
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
"Lho, Ra! Kok masih di sini ?" tanya Al yang mendapati diriku masih di kantor padahal hari sudah jam sepuluh malam.
"Menunggu, Rangga!"
"Dia kemana ?"
"Nganterin Luna cuma sampai jam segini belum dateng."
Al menarik nafas panjang lalu menggeleng kepalanya.
"Kamu tunggu di sini ya, saya ke dalem dulu ada perlu sebentar."
Aku mengangguk. Al segera setengah berlari ke dalam kantor. Aku sudah pegal berdiri di sini. Ditelepon tak diangkat Rangga dan ia mengabari aku harus menunggu sampai ia datang. Ini sudah pukul sepuluh malam.
"Ra, yuk."
Al menarik tanganku, membawaku ke mobilnya. Al melirikku dan melempar senyum ramahnya.
"Kamu suka dengar lagu, gak?"
Aku mengangguk. Al segera menyetel lagu Rihana, Umbrela. Pas disaat sedikit gerimis menjamah kota.
"Kamu sudah makan ?"
Aku menggeleng, bicaranya rasanya malas saat ini. Merasa kesal dibuat Rangga, terlalu berlebihan memerintahkanku menunggu begitu lama.
"Kamu suka makanan apa ?"
Aku tersenyum saja karena tak ada bayangan makanan di fikiranku saat ini.
"Kok diem sih, jangan diem dong. Yuk, kita makan makanan yang kamu sukai."
"Terserah,"
"Kenapa sih, galau ya belum dijemput suaminya ?"
"Idih, enggak ah. Cuma lagi capek aja dibuat menunggu lama."
"Senyum dong yang lebar, tertawa dong. Tak ada suami sekarang dijemput Kakak iparnya."
Manik kami bertatapan, bersama tersenyum. Al kembali menatap jalanan. Setiap ada restoran dan tempat makanan yang masih buka Al selalu menghentikan mobilnya dan bertanya maukah makan di tempat itu.
Jawabanku selalu menggeleng karena tak berselera. Lalu terlihat Al membawaku kembali ke jalanan ramai, Al tidak berhenti. Ia terus melaju sampai berhenti di sebuah apartemen. Al mengajakku masuk.
Aku mengikuti Al, kami menuju apartemennya. Saat masuk segera Al menyediakan susu hangat untukku dan juga ia membakar roti dengan selai kacang.
"Kamu makan ini dulu,"
Aku mengangguk. Dan Al langsung menuju dapurnya, aku segera meminum susunya karena sejujurnya aku lapar. Tapi terasa malas untuk makan di luar sana.
"Ra, yuk makan."
Alisku terpaut dan mengikuti Al menuju meja makan. Terlihat Al memasak sup daging. Asapnya mengepul dengan aroma begitu menyeruak nikmatnya.
__ADS_1
"Ini kakak yang masak ?"
Al mengangguk.
"Wah bisa masak, ajari aku dong kak."
"Iya, nanti aku ajarkan tapi kamu makan dulu."
Aku mengangguk. Aku segera melahap sop daging buatan kakak iparku sampai tandas tak tersisa. Al tersenyum melihatku dan ia bangun mengambil air putih segar untukku. Aku langsung menengguk habis air segar itu.
Kini kami duduk santai dan Al memutar televisinya agar kami tidak kesepian, dan Al memberikanku minyak kayu putih untuk memijat buah betisku yang nyeri terlalu lama berdiri. Juga tumit kakiku begitu sakit.
"Ra, kamu anak ke berapa sih ?"
"Aku anak tunggal, kak."
"Oh, orangtuamu masih lengkap ?"
Aku menggeleng.
"Maaf, Ra. Aku tidak sengaja bertanya begitu."
"Tak apa kak, kata mama dulu papaku meninggal kecelakaan pesawat saat aku masih di kandungan."
Al mengusap pundakku menenangkanku, aku balas dengan tersenyum.
Triiiiing!
Ponselku berdering, kuraih ponsel di dalam tasku dan kulihat Rangga meneleponku.
"Ha ...,"
Aku belum selesai bilang hallo, Rangga langsung bertanya.
"Kamu sendiri di mana?" kutanya balik pada Rangga.
"Aku di rumah,"
"Apa kamu tidak menjemputku di kantor ?"
"Kau masih di kantor, oke tunggu aku."
Tuuuut!
Rangga mematikan teleponnya. Aku mendengus kesal sudah jam seperti ini dan ia sudah di rumah baru mau meneleponku. Sepertinya Rangga lupa akan janjinya menjemputku. Kulihat layar ponselku menunjukkan pukul dua belas malam.
