
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot.
💋💋💋
Menyusahkan menjadi istri orang kaya. Menghadiri undangan keluarga saja tidak sembarang baju. Sampai make up juga dilakukan orang make up artis walau aku bukan artis.
Kini aku baru selesai didandan Kak Igun, seksi big. Desainer kondang dan baju yang kukenakan juga buatan Igun. Segera kuberjalan menuju mobil karena Rangga menunggu di mobil.
Rangga sudah oke sejak dari rumah hanya diriku yang disulap sedemikian rupa. Menurut Igun penampilanku sudah perfect, tapi aku tak tahu bagaimana menurut Rangga.
"Kak Rangga!" panggilku dengan keras.
Rangga yang sedang bermain ponsel segera menoleh ke arahku dan mulutnya menganga, seperti buaya sedang berjemur. Begitulah keadaan Rangga saat ini.
Mata Rangga tak berkedip sedikit pun. Apa itu artinya Rangga syok melihatku. Aku jelek. Ini tandanya Rangga tak menyukai penampilanku.
Jika ngotot ke mansion dandanan seperti ini akan memalukan Rangga. Aku dekati saja dan tanya di mana letak penampilanku terjelek.
"Kak, aku jelek ya?" bisikku malu di dengar orang karena ada banyak teman-teman Rangga kurasa, ikut datang ke rumah Igun.
Apalagi semua mata melihatku baik laki-laki atau perempuan, semua menatapku. Membuatku semakin malu.
"Perfect." ucap Rangga dengan senyum delima matangnya merekah.
Alisku terpaut.
"Kak, bagaimana penampilanku di rias Kak Igun?"
"Cantik dan aku yakin semua keluarga akan terpesona melihat istriku."
Rangga langsung menarik tanganku ke dalam mobil dan ia segera melajukan mobil mewahnya. Dan saat akan ke luar dari rumah Igun, aku melihat banyak lelaki memegang kamera diam-diam dan mereka membidikkan kamera mengikuti arah mobil Rangga.
Tapi aku tak tahu siapa orang itu. Mungkin karena Igun make up artis jadi ada orang yang diam-diam memfoto semua artis yang datang, tapi mereka salah karna kami bukan artis.
Kini sampai di mansion. Maid membuka pintu mobil untukku dan Rangga memberi tangannya untuk kugandeng. Kami pun masuk ke dalam mansion.
Saat masuk otakku traveling ingat saat malam pertama dulu. Masuk ke dalam mansion dengan gaun pengantin yang sangat berat.
"Kak." kutarik tangan Rangga dan ia menoleh.
"Apa?"
"Kakak inget nggak saat pertama membawaku ke mansion ini?" bisiku pada Rangga.
Rangga tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Inget apa kak?"
"Inget hal yang menarik dong. Dan nanti malam mau gak diulangi?"
Kucubit tangan Rangga membuatnya kesakitan. Aku bertanya ingin mengajak fikirannya traveling, tapi Rangga malah duluan meminta jatah.
Menyebalkan sekali. Sejak menikah kurasa Rangga selalu merayu sebisanya demi berhubungan. Meski kubertahan sekuatnya, akhirnya goyah karena ia bisa memancing sampai kutak berdaya bahkan membuatku gila.
'Sejak kenal Luis jadi selalu berkata gila. Dan apalah Luis sudah bermain gila'
Jangan fikirkan Luis, karena semua tak sengaja. Kini kami sampai di sebuah ruangan besar yang ramai membuatku malu rasanya bergabung dengan orang kaya.
Dan saat kami masuk ruangan yang ramai langsung sunyi senyap dan semua mata menatap kami. Kutarik tangan Rangga, tapi ia tak perduli.
Kami mendekati orangtua Rangga juga ada kakek dan nenek di sana dan ada Al. Kujabat tangan semuanya dan ketika jabat tangan dengan Al, dia menahan tanganku dan mendekatkan bibir merah alaminya ke telingaku.
"Aku sempat tak mengenalmu, kau sempurna malam ini." bisik Al.
'Sudah dua orang memuji diriku'
Aku tersenyum. Dan banyak keluarga yang memfotoku dan Rangga. Rangga selalu menggandengku. Kini kami menikmati makan malam di mansion sebentar.
