
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
Tubuhku gemetar di buat Luis yang terus mendekapku semakin erat. Aku menggeliat dan Luis semakin memepet tubuhku. Bahkan aku merasa lain mengenai mahkotaku, aku menggeliat tak enak meraskan itu.
'Aw'
Terpaksa kutendang senjata ampuh para lelaki, senjata Luis dan segera kudorong tubuh kekarnya dan langsung berlari ke luar kamar.
Tak tahu ke mana berlari, kuterus berlari menjauhi kamar Luis. Sebagai manapun situasi dan kondisi di kamar itu menghanyutkanku dalam sebuah kenikmatan terlarang, aku berontak sebelum semuanya terlambat.
Aku punya harga diri. Harga mati.
"Rara ...!" teriak Luis mengejarku dari jauh.
Aku semakin panik. Aku terus berlari dan sesekali menoleh melihat Luis mengenakan stelan santainya berlari mengejarku.
Aku memasuki lobi dan saat kumenoleh melihat Luis tak lagi mengejarku. Aku berhenti melangkah melihat Luis tak ada lagi.
Apakah Luis terjatuh atau bagaimana ia tak mengejarku lagi. Jarak kami menang jauh tapi kecepatan lari seorang laki-laki tak sebanding dengan kecepatan berlari perempuan.
"Rara kok kamu di sini?"
Aku tersentak kaget, menoleh dan mendadak aku menangkap tubuh Al. Aku menangis memeluknya.
"Maaf, saya ada urusan dulu kalian silahkan menikmati resort kami." kata Al pada orang-orang di sekitar kami.
Al mengajakku ke sebuah ruangan, ruang kerja. Apakah ini ruang kerja Al. Kakak iparku mengajakku duduk di kursi ruang santainya.
"Kamu kenapa, Ra?" tanya Al sambil mengusap airmataku dengan kedua tangannya.
"Tidak apa-apa, kak." jawabku sesenggukan.
Al mengambil air segar dan memberikannya untukku, aku kehausan menandas habis minumannya.
Aku mengatur nafasku menjelaskan pada Al bahwa diriku berada pada sebuah pilihan. Tapi sulit mengatakannya. Al terus menatapku. Al mengusap puncak rambutku menenangkanku.
Saat Al membuka tangannya segera kumemeluknya, airmataku kembali tumpah. Al mengerti dan begitu pun diriku. Al mendekapku, membiarkan kumenangis sampai mana yang kusanggupi.
Kurasakan dada jas Al sudah membasah, kuangkat wajahku menatap Al yang tersenyum melihatku. Al mengusap airmataku.
"Kamu sudah tenang?" bisik Al.
Aku mengangguk. Al merapikan rambutku dan ia memakaikan jasnya padaku karena aku hanya mengenakan t-shirt ketat berwarna putih dan celana hotpan santai.
Kini Al menggenggam tanganku dan mengajakku ke laur ruangan ini, saat lewat Al selalu ditegur semua karyawan resort. Siapa Al ini.
Al mengajakku jalan-jalan di resort.
"Kak, resort ini punya siapa?"
"Punyaku." jawab Al dengan selalu tersenyum padaku.
'Resort ini punya Al dan apakah Luis tidak tahu menyewa resort milik kakak temannya sendiri, teman yang kini jadi musuh'
'Dan kenapa Luis tidak mengejarku lagi apakah dia melihat Al'
"Ra, kok diam?"
"Tidak apa-apa,kak."
__ADS_1
Aku diam melihat senyuman selalu menghiasi bibir Al. Dan anehnya ia tidak lagi mempertanyakan alasanku berada di resortnya. Al seolah melupakannya begitu saja.
"Kak."
"Hmmm,"
"Kakak tidak bertanya lagi ya, kenapa aku berada di resort kakak."
"Tidak, jika jawabannya memberatkanmu maka lupakan saja. Aku tak ingin membebanimu sedikit pun."
Aku terpana mendapat jawaban begitu dari Al. Aku tak menyangka. Sebegitu istimewakah diriku bagi Al sampai hal sepele pun tak mau membebaniku.
"Kamu sudah makan?"
Aku menggeleng.
"Kita mau makan di mana?"
"Terserah, kakak."
"Pilihlah tempat yang kamu sukai."
"Kita cari makanan di luar yuk,kak."
"Oke."
Al kemudian mengajakku ke mobilnya dan kami berjalan mencari menu yang kusukai. Karena berada di resort membuatku takut bertemu Luis.
Kami ke luar resort mencari makanan nikmat di saat pagi-pagi seperti ini. Aku pilih sarapan pagi di pinggir jalan, menikmati bubur ayam. Kulihat Al biasa saja meski ia orang berwibawa.
Saat kami sampai di lokasi, kami pengunjung yang diistimewakan. Meja dan tempat duduk pun dilap sebersih mungkin.
