
Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama ceo hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
Melangkah, melangkah, melangkah sambil ngobrol dengan salah satu fanz sultan yang akan aku temui dan akhirnya tibalah di ruang si edan. Aku akui nervous rasa takut ada kesalahan dengan kerjaanku tadi pagi. Relax Rara. Santai.
Tok! Tok! Tok! Sekretaris itu mengetuk pintu ruang kerja si edan.
"Pak, nona Dara mau bertemu bapak,"
"Hmmmm," suara deham dari dalam.
Kreeekkk! Wanita itu membuka pintunya.
"Silahkan masuk mba," kata wanita itu.
Aku mengangguk dan masuk ke dalam ruangan yang pagi tadi aku bersihkan.
"Tarik sis smongko." Batinku.
Tarik nafas relax Rara anggap tidak akan terjadi apa-apa. Aku langsung cari dia. Tapi kenapa dia tidak duduk di kursinya yang keren itu. Semacam singgasana jaman now.
Aku celingak-celinguk tapi tetap tak nampak wujud yang aku benci itu. Aku melihat di bilah pertemuannya tetap tak ada juga, dan di ruang penuh buku itu juga tak ada.
"Cari apa ?" suara itu dari belakang.
Aku segera berbalik dan kita berhadapan saling pandang. Dia lebih tinggi menatapku si imut dengan kedua tangannya masuk ke dalam kedua saku celananya.
Kehadiran dia raja rese' sedunia. Aku dibuatnya terkejut. Aku terdiam dengan jantung mendadak tak seirama tak beraturan saking terkejutnya. Soalnya ruangan ini luas sekali, membuatku bingung mencari dimana dia berada.
"Orang bertanya itu dijawab bukan didiemin." Katanya berlalu di sisiku.
Dia mengeluarkan ah! aroma yang segar sekali membuat kedua mataku terpejam dan ikut berbalik mengikuti arah aroma farfumnya.
"Saya tahu kamu bagian bersihin ruang saya ini dan pribadi ucapin makasi buat kamu dan team kalian bener-bener bersih dan harum banget, aroma yang khas dan saya suka aroma mawar ini semerbak harumnya." ungkap CEO itu membuatku buru-buru menyadari kesadaranku hilang sekejap saat dia lewat.
__ADS_1
Benar apa tidak apa yang aku dengar ini. Dia yang paling aku benci raja rese' ini memuji dan menghargai kerja keras kami. Aku tak menyangka, sumpah. Seperti mimpi. Tak pernah dengar cerita riwayat dia seperti ini. Berasa mimpi.
"Siapa yang pilih aroma mawar ini ?" Tanya dia dengan tatapan dingin namun menggoda.
"Saya pak"
"Yakin ?" Tanya dia meyakinkan.
"Bapak gak percaya ini aroma kesukaan saya pak maaf jika bapak tidak suka jika bapak suka saya ucapkan terima kasih banyak pak," sumpah ini gue sok kalem walau di hati gue masih nyimpen kesel sama ni orang.
"Kamu tuli ya tidak mendengar ungkapan saya barusan."
Saya menelan ludah salah lagi.CEO edan itu langsung menelepon si wanita yang tadi buka pintu buatku. Ah! tinggal teriak sedikit selesai. Tapi tak berwibawa jika sang CEO teriak-teriak. Tidak sopan dan tak berkelas. Ah! Pemikiranku ini saja kampungan mau teriak-teriak.
"Ada apa pak ?" Tanya wanita yang tadi di telepon.
Dengan cepat dia masuk memenuhi panggilan CEO tampan ini tapi biar tampan dia rese' sekali.
"Perintahkan semua OB gantikan pembersih dan pengharum ruangan di perusahaan saya ini dengan aroma mawar dan kamu tanyakan dengan dia nama pembersih dan pengharum ruangan yang dia gunakan," titah sang CEO sambil menunjuk ke arahku dengan satu jari telunjuknya dengan tangan tetap menyentuh meja.
"Baik Pak."
"Baik Pak."
Wanita itu mengangguk, sedikit menunduk lalu mundur selangkah dan berbalik meninggalkan aku dan tak mau lagi memanggilnya dengan sebutan edan. CEO tampan. Karena dia puji kerjaanku dan minta satu kantor gunakan aroma kesukaanku baik itu dari pembersih lantai dan pengharum ruangan.
