
Siang itu matahari begitu terik. Susie mengambil ijin untuk masuk setengah hari. Hari ini Susie harus mengantar ibunya untuk kontrol di sebuah rumah sakit.
Setelah memesan taksi online Susie membantu ibunya mengenakan pakaian hangat.
"Ibu, sebentar lagi taksinya datang. Begini apa sudah hangat?"
"Sudah. Terima kasih Susie."
"Jangan bicara begitu. Aku ini anakmu."
Terdengar suara klakson didepan rumah. Susie memapah ibunya, hingga kedepan. Membantu masuk kedalm taksi. Lalu dia mengunci pintu, Setelh semua aman. Susie melangkah memasuki taksi.
"Pak, sebelum kerumah sakit pusat X, bisakah kita mampir dulu ke mini market, sebentar aja."
"Bisa mba, karena sudah berlangganan, bisa deh."
"Makasih y pak."
Susie beralih pada ibu,
"Ibu, tidurlah dulu. kalau sudah sampai nanti aku bangun kan."
Ibu Susie memejamkan matanya, sedangkan Susie masih terjaga. Dia mengeluarkan ponselnya, Susie bermaksud menghubungi kekasihnya. Andi.
Namun, sambungan selalu sibuk. Susie pun akhirnya mengirimi pesan.
["Sayang, Aku hari ini mengantar ibu kontrol. Bisakah nanti kamu jemput kami?"]
pesan terkirim.
Susie adalah anak keluarga sederhana. Tidak miskin juga tidak kaya. Susie memiliki seorang kakak laki-laki. Namun kakanya itu lebih sering pergi keluar. Menghabiskan uang untuk minum dan kadang berjudi.
Ayah Susie sudah meninggal saat Gadis itu masih sangat kecil. Hanya memiliki ibu saja. Namun kini ibunya sakit-sakitan. Susie harus membanting tulang dan bekerja keras agar bisa menghidupi diri sendiri dan juga ibunya.
Sebelumnya sang ibu tinggal di kampung halaman bersama kakaknya. Akan tetapi, saat kembali beberapa hari yang lalu, Susie tidak tega meninggalkan ibunya bersama kakaknya yang temperamen itu. Dengan diam-diam Susie membawa ibunya ke kota dan tinggal di kosannya.
Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, Susie mampir dulu kesebuah mini market yang searah dengn rumh sakit. Susie membeli beberapa minuman dan tisu. Susie mengantri dikasir, matanya menjelajah keluar mini market.
Tak sengaja melihat sosok kekasihnya Andi sedang bersama seorang wanita. Sosok yang di senyalir Andi itu merangkul mesra pundak si wanita. Susi hendak melangkah memastikan lebih dekat, mungkin saja matanya salah. Namun dia di dorong dari belakang.
"Mbak! Mau bayar nggak. udah kosong tuh depan!"
"Eehh? I-iya."
Susie pun membayar. Didepan kasir dia masih celingukan sembari menunggu belanjaannya selesai di hitung. Setelah membayar Susie bergegas keluar. Gadis itu masih celingukan memcari sosok yang mirip kekasihnya itu.
"Haaaa....aaaahhh..."
"Mbak? Udah selesai? Ayo masuk!"
"Iya."
Susie pun masuk kedalam taksi online untuk segera sampai di rumah sakit. Sepanjang perjalanan, susie terus berfikir akan siapa sosok itu.
"Tidak mungkin Andi akan menghianatiku. Kami sudah pacaran cukup lama. Tidak mungkin dia." pikir Susie.
Sesampainya dirumah sakit, Susie mendaftar ulang dan menunggu panggilan. Dengan telaten Susie merawat ibunya selama menunggu. Sesekali dia mengecek hpnya. Namun tak ada balasan apa lgi telp dari pacarnya itu.
Susie menghela nafasnya.
"Bagaimana ini? Tidak mungkin aku membawa ibu pulang naik angkot, Jika aku memaksakan naik taksi lagi, aku tak yakin masih bisa makan sampai akhir bulan. Andi, kamu dimana? Saat ini aku hanya bisa mengandalkanmu." Batin Susie sedih.