"Aa." kataku meminta Al membuka mulutnya.
Al menatapku dan ia tersenyum memegang tanganku yang satunya lalu ia membuka mulutnya, kusuapi kakak iparku. Mata Al berbinar.
Al mengusap matanya yang berkaca-kaca dan ia menggenggam terus tanganku. Lagi kusuapi Al dan ia membuka mulutnya terus. Juga ada pengunjung iseng mengambil foto kami berdua.
Al mengacuhkan semua itu dan ia terus menatapku. Kini Al mengambil buburnya dan ia menyuapiku. Juga dengan tangannya Al mengusap bibirku yang kotor.
Kami menikmati bubur ayam dengan lahap. Usai makan Al membayar semua pengunjung dan memberi berapa lembar uang merah pada penjualnya, kata Al rasanya begitu nikmat.
Kini kami jalan lagi ke taman kota. Al menggenggam tanganku terus, kami menikmati es krim vanila lagi dengan jalan santai.
Juga beberapa kali Al merapikan jasnya yang tak rapi menutupi tubuhku. Senang sekali dibuat Al. Melupakan semua problema.
Terlihat Al membeli gulali berbentuk macam-macam, Al sabar menunggu abang pembuat gulali itu. Dan lagi Al memberi berapa lembar uang merah, Al berkata menyukai gulalinya.
Sambil makan gulali Al terus menggandengku, tanganku tak terlepas sedetik pun. Kami menikmati gulali yang model ini sudah ada sedari dulu yang berbentuk bermacam-macam. Harga pun cocok untuk kantong anak-anak.
Al memetik bunga melati yang harum lalu menyelipkan di telingaku, ia tertawa melihatku. Kembali kami berjalan santai.
Kami menjadi pusat perhatian dan Al mengacuhkannya. Aku mengikuti kakak iparku saja, jika ia tidak risih dengan perhatian orang melihat kedekatan adik dan kakak.
"Pak, Alfarendra maaf kami mewawancarai bapak." ucap seorang wartawan.
Al mengambil masker di sakunya dan menyerahkan padaku, aku mengerti segera kukenakan masker itu dan tetap Al menggandengku lagi.
"Pak, diberitakan Pak Rangga sudah menikah apa itu benar?"
"Aku tak bisa memberikan kepastian soal itu, tanyakan pada orangnya."
__ADS_1
"Jika itu benar bearti bapak sebagai kakak sudah didahului adik bapak."
Al hanya tersenyum.
"Bapak kapan akan menikah?"
Al meliriku lalu mempererat genggamannya.
"Jika jodoh ini memang untukku maka akan segera kupinang dengan halal, jika dia belum jodohku maka kumenunggu masa itu datang."
Al kemudian pamit pada wartawan salah satu stasiun teve swasta. Kami berjalan sampai di sebuah wahana bermain anak-anak.
Hatiku mengaminkan doa Al, semoga ia meminang orang yang ia cintai. Wanita itu sangat beruntung memiliki kakak Al.
"Kamu mau ikut bermain?"
"Mau,kak."
Al mengikuti kemana wahana yang aku mau. Aku mau naik bangku rolling, Al membayar karcis untukku. Aku berdiri di sebelah Al yang membuka jasnya dan mengambil slimbagku.
"Kamu sudah siap naik?"
Aku menggeleng.
"Kenapa? jas dan tas biar aku yang pegang dan kamu naiklah sekarang."
Aku menggeleng lagi.
"Kakak ikut naik ya."
"Adidas."
"Kakak harus naik lho."
"Iya, adidas."
"Aish ... siapa lagi adidas itu."
"Cepatlah naik , sana tuh banyak anak-anak menunggumu."
Aku pun naik anak tangga menuju tempat duduku di bangku wahana. Abang wahana memutar rolling sedikit membuat posisi bangkuku agak bawah agar ada anak lain yang mau ikut bisa naik lewat atas.
"Kak!" teriakku.
Al mengangkat tangannya dan membentuk love dari jari jempol dan telunjuknya sambil berkata,"Adidas."
"Apa sih kak, adidas itu?"
"Adik di bawah abang di atas." jawab Al mendapat sorak soray ibu-ibu yang menemani anaknya di wahana yang aku naiki.
"Cie ...cie ... di atas apanya itu bang,hehehee." goda para ibu-ibu di dekat Al.
"Saya di atas tangga ini maksudnya bu." jawab Al sambil menggaruk kepalanya.
Aku tersenyum melihat Al, begitu pun Al tersenyum lalu ia membantu abang wahana untuk memutarkan roll bangku yang saat diputar membuat bangku yang di duduki naik turun bergelombang.
Al melambai tangannya melihatku tertawa bersama anak-anak. Aku bahagia hari ini serasa masa kecil terulang kembali.
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...
💋💋💋
__ADS_1