GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
Gerimis Tak Diundang


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


Masih duduk di kursi di depan rumah. Berusaha menghilangkan kemarahan dengan sikap Gebi dan Dana. Kurasa itu semua mau tidak mau harus diketahui Siska, karena tak ingin ia terus menjalin hubungan dengan lelaki sampah seperti Dana.


'Aku heran kenapa Gebi melakukan itu. Lelaki yang mengejarnya itu Deoza, alias Deo, alias Deodoran tapi kenapa Dana menjadi pelakunya. Gebi betapa bodoh dirimu'


'Jika Gebi tidak sakit entah ke mana aku akan pergi malam ini karena bertahan di kosan terlalu menyakitkan'


'Bearti test pack yang kutemukan dulu milik Gebi dan entah segila apa perbuatannya dengan Dana sampai sudah hamil'


'Diriku mulai candu pun tidak hamil-hamil tapi membicarakan kehamilan aku sendiri tidak tahu bagaimana ciri orang hamil'


'Jika telat datang bulan itu biasa karena sewaktu masih perawan juga sering beda tanggal saat datang bulan'


Kulihat jam sudah pukul dua belas malam dan Rangga tidak meneleponku. Apakah dia tidak pulang. Tapi dia tidak memberitahuku sama sekali. Apa sebegitu pentingkah Luna. Ting ting ting! bunyi mangkuk yang dipukul. Kulihat bakso lewat.


Biasanya tidak ada bakso itu malam-malam melewati gang kosan kami, tapi mungkin dia mas bakso baru. Karena selama aku lama tinggal dengan Rangga tak tahu lagi apa yang terjadi di kosan.


"Bakso, mba." tawar mas itu.


"Enggak mas, masih kenyang." tolakku.


Mas itu mengangguk dan terus mendorong gerobak baksonya. Aku sebenarnya tidak makan saat menghadapi Gebi edan. Tapi rasa lapar tak kugubris sama sekali.


Dari jauh kulihat seorang bersweter hitam berjalan mendekatiku, laki-laki mengenakan masker hitam. Dibuka masker itu. Luis.


Aku terperanjat kaget tapi Luis mengisyaratkan aku duduk dengan tenang saja.Luis pun duduk di sebelahku. Luis mengambil sesuatu di dalam sweternya.


Luis menyerahkan setangkai mawar merah untukku. Kuambil mawar itu masih basah berembun.


"Kak, dapet mawar ini dari mana?"


"Tuh metik punya orang." jawab Luis terkekeh.


Aku tertawa ulah Luis memetik mawar orang. Ada-ada saja. Luis menarik tanganku saat ia melihat luka di atas jari-jari tangan kananku.


"Kamu kenapa,Ra?"


"Gak apa-apa,kak. Emm, kakak kok tahu aku belum tidur?"

__ADS_1


"Apa pun yang terjadi dengan orang yang kusukai akan aku caritahu."


"Lho, aku 'kan tidak bicara apa-apa dengan kakak."


"Luis bisa dengan cara apa saja." jawab Luis lalu tersenyum.


Kutarik tanganku, tapi Luis menariknya lagi dan mengamati luka tanganku. Luis mengambil dengan hati-hati pecahan kaca yang masih menempel di tanganku.


Nyeri-nyeri rasanya karena setelah kejadian gila itu tak kulihat tanganku. Sungguh hatiku kesal saat itu mendapati sikap di luar akal sehat dari Gebi dan Dana.


Cukup lama Luis membersihkan tanganku. Kenapa Luis berbuat baik denganku. Kenapa yang berbuat baik denganku selalu orang lain, bukan Rangga suami sementaraku. Bahkan memisahkanku dengan kekasihku.


"Ra, kita jalan-jalan yuk." ajak Luis yang masih mengamati luka di tanganku.


"Kemana, kak?udah tengah malem, kak."


"Ke mana saja buat ngilangin galaumu, karena kamu sedang galau ya? sampai melukai tangan seperti ini."


Luis menatapku dan ia tersenyum memperlihatkan dia memiliki gigi gingsul. Kuakui orang memiliki gigi gingsul wajahnya tidak membosankan dipandang. Tampan dan manis jadi pusat perhatian.


