GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
Rumah Baru


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama ceo hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


"Bagaimana, Ra?"


"Suka, rumah ini adem jauh dari orang dan juga banyak taman bunganya."


"Kita tinggal di sini sampai selesai masa kontraknya!"


Aku mengangguk lalu membawa koperku ke lantai atas, aku dan Rangga kamar terpisah. Kamar kami berhadapan karena sama-sama di ujung dan bertemu saat akan bersama turun.


Aku yang meminta kamar terpisah karena aku takut hamil. Pernikahan ini tanpa sepengetahuan mamaku dan aku masih mencintai kekasihku. Jadi ini pilihan bagiku.


Kuharap tidak ada lagi ramuan pernikahan seperti kemarin, diriku dibuat liar bagai harimau kelaparan menghantam habis daging segar.


Awalnya pilihanku ini ditolak Rangga tapi aku bersikeras, dia tersenyum mengiyakan permintaanku. Dia berkata perempuan itu susah di atur jika sudah berkehendak. Nyatanya memang begitu.


Juga Rangga tak mau para orangtua ikut campur dalam pernikahan kontrak ini. Keluarga Rangga terbilang baik walau mereka keluarga konglomerat, tapi menghargai pilihan Rangga menikah dengan seorang officegirl yang sering berulah.


Aku tak mengapa cukup mengikuti kata hati Rangga. Kini memulai hidup baru. Hidup sementara bahagia. Entahlah sulit diterjemahkan ini bahagia atau tidak. Menghadapi pasangan teraneh.


Akhirnya selesai juga menyusun semua barang-barangku dan Rangga memberikan nuansa pink pada kamarku. Dan terasa lelah saatnya untuk tidur.


"Ra ... !"


Mau apa lelaki itu berteriak, apa dia sudah nafsu dan ingin berperang di atas ranjang seperti kemarin. Entahlah jika dipengaruhi perangsang membuatku haus sampai bersedia dihantam benda tumpul ukuran jumbo itu.


Rangsangan ramuan kemarin cukup lama bertahan, bangun tidur menyisakan sedikit. Ketika rangsangan itu hilang barulah merasakan benda itu menakutkan. Karena ukurannya membuat bulu kudukku merinding.


Dengan bangga Rangga memiliki itu, pemecah perawanku. Walau dia suamiku aku tidak mau, benar-benar menyakitkan. Tanganku sama ukuran dengan benda itu.


Kreaak! pintu kamarku dibuka Rangga membuatku terkejut.


"Kau mau apa ?" tanyaku setengah panik.


"Mau in the hoy." jawabnya datar dengan menyender di pintu kamarku, dan lagi lirikan maniknya menggoda. Menakutkan.


"Aku mohon jangan sakiti aku, aku takut." lirihku.


"Aku lapar, apa kau bisa masak ?"


Aku tersenyum dan segera bangkit menghampiri Rangga.


"Kau mau makan ?"


"Sudah kubilang mau in the hoy."

__ADS_1


Rangga membuatku lemas lagi. Wajahku memberi raut gembira kini langsung berubah sedang bersedih menerima keinginan lelaki kejam ini.


Dia tersenyum melihatku dan maniknya melirik isi kamarku, seolah mengechek sudah rapi atau belum. Apakah Rangga orang yang mau rapi terus, jika benar maka ini sebuah hukuman yang tidak menyenangkan.


Di tempat kerja aku rapi tapi jika di rumah sama dengan Gebi, butuh waktu lama baru membersihkan rumah. Memang saat Siska berkunjung rumah kami rapi tapi bagi kami berdua kebanyakan santai melihat drakor dari beres-beres rumah.


"Di kulkas ada banyak bahan masakan, apa kau bisa masak ?"


"Bisa."


"Masak apa saja yang bisa dimakan, saya lapar."


Kali ini manik kami beradu dan bibir yang dijamah Rangga kemarin tersenyum, akhirnya mengetahui keinginannya bahwa dia sebenarnya ingin makan dan menggodaku saja berkata ingin in the hoy.


"Baiklah saya masak sekarang."


"Panggil saya jika sudah siap."


Diriku mengangguk dan berlari meninggalkan Rangga.


