GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
POV Rangga -Perasaan-


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


Aku tertidur. Kuputar kepalaku kiri dan kanan karena terasa pegal, kulihat Luna belum bangun. Kuraih ponsel di saku jacketku, kulihat tak ada pesan atau panggilan dari Rara.


Aku bangun dan membuka pintu kamar Luna, dia masih tidur. Kututup kembali pintunya dan kembali ke tempat tidurku, sova di ruang menonton televisi.


Hari sudah siang aku harus pulang, tapi Luna masih mabuk. Dia anak yang susah diberitahu dan egois. Tak dituruti dia akan marah. Dasar Luna.


Kusenderkan tubuhku di sova, tak berapa lama pintu kamar Luna terbuka. Mataku meletoy melihatnya memakai baju perempuan.


Kutarik jacketku dan kukenakan padanya,Luna menarik dan membuang jacketku. Kuambil jacket itu dan kukenakan lagi. Luna menarik dan membuangnya lagi.


"Kenapa denganmu,Ngga?" tanya Luna sambil mengucek-ucek matanya.


Aku diam tak menjawabnya dan kukembali ke sova tempatku tidur semalam. Luna mengikutiku dan ia duduk asal-asalan di depanku. Kutarik ponselku dan mengutak-atik melihat ig-ku.


"Kamu saat menginap di rumahku selalu tidur di kursi atau di mobil."


Aku tak merespon Luna, biarkan dia bicara sesukanya.


"Hey, Ngga. Aku bicara sama kamu." Luna menarik ponselku.


"Kenapa?"


"Aku mau bicara sama kamu."


"Katakan saja."


"Rangga bagaimana jika aku merayumu, apa kau suka?"


Aku tercengang mendengar keanehan Luna. Dia masih mabuk. Jika tak diawasi bahaya untuknya minum di bar sendiri. Dia bisa diganggu lelaki hidung belang.


Luna pindah tempat duduk ke sebelahku, tangan Luna membelai daguku. Kumengelak dia tetap begitu.


Aku bangun dan pergi ke dapur, kulihat ada banyak susu di kulkas. Ini cara untuk meredakan mabuk Luna. Kuambil banyak susu dan memberinya untuk Luna.


"Aku butuh bir, bukan susu." tolak Luna.


Kupaksakan terus Luna untuk minum.


"Baiklah, aku akan bercinta denganmu bila kau habiskan susu ini." tegasku meninggikan suaraku.


Kuhempaskan susu kotak di atas nakas, Luna tersenyum genit dan segera menghabiskan susunya bahkan dia mual saat minum saking banyaknya. Sebentar lagi dia akan sembuh dari mabuk gilanya.


"Kau akan sembuh dari kebiasaan gilamu dan aku akan pulang sekarang." kuambil jacketku tapi Luna menahan jacketku.


"Kapan kita bercintanya?"


"Aku tak akan memyakitimu, kau berharga bagiku."


Percuma mau jawab apa pada orang masih mabuk. Dia tidak akan bisa mencernanya. Aku terus melangkah dan Luna tak mengejarku, dia masih berkutat dengan rasa mualnya.

__ADS_1


'Aku sudah gila jika menyentuh Luna. Aku akan menjaganya sampai akhir hayatku. Luna tak punya siapa-siapa, dia hanya punya aku dan Al. Tapi dia salah mencintai salah satu kakaknya.'


'Al belum pernah jatuh cinta dan kutak tahu kapan Al bisa jatuh cinta. Dan tak tahu dari segi apa Luna menyukai Al.'


'Meski aku tidak ia cintai, aku tetap akan menjaganya' aku terus membantin sampai pergi dari rumah Luna. Aku harus membahagiakan dia. Dia butuh bahagia.


Semoga aku bisa. Kini kulihat dari spion rumah Luna tak terlihat lagi. Aku mempercepat laju mobilku. Aku khawatir Rara terjadi sesuatu karena ia sama sekali tidak mengabariku.


Sesekali kulihat ponselku berharap ada satu panggilan dari Rara, tapi tak ada. Dan aku tak mau menghubunginya dahulu, aku takut dia marah-marah tidak pulang semalaman.


Sepi tak ada suara curut yang sering membuat kesal. Dan kini sampai di rumah. Lampu rumah masih menyala, apakah Rara belum bangun.


Kubuka pintu rumah kulihat tak ada sarapan di atas meja makan dan kulihat tak ada masakan di dapur. Kumendongak ke atas,sepertinya dia memang masih tidur.


Ktak!


Ktuk!


