
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
"Ada apa, kak ?"
"Lama sekali baru muncul."
"Tadi cuci piring."
Kreaaak!
Rangga membuka pintu kamarnya. Maniknya menatapku begitu lama. Aku terus berdiri di hadapan pintu kamar Rangga, menunggu perkataan keluar dari mulut liarnya.
Kembali Rangga mengedipkan maniknya dan mengangkat berulang kali alisnya membuatku bingung. Aku tak mengerti maksudnya.
"Ada apa,kak ?"
Rangga mendekatiku membuatku mundur satu langkah. Kedua tangannya memasuki saku celana pendeknya. Terdengar hembusan nafas panjangnya.
Kutatap manik Rangga, kembali ia menaikkan berulang kali alisnya kemudian ia tersenyum memperlihatkan sedikit gigi putihnya.
Saat aku akan berbalik Rangga menahan tubuhku membuatku kembali dalam pelukannya. Sekuat hati kudorong Rangga dan berlari ke kamarku.
Sebelum kututup pintu kamarku kulihat ia mengedipkan mata genitnya. Begitu genit. Aku tidak nafsu jangan harap melakukan itu lagi. Aku takut hamil.
Kututup pintu kamarku dan kuraih ponselku dan mencari nomor Siska, langsung ketelepon. Tersambung. Menunggu Siska mengangkatnya.
"Hallo,Ra."
"Siska ... Aimitiu ... ,"
Langsung kami berdua terlibat ngobrol durasi panjang. Aku tertawa menceritakan pengalaman yang takkan terlupakan. Saat diriku dinobatkan menajdi ratu dalam hidup Rangga Ryuga Winata.
Dan terdengar tawa Siska mendengar kuceritakan kissmark Rangga, kata Rara itu kenang-kenangan termanis. Manis dari segi apa, tak bearti bagiku.
Usai menelepon Siska kulihat jam sudah menunjukkan jam makan malam, aku terkejut bukan main.Segera kuakhiri panggilannya.
Aku pun mengendap-endap takut Rangga mengetahuiku ke luar kamar. Aku lihat lampu kamar Rangga menyala, tandanya ia ada di sana. Aku lega.
Langsung menuju dapur, masak nasi kemudian masak lauk. Tapi lauk apa, Rangga tidak suka lauk mie instan.
Kupandangi semua sayuran. Dan kuingat masakan Mama di kampung. Masakan special sayur saus tiram. Kubongkar kulkasnya mencari saus tiram dan kutemui.
Mencuci sayuran bok choy, kembang kol, wortel, dan sayuran lainnya dulu. Setelah itu kupotong kecil. Cuci lagi.
Lalu siapkan aneka bawang merah dan putih, cuga cabai besarnya. Setelah cuci dan potong segera tumis dengan mentega. Selanjutnya sayurannya. Aromanya menyeruak.
Kini saus tiram. Keberpikir takarannya. Mama dulu menggunakan sachet, dan di sini menggunakan botol. Bearti dua sendok makan. Oke tuangkan.
Aromanya begitu menggugah selera. Kucicipi rasanya nikmat tapi keasinan, kutaburi sedikit gula. Kini selesai.
__ADS_1
Tata di meja makan dan nasi juga sudah matang. Selesai. Saatnya memanggil pangeran mesum. Aku malas dan takut memanggilnya karena nanti aku diajak berbuat yang tidak-tidak.
Aku melihat kedipan matanya jika dibiarkan bisa goyah imanku. Sungguh itu tidak baik. Harus bisa jaga diri. Ingat belum saatnya hamil.
Aku melangkah begitu pelan menaiki anak tangga.
Kreaak! Pintu kamar Rangga terbuka. Aku berhenti melangkah dan terdiam. Kulihat Rangga turun mengenakan jacket hitamnya. Ia berjalan begitu cepat.
Rangga melihatku namun ia terus melangkah ke bawah meninggalkanku begitu saja. Kuberbalik melihat Rangga menuju pintu rumah utama. Kuberlari menghampirinya.
"Kamu mau kemana ?"
Rangga berbalik,"Aku ke luar ada urusan."
"Aku sudah menyiapkan makan malam."
Rangga terhenti saat akan menutup pintu, ia melihatku. Manik kami lagi beradu pandang. Rangga maju mendekatiku tapi aku mundur. Aku takut bila melakukan itu lagi. Aku takut hamil.
Rangga membuang nafas beratnya lalu ia membiarkan pintunya terbuka, ia menuju mobilnya dan segera tancap gas meninggalkan rumah.
Kututup pintu pagar dan pintu utama lalu segera menuju meja makan. Terlihat masakanku sia-sia. Semua sudah kutata. Aku bingung harus bagaimana.
