GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
Pov Rangga -Aku Penghianat-


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


Bangun tidur kuberanjak bangun dan lagi meski semua sia-sia, kuberjalan membuka pintu kamar Rara. Pandangan seperti biasa.


Hanya melihat dan membayangkan ia ada, membayangkan ia tersenyum sambil berbicara setiap hari tiada henti.


Aku mendengus, kenangan itu membuatku tersenyum sia-sia. Ke mana dia penghuni kamar ini, tidakkah dia mengetahui ada hati yang merindunya.


Kututup kamar Rara kembali dan berjalan ke bawah, lagi manikku menatap rumah ini serasa hampa. Semua terasa begitu asing, merasa rumah ini bukan rumahku.


Menuangkan air hangat dalam quaker oat di mangkuk membuatku ingat dia lagi, kulihat mangkuk kesukaannya bertuliskan love berwarna pink bertengger di rak piring.


Kulihat lagi gelas-gelas utuh yang biasa ia racikkan susu hangat dan jus jeruk untukku, semua utuh. Dan menikmati sarapan terasa tak menyenangkan, hidup terasa tak bersemangat.


Usai sarapan memilih duduk memyendiri di taman belakang ditemani wine bersama sedikit es batu. Meski terlalu pagi tapi aku butuh wine saat ini. Mulai menata hatiku akan keputusan Rara. Setiap bertemu ia selalu menghindar. Apakah dia akan meninggalkanku. Tiba-tiba;


"Ngga!"


Aku menoleh ke samping, Luna mendatangiku lewat jalan samping. Kutenggak wine saja dan melepas gelasku lagi.


"Ngga, aku mohon nikahi aku."


Mataku membesar mendengar permintaan aneh Luna.


"Kamu sudah gila, aku sudah menikah."


"Aku minta tanggung jawabmu, Ngga!"


"Jangan ganggu aku sekarang, nantilah saat fikiranku tenang baru kita bahas itu."


"Aku mau keputusan itu sekarang, jika tidak ...!"


Kulihat Luna mengeluarkan pisau lipat kecil dari dalam tasnya dan mengarahkan pada pergelangan tangannya. Mengejutkan segera kutangkap tangannya dan kusingkirkan pisau kecil itu.


"Jangan kayak anak kecil, Na." bentakku.


"Aku mau kamu bertanggung jawab!"


"Iya, aku akan tanggung jawab tapi dengan cara lain karena aku punya isteri yang aku cintai."

__ADS_1


"Ceraikan istrimu atau aku akan mati dengan cara apa saja daripada hamil tanpa suami." gertak Luna dengan menatapku tajam.


Aku menghela nafas, berat hatiku meninggalkan Rara. Tapi Luna orang yang brutal, apa saja ia lakukan demi mendapatkan yang ia mau.


Kresek!


Aku malas menoleh mendengar bunyi tas Luna. Tapi nanti ia mengambil pisau lain lagi. Saat aku menoleh Luna menyerahkan minuman kaleng rasa jeruk yang sudah ia bawa dan ia buka.


Aku menggeleng menolaknya, Luna menggoncangkan minuman itu dan menyodorkan kembali. Matanya melotot seakan mengancam akan bertindak aneh lagi.


Kuambil dan kuminum berapa tenggak karena rasa asam manis, jika selain rasa jeruk aku tak mau. Entah mengapa sekarang banyak hal berubah dalam diriku.


Aku tak tahu apa penyebabnya. Kini kutenggak lagi wine, tapi ada rasa aneh dalam diriku. Ada yang menjalar sekujur tubuhku.


Membuatku menatap Luna, seakan dirinya berubah menjadi Rara. Kukedipkan manikku dia menjadi Luna tapi kembali menjadi Rara. Spontan nafsuku menjaring fikiranku saat ini.


Briiiing!


'Hah'


Teriak wanita itu yang kutak tahu ia Luna atau Rara melihat kubanting keras botol wineku ke lantai. Aku mengingat aku di taman belakang dan Luna datang menemuiku.


(skip karena bukan bersama isteri)


Ketika kusadar kulihat Luna tersenyum penuh birahi di atas tempat tidurku sambil memainkan ponselnya, kutatap ia begitu tajam membuatnya urung meneruskan pandangan seperti tadi.


"Kuharap kamu segera pulang, aku butuh kesendirian!"


Usai berkata itu aku langsung mandi dan ganti pakaian, dengan kepala masih tersisa pusing kutinggalkan Luna begitu saja.