Tak kusangka dia menghargai kerjaanku sama Gebi dan Deodoran. Dan dia suka sekali dengan aroma mawar pada pengharum ruangan pilihanku. Dibalik sifat menjengkelkam ternyata dia baik juga. Semoga saja aku tak apes lagi sama orang ini seperti kemarin cuma gara-gara benda pipih segi empat itu membuat jariku luka.
Nanti dihukuman apalagi. Hari ini aku jalani hukuman berat kerja full dua puluh empat jam. Bisa dibayangkan lelahnya bagaimana.
Aku melihat CEO tampan itu melihatku. Kita beradu pandang dengan meja dan kursi menjadi penghalang. Dia tersenyum. Dan kedua tangannya mengepal menopang dagunya. Memancungkan sedikit kedua bibirnya. Jadi gemas melihatnya. Dan sudah memulai desiran darah menari di puncak ubunku. Jangan lihat aku,Pak.
Mau sampai kapan beradu pandangnya. Aku lelah berdiri. Beri izin duduk, susah sekali. Jangan lebay seperti itu. Kamu sudah baik pagi ini semoga saja sifat ini bertahan. Tobat bos jangan buat karyawan kesal.
"Kamu capek tidak berdiri ?" Tanya CEO itu ringan.
__ADS_1
"Kenapa gak dari tadi pak ya saya capek berdiri terus," keluhku bikin dia cengengesan lalu mempersilahkan aku duduk dengan isyarat pandangan matanya.
Aku menarik nafas panjang lalu menarik kursi di seberang bosku dan segera duduk dengan berlagak sopan tak grasak-grusuk seperti biasanya. Aku sedekat ini tak bernyali menatap matanya, nanti tak sopan ini mahluk bosku. Aku duduk sedekat ini padahal kita beda kasta. Bawahan sekalu diundang ke ruang pribadinya dan duduk sedekat ini. Salut sekali aku padanya.
"Saay mau tau nama aslimu siapa?" Tanya bosku aneh, pertanyaan nama bukanya bertanya seputaran kerjaan aku di kantor ini.
"Dara Samudera, pak." Jawabku lembut dengan senyum dikulum sedikit. Mencoba mencairkan suasana tegang berhadapan seperti ini sama bos.
"Kamu suka ya kerja bersih-bersih seperti yang biasa kamu kerjakan atau terpaksa atau bagaimana ?" Kali ini pertanyaannya baik sekali soal kerjaan tapi detil sekali ada apa ya.
Aku langsung jawab " Iya pak, saya sejatinya sangat menyukai kerjaan saya ini pak bila ada kekurangan dan kesalahan saya akan belajar dari pimpinan dan senior untuk segera memperbaiki kerjaan saya."
CEO itu mangut-mangut perlahan dan tersenyum tipis.
"Pas sekali karyawan khusus ruangan ini mau cuti dia mau melahirkan jadi saya akan nempatin kamu gantiin posisi dia untuk bersihin ruangan ini ya seperti kamu lakuin tadi pagi itu saya suka thanks atas kerjaannya," ucap CEO itu penuh semangat.
"Pak apa saya tidak salah dengar ?" Tanyaku meyakinkan.
CEO itu mengangguk berbarengan dengan kedua alisnya berdekatan. Dia menarik nafas lalu menatapku begitu lekat.
"kamu mau tidak ?"
"Mau apa pak ?" Tanyaku bingung.
"Kerja di ruangan ini lah,memangnya mau kamu ditawarin nikah hahahahahahhaaaa," ceplos si CEO lalu menutup mulutnya yang bibirnya begitu seksi merah muda alami.
Mataku menatap CEO itu dengan tatapan kesal. Kumat penyakitnya.
"Awas karma lho pak," candaku sekaligus memadamkan kemarahanku dengan sikap bos satu ini.
"Saya tidak percaya soal karma karena saya tidak ngapa-ngapain kamu lagian mana ada sih CEO nikah sama OB seperti tidak ada perempuan lain saja."
Sheepppp! langsung aku merasakan kata akhirnya itu. Merendahkan sekali. Siapa kamu. Harta dan tahta itu sementara jangan sombong. Kalau bukan bos sudah aku sembur dengan kata-kata pedas gue buat dia tak bisa tidur seminggu.
Sampe sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,happy reading ...
__ADS_1
💋💋💋