GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
Tamu


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


Kini diriku sudah beres untuk pulang. Aku menunggu Rangga, tapi biasanya menunggu sebentar dia sudah datang tapi kini dia belum ada. Aku ke ruangan Rangga takut dia sedang sibuk dan siapa tahu bisa membantunya.


Kulihat Rangga duduk di ruangannya menatap jendela kacanya. Tok Tok !Rangga menoleh ke arah pintu yang ku ketuk, segera kuperlebar pintu yang duluan kubuka sedikit.


"Kak, belum mau pulang?"


"Aku bingung menghadapi wartawan infoteiment di depan sana, sudah sejak pagi tadi sampai sekarang belum pulang."


"Memangnya mereka menyoroti apa kak?"


"Ada yang menyebar berita saat kita dari rumah Igun kemarin, mereka mau mencaritahu siapa istriku."


"Aku." jawabku polos.


Rangga menatapku sinis dan ia mengambil tas dan mengenakannya jasnya. Kuikuti Rangga yang berjalan ke luar ruangannya.


"Aku tak mempermasalahkan identitasmu meski wanita yang kuinginkan bukan dirimu."


Langkahku terhenti mendengar perkataan Rangga itu. Dirikulah yang menolak diketahui publik dan Rangga menuruti tapi kini tercium media,aku harus berbuat apa.


***


POV Andrew.


Kenapa mobil Mark parkir di sana. Kulirik Rangga belum ke luar dari kantornya. Harus menunggu sampai jam berapa aku di sini. Apa wartawan itu yang menghalangi Rangga ke luar.


Melihat Mark sudah membuka kaca mobilnya mengawasi juga kurasa. Aku suka semua ini. Lihatlah siapa yang lebih dulu mendapatkannya.


Kukenakan jacket panjangku dan kugunakan masker karena melewati orang banyak selain menjalani protokol kesehatan, ini cara aman supaya Mark tak melihatku.


Aku berjalan santai memasuki kantor Rangga. Lewat samping saja karena lewat depan tidak aman disoroti kamera.


***


POV Mark.


Bagaimana menghadapi wartawan begitu banyaknya. Bertemu Rangga pun susah jika seperti ini. Mobil Rangga kuyakin belum ke luar jika depan kantor begitu banyak wartawan. Aku lewat samping saja.


Aku turun dari mobil dan mengenakan masker, berjalan memasuki area kantor Rangga. Semoga Rangga dan bidadariku belum pulang. Karena apes sekali jika ternyata mereka sudah tidak ada. Nihil.


***


Kembali POV Rara.


"Rangga!" teriak lelaki berjacket hitam memanggil Rangga.

__ADS_1


Rangga berhenti dan mereka berbicara lalu Rangga menoleh ke arahku yang tertinggal jauh, ia melambaikan tangannya memanggilku membuatku berlari menuju ke arahnya.


"Kamu jalan dengan Andrew dan aku lewat depan, Andrew akan mengantarmu pulang." titah Rangga.


Lelaki itu membuka topi dan maskernya. CEO Andrew. Andrew tersenyum padaku. Rangga menepuk pundak Andrew.


"Jaga ya istriku, kita bertemu di rumahku."


Andrew mengangguk dan setelah itu Rangga berjalan lewat depan sementara aku ikut Andrew jalan samping. Andrew memberiku masker untuk antisipasi takut dikenali wartawan di depan.


***


POV Andrew.


Aku menang. Pas ada Mark begitu melewatinya kutepuk pundaknya, membuat Mark kaget karena ia tak mengenalku. Ketika masuk mobil kulambaikan tangan kemenanganku padanya. Kini mengantar tuan putri kesayangan.


Triiiing! ponselku berdering, panggilan dari Mark.


"Sejak kapan kau datang, bisa membawa bidadariku?"


"Kau tidak bisa melawanku, Mark."


Panggilan pun dimatikan Mark. Aku tersenyum bahagia. Kini saatnya merebut hati tuan putri kesayangan biar semua berjalan nyaman. Melihatnya tidak senyum pun sudah menawan. Rangga memilih wanita yang tepat.


***


Kembali POV Rara.


Andrew mengangguk dan parkir di depan rumah. Kuajak ia masuk karena sebentar lagi ada Rangga. Kubuatkan teh hangat untuknya.