Aku pilih duduk di taman kota, mengingat dulu saat sedih pasti Rara menuju tempat ini. Semoga bisa membuatku tenang. Aku tak ingin tetap di rumah melakukan hal gila lagi. Kurasa ia istriku tapi setelah sadar begitu mengejutkan, wanita perusak rumah tangga.


Tak butuh waktu lama sampai di taman kota aku duduk sendiri melihat orang lalu lalang suka cita, mereka semua bergembira kecuali diriku.


Sampai di tengah keasyikanku melihat orang tiba-tiba rintik hujan lebat datang. Orang berlarian cari perlindungan tapi tidak denganku. Aku tetap kehujanan.


Tetapi hujan tak lagi membasahi kepalaku, kutengok ke atas kepalaku ada sebuah payung. Kulihat Al memayungiku dengan tangan yang satunya memayungi wanita yang ingin meninggalkanku.


"Tidak usah!" aku bangun menyingkirkan payung itu.


Aku berjalan di bawah hujan meninggalkan Al dan Rara begitu saja.

__ADS_1


"Masih baik dikasih payung!" teriak Rara.


Aku berhenti dan berbalik,"Aku minta maaf, hanya itu yang bisa kuucap!"


Aku terus berjalan menuju mobilku, hatiku sakit ingin berpisah tapi aku malu ingin bersama karena tadi mengulangi kesalahan memalukan.


Aku pusing dengan semua ini, menjadi alasan kenapa aku nafsu melihat bukan wanitaku. Dulu aku ingin menikahinya bukan ingin malam pertama, semata ingin mengobati luka hatinya.


Menyesal datang ke taman kota, melihat wanita yang terus kusakiti. Kini pastilah ia memilih Louise, bersama Al karena hanya Al yang ia anggap saudara. Aku harus ikhlas menerima semuanya.


Aku tidur di sebuah hotel saja, aku tak mau pulang. Jika masih ada Luna di sana terserah dia. Aku di hotel saja. Kini berusaha istirahat total, besok akan menemui Louise memintanya menjaga belaham jiwaku baik-baik.


Sampai di hotel segera langsung menuju kamarku setelah tadi dipesan Kirana, merebahkan diriku penuh dosa ini. Ingin rasa hati memacu mobil sekencangnya sampai Tuhan memanggil di ujung jalan.


Aku menyesal tapi aku lepas kendali. Bergaul dengan tiga sahabatku tak bisa membuat mereka membuatku tertarik dengan wanita malam.


Sampai mereka mengetahui lamaranku, kuingat kejadian via telpon dulu dengan tiga sahabatku. Mereka menantangku jika malam itu kulepas perjakaku maka mereka menganggapku menang.


Jika aku masih perjaka maka aku harus menebus tiga kali lipat dari taruhan iseng mereka. Sampai akhirnya aku tak sengaja menyentuh Rara, bersama Rara pertama kali kulakukan hal itu membuatku ketagihan hanya bersamanya.


Aku bertanggung jawab tapi mengapa aku lemah menghadapi Luna, aku dalam kebingungan. Serasa tak lagi ingin memperdulikannya.


Masa bodoh jika akan mati atau apa karena merasa ternoda. Merasa ingin mati tak sanggup menahan malu terhadap istriku. Tuhan, beri aku jalan.


Kutarik ponselku, kulihat profil Rara. Dia membuat story berisi foto gelas yang pecah, berisi caption; Gelas tetaplah gelas, meski sudah pecah namanya tetap gelas. Disatukan ia tetap gelas, tapi tidak menyamai rasa dan rupa sebelumnya.


Braaak!


Kubantingkan ponselku,"Aaaaaaaa!" teriakku sekerasnya.


Dengan berbaring menghadap langit-langit, pertama kali mataku basah. Setelah tumbuh remaja tak lagi mata ini basah, baru kali ini mataku basah.


Bagai banjir bandang ganas menerobos perkampungan dan menghancurkan semuanya. Diriku harus rela melepas dia yang kusayangi, dia yang kujaga.


Sejak memulai bekerja diriku menjauhi cinta tak ingin menganggu pekerjaanku, sampai aku menariknya sendiri dalam hidupku. Kini aku melukainya.


Menangislah! aku tak bisa lagi berkata apa-apa saat ini. Bayanganku dia, kurasa apakah kala hujan tadi pertemuan terakhir dengannya.


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...


💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2