GAIRAH CEO

GAIRAH CEO
CEO Rangga Versus CEO Alfarendra


__ADS_3

Hai Kaka semua terimakasih sudah memilih novel ini dan mau baca sampai part ini semoga suka dengan perjalanan cerita Rara sama CEO hot, happy reading Kaka ...


💋💋💋


Sampai di kantor aku langsung mengambil alat sapu, kemoceng, dan kain lap juga pembersih kaca dan pengharum ruangan untuk membersihkan ruang kerja Rangga. Juga kusimpan di lemariku aneka makanan yang dibelikan Rangga tadi.


Kini berjalan menuju ruangan Rangga. Perutku kosong terasa tidak enak. Asam lambungku naik membuatku mual terus.


'Eh liet deh OB genit'


'Iya jam segini baru datang'


'Terus gue yakin dia melet CEO deh karena dia dibela-belain tuh kemarin'


'Iya dan gue yakin dia sama CEO udah ehek-ehek'


Aku diam saat bertemu OB lain saat melewati ruang devisi produksi. Mereka memfitnahku. Membuat berita yang tidak-tidak. Jika kurespon bearti aku sama. Kuacuhkan saja.


Sampai di ruang Rangga segera diriku membersihkannya, Rangga sedang mengetik di laptopnya. Sebenarnya aku membersihkan ruangan ini tadi pagi, tapi berangkat bersama Rangga membuatku terlambat.


Rangga tak memperhatikanku, ia sibuk mengetik. Aku membersihkan sebisaku saja karena dibersihkan total tidak sopan namanya jika ada penghuninya di dalam.


Saat akan membersihkan ruang santai mataku terbelalak melihat box makan siang yang kutitipkan kemarin. Segera kuraih box itu masih terasa berat dan kubuka, hasilnya makanan yang kumasak susah payah tidak di sentuh Rangga.


Airmataku menetes. Masakanku istrinya tidak ia makan. Kulihat Rangga fokus mengetik. Kudekati Rangga.


"Kak kenapa bekal yang kuantar kemarin tidak kau makan ?" tanyaku dalam keadaan menangis.


"Oh, kemarin Luna mengajakku lunch bersama dan box itu Luna yang meletakkan di meja." jawab Rangga santai.


Segera kututup laptop Rangga namun ia tahan. Mata Rangga merah membara dan terlihat ia menekan giginya. Rangga marah takut kehilangan data yang sudah sejak tadi ia ketik.


"Kenapa mau marah? marahlah silahkan."


"Kamu jangan menantang saya untuk marah ya, dasar gadis miskin dan bodoh."


"Iya aku memang miskin dan bodoh tapi kamu lebih miskin dan kamu lebih bodoh, kamu tidak mampu membeli gadis model papan atas malah memilihku OB murahan dan kamu bodoh mau menikah dengan orang bodoh." makiku sungguh tak setahan emosi di hatiku.


"Pergi kamu." Rangga mengusirku.


"Oke, aku akan pergi dari hidupmu."


Kubuka cincin pernikahan dari Rangga dan kuletakkan di atas mejanya. Kuletakkan box nasi juga di atas nakas Rangga.


Saat aku berbalik kuberhenti menahan mual hebat di perutku. Aku memegang perutku menahan mualnya. Dengan susah aku berjalan.


Tiba-tiba pintu terbuka, Al berdiri di depan pintu. Dengan sigap Al membantuku berdiri tegak. Dan Al membawaku duduk di sova.


"Apa yang terjadi? sampai terdengar kau memaki, Rara."


"Dia itu gadis miskin dan bodoh tak pantas ada dalam keluarga kita."


"Rara itu anak orang yang tidak bisa kau belikan dengan uang lalu seenaknya kau usir."

__ADS_1


"Hey, kakak jagan membela gadis murahan seperti dia."


"Dulu ditanya keluarga kau bersikeras ingin menikahi Rara dan sekarang kau ingin membuang Rara begitu saja."


"Sudahlah dia itu pengganggu, aku mencintai Luna bukan dia hanya terjebak saja membuatku menikahinya."


Al menarik nafas panjang.


"Jika begitu oke, ceraikan Rara detik ini juga."


Rangga tacak pinggang dan ia membuang wajahnya ke samping.


"Rangga cepat ceraikan, Rara."


"Kenapa memangnya, kak?" tanya Rangga


"Kau sudah tidak menyukainya bukan?"


"Iya, aku hanya mencintai Luna."


"Cepat ceraikan sekarang."


