
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
Aku merasa aneh, seperti mimpi mencium aroma keringat Rangga. Aku terus memejam takut terbangun, tak ingin mimpi ini usai.
Ceklek! kudengar bunyi pintu, tak lama kurasakan lembut kasur dan sebuah kecupan di dahiku. Kubuka mataku, pasrah jika terbangun mimpi indah ini usai.
'Hah'
Aku terkejut ini sedang mimpi atau nyata, aku di kamar Rangga. Kulihat Rangga datang, ia melihatku sudah bangun.
Rangga duduk di sebelahku dan maniknya menatapku lekat,"Kamu sudah bangun, sayang!"
"Kok aku ada di sini?"
"Ada yang ingin kutanyakan, tapi aku tak ingin membuat fikiranmu terganggu."
"Ada apa, kak?"
"Semalam kamu bertemu dengan Louise?"
Aku mengangguk.
"Dan kalian se kamar?"
"Maksud kakak, apa?"
"Aku membawamu karena ada Louise di dalam rumah kosmu!"
"Tapi aku sudah mengunci kosku sebelum tidur, kak!"
"Ya, ada sedikit perubahan dengan kunci pintu itu semacam tak berfungsi lagi. Louise akan melakukan apa saja yang dia mau, aku menahan amarahku karena tak ingin membangunkanmu!"
Brugh!
Kupeluk Rangga dan aku menangis ketakutan, jika tak ada Rangga kurasa pasti akan ternoda. Aku takut sungguh takut dengan lelaki yang kuanggap biasa saja selama ini.
Dulu kejadian lebih lohay di resort Al, kini hampir saja. Aku takut dan tak berani lagi bertemu Louise. Dia tampan dan kaya raya, tapi mengapa dia sering menemuiku.
Rangga membalas pelukanku, ia mengusap lembut rambutku. Dan mencium berkali-kali dahiku.
"Besok mama mengundang kita ke mantion, kuharap kamu menerima undangan mama."
Aku mengangguk dan terus memeluk Rangga.
"Sekarang tidurlah, semoga tebakan mama benar."
"Tebakan apa, kak?"
"Tebakan itu membuatku bahagia, tebakan mama membuat semua orang di mantion penasaran."
Aku ikut penasaran, kulihat Rangga ada keanehan dalam dirinya yaitu benar-benar berubah. Dia tidak genit walau bersama istrinya, dia tenang.
__ADS_1
Rangga menyelimutiku kemudian ia baring di sebelahku dan aku pun ikut berbaring, aku tak menyangka kembali ke rumah ini.
"Kak, terima kasih telah menjagaku."
"Hmmmm."
"Kakak berbeda dengan dulu!"
"Apa bedanya?"
"Dulu kakak selalu usil saat bersamaku, tapi sekarang kakak banyak diam."
"Sudahlah, tidurlah. Semoga kamu mimpi indah, istriku."
Rangga mengusap puncak ubunku begitu lama dengan manik hitamnya terus menatapku, sampai akhirnya aku terlelap.
***
Keesokan harinya kami berdua langsung ke mantion, kedatangan kami disambut suka cita bahkan papa mertua yang selama ini biasa saja berbeda. Hari ini sampai pipi kanan kiriku dikecup papa mertuaku dan beliau membelai rambutku, seperti orangtua baru bertemu anaknya setelah terpisah cukup lama.
Dan kami langsung sarapan pagi, ada menu berbeda di meja makan. Tak ada menu berkuah, hanya sate berbagai macam dari seafood, sampai kambing, sapi, dan ayam.
Juga ada ayam bakar dan ikan bakar dipadu cocolan hanya kecap dan cabai sama sekali berbeda. Semua menu ini sudah pasti dimakan Rangga, kurasa keluarga sudah tahu soal makanan Rangga. Kami pun makan besar.
Usai sarapan kami berkumpul di ruang keluarga, tapi berbeda mama Rani mengajakku dan Rangga bicara di ruang mama. Ketika memasukinya melihat keindahan aneka bunga hidup yang begitu cantik ditata mama seorang diri.
"Rara sayang sini."
"Sayang adakah perubahan yang kamu alami akhir-akhir ini?"
"Tidak, ma. Ada apa?"
"Coba kamu kenang, sayang."
Aku berdiam diri mengingat apa keanehanku akhir-akhir ini dan kurasa tidak apa-apa.
"Tidak apa-apa, ma."
