GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
Perasaan Sahabat


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


"Kak, aku ke belakang dulu ya."


"Kamu mau ngapain ke sana?" alis Al terpaut.


"Kangen sama temen-temen, kak." jawabku cengengesan membuat Al tertawa lagi.


"Adakah selain itu kamu kangenin?"


Kutatap Al keheranan, apa maksud pertanyaannya. Siapa yang harus di rindukan di kantor ini. Aku menggeleng kebingungan.


"Kasihan orang itu tidak penting, kangennya tidak terbalaskan." Al menaikan sebelah alisnya, membuatnya damage.


"Siapa sih kak orang itu?"


Al melihat jam tangannya dan wajahnya langsung berubah serius, dia tipe bos yang ontime. Dan pastinya dia tidak mau berdebat dengan Rangga.


"Em, Ra ee saya ketemu Rangga dulu ya. Jika kamu tidak sibuk kita makan siang bersama ya." izin Al memegang tanganku, genggaman seorang kakak begitu hangat.


Aku mengangguk dan melihat Al melangkah buru-buru, ketika sampai di tikungan ia menoleh ke belakang.


"Dia pengagum rahasiamu!" teriak Al membuatku terkejut bukan main.


"Bukankah pengagum rahasia itu yang sering mengirim cokelat pink!" gumamku kebingungan.


Aku berbalik dan berjalan dengan memikul beban cukup berat bagiku,"Siapa pengagum rahasia itu, apakah dia adalah Al."


Terus fikiran itu mengacaukan otakku saat ini. Kepalaku dipenuhi dengan bayangan itu semua. Melangkah serasa begitu lambat. Dan setiap sapaan tak bisa kubalas one by one, semua kuacuhkan dengan misteri pengagum rahasia itu.


Ceklek! kupegang dan kutekan knop pintu ruang OB, melihat kedatanganku semua bangun dan membungkuk seperti jaman kerajaan bertemu permaisuri baginda raja saja.


Aku tersenyum dan melangkah mendekati Siska dan teman lainnya. Melihatku Gebi terlihat ingin bangun menjauh tapi Siska menahannya. Gebi nampak masih kesal biasnya kurebut paksa.


"Cieeee ... isteri Sultan!" goda Mas Odi.


Bibirku langsung monyong mencibir Mas Odi, semua OB tertawa mendengarnya kecuali Gebi seorang.


"Awas! kasih tempat untuk bu bos!" titah Mas Odi, diikuti semua OB mengosongkan bangku dan mereka pilih duduk selonjoran di lantai.

__ADS_1


"Ais ... jangan begini deh, ini Rara temen kalian bukan orang asing." kerasku membela diri.


Mereka semua tersenyum kecuali Gebi.


"Bebeb sakit, ya? kok manyun?" tanya Doedoroan memperhatikan Gebi.


Aku mendengus kesal melihat perhatian Deoza itu sia-sia. Deoza alias Deodoran itu bukan perhatian biasa, mengenaskan jika ia tahu siapa gadis yang ia puja itu.


Gebrak! kuhempaskan tubuhku di bangku dekat dari Gebi membuat gadis lebay itu terganggu dan menatapku begitu sinis. Kami beradu pandang, enggan diriku mengalihkan pandanganku. Seperti hewan buas ngences melibat kancil kecil, liurnya merembes deras ingin menerkam mangsanya.


"Duh bu bos, kok duduk begitu nanti kempes dan sakit body bohaynya!" panik Mas Odi melihatku duduk paksa.


"Enggak bakal kempes kok Mas, jika kempes Sugar Daddy akan membahenolkannya lagi." akuku menyombongkan diri menatap Gebi.


'Ssst' Deo mendesis menarik tangan Gebi yang terus menatapku tajam, ia menyadari diantara kami berdua sedang tidak sedap dinikmati. Kuyakini Deo melarang Gebi bermasalah denganku. Aku mendengus lagi.


"Ra, gimana sih ceritanya kamu diem-diem nikah sama bos?" desak Mas Odi penasaran.


Hap! kulihat Ina menutup mulut Ani yang baru saja ingin menyolot, aku tersenyum mereka kapok membully istri sultan.


"Kita backstreet, Mas!" jawabku garing.


