
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
"Gue udah kangen sama Lo,"
"Sama,gue juga kangen sama Gebi miss lebay cantik."
Kami tertawa bersama. Juga kucubit manja hidung mancung Dana dan Deodoran. Melepas rindu berhari-hari tidak berjumpa. Juga OB lainnya juga merasa rindu denganku terkenal gadis yang sering berulah di kantor.
"Lo udah tahu kabar Nenek Ariel belom ?" tanya Siska.
"Udah, neneknya parah dan harus dioperasi."
"Biayanya gede banget seratus juta." sambung Gebi sambil merapikan rambutnya yang ia rasa berantakan.
"Semoga ada dermawan yang membantunya!" harapku dengan hati sepenuhnya berharap Rangga memberiku izin untuk membantu Ariel.
"Eh, nanti nonton drakor lagi ya." ajak Gebi dengan ekpresi manjanya.
"Em, gak bisa. Geb,"
Alis Gebi terpaut dan bertanya,"Maksudnya ?"
"Em, gue ... ," diriku bingung dibuatnya.
Aku kesulitan menjawab pertanyaan Gebi. Aku sudah menikah tidak mungin kembali ke kos. Hatiku sangat menginginkan kembali ke kos, karena aku takut dengan Rangga. Takut dihamili.
Kulihat Gebi terus menatapku. Aku tak tahu harus menjawab apa padamu sahabatku. Aku tidak mungkin memberitahumu. Aku bisa dihajar Gebi merebut orang yang ia kagumi, ia cintai sepenuh hati. Aku harus jawab apa.
Siska menarik tanganku, menyeretku meninggalkan ruang OB. Kami berjalan menjauh.
"Sis, ngapain Lo nyeret gue ke sini ?" Kuberusaha melepas genggaman tangan Siska.
"Lo bilang aja lo kerja di rumah Rangga."
"Nanti Gebi bertanya aneh lagi gimana ?"
Siska menggeleng.
"Gue gak tahu jawab apa,"
"Ya Lo katakan Lo jadi asiten pribadi CEO, jadi CEO di mana ya Elo standby."
Aku tersenyum menerima saran Siska. Aku akan berpura-pura menjadi asisten pribadi CEO mesum itu.
Saran yang baik untuk menyembunyikan pernikahan ini, karena belum saatnya orang tahu. Jika bisa jangan sampai tahu sampai pernikahan ini berakhir kelak.
Triiiiiing!
Ponselku berdering, kulihat Rangga meneleponku. Segera kuangkat, dia memintaku membawanya kopi susu alami. Bukan racikan kopi shop. Selera aneh.
Segera kubuatkan kopi untuk Rangga. Kini selesai langsung menuju ruang Rangga.
'Aw'
Kulihat seorang wanita fashionable menabrakku membuat kopi Rangga tumpah. Kulihat yang menabrakku ini adalah wanita yang seingatku dahulu ingin dilamar Rangga. Tapi matanya terlihat sembab seperti habis menangis.
__ADS_1
"Sorry," hanya itu perkataan wanita itu lalu ia langsung setengah berlari meninggalkanku.
Wanita itu menuju ruang Rangga. Apakah Rangga membuatnya menangis. Kutepis dulu bayangan itu, segera kubersihkan kopi yang tumpah itu.
Kubuatkan lagi kopinya dan segera menuju ruang Rangga. Sampai ruang Rangga kulirik Kirana sedang memeriksa berapa berkas, dia tersenyum melihatku.
Sampai di pintu Rangga kuketuk pintunya.
"Pak,kopinya."
Rangga tak menjawab apa-apa. Kuketuk lagi lalu mengatakan pesanannya datang, sama tetap Rangga tidak memjawab apa-apa. Kudekati Kirana.
"Mba, CEO ada gak ya ?"
"Ada,mba."
"Kok diketuk pintu orangnya diem."
"Ada temannya di dalam,mba."
"Siapa ?"
"Tunangannya mungkin yang viral kemarin, masuk teve cuma gak kelihatan wajahnya. Saya yakin pasti wanita itu tunangannya."
Aku tercengang mendengar perkataan Kirana. Ada wanita lain di dalam sampai Rangga tidak merespon kehadiranku.
Ceklek! Kubuka pintu ruang kerja Rangga. Terlihat Rangga memeluk dan membelai rambut wanita yang duduk di kursi. Wanita yang menabrak kopi yang kubawa tadi.
