
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama ceo hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
"Pak,"
CEO yang sedang tacak pinggang menatap ruang kerjanya yang kudekorasi itu berbalik, aku terus berdiam di tempat.
"Apa saya sudah boleh pulang ?"
Dia hanya mengangguk lalu berbalik menghadapi ruang santai. Aku pun tak mau berlama-lama dengan segera kulangkahkan kakiku dengan pelan.
Saat melewati CEO, ia menarik tanganku membuatku terhenti melangkah. Dan langsung CEO mengecup bibirku membuatku gemetar lagi.
"Aku akan mengantarmu pulang, karena kamu susah berjalan pasti itumu sakit."
Aku terdiam tak mampu merangkai kata.
"Kamu keluar dulu tunggu saya di mobil, ini kunci mobil saat sampai kau tekan ini dan langsung masuk!"
CEO memasukan kunci mobil ke saku jaznya. Segera kutinggalkan dia karena aku takut nafsunya masih membara setelah ia mengecupku.
Begitu kubuka pintu ruang kerja CEO untunglah Kirana sedang tak ada. Aku terus berjalan mengendap-endap takut ditemui para OB atau karyawan di sini karena aku takut mereka tahu atas kejadian semalam.
"Dara Samudera Pradipta!" Teriak Siska.
Melihat kedatangannya membuatku panik, air mata membanjiri karena segera kuberlari menghampiri Siska dan menariknya menjauh.
"Ra, kok lo nangis?"
Siska menangkup wajahku dan menghapus airmagaku. Terlihat ia melihatku memegang area perawanku.
"Ra, lo baik-baik aja 'kan ?"
"Sis, gue mohon jangan beri tahu siapa-siapa!"
"Beritahu apa, Ra ?Dan lo pake ini jaz siapa ?"
__ADS_1
"Rara cepatlah!"
Aku dan Siska menoleh melihat CEO melewati kami.
"Sis berjanjilah jaga rahasia ini nanti gue ceritain."
"Ra, kok jaz lo dan celana CEO sama apa jangan-jangan lo sama CEO emmm ... !"
"Bukan itu Sis, jangan mikir negatif gue pergi dulu nanti gue jelasin en plissss jaga rahasia ini."
Aku segera menyusul CEO dengan berkali-kali kuusap mataku menghapus airmata tadi. Aku takut bagaimana menjelaskan pada Siska bahwa keperawananku telah direnggut CEO secara paksa.
Tapi tak mungkin kuumbar aib itu karena CEO bukan sembarang orang, dan peristiwa semalam itu kecelakaan. Dan pastilah aku tidak akan mendapatkan pertanggung jawaban, karena diriku hanya bawahan terbawah. Malang nasibku.
Di dalam mobil.
CEO melaju dengan kencang, sesekali ia melirikku dan berapa kali pandangan kami bertabrakan.
"Masuk gang itu, pak."
CEO membelokkan mobilnya pada arah yang kujelaskan tadi. Dan sesuai permintaanku, CEO menghentikan mobil putihnya. Cukup sampai di ujung gang karena mau masuk ke dalam mobil tak bisa, dikarenakan kondisi jalan sempit dan hanya motor yang bisa masuk itu pun motor tanpa bawa alat-alat seperti orang jualan membawa gerobak dan segala macam lainnya.
CEO membantuku karena entah kenapa jaz CEO tersangkut, terjepit entah bagaimana tak kuketahui karena orang semacamku tak mengerti dengan antribut mobil. Diriku hanya orang miskin yang tahunya hanya naik angkutan kota atau bus saja.
Dan Hap!
Karena posisi CEO memelukku walau bukan maksud berpelukan membuat kembali bibir kami bertabrakan, ditambah dada CEO menyentuh dadaku. Seketika kurasa gunungku mengencang, pertanda apakah ini.
Dengan perlahan CEO membuka seat beltku dan merapikan ujung jaznya, karena orang kaya tak mau jaz mahalnya rusak sedikit dan kurasa pasti itu nyatanya sesuai haluanku.
Kini posisi CEO tetap di depanku, manik kami beradu membuat lidahku kelu. Kumenunduk dengan perasaan bercampur aduk. CEO mendekatkan wajahnya lagi, kupalingkan sedikit wajahku.
