
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
Pov Rara.
Aku menggeliat baru bangun,arunika telah menjamah seisi kamar. Kuregangkan otot-orotku,begitu lelah seperti sehabis bekerja berat seharian.
Aku bangun sambil mengucek-ucek mataku. Kulihat sekelilingku tak seramai semalam, sepi dan tempat tidur sudah rapi.
Aku pilih tidur di kosan sudah beberapa hari ini, kamar kosan ini sepi karena Gebi sudah tidak ada di kamar. Aku segera mencari Gebi, semoga semuanya baik-baik saja.
Kulihat Gebi sedang memeriksa tasnya berisi baju-baju yang ia kemas semalam, kutak bisa menahannya karena ini semua untuk kebaikannya. Gebi akan pulang kampung memohon restu orangtuanya, sehabis menikah dengan Dana barulah ia akan kembali ke Jakarta.
Aku harap semua ini baik-baik saja, semoga Siska dan Deoza move on kehilangan orang yang teramat mereka cintai sepenuhnya. Terkadang orang yang kita kasihi belum tentu seratus persen murni mengasihi kita kembali, bisa jadi kita adalah pelariannya dan orang lain itu jodohnya sesungguhnya.
"Lo udah mau berangkat ?"
"Udah, maafin salah gue selama ini ya,Ra!"
"Udah gue maafin kok, gue juga minta maaf sama lo Geb!"
Kami berpelukan begitu lama, akhirnya Gebi segera meninggalkanku. Airmataku mengalir, sebobrok tingkah Gebi membuatku sedih. Sebagaimana pun ia sahabat sepiring berduaku. Lindungi ia dan anaknya, oh Tuhan.
Baru selesai satu masalah dalam hidupku datang lagi masalah teramat menyakitkan. Aku terus memikirkan hal yang sangat membingungkan, kala ingin kubalas sakit hatiku malah seperti ini jadinya.
Triiiiing! ponselku berdering, kuraih ponsel di atas nakas dan kulihat Al meneleponku. Segera kuangkat panggilannya.
"Hallo, Ra!"
"Hallo,kak!"
"Maaf, Ra jika saya akan mengabari hal mengejutkan!"
"Apa yang terjadi dengan Rangga, kak?"
"Bukan, ini bukan soal Rangga tapi ...!"
__ADS_1
Aku spontan memikirkan Rangga karena Al selalu memberi kabar tentang keluarganya, apa pun itu. Jadi aku menebak berita terburuk soal Rangga, tapi bersyukurlah bukan. Lantas kabar apa yang ingin Al katakan.
"Ra, apa kamu mau bertemu Luna?"
Begitu mengejutkan pertanyaan Al, membuatku ingin berteriak menumpahkan kekesalanku akan sifat Luna.
"Luna? hmmm, buat apa kak bertemu dengannya. Aku tidak ada urusan dengannya."
"Dia kehujanan mendatangi apartemenku, saat kuminta penjelasan ia mengatakan ingin bertemu denganmu."
"Baiklah, aku akan ke sana sekarang."
Malas dan benci bertemu perusak rumah tangga orang, tapi bersama Al kuyakinkan bahwa pasti semua ini untuk kebaikan.
Menambah beban fikiranku. Apa jangan-jangan dia kembali menyukai Al, laki-laki pelarianku. Ah! sudahlah masa bodoh jika nanti hatiku tumbuh cinta sesungguhnya maka Al orang yang tepat.
Kukenakan celana jeansku, tapi ukuran ini kenapa jadi tidak muat ya. Kulihat perutku membesar gara-gara ntah mengapa saat makan selalu porsi jumbo. Aku pasrah jika gendut. Yang jelas aku kenyang.
Kukenakan celana joger style koreaku dimana tidak mengenakan kancing celana, juga memiliki serutan modis kekinian yang bisa mengatur besar kecil ukuran pinggang.
Juga jogger style korea ini all size, jika benar bobot subur makmur baru pilih ukuran bignya. Dan kugunakan kaos oblong karena tak enak perut gendut mulai nampak.
