GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
Gempar Satu Kantor


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


Kini aku tiba di kantor, sangat melelahkan. Mataku berkunang-kunang. Belanjaan sangat banyak kubawa. Kulihat ada security menunggu di pintu depan.


"Pak!" semoga dia mendengar teriakanku.


Benar saja, lelaki paruh baya itu menghampiriku. Dia menatap semua belanjaanku. Wajahnya menampakkan keheranan melihatku belanja banyak siang bolong seperti ini.


"Rara, kamu ini mantap juga ya. Semua bos, kamu embat." ledek security itu.


"Aish ... jangan asal ngomong, tolong bantu bawakan belanjaan ini ke kantin belakang."


"Kamu pucat, kamu sakit ya Ra?"


Lelaki itu bukan langsung membantuku, ia malah memperhatikan wajahku. Aku tak tahu seperti apa wajahku saat ini, hanya saja aku lemas sangat lemas.


Mataku serasa berputar-putar. Kakiku serasa berjalan sendiri. Aku tak tahu bagaimana posisiku saat ini, kumerasa semakin dekat dengan tanah. Semakin dekat.


***


POV Security.


Ya Tuhan, kenapa ini neng geulis pingsang. Aduh mana belanjaannya banyak.


"Bro, sini bantu saya!" teriakku pada satpam lainnya.


Satpam muda itu langsung datang.


"Lho kenapa Rara pingsan,pak?"


"Tidak tahu, saya bawa ke ruang kesehatan dan kamu bawa belanjaan ini ke gedung kantin belakang."


"Saya aja yang gendong Rara,pak."


"Saya aja, kamu bawa belanjaan ini cepat. Takut Rara kenapa-kenapa."


Kulihat satpam muda itu mendengus kesal membawa belanjaan Rara. Aku terkekeh, kesempatan membawa gadis panggilan bos-bos besar. Jika tak ada siapa-siapa aku juga mau coba rasa tubuh mungil ini.


"Biar saya yang bawa Rara!"


Aku tersentak kaget mendengar suara itu, saat berbalik ada CEO Al, Alfarendra. Kakak CEO Rangga. Aku berharap dia tidak bisa membaca isi hatiku. Aku sempat ingin melampiaskan hasratku. Penasaran dengan gadis panggilan bos-bos besar ini.


Tapi tak ingin dicurigai, kuserahkan tubuh calon pelampiasan hasratku pada CEO Al. Dan kami berjalan bersama membawa Rara ke ruang kesehatan. Setelah sampai di ruang kesehatan terlihat Al begitu panik.


Ia mengoles pelipis gadis kecil itu dengan minyak kayu putih dan sedikit memoles ke hidung gadis itu. Kumerasa servis gadis ini sangat memuaskan, sampai ia begitu disayang bos-bos besar.


"Bagaimana kejadian ini?"


"Anu pak, saya lihat Rara dari pasar bawa belanjaan banyak sekali untuk dapur kantin lalu dia langsung pingsan."


"Kenapa Rangga masih membiarkan istrinya bekerja, keterlaluan."


CEO Al bangun dan meraih ponselnya. Tapi jika aku tidak salah dengar dikatakan istrinya, siapa istri CEO Rangga. Selama kerja belum sekali pun melihat gadis pemikat hati CEO itu.

__ADS_1


Dan yang pingsan ini wanita panggilannya CEO Rangga, apa jangan-jangan gadis ini adalah istri CEO Rangga. Ah! tidak mungkin.


Ceklek!


Aku terkejut melihat CEO Rangga datang, mana dia selalu sinis dan menyeramkan. Kulihat CEO Rangga sangat panik dan berusaha membangunkan Rara.


"Sssst." desis satpam muda tadi yang ikut datang ke ruang kesehatan.


Kami berdua melihat CEO bersaudara itu membangunkan Rara. Dan akhirnya Rara bangun. CEO Al memberinya minuman air, dibantu CEO Rangga menyuapi Rara.


Dan mengejutkan CEO Rangga memeluk Rara begitu erat. Semakin membuatku penasaran dengan Rara ini.


Dan dia bisik-bisik dengan CEO Rangga membuat Rangga lebih menyeramkan. Saat CEO Rangga berdiri segera Rara menahannya.


"Nanti saja, Ngga. Kamu temani Rara dulu." kata CEO Al.


CEO Rangga menahan amarahnya dan duduk di dekat Rara. Lalu CEO Rangga menoleh ke arahku.


"Apa benar istri saya belanjaan banyak untuk kantin?" gertak CEO Rangga.


"Iya,pak." jawabku ketakutan.


CEO Rangga ini pendiam dan sulit untuk marah, tapi jangan coba-coba mengusik tentangnya sedikit saja. Bisa mengerikan saat CEO marah.


