
"Ingatlah untuk makan malam dengan direktur Morgan besok." tegas Silvia dengan mendominasi.
"Kalau aku menolak?"tantang Xia dengan tatapan menantang.
"Kau akan kehilangan Nenekmu! Aku akan hentikan pengobatannya, hingga dia mati perlahan." ancam Silvia.
"Coba saja!"
Xia menggeretakan gigi. Silvia tersenyum menang. Dia sudah lama menggenggam kelemahan Xia. Yaitu neneknya yang teramat disayanginya. Hanya Neneknyalah yang paling baik padanya. selalu memberinya kasih sayang. Berbeda dengan anggota keluarga yang lain.
Dengan kekesalan penuh Xia keluar dari rumah itu dan pergi ke warung tenda pinggir jalan.
"Bibi! makgauli dan pajeon."seru Xia yang masih kesal.
Tak lama Bibi pemilik warung datang. dengan seteko makgauli dan sepiring pajeon.
Xia langsung menuang makgaulinya dan meminumnya habis. Lalu memakan Pajeonnya. Xia menepuk-nepuk dadanya saking sesaknya. Rasa marah masih bergemuruh didadanya. Dia ingin mengeluh, tapi pada siapa? Dia ingin marah, tapi Xia hanya sendiri. Kepada siapa dia bisa melampiaskan?
Hingga Xia cukup mabuk malam itu. Xia memutuskan untuk kembali. Setelah membayar Xia keluar dari warung tenda. Xia berjalan sempoyongan di trotoar sepanjang jalan. Malam pun semakin larut. Jalanan juga cukup sepi.
Tak sengaja Xia menubruk salah satu gerombolan orang.
"Maaf.. maaff..."
Xia melangkah lagi,
"Hei! Enak saja mau kamu mau main kabur saja setelah menubrukku."ucap pria yang Xia tubruk dengan nada tinggi.
****
Dilain sisi di waktu yang sama.
Malam itu Zander baru pulang dari perjalanan bisnisnya. Zene setia menemani dan menjadi supir. Zander menopang pipinya dan memejamkan matanya.
"Ng?"
"Ada apa?"Zander membuka mata, Zene memelankan laju mobilnya.
"Bukankah itu nona Xia?"Zene memperhatikan wanita yang mirip dengan Xia ditepi jalan.
"Untuk apa semalam ini ada diluar...." bantah Zander tenang dan datar.
"Dia sedang diganggu segerombolan pria..." pancing Zene tanpa ekspresi.
"APPAAAA???!!!!" Zander berteriak marah.
Zene menghentikan mobilnya.
Tadi berlagak sok tak perduli. Dasar Tuan..... heeee.... batin Zene meledek Zander dengan senyum kesenangan.
****
"Aaaa... aku kan sudah minta maaf..." elak Xia yang masih teler.
__ADS_1
"Minta maaf?" seru pria itu, "Kau lihat, tulang-tulangku remuk kau tabrak."
Xia terkekeh..
"Ehehehe... Memangnya kau menabrak beton sampai tulangmu remuk. Aku ini hanya seorang wanita. Jangan berlebihan."
pria itu memandangi Xia.
"Wahh, kau cantik juga."
pria itu menatap Xia dengan penuh napsu.
"kalau kau layani kami, akan aku lupakan kejadian ini."cengirnya dengan wajah mesum.
Tangan pria itu terulur hendak menyentuh Xia. Namun mengambang. Tangan lain menggenggamnya kuat.
"Siapa yang coba kau mintai layanan?" suara tajam dan dingin menusuk terdengar membuat segerombolan pria itu menoleh.
Mereka tersentak kaget. Wajah marah Zander tingkat antariksa menatap tajam. Aura yang dipancarkan bagai serigala yang kelaparan. begitupun dengan gerombolan pria berjas hitam dibelakangnya. Seolah siap menerkam mereka.
Nyali menciut. Bahkan ada yang sampai mengompol.
"Ma-maafkan kami."ucap teman pria itu keder.
Zander menghempas tangan pria yang sudah ketakutan dunia akhirat di depannya.
Zander beralih menatap Xia yang mulai menipis kesadarannya dengan kelembutan. Gadis itu tersenyum lebar lalu ambruk. Zander menangkap dan menggendongnya. Lalu berjalan kearah mobilnya yang terparkir.
Wajah tegang, takut dan gusar terlihat pada gerombolan pria yang tadi mengganggu Xia. Sedangkan para pria berjas hitam menyeringai buas seolah senang mendapatkan mainan.
"AAAARRRRGGGGGGHHHH....."
Suara pekikan pilu terdengar menyayat hati. Semoga Xia tidak dengar ya.😊
Wanita itu sudah kehilangan kesadarannya sejak tadi.
Zander membawa Xia masuk ke dalam mobilnya. Zene yang standby di belakang kemudi tersenyum girang.
"kita mau kemana tuan Zander?"tanya nya sok tidak mengerti.
"Pulang."
"Kerumah Nona Xia?"
Zander mendesis.
"Ohooo... ke vila pribadi....."
Zander diam memangku kepala Xia dengan tangan yang menopang pipinya sendiri.
Ehehehhehee.... Zene.
*****
__ADS_1
Zander pulang ke Vila pribadinya, kedatangan Zander dengan membawa Xia membuat para pelayan setianya gempar. Zander yang di kenal sangat tertutup dan anti pada wanita bisa membawa pulang seorang wanita, bagai ikan berjalan didaratan. TIDAK MUNGKIN!!
Zander merebahkan Xia ranjang kamarnya. Hidungnya membaui tubuh Xia.
Dia..... bau alkohol.... batin Zander menutup hidungnya. Sebenarnya seberapa banyak yang dia minum?
Zander mengambil piyamanya. Lalu mulai melepas baju Xia, dan memasangkan pakaian ganti Xia.
Begini, baru bisa tidur. batin Zander menarik nafas panjang. Zander menarik selimut hendak merebahkan diri disamping Xia. Tiba-tiba wanita itu membuka matanya. Zander melebarkan matanya terkejut.
"KAU.....!!!" sebut Xia, meremas kerah depan Zander.
"Mati sana!" ucap Xia lalu kembali terjatuh dan terlelap.
Apaaa?? Mati? Dia mau aku mati? kenapa? apa kesalahanku? dalam pikiran Zander.
Keesokan paginya, Ehemm... sebenarnya menjelang siang. Xia membuka matanya, pandangan matanya dari berkabut tak jelas lalu melebar terang benderang. Xia langsung duduk terbangun. Melihat sekeliling penuh keheranan.
"Ini dimana? Apa aku pindah dimensi?" Mwnatap berkeliling keheranan.
Ceklek (suara pintu dibuka.)
"Tamuu tuan Zander yang terhormat, anda sudah bangun rupanya.."Sapa wanita paruh baya bertubuh tambun memasuki ruangan.
"A-apa? anda siapa? dimana aku?"
"saya adalah kepala pelayan di vila tuan Zander Zoe, panggil saja saya Ana.
"Apa?"
"Nona mari saya bantu membersihkan diri.."
"Apa maksudnya membersihkan diri?"
"Tentu saja memandikan anda."
"Apa? Kau gila? Aku bisa melakukannya sendiri!" Xia melangkah cepat kekamar mandi sambil nggedumel.
Xixixi.... ternyata selera tuan Zander adalah gadis yang bersemangat.. batin Ana dengan senyum senang.
___€€€____
Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
😊
●●●
__ADS_1