GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
Candu


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama ceo hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


Baru membuka mata setelah cukup lama tidur di kosan. Kudengar suara televisi masih menyala, kulirik jam tepat pukul sebelas malam. Kuberbalik Gebi sudah tertidur pulas.


Kuberjalan menuju televisi mendapati Siska masih menonton, ah! Siska menginap di kosan kami ternyata tapi tumben temanku bergadang. Segera kuhampiri Siska.


"Sis,"


"Oh, Ra! Bagaimana kondisimu ?"


Aku tersenyum mencerna pertanyaan Siska, karena sejak diantar Al membuatku langsung tertidur pulas.


Dan kusadari sweeter yang aku kenakan, sudah pasti Siska menebakku sedang sakit. Padahal kugunakan sweeter tebal hingga menutup seluruh leherku ini karena ingin menutupi bekas ciuman ganas CEO.


Kulirik kiri kanan takut ada orang yang bangun dan mengamatiku dan Siska, segera kutarik ia kedapur.


Kuambilkan minuman cola dingin untukku dan Siska, menenggak berapa tenggakan untuk mendinginkan hatiku dan menyiapkan rangkaian kata yang akan kugaskan berapa detik lagi.


Dan mulailah kuceritakan semuanya pada Siska,spontan sahabatku ini sampai menutup mulutnya dan diriku menangis lagi mengingatku tidak suci lagi.


"Aku bingung bagaimana dengan Ariel, karena aku takut hamil itu artinya tak ada jalan untuk pisah dengan pak Rangga."


"Aku juga bingung, Ra. Bagaimana baiknya karena semuanya itu ribet sekali, Ra."


Kami pun menangis bersama.


***


Keesokan harinya kududuk di depan televisi dalam keadaan mati karena diriku diliburkan hari ini. Diriku bingung bagaimana menjelaskan dengan Ariel nanti karena besok aku akan menikah.


"Cepatlah kita keluar sekarang!"


Aku segera menoleh ke arah pintu utama, CEO datang ke kosanku. Ada apa ini. Dan dia masuk begitu saja menjelajahi kosanku.


Melihat kamar cuma satu CEO memasukinya membuatku tambah kebingungan.


"Cepatlah ganti bajumu dan kita berangkat fitting baju buat besok."


"Tapi bapak tidak memberitahuku lebih dulu."


"Aku sudah lelah meneleponmu."


Kuraih ponselku dan ternyata benar CEO sudah belasan kali meneleponku tapi ponselku dalam keadaan silent. Aku mendengus kesal.

__ADS_1


Memilih baju yang akan kukenakan dan saat akan pergi menuju kamar mandi CEO menahanku.


"Kenapa,pak ?"


CEO menahanku kedua tangannya menekan dinding tepat di sisi wajahku dan ia membungkuk sedikit menuju wajahku. Aku tak lagi segan, kutatap maniknya.


CEO kembali melabuhkan ciumannya membuatku melayang begitu jauh dan CEO segera menghembuskan nafas beratnya.


Terlihat senjata CEO sudah tegang, kami beradu pandang. Diriku memeluk baju yang akan kupakai demi menahan dadaku tidak menekan dada CEO.


"Aku heran kenapa dirimu selalu membangkitkan hasratku." Pengakuan CEO membuatku kebingungan.


CEO langsung ke luar kamar dan duduk di sova ruang tamu. Segera di kamar yang sudah kukunci itu kugantikan bajuku.


Kami pun melaju menemui rumah Igun. Kami memilih busana untuk akad nikah besok dan lagi Igun menggoda kami.


Dan diriku diminta berhati-hati di malam pertama karena Igun berpesan CEO itu hot dan ganas. Terbukti Igun mendapati daratan hot di leherku. Membuatku canggung.


Usai fitting baju kami makan, saat makan CEO no komen berbeda dengan Al. CEO fokus pada makanannya.


Dan terlihat banyak para gadis tersipu malu melihat CEO. Padahal CEO bukan artis tapi ketampanannya benar-benar menyihir wanita. Dan kelebihannya dia mengajakku makan di restoran setidaknya dia menghargaiku sebagai calon istrinya.