Setelah Rara membaik CEO Rangga membopong Rara ke luar ruang kesehatan. Kulihat sangat mesra dan sayang CEO Rangga pada Rara.


Belum pernah CEO Rangga seperti ini, mesra dengan perempuan. Dan Raralah gadis pertamanya. Dulu kuingat betul memergok CEO dan Rara.


Mereka pasti lohay lohay semalaman, karena paginya CEO Rangga tidak mengenakan baju. Memperlihatkan tubuh atletiknya. Dan Rara jalan aja susah, pasti ganas permainan mereka malam itu.


Dan CEO itu beserta kakaknya langsung pergi membawa istrinya. Tinggal aku dan satpam muda tadi di ruang kesehatan.


"Pak,matilah kita kalau apa-apa dengan Rara."


"Iya, saya terkejut setelah tahu Rara itu istrinya CEO Rangga."


"Iya,pak. Saya kira Rara masih single."


"Iya, ya sudah ayo kita jaga di depan nanti dimarahi bos kita ngetem di sini."


Satpam muda itu mengangguk dan kami langsung meninggalkan ruang uks. Fikiranku kacau berkhayal dengan istri bos besar tadi, menakutkan. Untunglah aku tidak menyentuhnya, jika iya tamatlah sudah.


***


kembali ke POV Rara.


Rangga sama sekali tidak bicara meski ditegur semua karyawannya, sepertinya dia marah mengetahuiku bekerja. Apalagi aku pingsan.


Aku merasa baik-baik saja dan tidak menyangka akan pingsan, untung saja sudah sampai kantor. Jika masih di pasar menyusahkan banyak orang.


Sampai di ruang Rangga barulah Al pamit pulang, dan entah aku tak bisa mencerna segala pesannya untuk Rangga menjagaku. Aku rasa aku baik-baik saja.


"Sayang, kamu kenapa tidak mendengarku?" tanya Rangga pelan dengan membelai rambutku.


"Maafkan aku ya kookieku."

__ADS_1


"Aku menyayangimu, aku tidak mau kamu lakukan ini lagi. Mulai detik ini jangan lakukan ini lagi."


Aku mengangguk dan Rangga memelukku. Aku tersenyum disayangi orang yang baru saja membuatku jatuh cinta padanya.


"Sekarang kita pulang ya."


"Baiklah kookie."


"Kita akan menemui mama dahulu, karena aku ingin mama menentukan asisten untuk istriku."


"Asisten?"


"Iya, aku ingin asisten rumah dan supir yang akan mengantar istriku pergi."


"Makasi ya kookieku."


"Iya, istriku. Kamu jangan nakal lagi ya jangan coba-coba kerja di kantor ini, tidak boleh."


"Iya, sayang."


"Ayo, kita pulang sekarang."


Rangga menggandengku, saat pintu ruangannya terbuka berpas-pasan dengan Ani dan gengnya yang tadi dipanggil Rangga.


Kutarik lengan Rangga menandakan aku tidak menginginkannya marah dengan Ani, juga jangan sampai memecat Ani. Kasihan Ani tulang punggung keluarga karena suaminya sudah tidak ada.


"Mulai detik ini siapa pun yang berani memerintahkan istri saya, akan berhadapan dengan saya." keras Rangga.


"Maaf,pak. Istri bapak siapa?" tanya Ani kepo.


Jantungku berdebar ketika Rangga menatap ratu ghibah itu begitu sinis.


"Ini istri saya, apa kalian tidak bisa melihatnya."


Semua mata OB yang datang dan juga Kirana terbelanga dengan mulut menganga mendengar pernyataan mengejutkan di siang bolong.


"Untukmu Ani dan team mulai besok kalian kerja tidak akan menggunakan jadwal tapi seluruh kantor dan kantin akan kalian kerjakan setiap hari kecuali tanggal merah, paham!" hardik suamiku dengan tetap memeluk tanganku.


Rangga memelukku dan kami segera meninggalkan tempat itu. Rangga tersenyum dengan mesra menggandeng tanganku. Sampai di mobil Rangga mengecup keningku dahulu, baru ia tancap gas meninggalkan kantor menuju mantion orangtuanya.


Rangga sesekali meliriku dan ia mengkerlingkan matanya menggodaku, membuatku ikut tersenyum merasa hatiku geli dibuatnya.


POV Ani


"Astaga saya salah dengar apa tidak ini jeng?"


"Aduh, An mengerikan kita ngebully istri atasan!" ungkap Ina ketakutan sama sepertiku.


"Lagian mba sih dikasih tau ngeyel."


"Heh, diam kamu Siska!" semprotku naik darah anak kecil ikut campur.


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...


💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2