Klep! bunyi pintu kamarku di tutup membuatku berbalik, terlihat Rangga berjalan menuju kamarnya dan ia menutup pintu kamarku. Baiknya hatimu CEO.


Dan sampai di dapur buka kulkas sungguh aneh isinya. Banyak makanan kaleng juga penuh buah dan sayuran, susu, telur, daging mentah, ikan mentah dan aku masak apa.


Aku berfikir sejenak. Aku juga masih lelah jadi kupilih masak yang praktis saja. Mie instan dan telur. Praktis. Aku juga lupa bertanya dia suka mie instan apa jadi kumasak dua rasa biarkan dia memilih mau menu mie apa. Satu soto dan satu mie goreng. Kini saatnya memanggil Rangga.


Tok!


Tok!


"Saya bukan bapakmu."


Menarik nafas, salah memanggilnya.


"Kak, makan siangnya sudah siap."


Rangga membuka pintu kamarnya dan dia tersenyum lalu mengedipkan satu maniknya padaku, diriku gemetar apakah akan terjadi lagi.


Aku langsung berlari ke bawah dan duduk langsung di kursi makan. Rangga berjalan mendekatiku dan ia melihat menu yang kumasak. Alis Rangga terlihat terpaut menatap menu yang kumasak.


Lalu dia menoleh ke arah dapur masak dan celingak-celinguk mencari sesuatu. Rangga berjalan menuju ricecooker dan membukanya, kosong. Dia menarik nafas panjang lalu duduk di kursi makan.


"Tidakkah kau memasak nasi ?"


Aku menggeleng.


"Aku terbiasa makan nasi."

__ADS_1


"Aku tidak tahu, kak."


"Dan menu apa ini ?"


"Mi soto dan mi goreng pake telur."


"Tidakkah kau masak sayuran atau ikan."


"Ini aja Kak, menu anak kos." kataku bangga.


"Aku bukan anak kos." keluh Rangga dengan ekpresi tidak suka.


Aku diam melihatnya, matilah bila dia marah apalagi yang akan ia buat. Dan dia menarik mie soto lalu memakannya. Oh dia suka makanan berkuah. Kami makan dengan khidmat.


Selesia makan lagi Rangga mencari sesuatu, kepalanya celingak-celinguk tak jelas.


"Kakak cari apa ?"


"Apakah air minum tidak ada di rumah ini ?"


Mataku terbelalak, oh Tuhan. Aku lupa menyiapkan air minum dan dengan segera aku berlari mengambil air minum untukku dan Rangga. Dia menatapku tajam sambil mengambil air minumnya.


"Aku minta masaklah menu yang sehat nanti."


"Jadi aku harus masak nanti, kak ?"


"Kau pilih saja mau masak atau melayaniku lagi."


Mataku terbelalak lagi mendengar pilihan dari Rangga. Dia tersenyum lalu pergi meninggalkanku. Bibirku dibuat manyun. Aku ini tidak bisa masak.


Tapi pilihan lain jika tidak masak maka akan uh ah uh ah lagi dengannya, bisakah senjatanya itu ditukar dengar ukuran s atau mini s lagi bila ada.


Aku benci hal yang ia banggakan itu.Sakit diulahnya. Menyebalkan jadi pembantu di rumah ini. Hukuman teraneh tapi tak apa jalani saja ini termasuk hukuman atas menghilangkan databasenya kemarin.


Rangga berwatak keras jika miliknya diganggu maka dia akan marah besar, jadi terima saja hukuman ini daripada ia nodai berkali-kali lalu dibuang di tong sampah atau di penjara dan kekerasan fisik.


Menyebalkan sekali. Kulihat mangkuknya kosong, kasihan dia kelaparan dan aku tidak memasak nasi untuknya. Ya sudah mulai sekarang utamakan nasi dulu untuknya.


Kucuci dulu semua piring kotor ini. Dan kulihat jam masih lama drama korea, lebih baik kutelpon Siska dan Gebi saja nanti. Juga menelpon Ariel sambil menanyakan kabar neneknya sudah membaik atau belum.


"Ra ... !"


Lagi dia berteriak di dalam kamarnya membuatku kaget sedang mencuci piring.


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...


💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2