"Kak, ini tehnya."


"Terima kasih, siapa namamu?"


"Lengkap atau panggilan?"


"Dua-duanya."


"Dara Samudera, panggilanku Rara."


Andrew mengangguk.


"Kakak mau cemilan apa? biskuit atau popcorn atau snack kentang?" tawarku.


"Terserah, terima kasih sebelumnya."


Aku mengangguk. Sebelum ganti baju kuambil makanan ringan di lemari khusus makanan ringan. Tapi tinggi sehingga aku harus meloncat mengambilnya.


Hap!

__ADS_1


Aku menoleh kebelakang, Andrew berdiri tepat di belakangku mengambil bungkusan snack kentang yang ingin kuambil. Andrew menyerahkannya padaku.


"Makasi,kak."


Andrew mengangguk dan kembali ke ruang tamu yang dari sana terlihat suasana dapur rumah Rangga ini karena rumah ini banyak ruangan terbuka, Rangga tidak suka antara ruang ada dinding penghalang.


Dan teman Rangga ini baik sekali, sudah mengantarku pulang dan kini membantuku mengambil makanan yang ada di lemari paling tinggi. Berbeda dengan Rangga. Jika tidak minta tolong maka tidak akan ditolong.


Usia menghidangkan snack untuk Andrew diriku ke lantai atas dulu, menuju kamarku ganti baju. Tak lama kemudian Rangga tiba di rumah dan begitu ramai. Kuintip ada seorang lelaki lain yang ikut bertamu ke rumah Rangga.


"Sayang ... !" teriak Rangga.


'Dia memanggilku sayang?'


'Rangga itu sadar atau sedang kesurupan'


Aku bergegas menemui Rangga, ia minta dibuatkan makan siang karena kedua temannya belum makan. Inilah yang aku tidak suka, karena diriku tidak ahli memasak.


Kulihat Rangga enak ngobrol dengan teman-temannya dan tamu baru itu melirikku lalu ia tersenyum. Jika aku tidak salah dia adalah CEO Mark, teman Rangga pesta brendi di kantor waktu itu.


Yang tidak datang adalah Luis, sepertinya Rangga tidak akur dengan Luis gara-gara peristiwa memalukan di club Sultan malam itu.



(visual 3 CEO hanya pemanis saja)


Aku bingung memikirkannya. Usai masak sup iga sesuai ajaran Al, kuhidangkan untuk tiga CEO itu. Rangga mengajakku makan bersama.


"Em tolong ambilkan sup untukku." pinta Mark padaku.


Aku mengangguk. Tapi saat akan menyendok sup iga ke dalam mangkuk kecil untuk Mark segera Andrew mengambil mangkuk dan sendok yang kupegang.


"Biar kuambilkan untukmu, sobat." kata Andrew.


Mark tersenyum dan menggaruk kepalanya yang kurasa sedang gatal. Rangga tertawa melihat kedua temannya.


Selesai makan kedua teman Rangga itu pulang. Dan Rangga memelukku mengantarkan kedua temannya itu. Ketika mobil temannya tak terlihat segera kudorong tubuh Rangga.


"Kenapa, Ra?"


"Kakak munafik di depan teman kok so sweet sih." ocehku.


Rangga tak menjawabnya, ia berlalu menuju kamarnya. Dengan sebal kubereskan semua perabotan yang kotor. Terdengar tawa Rangga dari kamarnya, ia sedang menelepon tidak jelas.


Sampai aku selesai cuci piring Rangga masih menelepon. Terdengar pembicaraan seolah rindu belasan tahun tidak bertemu. Kutebak ia sedang telponan dengan Luna.


Tak ketemu sebentar sudah merasa rindu. Lebay. Dan aku di kamar dalam kebingungan, ada juga rasa rindu pada Ariel tapi takut meneleponnya. Takut hubungan merajut dan takut Rangga memecatnya. Apalagi Rangga CEO aneh.


Nanti apalagi yang akan ia lakukan jika hal yang tak ia sukai terjadi. Aku mendengus kesal dan masuk dalam selimut. Aku tidur saja melepas penat kerja seharian. Semoga mimpi indah.

__ADS_1


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...


💋💋💋


__ADS_2