Segera berjalan ke halte di depan gang, semoga segera ada taxi. Memang hari keberuntungan, barulah sampai halte sudah ada sebuah taxi berhenti. Aku naik dan meminta mengantarku ke apartemen Al.
Tak butuh waktu lama kini sampai, segera naik ke apartemen Al. Tok tok tok! mengetuk pintu Al, segera ia membukanya.
Ada Luna yang diselimuti handuk Al menutupi bajunya yang basah, karena memang di sini sama dengan di kosan tadi ada hujan lebat.
Aku duduk di dekat Luna, sementara Al memilih duduk di sebelahku. Kami bertiga masih diam, kulihat mata Luna sembab seperti sehabis menangis.
"Kamu mau bicara apa?" tanyaku membuka obrolan.
"Aku minta maaf, Ra. Aku salah tapi aku sangat mencintai Rangga."
Jantungku serasa ditembak mati mendengar pengakuan Luna.
"Dia menolak menikahiku, tapi aku sangat ingin menikahinya. Aku mohon Ra, bujuk Rangga menikahiku." Luna menangis.
__ADS_1
Al berpaling menatap layar televisi dalam keadaan mati, sementara diriku diselimuti kebencian dengan Luna. Aku merasa tidak mau mengotori tanganku dengan airmatanya.
"Kamu sudah merebut Rangga dariku, jadi betapa bodoh jika aku masih membantumu." gertakku tak bisa menahan emosiku.
Aku bangun dan berdiri di dekat jendela kaca, aku tak sudi melihat Luna. Hatiku meradang melihatnya.
"Na, kamu jangan ganggu Rara saat ini. Sebaiknya kamu pulang." terdengar bujukan Al.
"Aku serasa mau mati, kak tidak ada Rangga. Dia menjauhiku."
"Jika jodoh dia pasti akan datang, jangan memaksa kehendak jika dia bukan jodohmu."
Akhirnya Luna mau pulang diantar asisten suruhan Al, kini tinggal kami berdua di apartemen. Al mendekatiku dan ia memelukku, menenangkanku. Tapi tak bisa,aku merasa permintaan Luna menghantui fikiranku.
Al mengusap puncak rambutku, kugeserkan tubuhku menjauh. Saat ini fikiranku kacau. Aku butuh ketenangan.
Kulihat jam, sudah dua jak di apartemen Al. Aku memilih pergi sendiri saja saat ini, aku butuh ketenangan.
"Kak. aku pergi dulu ada urusan dan aku sedang tak ingin diganggu."
Al mengangguk menyetujui permintaanku dan langsung aku pergi meninggalkan apartemen Al. Aku ke taman kota saja, di sana aku selalu mendapat ketenangan.
Diperjalanan aku tak bisa berfikir apa-apa selain sebuah rasa kebencian yang besar akan sosok Luna. Sejal dulu dia memang sudah bagian keluarga Rangga, sampai ketika rasa sayangku tumbuh maka aku tidak rela didua begitu saja.
Aku belum bisa menerima kehadiran Luna, yang membuat sakit dia malah kelewatan batas menjebak suamiku dengan cara licik.
Kini malah meminta mentah-mentah dari istri sahnya. Aku bingung, aku ingin menyelamatkan Rangga tapi memgingat peristiwa di apartemen sial itu mwmbuatku ingin membunuh mereka berdua.
Saat dendam belum terbalaskan malah hal mengejutkan terungkap, membuatku serba salah. Dibalas salah, tak dibalas salah.
"Mbak, galau ya dari tadi merengut terus?" tanya supir taxi yang wajahnya menampakkan usianya muda, dengan rambut klimis dipadu jenggot klimisnya.
"Saya naik taxi ini untuk sampai tujuan bukan mengikuti kelas tanya jawab!"semburku menatapnya begitu sinis membuat supir itu mengangguk dan terlihat takut melihatku.
Aku masa bodoh karena saat ini aku tak bisa diganggu, apalagi tampilan supir begitu menggelikan bagi diriku yang disajikan suamiku bersih seluruh tubuhnya.
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...
__ADS_1
💋💋💋