
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
Sampai di mantion para maid langsung membuka pintu mobil, Rangga menggandengku memasuki mantion. Kami menuju ruang bersantai mama mertua.
Aku sudah di dalam baru menyadari mengenakan stelan baju OB, takut keluarga Rangga akan berfikir macam-macam.
"Kookie!"
Rangga menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku.
"Apa Sweetyku sayang?"
"Bajuku, aku takut ada yang salah sangka melihatku mengenakan baju ini."
Kutunjukan baju yang kukenakan dan Rangga tersenyum. Lalu ia membuka jasnya dan menyerahkan padaku, langsung ia mengenakan jasnya padaku.
Kemudian ia memelukku sebentar, lalu kami melanjutkan perjalanan menemui mama. Ketika kami tiba di sebuah ruangan seorang maid membuka pintunya untuk kami.
Aku tersenyum pada maid itu tapi tidak ditanggapi, aku lupa seorang maid tidak bisa diajak bercanda. Mereka selalu tegas dan dispilin.
"Ma ...!" Rangga menyapa mama sedang menyusun bunga rose merahnya dalam sebuah vas kaca.
Mama tersenyum melihat kedatangan kami, kami salim kepada mama. Kemudian mama menggandengku mengajakku duduk di kursi santai. Rangga menyusul kami.
"Rangga ini Rara kenapa kok pucat?" mama heran dengan memegang wajahku yang kurasa baik-baik saja.
"Iya, tadi dia pingsan ma."
"Aduh anak perempuanku kok kamu pingsan, ini kalian sudah ke rumah sakit belum?"
"Tidak, ma. Karena Rara sudah membaik."
Aku tersenyum pada mama mendengar percakapan dua beranak ini.
"Aduh, apa jangan-jangan kamu hamil ya, Ra?"
Bersamaan mataku dan Rangga terbelanga melihat mama, dan kulihat raut wajah Rangga nampak berseri bahagia dengan tebakan mama.
Dan aku sedikit berdebar, aku gugup. Dibilang senang ya senang tapi tidak ada persiapan dan rencana soal kehamilan.
"Beneran ya, sayang?" desak mama.
"Belum kok,ma doain aja secepatnya ya." kataku pelan.
Mama mengangguk dan tersenyum, begitu pun Rangga.
"Ma, carikan asisten untuk Rara dong. Aku tidak mau istriku kelelahan seperti tadi sampai pingsan." keluh Rangga.
__ADS_1
"Iya, harus itu karena mama juga tidak mau anak perempuan mama satu-satunya sakit dan kelelahan. Rara, kamu ingin asisten seperti apa?"
"Terserah, mama."
"Jangan begitu, nanti pilihan mama tidak kamu sukai. Entah itu muda atau bagaimana."
"Iya, ma nanti dia cemburu jika asisten rumah masih muda." tukas Rangga menimpali anjuran mama, membuat kami tertawa.
"Eh, ada Rara!" Al ikut berkumpul dengan kami.
"Kak, proyek itu menurut kakak bagaimana?" tanya Rangga yang langsung bangun setelah rebahan melihat kedatangan Al.
"Hmmmm," deham Al yang baru saja menduduki kursi di hadapanku.
"Aku rasa proyek itu bagus!"
"Kamu sudah membaik, Ra?" Al tidak merespon pertanyaan Rangga akan proyek baru mereka, ia malah mempertanyakan keadaanku.
"Sudah, kak!"
Al tersenyum lalu ia mengajak Rangga duduk menjauhi kami, mereka akan membicarakan proyek baru itu. Kurasa tak ingin dicampuri oleh kami berdua.
Aku tersenyum pada mama, tinggal kami duduk di kursi santai.
"Mama suka ya dengan bunga?"
"Iya, ma. Tataan mama juga sangat bagus."
"Kamu ini bisa aja, sayang. Oh, ya bagaimana rumah tanggamu dengan si playboy itu?"
"Baik,ma."
"Dia itu kalau di rumah susah diatur,Ra. Manja sekali. Dan dia berbeda dengan Al, dia aduh sering pulang dini hari. Mama takut dia tergoda perempuan malam."
Kugenggam tangan mama mertuaku dan berkata menguatkannya,"Dia suami terbaik, ma. Dia sangat baik menjaga Rara.'
Mertuaku menampakan pantulan dari matanya yang basah. Kedua tangan mama menyentuh wajahku, mengingatkanku dengan tangan mama kandungku.
