik.
"Lumayan nih buat ganjel meja yang enggak rata," lontar ceo bikin gue menekan gigi sendiri, ejek CEO itu.
"Silahkan pak jika itu bikin hati bapak puas," selorohku mulai panas.
Dia natap mataku, "Kamu marah ya ?"
Aku jawab cukup geleng-geleng kepala saja.
"Kenapa enggak ngumpulin gaji beli gadget update, ini kulot banget mana masih pake tempelan kayak gini," umbar CEO itu.
"Gaji buat bayar sewa kos pak dan untuk kebutuhan juga kirim buat mama di kampung."
CEO itu menatapku serius "Kamu bukan asli sini ya ?" Lanjut CEO itu.
Aku mengangguk lagi.
Dia meliht layar ponselku,aduh wallpapernya fotoku bersama Ariel. Nanti dia bilang aku orang lebay.Kenapa aku jadi malu seperti saat ini saat atasan melihat barang pribadiku.
CEO itu membuka aplikasi hijau dan utak-atik sebentar lalu menyerahkan benda pipih itu kepadaku lagi. Aku lihat ponselku dan ternyata dia menyimpan nomornya dengan nama kontak Rangga.
"Soalnya saya request ingin bunga seperti apa yang akan diganti berapa hari sekali, jadi saya akan hubungin kamu," jelasnya.
Aku mangut dan dia tak berkata apa-apa soal fotoku bersama Ariel itu, tandanya selamat dari mulut berbisanya, lega.
"Telphone nomor saya sekarang,"
__ADS_1
"Baik,Pak."
Triiiiiiing! Ponsel CEO berdering. Dan. CEO memberi isyarat lewat anggukan kepalanya untuk mengakhiri panggilan itu.
"Kamu bisa keluar sekarang, ingat hari ini dua puluh empat jam ya. Kantor masih ramai karna nanti malem ada meeting khusus." titah si sombong.
"Baik pak."
Gue mengangguk dan bangun dari duduk gue. Berbalik dan berjalan santai.
"Nama panggilan kamu siapa ?" teriak CEO.
Aku berbalik dan tersenyum padanya, "Rara, pak."
Dia mengangguk dan aku berlalu meninggalkan ruangan tempat kerja aku yang baru. Di tempatkan di ruangan yang paling aku benci. Mimpi apa aku semalam sampai kerja di tempat orang paling rese' sedunia. Yang ngidam kerja di ruangan ini si Gebi tapi malah aku yang mendapatkannya. Apes sekali hidupku hari ini.
Sepanjang jalan aku melangkah dengan cepat. Mau bertemu Siska dan Gebi memberi tahu nasibku pagi ini. Dan melewati ruang kerja karyawan, mereka sibuk bersama komputer masing-masing sampai tak melihat diva OB lewat.
Sampai di ruang OB aku celingak-celinguk mencari Siska dan Gebi.
"Mba ada liet Siska dan Gebi gak ?" Tanyaku sama wanita OB yang sedang membawa baki berisi minuman hangat buat karyawan.
"Oke deh mba cantik, makasi ya mba."
Wanita itu tersenyum dan aku langsung masuk ke arah ruang ganti baju OB. Saat masuk Siska, Gebi, Dana, dan Deodoran sedang berkumpul di kursi panjang yang berada di tengah ruang ganti dengan dikelilingi lemari panjang yang menyatu. Ya itu lemari untuk menyimpan barang-barang kami selama kerja jadi tidak hilang atau tertukar.
Aku mengendap-endap karena mereka tak tahu dengan kedatanganku. Melewati pelan-pelan lantai ubin putih ini. Saat akan memberi kejutan ...Plak! "Awww," teriakku terkejut sambil menoleh seseorang menimpuk pundakku dengan keras.
Ternyata mas Odi, dia menyerahkan pin namaku dan pasti benda ini terjatuh. Aku nyengir sambil mengambil pin itu dan memasang dibagian dada kanan bajuku. Pin ini tanda pengenal praktis di sini berisi nama kita, kalau aku cukup nama RARA saja. Tak perlu nama asli karena ribet.