"Oke, dan apa kalian sedang proses kehamilan?"
Pertanyaan mama mengagetkanku, membuatku menatap Rangga. Ada apa dengan mama, apakah ia ingin segera punya cucu.
"Em, ada apa ma?"
"Kami sudah pasti menuruti kalian kapan mau punya baby tapi jika sudah ada maka keluarga besar akan menyambutnya."
"Em, iya ma."
"Apa sekarang kamu sudah hamil?"
"Hah,apa? emm Rara belum hamil ma."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Iya, ma."
"Kapan terakhir tamu datang."
"Sekitar bulan mei, ma."
"APA?" mama dan Rangga kaget bersamaan membuatku ikut kaget.
"Rara anakku ini sudah bulan september." mama menimpali pengakuanku membuatku kaget bukan main.
"Yess!" Rangga mengacungkan tangannya seperti menang undian.
Aku sungguh banyak masalah bersama Rangga membuatku tak ingat bulan. Aku diam dan kuraba perutku yang buncit dan mengeras yang selama ini kutebak sedang buncit karna rakus makan.
"Sayang sini, mama lihat perutmu." pinta mama dan aku mengangguk pada mama.
Mama meraba dan membuka sedikit baju yang menutup perutku, mama meraba begitu lembut sampai mata mama basah.
Aku ikut sedih melihat mama, kuusap airmata mama. Tiba-tiba Rangga memelukku dari belakang, kurasakan pelukan Rangga begitu hangat.
Pelukan ini yang kurasakan setiap malam dulu, pelukan begitu nyaman. Pelukan seorang suami penuh cinta. Dan mama memelukku dari depan, pelukan seorang ibu penuh kasih sayang.
"Sayang kamu ikut mama, yuk." ajak mama.
Kulepaskan pelukan Rangga, kutatap ia dan aku tersenyum memegang pipi Rangga. Kini aku ikut mama ke kamar mandi, mama mengajakku test pack. Kuikuti dan di teteskan urineku pada alat test, mama terus menatap hasilnya.
Aku sendiri dalam kebingungan karena sama sekali tidak berfikir soal kehamilan dan aku merasa jarak waktu masih dekat tanpa kusadari sudah beberapa bulan kulupa waktu.
"Alhamdulillah aku dapat cucu!" teriak mama dan ia meneteskan airmatanya lagi memelukku.
Membuatku terbelanga dengan mulut menganga mengetahui ternyata aku positif hamil, anakku sudah ada di perutku tanpa kusadari.
Kami pun ke luar kamar mandi, mama menunjukkan hasil testnya pada Rangga membuat suamiku tertawa bahagia. Rangga menggendongku dan menciumku tanpa malu di depan mama.
Bahkan tak segan-segan ia mencium bibirku, pipiku, hidungku. Rangga nampak bahagia. Aku terus di gendongnya dibawa menuju ruang keluarga, kulihat ada Al yang baru saja tiba di mantion.
Al terus menatapku sedang digendong Rangga, membuatku merasa tak enak hati tapi aku tak bisa menolak kebahagiaan Rangga dan juga kebahagiaanku.
"Rangga umumkan kalau di keluarga kita punya Winata cilik, doakan dia dan mominya sehat selalu." teriak Rangga yang terus menggendongku.
Semua keluarga bersorak dan mendekati kami. Mulai dari nenek mencium keningku dan memelukku, selanjutnya kakek mencium dahiku dan memelukku dan Rangga, kemudian papa ikut mencium dan memeluk kami.
"Sudah dari semalam papa berdoa dan hasilnya benar, papa bahagia. Dan kamu harus jaga istrimu baik-baik, awas kalau terjadi apa-apa dengan dia." atensi papa pada putra bungsunya.
Rangga mengangguk dan ia dicium papa pipi kiri kanannya, dan kini mama memeluk kami. Mama mencium anaknya sampai mama menangis, kini memelukku.
"Mama tidak tahu harus bilang apa, karena mama sangat bahagia punya cucu. Kamu segalanya untuk mama, sayang." mama mencium dahiku.
Kuusap airmata mama. Aku memyadari keluarga ini sangat bahagia menerima kehadiran Winata ciliknya yang masih anteng dalam perutku. Kecuali Al, ia diam dan memasukkan kedua tangan ke saku celananya bahkan Al tidak mengeluarkan senyuman sedikit pun saat ini.
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...
💋💋💋
__ADS_1