Kubereskan nanti bagaimana saat ia datang dan ingin makan. Kurasakan Rangga hanya keluar sebentar. Biar aku tunggu saja.
Aku menelepon Ariel saja sambil menunggu Rangga pulang. Kubuka kontak ponselku dan segera menghubungi Ariel.
"Tumben sayang nelpon ?"
"Iya, bagaimana kabar nenek ?"
"Astaga lalu bagaimana sayang ?"
"Menungu bantuan biaya sayang, sudah dibantu petugas desa tapi sampai sekarang belum ada kabarnya."
"Ya Tuhan, sabar sayang. Berapa biaya operasi nenek sayang ?"
"Seratus juta sayang."
"Sabar sayang semoga ada dermawan yang membantu nenek."
"Semoga, gue kangen banget sama lo yank."
"Gue juga kangen yank, kangeeen bangeeet."
Kuberusaha menahan airmataku bahwa aku sudah menghianati Ariel. Aku tak mungkin mengatakan hal sebenarnya saat ini, Ariel butuh ketenangan.
Aku terdiam mengenang kejujuranku dan bercampur mengenang biaya operasi nenek Ariel. Darimana bisa dapatkan jumlah sebanyak itu. Tapi seingatku mahar diberikan Rangga dulu cukup besar, bisa dikatakan diriku ini dihargai mahal oleh seorang CEO Elang Grub.
Tapi tak mungkin kujual begitu saja mahar dari suamiku. Seperlu diriku dengan uangnya harus minta izin Rangga dulu. Aku tak mungkin diam-diam menjualnya nanti aku dicap orang tidak benar.
Aku menarik nafas panjang dan kembali berbicara dengan Ariel menyemangatinya. Dalam hatiku berdoa semoga Rangga mengizinkanku membantu Ariel. Dan semoga bisa kusimpan rahasia pernikahan ini.
__ADS_1
***
Kenapa ada rasa yang aneh, terasa hangat dan sempit. Kubuka mataku melihat kegelapan. Aku menggeliat dalam pelukan. Kutatap wajah yang menggendongku. Rangga.
"Hah, turunkan aku." teriakku setelah sadar Rangga menggendongku di tengah kegelapan.
Rangga tetap menggendongku dengan ia berusaha menekan saklar menyalakan lampu rumah. Kini manik kami beradu. Jantungku berdencak lagi. Tatapan netranya begitu serius.
"Turunkan aku," rengekku.
Rangga menurunkanku di depan pintu kamarku. Dan tatapannya terlihat tidak sedang main-main, membuatku gemetar takut melihatnya. Kutundukkan kepalaku.
"Kenapa tidur di kursi ?"
"Aku menunggumu,kak."
"Ini sudah jam tiga dinihari."
Aku terkejut tak menyangka sudah jam tiga, jadi sudah dari jam berapa aku tidur di sana.
"Kakak sudah makan belum ?" tanyaku pelan.
"Kamu bertanya sama sepatu saya ya ?"
Aku gelisah berbuat salah. Kuberanikan diriku menatap manik hitamnya Rangga.
"Kamu sudah makan ?"
Kini Rangga yang bertanya padaku. Dan aku menggeleng pelan.
"Kenapa ?"
"Menunggu Kakak,"
Rangga berpaling mendengar jawabanku. Dengan sigap dia menggendongku lagi. Tapi bukan menuju kamar malah ke lantai bawah, Rangga santai menggendong tubuh mungilku.
Sampai meja makan Rangga menurunkanku, menarik kursi untukku dan menyendok nasi dan sayur untukku.
"Makanlah," titah Rangga yang duduk di hadapanmu.
Aku segera makan menikmati kreasi masakan pertamaku. Rangga fokus melihatku sedang makan. Aku takut melihatnya menatapku begitu serius.
Selesai makan bersama kami naik ke atas. Tapi perasaanku berdebar karena Rangga tepat di belakangku. Aku takut dia mengikutiku sampai kamar.
Dan benar saja Rangga mengikutiku sampai di kamar. Aku berdebar. Kubalikkan tubuhku melihat pemilik roti sobek menatapku begitu lekat. Lagi Rangga mengedipkan matanya menggodaku.
Aku menahan senyumku. Aku memalingkan wajahku tak ingin beradu pandang.
"Kamu tidurlah, terima kasih sudah menungguku."
Aku tersenyum mendapat ucapan terimakasih dari Rangga. CEO tampan itu mengacak-acak puncak ubunku dan Kiss! Dia mencium bibir kecilku lalu meninggalkanku. Sampai pintu kamarnya Rangga mengedipkan matanya lagi.
__ADS_1
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...
💋💋💋