"Mama, tak ingin sampai Rangga menyakitimu. Kamu berlian bagi mama, mama menyayangimu anak perempuanku."
Mama menitikkan airmata dan memelukku membuat Al dan Rangga menatap kami terheran dari kejauhan. Kurasakan hangat pelukan seorang ibu kepada anaknya.
Mama memang menginginkan anak perempuan, kehadirankulah yang ia anggap sebuah berlian. Beruntunglah diriku hadir di tengah keluarga ini.
Harapanku tinggal untuk mama kandungku, semoga ia merestui pernikahanku. Semoga mama di sana menerima menantunya, orang yang amat tidak ia sukai. Orang kantoran. Nyatanya bahkan pemilik kantor terbesar.
Kuusap punggung mamaku menenangkannya. Dan mama memberiku senyuman manisnya, kuusap pipi mama menyapu airmatanya.
"Mama kenapa?" tanya dua bersaudara itu bersamaan.
__ADS_1
"Mama sayang, Rara. Jangan ada kamu menyakiti dia ya, Rangga!" titah sang mama.
Kulihat Rangga diam, dan Al mengalihkan pandangannya dan menarik nafas panjang. Kemudian Al memegang pundak mamanya dan berusaha menenangkan mama.
"Kamu juga Al nanti jika ada istri jangan sakiti istrimu,ya."
"Iya, ma."
"Kapan nikahnya, pacar saja tidak ada." ejek Rangga.
"Rangga, jangan gitu dengan kakakmu." protes mama.
"Tidak apa, ma. Jika wanita itu jodohku cepat atau lambat ia pasti kumiliki." mantap Al mengucapkan itu dengan tenang.
Dan mereka berdua saling bertatapan begitu tajam, kurasa tidak pernah mereka berdua saling menatap dengan ramah meski pun mereka sedang berdiskusi. Jadi aku sudah biasa melihat mereka berdua.
Laki-laki tersabar seperti Al menghadapi adik yang keras seperti Rangga. Jika aku adik mereka berdua, kurasa kepada Al kuminta perlindungan saat cekcok dengan Rangga.
Kini aku dan Rangga pamit pulang. Mama memberi menu masakan ikan salai kesukaan Rangga dengan sambal matah khas Bali kesukaan Rangga.
"Makasi,ya Ma menunya." ucapku sambil salim pada mama.
"Iya, ini menu kesukaan Rangga. Nanti mama ajari bikin aneka sambalnya."
"Ra, kamu hati-hati ya. Jaga kesehatan dan jangan lakukan kerjaan berat, ingat kesehatan itu mahal harganya dan susah mendaparkannya." atensi Al dengan selalu memberiku sneyuman manisnya.
"Siap kakaku."
Al mengacak-acak puncak rambutku, aku pun segera pamit karena Rangga sudah menunggu di mobil. Aku senang mendapat menu yang sudah siap saji, bisa membuatku belajar memasak nanti.
Sampai di mobil aku langsung masuk dan Rangga segera melajukan mobilnya. Dan baru saja memecah keramaian kota di lampu merah kulihat pandangan Rangga gelisah.
Kulihat pandangannya tertuju dengan mobil hitam, saat arah mobil hitam itu lampu hijau kulihat Rangga membuka kaca mobilnya begitu pun dengan mobil hitam.
Ketika melewati mobil Rangga terlihat Luna tersenyum pada Rangga, begitu pun sebaliknya. Sudah jauh mobil Luna, Rangga memantaunya dari spion mobilnya.
Aku diam saja, mereka hanya menyapa lewat pandangan. Kini kami meneruskan perjalanan pulang. Rangga tidak membicaran ia baru saja melihat siapa. Hanya teman.
Mengalihkan fikiranku kuambil paper bag dari mama dan kulihat isinya, ada dua box ukuran sedang. Kuambil box paling atas dan kucium aroma sambal matah buatan mertua, sungguh menggugah selera.
'Uweak'
Mendadak arah mobil hampir oleng dan segera Rangga menepi mobilnya, ia membuka pintu mobilnya dan lagi ia muntah.
Kupijat tengkuk Rangga membantunya meredakan rasa mualnya. Dan barulah ia bangun, kulap mulutnya dengan tisu. Kasihan melihat wajahnya pucat sehabis muntah.
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...
💋💋💋
__ADS_1