Mata semua terbelanga dan mulut mereka menganga mendengar jawabanku, tanpa harus mereka tahu ada cerita lain membuat benih cinta tumbuh saat ini.


"Namanya aja jodoh, Mas!" balasku.


"Bagus ya, jodoh saat pacar kritis di rumah sakit." semprot Gebi membuat ruang OB langsung tegang.


Amphere emosiku langsung melonjak mendengar bacot teman makan teman, bahkan ulahnya membuatku pulang larut malam. Menenangkan diri akan perbuatan gilanya.


Aku menarik nafas dalam-dalam mengatur apa yang harus aku katakan, menghindari keributan karena posisiku bukan Rara yang dulu sedikit-sedikit ribut.


"Geb, gue nikah sama Rangga sejak tersiar berita dia nikahan. Dan orang yang dia lamar itu adalah gue, maka itu Rangga mengspesialkan gue di sini." terangku tenang.


"Wow, tukang selingkuh profesional ..."


"Seperti lo dan Dana!" akhirnya apa yang kutahan keluar begitu deras.


Gebi mendadak pucat dan Dana langsung menunduk. Ruang OB semakin tegang, dan kulihat tatapan paling penasaran Ani and geng. Jika sudah masuk telinga mereka, siap-siap dimuntahkan dan tidak akan bisa masuk ke mulut lagi.


Yang malu adalah mereka berdua, tapi sayang mengorbankan perasaan sepasang sahabatku Siska dan Deoza.

__ADS_1


"Maksud lu apa, Ra?" tanya Siska yang terus menatap Gebi dan Dana.


"Tanya langsung Sis, apa yang terjadi jika sepasang manusia dalam kamar." jawabku polos. Aku tersenyum sinis.


"Beb, lu tidak ngapa-ngapain 'kan dengan Dana?" Deo menatap begitu dekat dengan Gebi yang masih diam.


"Dana, lo ada apa dengan Gebi?" kebut Siska mendapatkan penjelasan. Tapi sia-sia, Dana ikutan diam.


"Ra, kasih tahu gue mereka ngapain? gue mohon, Ra. Kita ini temen." desak Siska.


"Gimana, Geb?" tanyaku santai.


"Brengsek lo, ya udah tahu salah malah ngegas." protes Gebi.


Aku tersenyum sinis dan menyilangkan kedua tangan di dadaku. Kutatap Gebi dan berkata,"Lo yang caper terus ngapain lo jadi baper, jangan suka mancingin war jika srepet!"


Terdengar nafas Siska memburu, ia terlihat bernafas ngos-ngosan. Siska mendekati Gebi dan Dana membuat keduanya bangun dari duduknya. Mereka berdiri semua, Siska berhadapan pas dengan Deo, sedangkan Dana berhadapan pas dengan Gebi.


Mereka berempat berdiri begitu dekat, nanar Gebi terus menggerayangi diriku yang mulai terbakar kesabaran selama ini. Siska menatap Dana dengan mata yang mulai basah.


"Apa anak dalam perut Gebi itu anak lo?" tanya Siska begitu dalam dan tenang.


"Uuuuuuuuuuu!" reaksi Ani and geng dan OB lain bersamaan mengetahui berita mengejutkan yang dilontarkan Siska barus saja.


"Wih, Gebi ngerebut tunangan sahabatnya." muntah Ani dengan senyum mengejek melihat Gebi.


"Teman kayak itu tenggelamkan saja,ya!" sambung Ina.


Mas Odi memilih diam, kurasa ia mengetahui soal ini urusan perempuan dan tidak baik untuknya sebagai lelaki sejati mencampuri urusan ini. Kecuali dia banci yang mengerti apa yang harus ia atasi soal kemelut rumit diantara sahabat wanitanya saat ini.


"Pradana Wirabakti, katakan saat ini juga apakah anak di rahim Gebi itu anakmu?" mulai terlihat Siska menggaskan pertanyaannya.


Akhirnya Dana menunduk dan mengangguk.


Plakkk!


Plakkk!


Bolak-balik Siska menampar pipi mulus Dana. Airmata Siska tumpah begitu saja, ia memejamkan matanya dengan kedua bibirnya bergetar menahan ribuan ucapan. Entah itu makian atau penyesalan.


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...

__ADS_1


💋💋💋


__ADS_2