Kunaiki anak tangga dan segera membuka kamar Rara,aku tersentak kaget melihat Rara tidak ada. Di mana anak itu. Kulihat kamar mandinya tak ada. Kulihat tempat cuci baju tak ada.


Kuchek setiap ruangan di rumah ini tetap Rara tak ada. Apa yang terjadi. Kuraih ponselku dan kutelepon nomor Rara.


'Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau di luar jangkauan'


Mataku melotot.Ke mana kucari Rara. Segera menuju mobilku.Apa dia sudah di kantor. Aku ke kantor dulu.Butuh waktu satu jam karena mataku mengawasi jalanan siapa tahu melihatnya.


Sampai kantor meski tak menggunakan jas aku terus melangkah mencari Rara, dia tidak ada. Ke mana dia. Terserah satu kantor heran aku sibuk bertanya keberadaan Rara. Aku takut dia kenapa-napa.


Sampai di sana aku berjalan kaki menuju rumah kos Rara. Pintu kosnya terbuka, bearti Rara memang ada di sana. Aku mengintip, tak terlihat orangnya hanya suaranya. Suara dua perempuan.


Itu pasti Rara. Aku mengendap-endap melihat ke dapur,kaget saat mengintip bukan Rara. Mereka OB di kantor yang aku lupa namanya. Teman Rara. Di mana dia.


"Kak."


Aku tersentak kaget mendengar suara itu, saat aku menoleh Rara memanggilku. Aku tersenyum dan segera kupeluk ia.


"Kamu baik-baik saja?"


"Aku baik dan kakak kenapa ke sini"


"Aku mencarimu."


Tiba-tiba Al masuk ke kosan Rara,apa yang terjadi.


"Kakak kok ada di sini?"


"Saya mengantar Rara pulang."


Kulihat Rara menunduk, apakah dia melakukan kesalahan. Aku menghela nafas. Dan kupegang tangan Rara, kuajak ia pulang. Rara menggeleng.


"Temanku membutuhkanku, kak."


"Temanmu kenapa?"

__ADS_1


"Dia sakit,kak."


Kuambil ponselku dan minta anak buahku datang ke kosan ini membawa teman Rara ke rumah sakit. Rara tersenyum dan ia mengemas barang-barang temannya.


Kedua temannya kebingungan melihat kehadiranku dan Al. Kudekati Al.


"Kalian dari mana,kak?"


"Hanya jalan-jalan."


"Kau menjaga dia 'kan?"


Al mengangguk. Aku gelisah khawatir Al membawa Rara. Meski pun dia kakakku sendiri, aku tak ingin Rara membuatnya pusing karena anak itu susah diurus.


Kini anak buahku datang dan segera membawa teman Rara, diriku sebenarnya ingin istirahat tapi apa boleh buat melihat Rara ikut ke rumah sakit maka aku harus ikut. Aku takut nanti dia pergi tiba-tiba lalu menghilang.


Al kembali ke resortnya karena ada kerjaan yang tak bisa ia tinggalkan. Diriku mengikuti ke mana mobil anak buahku membawa tiga wanita itu.


Berapa belas menit sampai di rumah sakit terdekat. Kugunakan masker karena tak ingin bertemu media, malas pagi-pagi sarapan pertanyaan itu-itu saja.


Terlihat Rara begitu perhatian pada temannya, ia sibuk wara wiri mendaftar di institut gawat darurat dan lainnya mengisi data temannya. Kini dokter datang memeriksa temannya.


Aku berdiri di luar menunggu selesai. Tak berapa lama dokter ke luar.


"Pak, bapak yang membawa pasien Gebi ya?"


Aku mengangguk.


"Selamat,pak. Istri bapak postitif." ucap dokter perempuan itu menyalami tanganku.


"Istriku hamil?"


Aku bingung yang sakit si Gebi tapi kenapa Rara yang diperiksa.


"Istri saya yang mana dok?"


"Ha? maksud bapak tiga wanita di dalam itu semuanya istri bapak ya?"


Aku bingung apa yang dokter ini lakukan menyatakan tiga wanita itu istriku. Aku minta dokter itu menunggu dan kumasuk ke ruang igd, kutarik tangan Rara.


"Kamu hamil ya?" bisikku.


"Enggak, kak."


"Tapi dokter bilang istriku hamil."


"Mungkin dokter kira kakak ini suaminya, Gebi." Jelas Rara terkekeh.


Aku bingung dan menyesal ikut ke rumah sakit. Diriku dicap suami Gebi. Aku mendengus kesal menunggu semua proses selesai. Aku sudah lelah bergadang semalaman, kapan Rara akan pulang.


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...


💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2