Aku mengangguk menyetujui ajakan Luis. Kumasuk dan kulihat Gebi masih tidur, kuletakkan tasku di sebelahnya pertanda aku tetap ada di kosan ini. Takut saat ia bangun ia mencariku. Meski Gebi berbuat salah ia membutuhkanku saat ini.


Kini ada gerimis Luis membuka sweternya untuk menutupi kepalaku, sampai di mobil Luis menatapku terus membuatku bingung harus berbuat apa. Kini baru Luis menjalankan mobilnya.


Terlihat banyak saung mewah dan ada juga kamar penginapan yang mewah. Luis mengajakku berjalan sekitar pantai, suasana pantai masih ramai. Ada pasangan sedang bakar seafood, ada yang bermain gitar di saung, ada yang bersantai di depan kamar dan lain sebagainya.


Luis menarik slim bagku membuatku kaget dan ia tertawa membawanya. Membuatku geram kukejar Luis. CEO tampan itu terus berlari, aku merasa lucu saat Luis memperlihatkan gigi gingsulnya.


Saat sudah dekat slimbagku tak bisa kuraih karna Luis tinggi dariku mengangkat benda itu ke atas dan mengacungkan tangannya tinggi-tinggi.


Luis menurunkannya tapi seperti main basket Luis membelakangiku menyusahkanku mendapati benda itu. Seperti memeluk Luis dari belakang dan ia terus tertawa.


Dan lagi slimbagku diangkat tinggi-tinggi. Aku terus meloncat meraih slimbagku. Tanpa disengaja membuatku terjatuh menimpa Luis.


Luis terdiam menatap manikku. Segera kugeserkan tubuhku dari atas tubuh Luis. Luis pun bangun. Segera kuraih slimbagku.


Aku dan Luis terus diam, lalu kami duduk di ayunan. Rintik hujan sedikit membuat Luis menutup kepalaku dengan sweternya.


Tak disadari tangan Luis memelukku karena ia terus menutupi kepalaku. Sesekali manik kami saling menangkap, dan buru-buru kualihkan pandanganku.


Sampai tak terasa disaat kumenggeliat ternyata aku tidur di ayunan saling berpelukan dengan Luis, mendadak dadaku berdebar begitu kencang.

__ADS_1


Kugoncang-goncangkan tubuh Luis membangunkannya. Luis pun bangun dan kaget melihat arunika sudah meraja lela di mana-mana.


Luis tersenyum lalu menuntun tanganku. Luis berjalan mengucek matanya dan ia tetap menuntunku menuju sebuah kamar penginapan.


"Kak, kita mau ke mana?"


"Ke kamarku."


"Kita mau ngapain, kak?" tanyaku panik dan menarik-narik tangan Luis.


"Aku mau mandi dulu, baru mengantarmu pulang."


"Jangan,kak. Aku harus pulang sekarang karena aku harus bekerja."


Luis tak mengubris perkataanku. Sampai kamar Luis, ia langsung mandi. Diriku duduk di tepi tempat tidur.


Tak berapa lama Luis ke luar dari kamar mandi memperlihatkan abs-nya begitu menakjubkan. Dia sama dengan Rangga. Memiliki roti sobek menggoda.


"Kak,"


"Hmmmm,"


"Kakak, mau apa?"


"Pakai baju."


"Jangan di sini, kak.'


"Kenapa?"


"Aku tidak enak melihatmu pakai baju di depanku."


Luis tersenyum dan mendekatiku. Dengan pelan Luis menggerakkan leherku membelakanginya. Saat sudah pada posisi tepat bagi Luis, ia duduk berjongkok di hadapanku.


Luis memegang lututku dan ia terus tersenyum, menggemaskan memperlihatkan gigi gingsulnya. Luis membelai daguku membuat nafasku kutarik dan hembuskan begitu panjang.


Tangan kiri Luis menekan lututku mengangkat posisinya yang berjongkok. Tangan kanan Luis memegang leherku dan aku mencoba mundur menghindari sesuatu yang kurasa bukan saatnya.


Luis terus maju dan aku terus mundur sampai aku terbaring di atas tempat tidur. Terlalu mundur membuat kakiku sudah berada di atas tempat tidur.


Aku gemetar dan nafas kami terus memburu. Luis menggeser kakinya tak ingin memberatkan tubuhku. Dan ia menatap manikku, membelai rambutku. Meraba hidung dan bibirku.

__ADS_1


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...


💋💋💋


__ADS_2