Semakin CEO menempel ke arah dadaku dan semakin merasa terhimpit, pautan bibir orang kaya tak lagi terelakkan. Tubuhku gemetar dengan pacuan jantung begitu kencang.
CEO tak melakukan apa-apa hanya ciuman yang ia berikan, begitu menghanyutkan. Dan ada keanehan bagaikan roti mengembang saat proses pembuatannya,terasa ada celah yang terbuka dan itu yang kurasa dalam liang mahkotaku. Kenapa rasa sakit itu tak terasa saat seperti ini.
Kenapa ada yang aneh dengan mahkotaku, seumur hidupku baru kali ini kurasakan sungguh berbeda. Tubuhku bergetar, Jantung berpacu cepat, dan gunungku jadi mengencang hebat, juga mahkotaku merasa lain semacam ingin disentuh. Gemas rasanya.
__ADS_1
Triiiiiing!
CEO menghentikan ciumannya dan menarik ponselnya dan matanya melek ketika melihat layar ponselnya. Dan seakan aku tak ada CEO langsung melupakanku yang sedang terbuai ciumannya.
CEO mengangkat telponnya dan segera menerima panggilan itu.
"Kamu di mana ?"
Sehabis bertanya CEO diam dan yang terdengar suara wanita yang menelepon CEO menghentikan aksi birahinya. Jika tidak ada telepon itu kurasa CEO akan kembali liar seperti semalam.
Juga suasana gang kontrakanku kenapa mendukung seperti saat ini karena sepi sungguh sepi. Biasanya sangat ramai seperti saat aku berangkat kerja, para warga sibuk menyapu halamannya, menunggu tukang sayur, dan juga ada lalu lalang berangkat kerja juga.
Tapi pagi ini terasa lain, mereka seperti sudah mendapat telepati lewat hati yang dikirim CEO untuk tidak ke luar rumah selagi ia masih ada di sini.
Selesai menerima panggilan senyum CEO nampak begitu jelas, ia berbalik menatapku seperti ingin memberikan kabar baik itu.
"Kamu cepat mandi dan ganti baju lalu kembali ke sini, jangan lama-lama!" titah CEO dengan tetap tersenyum menghadapku.
Alisku mengerut dengan menebak isi hati CEO apa yang terjadi sampai ia mendesakku kembali ke mobil. Apa ia akan melakukan seperti semalam di mobil atau ia ingin mengajakku ke tempat lain hanya untuk memuaskan nafsu bejatnya.
Dalam wajah CEO ada wajah mamaku di kampung. Menyirat fikiranku aku bertahan dengan posisiku saat ini karena mama. Tanpa malaikat tak bersayapku tahu bahwa bosku sendiri telah merenggut kesucianku.
Dan akan mengulanginya lagi. Mahkotaku akan terluka lagi. Kuhela nafasku perlahan dan segera turun. Saat berjalan kumenoleh melihat CEO sedang tersenyum dan membuka kaca mobilnya.
Wajah menggemaskan itu mengganggu fikiranku. Kenapa mahluk Tuhan yang ini aneh sekali tak sama dengan orang lain.
Dia menggemaskan tapi begitu liar seperti semalam dan tadi saat membantuku membuka seat belt malah memaut bibirku. Seingatku kenapa pagi ini aku tidak melawan ciumannya seperti semalam.
Aku menerimanya meski bibirku tak membalas apa-apa dan sebuah keanehan lagi kenapa perih pada mahkotaku tak begitu sakit seperti saat masih di kantor tadi.
Apa ini ada hubungan dengan hasrat bergejolak saat ciuman tadi. Sungguh aku tak mengerti karena semua baru pertama kali aku lalui.
Sudahlah kukesampingkan fikiran itu saat ini. Merendam semua baju percintaan semalam dengan sabun cair aroma mawar lalu selama menunggu cucian itu segera mandi.
Dan selesai juga mencuci manual lalu mengeringkannya, bantuan dari Siska memberi mesin pengering bekas di rumahnya.
Jika hanya baju biasa maka baik diriku atau pun Gebi tak akan memakai mesin pengering karena kami berdua sangat hemat listrik, kecuali baju kerja. Dan jaz mahal CEO wajib dikeringkan dan keharumannya semoga CEO suka.
__ADS_1
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...
💋💋💋