GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
I'm Fall in Love


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


Kembali POV Rara.


Aku merasa lucu Rangga dikira suami Gebi tapi apa mau dikata karena hanya sendiri Rangga laki-laki di sini. Kini kami diizinkan pulang karena kondisi Gebi sudah membaik.


Aku dan Gebi menutupi dulu saat ini siapa bapak dari anak yang dia kandung, menunggu saat tepat dulu tak lama lagi. Siska harus tahu.


Sepulang dari kos aku terpaksa pulang karena dibuntuti Rangga.Aku serba salah karena ingin marah iya, tapi aku melakukan kesalahan semalam menginap dengan Louise. Untung saja Louise tidak berbuat tak senonoh semalam.


Sampai di rumah Rangga selalu masih saja membuntutiku, matanya merah sepertinya dia tidak tidur semalaman. Tiba-tiba hap! Rangga memelukku dari belakang.


Aku berusaha melepaskan pelukan Rangga karena aku benci dia tidur dengan wanita lain, kini melihat istri sementaranya berhasrat juga.


"Peluk Luna saja."


"Lho, kenapa?"


"Semalam kalian sudah tidur berdua dan sudah in the hoy jadi tak perlu peluk aku lagi." oceh mulutku yang sudah jebol remnya tak bisa dihentikan.


"Hey, kamu kira aku laki-laki apa jika sampai mesum dengan Luna." Rangga menoyor kepalaku.


"Apa kakak bilang?"


"Aku tidak seburuk itu Rara Rangga Ryuga Winata."


"Tapi denganku dulu kakak lakukan mesum itu lohay-lohay hingga pagi."


"Sudahlah jangan bahas itu lagi, itu sudah berlalu dan aku sudah bertanggung jawab."


Rangga membuka kulkas dan mengambil buah apel, mencucinya dan memakannya. Kuhampiri Rangga dan duduk di dekatnya dekat meja makan.


"Kak, jawab jujur kumohon."


"Apa?"


"Apa kakak mencintai Luna?"


"Hmmm."


"Bearti kalian saat bertemu special sering begituan ya?"


"Astaga, apa kamu kehabisan kata untuk membuat pertanyaan yang berbobot?"


"Jawab,kak."


"Aku tidak pernah menyentuh Luna. Paham."


"Bohong."


"Stres."


"Jika mencintai Luna, kenapa kakak bernafsu saat melihatku dan melakukan itu."


"Karena aku sa ...!" Rangga menghentikan ucapannya dan ia pun berhenti mengunyah buah apelnya.


"Jawab,kakak." rengekku.


Rangga menyudahi makan buah apelnya dan ia membuka ricecooker masih kosong.


"Ra, aku lapar."


"Jawab dulu baru aku masak."

__ADS_1


Rangga menatap manikku dan alisnya terpaut, wajahnya seperti memikirkan sesuatu. Entah apa yang ia fikirkan tapi jiwa ingin tahuku meronta-meronta.


"Please, jawablah kak. Apa susahnya untuk menjawab itu."


Rangga berbalik dan ia berjalan meninggalkanku. Saat sampai di depan anak tangga Rangga berhenti dan berkata,"Karena aku menyayangimu."


Rangga meneruskan langkahnya membuat mulutku menganga bahwa seorang CEO MESUM yang kubenci menyatakan, ia menyayangiku.


Aku serasa jadi orang bodoh. Diam dan mulut terus menganga seakan tak percaya. Semua terasa mimpi di siang bolong.


"Kak." teriakku.


"Aku mau mandi." jawab Rangga berteriak dari kamarnya.


Aku tersenyum. Kenapa ya hatiku jadi berbunga-bunga. Seperti baru jatuh cinta. Sebentar-bentar melihat kamar Rangga.


Ya sudah aku masak saja kasihan dia belum makan. Aku hanya tahunya membuat sup iga jadi masak itu saja. Kini kusiapkan semua bahan dan bumbunya.


Tak berapa lama Rangga turun dari lantai atas dan ia ke dapur. Aku senyum-senyum melihat Rangga begitu pun Rangga. Kami seperti baru bertemu pertama kali. Malu-malu kucing.


Aku dan Rangga saling membelakangi padahal sudah suami isteri, terasa aneh pagi ini.


"Aku bantu apa?" tanya Rangga.


"Kakak kupas bawang ya."


"Oke."


Aku dan Rangga sama-sama berbalik, kulihat pipi Rangga memerah dan dia tersenyum menunduk. Dan diriku malu menatap maniknya.