Kini mengikuti CEO, kami memecah keramaian. CEO sesekali melirikku dan kami terus diam tidak bercanda atau berbicara mencairkan suasana. Padahal besok status kami sudah berubah.



"Pak kok kita ke taman sih ?"


"Aku ingin bersantai sejenak."


"Kan di rumah bisa."


"Rumah siapa ?"


"Ya rumah bapaklah."


"Saya diminta membawamu ke sana tapi saya rasa itu tak perlu, besok saja usai menikah kau kubawa ke rumah bertemu keluargaku."


Aku berhenti melangkah dan syok mendengar penjelasan CEO bahwa besok aku akan pindah. Dan aku sama sekali tak mengenali keluarganya, yang aku tahu hanya Tante Rani dan Al.


"Kenapa berhenti ?"


CEO menarik tanganku dan kami berjalan kembali.


"Ra, aku ingin bertanya padamu."

__ADS_1


"Apa ?"


"Apa yang kau rasa saat bersamaku ?"


Kupandangi CEO berjelan mengenakan jacket hitam panjangnya dan memandang rambut blondenya. Secara fisik dia begitu sempurna.


"Kenapa diam ?"


"A em a," diriku jadi gugup.


CEO tersenyum dan lagi menarik tanganku. Kami berjalan-jalan santai dan CEO membelikan es krim rasa vanila untukku.


CEO tersenyum melihatku ******* habis es krimku dan ia membersihkan es krim yang mengenai wajahku. Kini kami kembali ke mobil, CEO akan mengantarku pulang.


"Besok ada bodyguardku menjemputku jadi kau bersiaplah besok."


"Pak, aku harus bawa baju ganti ya?"


"Tidak perlu karena kita akan belanja baju untukmu dulu."


Aku hanya mengangguk. Memandangi cincin berlian di jari manisku, diriku tersenyum getir. Apakah semua ini nyata.


Kami berhenti di toko perhiasan dulu, CEO membeli satu set perhiasan yang tak kuketahui yang jelas perhiasan untuk perempuan. Harganya mendekati angka satu miliar.


Selanjutnya CEO mengantarku ke mall dan terlihat dua bodyguard CEO menunggu di pintu mall. Aku diminta masuk dan memilih semua baju, sepatu, dan alat make up yang ku mau dengan bantuan dua bodyguard itu. Dengan atensi beli yang beranded karena CEO tidak mau diriku mengenakan barang murahan.


CEO pergi entah kemana dan diriku jadi pusat perhatian di mall karena diawasi dua bodyguard macho dan tampan.


Aku sibuk memilih busana harian dan untuk bepergian saja lengkap dengan sepatu dan tas. Dan saat memilih barang dua om bodyguard itu meneliti pilihanku dulu, karena jika bukan barang branded jelas ditolak mereka. Aneh.


Kini selesai belanja CEO kembali menjemputku dan semua belanjaan dibawa dua bodyguard CEO itu. Kini barulah CEO mengantarku pulang.


Sampai di ujung gang saat akan turun CEO menarik tanganku, ketika aku berbalik CEO kembali melabuhkan bibirnya.


Kali ini CEO lepas kendali menciumku begitu birahi. Sampai CEO mengajak lidahku duet maut. Entah mengapa diriku tak bisa menahan lidahku. Spontan semua ajakan lidah CEO kuterima reflex begitu saja.


Cukup lama kami berciuman sampai keadaanku sudah bersender ke senderan kursi mobil. Kini CEO menarik bibirnya, nafas kami beradu dengan jantung berdincak begitu menggebu.


CEO memandang dadaku lalu menatapku, apakah itu maksudnya CEO ingin aku membuka bajuku dan membiarkannya menjelajahi seperti malam itu.


CEO berbalik seperti menahan sesuatu. Aku pun akhirnya turun. Saat aku berbalik CEO sudah pergi. Kenapa CEO lalukan itu padahal kami sama-sama tidak memupuk rasa hingga memuncak.


Dan kenapa diriku selalu tak bisa menahan ciumannya. Apa ini yang dinamakan candu. Ah! Ini dilema saat berhubungan intim dengan atasan membuat cerita canduan ini panjang.


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...

__ADS_1


💋💋💋


__ADS_2