"Makasi ya mas," sambutku senang ditemukan pin namaku.
"Iya, hati-hati Ra nanti hilang. Ya sudah mas tinggalin dulu mau lihat kantin karna dah deket jam makan siang takut enggak bersih nanti karyawan protes ke mas. Yo semua mas tinggalin ya," ungkap mas Odi dengan melambaikan tangannya lalu berbalik dan meninggalkan kami.
"Ya mas," sahut yang lain bebarengan.
Aku duduk di kursi panjang itu sambil meliat satu-satu sahabat kesayanganku ini.
__ADS_1
"Ada hal apa lo dipanggil pak Rangga ?" Tanya Siska.
"Dia suka dengan kerjaan kita bertiga tadi pagi.Terus gue ditetapkan bersihin ruang privatnya setiap hari gantiin karyawan ob khusus yang mo lahiran," ungkapku.
"Whatsssssss, elo yang dipilih kok bukan gue sih Ra, ah! gue nih ya cinte mati ama Pak Rangga ai lov yu bebeh," cerocos Gebi mengundang tawa kita semua.
"Ya gue mana beranilah banyak omong sama tuh CEO, dia udah ngomong ya gue diem aja. Mana orangnya nyebelin banget bikin kepala gue mendidih," tukasku santai.
"Nyebelin gimana tuh bos kapan lewat senyumnya itu lho bikin meleleh," celah Gebi dengan bangga akan isi hatinya itu. Ya CEO Rangga.
"Lo ya Geb belum pernah ketemu empat mata sama tuh CEO, bebebeeeeh rese' banget tau gak, terus setiap dia ngomong bikin sesek dada gue dengernya," protesku pada Gebi.
"Tapi lo suka 'kan?" Goda Siska dengan ekpresi genit.
Aku menggeleng.
"Ya Gebi gak bisa terima kalo belahan jiwanya kamu ejek Ra," sambung Siska yang tertawa melihat aku dan Gebi.
"Geb pilih gue aja napa sudah pasti cinte mati sama lo," pede Deo dengan menyenggol si lebay.
"Nanti ya gue kasih tempat saat janur kuning pak Rangga berkibar. Tapi kalo ada kesempatan jadi pelakor buat pak Rangga ya kenapa enggak hahahahaaa," kata Gebi bangga.
"Wah pikiran enggak baik nih semacam ini,kalau gue jadi istrinya apa lo mau ngerebut pak Rangga dari gue ?" Tanyaku bikin mata mereka semua fokus menatap.
"Serius apa enggak nih, Ra ?" Tanya Deodoran.
"Gimana sih lo pada gak tau makna bercanda sama serius, ya gue bercanda lah. Ngapain juga mau jadi istri orang kayak pak Rangga amit-amit deh gue, sekali Ariel cukup Ariel," jelasku.
Pada sahabatku yang kadang nyambung kadang tidak, itulah mereka anak-anak tidak jelas saat bicara soal nikah dikira aku kesemsem dengan pak Rangga. Nyatanya dia memang mengetuk hatiku. Terpikat dengan rambut blondenya.
"Awas kena karma lo," olok Dana tiba-tiba.
Aku monyongkan bibir seksiku kearah Dana lalu bangun dan cari lemari barangku. Karna lemari ini ya banyak petaknya. Satu lemari panjang dibagi empat dan di ruangan ini banyak sekali lemarinya. Jika buru-buru sering bingung tapi semua lemari terkunci jadi tetap aman.
Aku lihat ada gagang pintu lemari dengan pita pink berbulu yang mejeng di sana, itu lemari si miss lebay merupakan fans pak Rangga si Gebianka. Dan lemariku di bawah lemari dia jadi aku langsung ke sana.
Sampe sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,happy reading ...
__ADS_1
💋💋💋