"Rangga nelpon ?"
Aku mengangguk.
"Jadi bagaimana ?"
"Biarkan saja dia mencariku, kak. Malas menghadapinya."
"Jangan begitu, dia itu suamimu."
"Aku sebel,kak."
__ADS_1
"Sudah lupakan itu, nanti bicarakan itu di rumah."
"Baiklah,kak. Emm kakak antarkan aku pulang ya ?"
Al menarik nafas panjangnya lalu mengangguk dan tersenyum padaku. Sepanjang jalan berkali-kali Rangga meneleponku tapi tak sekali pun ku angkat.
Sampai kami tiba di rumah Rangga, aku tersenyum melihat Al pergi meninggalkan rumah kami. Saat berbalik Rangga membuka pintu rumah. Ekpresi wajah Rangga serius, tak kuperdulikan itu.
Aku terus masuk ke rumah dan dikejar Rangga, ia berusaha menarik tanganku sampai kutepis sekuat hatiku.
"Ra, jawab kamu dari mana dan siapa yang mengantarmu itu ?"
Aku tetap diam. Saat akan membuka pintu kamarku Rangga menarik tubuhku sampai berbalik menghadapnya. Kini Rangga setengah memeluk tubuhku. Manik kami beradu pandang.
Rangga mendekatkan hidungnya ke arah mulutku. Membuatku mencelak mataku tanda tak menyukai ulahnya.
"Kamu tidak minum 'kan ?"
"Aku bukan wanita malam kerjaannya minum."
"Siapa yang mengantarmu ?"
"Kak Al."
Rangga melepas nafas panjangnya dan ia melepas pelukannya. Kami tetap beradu pandang, sungguh ingin rasa hati memaki Rangga jika dia bukan atasanku.
Saat aku berbalik Rangga menarik tubuhku lagi, kali ini ia mengunci tubuhku mendekat kepada dinding. Maju kena mundur tak bisa.
Rangga menyentuh daguku dan ia terlihat mendekatkan bibirnya ke arah bibirku.
PLAAAK!
Mata Rangga melotot mendapat sebuah tamparan dariku. Nafasnya memburu tak menentu. Dan langsung aku tersadar sudah menampar wajah CEO-ku.
Rangga berbalik dan meninggalkanku. Terdengar ia membanting pintu kamarnya. Aku gelisah, aku takut ia akan memecatku.
Tapi hatiku kesal diminta menunggu begitu lama. Dan tak ingin disentuhnya. Jika tidak ada Al, aku terus di sana sampai dijemput Rangga. Makan pun jika tidak dibuatkan Al maka aku terus kelaparan.
Kini aku takut bukan takut hamil, tapi takut dipecat Rangga. Aku mendengus kesal dalam kebingungan. Lalu masuk kamar dan mandi.
Usai mandi segera rebahan melepas lelah semalaman menunggu CEO mesum itu. Kurasa ia sedang melewati malam special dengan wanitanya sampai melupakan istri kontraknya.
Kuraih tasku untuk mencari ponselku tapi tak ada. Astaga di mana ponselku. Aku segera membuka pintu kamarku dan berlari ke bawah.
Saat melewati ruang makan terlihat Rangga sedang menengguk hard liquor. Rangga melihatku sebentar lalu ia langsung berbalik, ia terlihat benci kutampar tadi.
Masa bodoh dengannya. Kuberlari ke halaman menyusuri taman adakah ponselku terjatuh tapi tak ada sama sekali. Aku mendengus kesal karena di situ satu-satunya ada nomor mamaku.
Apakah ponselku jatuh di mobil Al, aduh aku tak tahu nomor Al. Minta dengan Rangga kurasa saat ini tidak tepat karena ia sedang dalam api kemarahan.
Semoga besok Al mengantar ponsel itu, jika tidak maka aku harus berusaha mendapatkan nomor mama di kampung. Aku tak ingin mama syok ketika tahu dia tak bisa menghubungi anaknya.
Karena anak mama hanya aku sendiri. Tuhan, kabulkan doaku ini. Aku pun masuk lagi ke rumah. Kulihat Rangga sudah tidak ada di meja makan dan berapa kaleng habis ia tandas.
Kubersihkan bekas minuman Rangga tadi dan kulap mejanya. Kini naik ke atas. Kulihat lampu kamar Rangga pun mati, apakah dia sudah tidur.
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...
__ADS_1
💋💋💋