
PENGUMUMAN SEDIKIT !!!
Novel ini akan end segera, tidak sampai 100 part dikarenakan akun facebook ASHA HANAKO dihack. Karena log in via facebook jadi jika di outkan otomatis tidak bisa masuk lagi. Saya akan menulis tapi tidak di akun ini. Semua mulai dari awal. Baru tumbuh seperti ini sudah membuat orang iri, padahal siapalah Asha hanya pemula aneh kerjaannya halu para member kpop. Buat kalian gamsahamnida sudah setia mengiring jejak saya dari ufuk timur hingga ke ujung barat sebentar lagi. Di part end akan ada cover novel baru masih lohay rate 21, menjadi rebutan para geng. Saya akan rindu kalian semua. Love you, readers lovers.
Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...
💋💋💋
Menatap Rangga meninggalkan rumah karena hari ini aku dilarang ikut, juga menunggu para asisten rumah tangga yang ditugasi mengurus rumah dan juga seorang supir.
Aku sebenarnya tidak membutuhkan itu, tapi Rangga begitu khawatir kondisiku dan baby Winata cilik di rahimku. Sehingga aku tidak bisa menolaknya.
Tin tin!
Aku berbalik, lagi lagi kurir paket menyerahkan cokelat pink. Plus setangkai mawar merah. Membuatku penasaran siapa pengirim paket ini. Sambil berjalan ke kamar kulihat akhir pesan ini menyebutkan akan segera mengetahui siapa dia.
Rasa tak sabar, apakah Al. Jika iya maka aku bingung harus menjelaskannya, apa pun dan bagaimana pun perasaan tapi kehadiran janin ini menjadi tembok di antara aku dan Al.
Ting tong!
Bel rumah berbunyi, pasti para asisten yang datang. Keletakan cokelat di meja riasku dan aku pun segera turun ke bawan.
Ceklek!
Kubuka pintu utama, alangkah terkejutnya diriku yang datang bukan asisten tapi wanita yang dipuja Rangga. Luna Catwrigh. Aku menarik nafas panjang dan mengajak Luna masuk.
"Ra, ini kubawakan untukmu brownis keju karena Rangga bilang kau penyuka keju."
Aku berbalik melihat Luna menyerahkan satu kotak brownis cheese cake, aku mengambilnya dan meletakkan di meja makan.
"Makasi ya, oh ya Na mau kubuatkan minuman apa?" aku memilih gelas.
"Minuman kaleng saja, aku suka minuman kaleng."
Aku mengangguk dan meletakkan gelas yang kuambil, kini membuka lemari pendingin dan mengambil minuman tanpa soda. Aku harus ingat selalu soda tidak baik untuk janinku.
Kuletakkan minuman kaleng di atas meja makan, kulihat Luna melihat aneka foto di bupet hiasan kaca tak jauh dari meja makan.
"Eh, Ra sini deh ini foto siapa?"
Kulihat Luna menunjuk ke arah foto mama dan papaku yang kupajang sesuai permintaan Rangga, ia ingin foto mertuanya terpajang di rumah menantu dan anaknya. Jika tak dituruti maka perang dunia lagi.
Aku pun berjalan mendekati Luna, ia memegang foto itu dan maniknya menatap begitu dalam. Seakan ada sesuatu dengan foto orang tuaku itu.
__ADS_1
"Mereka orangtuaku, itu foto lama. Papaku meninggal saat mama sedang mengandungku!"
"Om Gilang Pradipta!"
"Kau mengenalnya?"
"Kenapa sampai kau katakan dia sudah meninggal?"
"Mamaku yang bilang, sampai saat ini saat melihat foto papa maka pastilah mama menangis!"
"Ra, aku ingin bicara serius tapi jangan kau katakan pada Rangga!"
"Apa?"
"Apa kau mau bertemu dengan Om Gilang begitu pun mamamu?"
"Tentu, apa kau mengetahui tentang papaku?"
Luna tersenyum dan mengangguk.
Luna mengambil ponsel di tasnya lalu ia mengotak-atik ponselnya, ia pun menunjukkan foto seorang lelaki dimana rambut sudah mulai beruban dan jelas wajahnya mirip papaku masih muda dulu.