"Kakak tidak perlu mengurus rumah tanggaku, nanti kuceraikan gadis miskin itu."


"Aku butuh kepastianmu segera, karena aku akan meminangnya." ucap Alfarendra dengan lantang.


Rangga langsung tercengang begitu pun diriku mendengar pengakuan Al begitu mengejutkan. Terlihat Rangga menelan ludahnya.


Aku menunduk dan Al membuang wajahnya tak ingin melihat Luna. Aku berusaha berjalan sendiri karena menjaga nama baik Al menuntun seorang OB.


"Kak, aku ke belakang saja." pintaku pada Al.


"Tidak, kamu ikut denganku. Ambil tasmu sekarang."


Aku menarik nafas panjang dan mengikuti pemintaan Al. Kini kami melaju menuju apartemennya. Sampai di apartemennya kembali Al membuat masakan untukku.


Kukatakan padanya aku mual saat makan jadi Al membuat rujak buatannya sendiri, rasanya enak dan segar. Kumenyantap habis rujak yang Al buat itu.


Kini bersama Al, aku makan siang lauk ayam teriyaki yang pastinya kutak tahu resepnya.


"Kakak ini chef ya?"


"Bukan, cuma orang biasa."


"Masakannya enak lho,kak."


"Hanya kebetulan saja, ya sudah ayo habiskan."


"Iya, kakak."


Dan makan rujak sedikit asam tadi membuatku tidak mual lagi. Selesai makan aku rebahan di kursi santai Al,ia terlihat membawa air rebusan jahe begitu harum.


"Minum ini."

__ADS_1


"Baik, kak."


Aku bangun dan menyeruput air jahe hangat itu, begitu menyegarkan. Tapi memalukan setelah minun air jahe membuatku kentut sembarangan.


Aku malu. Karena kentut di depan Al, terlihat Al menutup hidungnya dan ia tersenyum menahan tawanya. Aku berusaha menahannya tapi kentut keluar sendirinya.


"Kak Al, maafin aku kentut."


"Iya, tidak apa-apa."


"Tapi bau, kak."


"Tidak apa-apa, bagus itu tandanya angin dalam tubuhku sudah ke luar."


Aku malu sungguh malu dan aku menunduk tak berani melihat Al. Kentutku membuat mukaku terasa tebal, tak tahu malu.


Al bangun dan menyalakan televisinya. Aku diam melihat kakak iparku satu ini, Al memutar siaran televisi kartun anak-anak. Al tertawa melihat ulah Tom and jerry.


Begitu pun diriku ikut tertawa, kami menonton dengan tertawa terpingkal-pingkal. Melihat selalu saja Tom mengejar Jerry, tapi selalu Tom kena imbas ulahnya sendiri dan si kecil Jerry selalu selamat.


Lebih lucu saat Tom memasak kuah untuk merebus Jerry, hasilnya Tom hampir tenggelam dan diselamatkan si kecil Jerry. Endingnya Tom terkena flu dan kuah yang ia masak tadi adalah minuman untuk menghangatkan tubuhnya.


Film yang begitu lucu. Dan tak pernah bosan melihatnya. Kami terus tertawa. Dari duduk posisi tegak kini aku sampai rebahan di kursi.


Tapi bersama tawaku dan Al terhenti saat kusadari aku merebah di tubuh Al dan tak disadari Al memelukku. Aku segera bangun begitu pun Al segera merapikan posisi duduknya.


Al segera bangun dan pindah ke kursi lain. Aku menunduk malu dan tak enak hati sampai kami sedekat itu. Karena asyik menonton serial Tom and Jerry membuat kami tak sadar akan posisi.


Sebagaimana pun aku harus menghormatinya, dia adalah kakak iparku. Al menggantikan chanel tevenya dengan berita.


"Ra, jika mau istirahat pergilah ke kamar itu." Al menunjukkan arah kamarnya.


"Kakak istirahat di mana ?"


"Aku di sini saja."


Aku diam, aku ragu dan tak enak hati. Aku bingung. Aku memilih ikut menonton teve saja.


"Kak, aku saja di sini dan kakak di sana."


Al menggeleng dan tersenyum.


"Kamu terasa mengantuk tidak ?"


Aku menggeleng.


"Kita jalan-jalan,yuk."


Aku mengangguk.Al pun tersenyum dan segera ia mengganti bajunya dan kami langsung ke luar dari apartemennya.


Sampai di sini dulu ya kaka dan lanjut ke part selanjutnya,jangan lupa ya Kak jejaknya like, vote, kritik saran end tips happy reading ...


💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2