Rangga menoleh melihatku datang lalu ia berdiri dan kembali duduk di kursinya. Rangga tidak menatap manikku. Kuberjalan menuju nakasnya dan meletakkan kopi susunya. Kemudian diriku langsung meninggalkan Rangga.
"Aku sudah melakukan semuanya buat dia, tapi dia sama sekali tidak mencintaiku Ngga. Aku sakit hati, aku cinta mati dengan Al." lirih wanita itu sesenggukan.
Aku tak mengerti dengan cerita mereka, memikirkannya membuatku tambah bingung. Sudah memikirkan takut hamil, berfikir Ariel, berfikir mama, dan banyak hal lainnya.
Terserah mereka bagaimana, ada bagusnya mereka kembali lalu menikah. Dengan begitu bebas hidupku. Tidak melayani CEO mesum lagi.
Ini baru berapa hari lalu bagaimana jika aku ketagihan, itu bisa membuatku hamil. Sudah lupakan.
"Ra,"
Aku menoleh ada yang memanggilku.
***
Di kopi shop aku duduk bersantai bersama Al. Aku memesan coffelatte dan Al juga coffelatte.
"Kau ada bertemu Luna ?"
Aku berhenti menyeruput kopi mendengar pertanyaan Al.
"Oh, ada tadi waktu aku anter kopi Rangga."
"Lalu bagaimana ?"
"Mereka ada urusan pribadi jadi aku tidak ikut campur," jawabku dengan tersenyum pada Al.
"Kenapa? bukankah kalian sudah menikah."
__ADS_1
"Kak Al sudah tahu kami menikah kontrak dan pernikahan ini masih rahasia." jelasku.
Alis Al terpaut.
"Kenapa kalian lakukan itu ?"
Aku menarik nafas panjang lalu menjelaskan pada Al kalau pernikahan kami ini diam-diam. Dan tanpa restu dari orangtuaku. Di mana mama sangat benci dengan perkantoran.
Karena mama korban sinetron sering menghadirkan suami orang kantoran jarang setia, selalu banyak wanita idaman lainnya seloroh mama. Sebagai anak aku tidak bisa berbuat apa-apa.
"Aku mohon jagalah rahasia pernikahan kami termasuk dengan Luna, kak." pintaku.
Al mengangguk dan tersenyum. Kami melanjutkan ngobrol santai sambil menyeruput kenikmatan coffelatte kami.
Melihat pengunjung kopi shop ini didomimasi anak muda, tema tempatnya juga tema anak muda hitam putih. Nyaman.
"Kapan kamu berkunjung ke rumah mama ?"
"Belum tahu, kak. Menunggu ajakan Rangga."
"Ya diajak, jangan cuma ditunggu karena Rangga itu tidak peka."
Kami tertawa bersama.
"Oh,ya kakak saja ke rumah kami." tawarku.
"Aku belum mengetahui rumah kalian, karena Rangga diam tidak memberitahu apa-apa."
Aku mengangguk menimpali pernyataan Al. Ternyata Rangga tidak memberitahu alamat rumah kami yang baru saja ia beli.
Rangga soal pindah dia pernah berkata pada keluarga dan diberi izin untuk melatih kemandiriannya, tapi ia tidak memberitahu alamatnya.
"Ra, nanti makan siang di mana ?"
"Belum tahu, kak."
"Apa kamu makan siang dengan Rangga ?"
"Entahlah aku tidak tahu,kak."
"Jika makan sendirian nanti kita makan bersama ya!"
Aku tersenyum setuju dengan ajakan Al.
"Oh, ya kakak tadi kok gak nemuin Rangga dulu tapi langsung ngajak ngopi ?"
"Lagi pengen aja."
"Terus kakak tahu kehadiran Luna dari mana ?"
"Melihat mobilnya di parkiran."
Aku kembali tersenyum. Kami terus mengobrol dengan menikmati rasa kopi yang enak dan suasana kopi shop yang asyik dan nyaman.
Selalu ramai. Terlihat anak muda berkumpul dengan tenang, tidak berisik dan berulah jadi cukup nyaman santai di kopi shop.
Para pelayan pun baik laki-lali dan perempuan cukup ramah dan tampilan mereka good looking. Benar-benar menjadi daya tarik kopi shop.
__ADS_1
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...
💋💋💋