"Luna, astaga dia benar papaku. Pertemukan aku dengan papaku!"
"Apa itu?"
"Serahkan Rangga untukku maka akan kupertemukan dengan Om Gilang, karena hanya aku sendiri yang tahu keberadaannya!"
Aku terbelanga mendengar persyaratan yang Luna berikan. Air mataku jatuh. Aku tak menyangka dia masih menginginkan Rangga.
***
Sampai di malam hari diriku tetap memikirkan syarat dari Luna. Saat makan pun terasa tak berselera. Rangga sesekali melihatku sampai nasinya habis. Kini ia mengajakku ke kamar.
"Sayang, kamu kok banyak diam hari ini ada apa?" tanya Rangga dengan membelai rambutKu.
"Kookie, aku sangat mencintaimu dan bagiku kebahagianmu yang nomor satu!"
"Aku juga sangat mencintaimu, oh ya bisa jelaskan kamu menolak para asisten yang datang tadi?"
"Saat ini aku mau sendiri di rumah ini, hanya berapa hari saja. Setelah itu baru aku bersedia ditemani asisten di rumah ini."
"Aku mengikuti kata hatimu, ingat jangan lakukan pekerjaan berat karena aku tak mau terjadi sesuatu dengan anakku!"
__ADS_1
Aku mengangguk dan segera memejamkan mataku, masih terasa ia mengecup dahiku.
***
Keesokan harinya kembali Luna mendatangiku, pembicaraan kami tak lain soal tawaran gila Luna. Aku menginginkan kehadiran papaku, tapi taruhannya suamiku. Aku dalam kebingungan. Luna membahas ini terlihat tenang, tidak dengan diriku dalam kebingungan.
Usai bertemu Luna kembali mendapatkan paket cokelat pink, tapi kali ini sama sekali selera makan cokelatku sirna. Dalam otakku hanya Rangga dan papaku. Aku dalam kebingungan.
Kini kuberanikan diri bertemu Al,ia sebenarnya sibuk tapi ia luangkan waktu bertemu denganku. Kami bersantai di resortnya. Kami duduk di sebuah gazebo romance.
"Kamu ada masalah dengan Rangga?"
"Masalah ini lebih berat 'kak."
"Apa itu?"
"Kak seandainya ada pilihan antara orangtua dan pasangan maka siapa yang kakak pilih?"
"Orantua!"
Al menjawab dengan singkat, sejak mengetahui kehamilanku Al mengurangi sifat romantisnya seperti dulu tapi ia selalu ada.
"Kak, apa kakak tidak mencintai pasangan kakak?"
"Sudah pasti cinta, tapi jika harus memilih maka aku pilih orangtua. Aku cukup membahagiakan pasanganku tanpa memilikinya, membiarkan dia bahagia dengan yang lainnya."
"Bearti orangtua segalanya."
"Iya, tanpa orangtua kita tidak bisa mencintainya. Beri dia kebebasan, dan bahagialah dengan orangtua kita."
Aku meneteskan airmata, tapi bukan kesedihan. Aku akan membebaskan Rangga semoga dia bisa bahagia dengan pujaannya.
Meski mulut berkata tidak tapi hati berkata iya, tidak mungkin dia tak merasakan apa-apa selama berdua dengan pujaannya dulu.
Kini ia mentegaskan aku sebagai tujuan utama, itu karena ada baby. Kurasa jika masih seperti dulu kurasa ia akan terus bercocok tanam dengan pelakor mulia bagiku.
Kini diriki harus segera pulang dan meminta Rangga menikahi Luna dalam waktu dekat. Lupakan sakit, utamakan kebahagiaan. Dua puluhtahuj kehilangan sosok papa, kini dia nyata masih ada.
Saat akan bangkit Al menarik tanganku membuatku terjatuh dalam pelukannya. Jarak kami begitu dekat, ketersenyum dan aku nakal mencium bibir Al sampai begitu lama.
Aku tak tega ia terus mencinta tapi tak pernah terbalaskan dan kini ia dan Rangga akan kehilangan sosokku. Aku memilih papaku.
Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ... ASHA SANGAT MENYAYANGI KALIAN SEMUA.
__ADS_1
💋💋💋