Menu pembuka, menu berat, dan menu penutup yang enak sekali dan kutak tahu menu orang kaya. Di sini saat makan dilarang bersuara.
Kini setelah makan malam kakek dan nenek mengajak semua keluarga berdansa. Kulihat wajah Rangga nampak bahagia, tidak denganku yang tidak pernah berdansa.
Dan Al mengulurkan tangannya mengajakku berdansa. Kulihat mata Rangga melotot dari jauh karena ia sedang bicara dengan papanya.
"Ayo, Ra. Berdansa dengan kakakmu." titah mama mertua.
Aku mengangguk dan menerima tangan Al. Terasa Al memelukku dengan lembut dan mengajakku berdansa. Manik kami beradu. Dan mengenakan hels membuatku bisa pas tinggi dengan Al, karena sejatinya aku kecil dibanding badan Al dan Rangga.
Rangga tidak lagi menatap papanya, ia fokus melihatku. Al lebih sering menatap manikku karena selain itu pandangan Al tidak fokus. Apa yang Al lihat pandangannya naik turun.
Ketika lampu diredupkan menjadi remang-remang pas untuk menikmati musik lembut berdansa, terlihat Al menggigit ujung bibir bawahnya dan hembusan nafas Al memburu.
"Ra, kamu lanjutkan dansa dengan Rangga ya."
"Kakak kenapa?"
"Aku tidak konsen."
Aku tak mengerti maksud Al dan lagi ia menatap manikku dan pandangannya naik dan turun. Kemudian Al mengantarkanku pada Rangga.
Rangga menyambut tanganku dan kami berdansa. Aku terus melihat Al yang kini sedang pusing karena memijat pelipisnya dan ia duduk di kursi.
__ADS_1
"Bajumu menggodaku." bisik Rangga.
Kuperhatikan busanaku. Dress krim cantik dengan taburan gold dan menampakan belahan dadaku yang kurasa ini yang menggoda Rangga. Aku tersenyum dan mencubit pipi Rangga.
Selesai acara dansa kami pun pamit pulang. Kujabat tangan keluarga kecuali Rangga, karena saat aku akan mendatanginya ia segera menghindar. Aku tak tahu mengapa Al seperti itu.
"Ra, sudah mual-mual belum?" tanya mama mertua.
"Iya, sudah hampir dua bulan lho." sambung nenek.
Aku tersenyum dan menggeleng.
"Aw!" teriak Rangga saat dicubit mamanya.
"Main tiap malam Ngga biar kami cepet dapet cucu." kata mama.
"Dia tidak mau,ma tiap malam." jawab Rangga sambil mengusap perutnya bekas dicubit mamanya.
"Benar itu, Ra?" tanya mama.
Aku salah tingkah. Aku tidak tahu harus jawab apa.
"Kalian sering-seringlah bercinta biar jadi dedek barunya." goda mama.
Keluarga Rangga nampaknya memang sudah menginginkan cucu dan diriku dalam kebingungan. Bagaimana dengan mamaku jika aku memberi anak untuk Rangga.
Aku takut mamaku serangan jantung menerima aku di Jakarta bukan bekerja malah menikah dengan orang yang tidak mama sukai. Mama tidak suka orang kantoran.
Aku takut kelak mendapat kutukan dari mama karena doa ibu terdzalimi cepat terkabul kala ia tahu aku di sini menikah dan ia akan membenciku.
Aku pun berbohong dengan mama bahwa sebenarnya aku di Jakarta tempat yang ditakuti mamaku. Oh Tuhan, apa yang harus aku jalani.
"Rara, kok kamu diam?" tanya mama menyadarkan haluanku.
"Ngga nanti bawa ramuan cepat hamil buatan kakek dan kalian harus rutin meminumnya, akan kami chek ke rumah kalian nanti diminum apa tidak." titah sang nenek diiyakan Rangga.
'Ramuan'
'Oh my God'
'Dulu ramuan semacam itulah membuat tali kedekatanku dan Rangga'
'Aku dalam kebingungan'
Terlihat Rangga tersenyum menggoda ke arahku dan lagi ia memainkan kerlipan matanya. Begitu gemas melihat CEO mesum ini.
__ADS_1
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...
💋💋💋