Tanganku gemetar menyerahkan pisau dan bawang untuk Rangga, dia mengambil pisau dan bawangnya dengan selalu menunduk dan bibir merahnya tersenyum.


Kulihat Rangga mengupas bawangnya tiba-tiba 'uweak'


"Kakak kenapa?" tanyaku panik.


"Ra, jangan masak sup kumohon."


"Buat lauk kakak sarapan."


"Aku tidak tahan aroma bawangnya."


Alisku terpaut, kuambil bawang putih dan merah. Kucium bawang itu biasa saja. Kusodorkan pada Rangga bahwa bawangnya tidak busuk tapi Rangga kembali muntah. Aku kasihan juga melihatnya.


Kumasak mie instan saja. Rangga duduk di taman belakng karena ia tak tahan bau bawang, baginya tidak enak. Ada apa dengan CEO bisa tidak mau bawang, apa itu alasannya tidak menyukai sup. Pura-pura tidak suka bawang.


Selesai masak mie kuantarkan mie dan air putih ke taman belakang, Rangga yang kelaparan langsung makan habis dan kembali ia makan apel lagi.


"Kak."


"Hmmm." jawab Rangga sambil mengunyah apelnya.


"Aku masih penasaran dengan Luna."


Rangga menghentikan makan apelnya dan ia langsung menarik kepalaku dan menyesap bibirku. Lidah Rangga menari seperti cacing kepanasan sampai membuat tubuhku gemetar.


Menyudahi ciumannya Rangga menikmati buah apelnya lagi. Bibirku dibuat basah. Rangga tersenyum melihatku mengusap bibirku.


"Kau ini selalu ingin tahu tentang orang lain."


Aku tetap manyun karena masih ada rasa penasaran dalam diriku. Aku tipe orang yang harus tahu saat jiwa ingin tahuku meronta-ronta.


"Aku berhenti kepo jika sudah kakak jawab tuntas."


"Oke, aku jawab tapi hadiahnya itu ya." Rangga memancungkan bibirnya mengarahkan dari jauh ke area wanitaku.

__ADS_1


Aku mengangguk dan siap bertanya.


"Kak, kenapa tidak mencomblang Luna dengan Kak Al?"


"Al sulit jatuh cinta dan dia dari dulu takut urusan hati dengan wanita."


Aku mengangguk.


"Pertanyaan selanjutnya kenapa kakak cinta dengan Luna?"


"Ya begitulah."


"Aish ... padaku bilang sayang pada Luna bilang cinta. Cowok plin-plan." gerutuku.


"Bukan begitu, Luna tidak sama dengan dirimu."


"Apa keistimewaan Luna itu? dan apa perbedaan kami berdua?"


Rangga serius menatapku.


"Apa kau sehat?"


Aku mengangguk.


"Apa kau tidak pernah sakit?"


Aku mengangguk.


"Luna tidak, dia tidak sepertimu. Karena itulah aku sangat menyayanginya dan akan terus membahagiakannya selama dia masih ada."


"Memangnya Luna mau ke mana,kak?"


Rangga menoyor kepalaku.


"Sudahlah jangan bahas macem-macem lagi sekarang mana hadiahnya, ayo cepatlah aku sudah tidak tahan. Apa mau bercinta di sini?"


Rangga mendekatiku dan ia langsung menggendongku. Aku sebenarnya masih penasaran dan aku tak mengerti apa maksud perbedaan aku dan Luna.


Rangga menggendongku seperti orangtua menggendong anaknya, bibir Rangga selalu tersenyum dan hidung bangirnya digerakkan melucu menghiburku. Aku tertawa digendong Rangga.


"Kak, serius nggak sayang denganku?"


"Iya, Rara."


"Sejak kapan kakak sayang denganku?"


"Sejak bertemu denganmu."


"Gombal."


"Sudah dijawab tak percaya."


"Kak, sudah berapa wanita korban gombal mulut dan rudalmu?"


Rangga berhenti tersenyum dan ia menatap manikku.


"Kau tahu karena aku melepas perjaka pertama denganmulah membuatku menang setelah ditantang tiga temanku. Jika aku masih tidak mau melakukan itu dulu sebelum menikah maka aku harus membayar triple taruhan. Dan jika bukan kamu yang terjebak denganku maka aku masih perjaka dong."


"Aish ... aku tidak percaya CEO mesum masih perjaka."


"Terserah kamu istri cerewetku."


"Aish ... namaku Rara."


"Sudahlah jangan berdebat, adikku sudah tegang sejak tadi."

__ADS_1


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...


💋💋💋


__ADS_2