Tiba-tiba saja Susie teringat dengan Xia,
__ADS_1
"Apa sebaiknya aku minta tolong Xia saja? Tidak! Hidupnya sudah sangat berat, tidak mungkin aku masih akan menyusahkannya."
Susie mengusap wajahnya. Seorang suster memanggil, saatnya giliran ibu Susie diperiksa. Setelah selesai kontrol Susie menghubungi Andi lagi. Dan akhirnya tersambung..
π:[Halo?"]
π:"Andi! Bisakah kamu menjemputku dan ibu dirumah sakit X?"
π:["Kenapa aku yang harus jemput, aku sedang sibuk nih."]
Samar -samar di belakang suara Andi terdengar suara seorang wanita.
π:"Andi? Kau swdang bersama siapa sekarang?"
π:["Bukan urusanmu! aku sibuk! Jangan telp lagi!"]
π:"Andi? Halo?"
TUTUTUTUT...
"Sebenarnya dia sedang bersama siapa?" gumam Susie menendang udara.
Susie menatap ibunya yang duduk di kursi tunggu, Susie memang sengaja menelpon agak jauh agar ibunya tidak mendengar pembicaraannya.
"Apa aku benar-benar harus menghubungi Xia?" gumamnya sangat ragu. Dipandangnya ponsel miliknya. Lalu menghela nafasnya.
"Bukankah kamu nona Susie?"
Suara yang mengagetkannya, membuat Susie menoleh kearah sumber suara.
"Benar! Kamu siapa?"
Susie menatap pria berwajah riang didepannya itu dengan curiga.
Susie terdiam otak mulai mengingat-ingat.
"Aah, iya, Apa yang kamu lakukan disini? Apakah Xia sakit?"
Wajah Susie berubah cemas memikirkan kawan baiknya itu sakit dan dia tak tau.
Zene terkekeh.
"Tidak! Tidak! Hanya memeriksakan kecebong Tuan Zander."
"Ke-kecebong?"
"Eheemm.. Maksud saya, Nyonya Xia hamil."
Wajah Susie berubah jadi sumriang.
"Benarkah? Ini kabar yang menggembirakan sekali."
Susie begitu senang, terlihat dari wajah dan binar matanya.
"Aku akan memarahi Xia karena tidak memberi tahuku." Gumam Susie dengan antusias.
"Apa yang Nona Susie lakukan disini? Apa ada yang sakit?"
"Tidak, hanya, mengantar ibu ku kontrol."
"Hemmm... begitu."
Susie tiba-tiba teringat akan kendaraan untuk pulang. "Mungkinkah aku bisa minta tolong padanya?"
__ADS_1
"Asisten Zene apa kau sibuk sekarang?"
"Tidak begitu."
"Apa kau bawa mobil?"
"Hemmm..."
"Bolehkah aku minta tolong?"
Susie melirik ibunya, Zene pun ikut melirik wanita tua yang sedang duduk di bangku tunggu.
####
Hari bergulir, Zander tak semabok sebelumnya, dia sudah bisa beraktifitas walau kadang masih mual dan rewel dengan bau-bauan tidak jelas.
Wajah Zander sudah berseri indah. Pria itu baru saja pulang dari kantornya. Di depan pintu, Xia sudah menyambutnya dengan perut yang mulai terlihat buncit.
Dengan wajah sumringah Zander mengelus perut Xia, bibirnya mengecup kening istrinya itu. Xia mengangkat tangannya hendak mengambil tas kerja Zander.
"Tidak usah. Biar bibi Ana saja."
Zander mengangsurkan tas nya pada bibi Ana yang juga ikut menyambut tuannya pulang.
"Bagaimana doble juniorku? Apa mereka nakal?"
Xia menggeleng.
"Tidak rewel?"
Xia menggeleng lagi.
"Bagaimana dengan mommy nya?"
Xia mengulas senyuman manis diwajahnya.
"Mommy nya rewel tidak?"
Xia menggeleng.
"Tidak nakal?"
Xia menggangguk. Zander menyipitkan sebelah matanya.
"Jadi kamu nakal?"
Xia mengangguk makin keras beberapa kali.
"Kalau gitu, biar Daddy Zi yang hukum Mommy Xi."
Zander tersenyum lebar, memeluk tubuh istrinya itu. Menggigit gemas hidung Xia.
_____β¬β¬β¬_____
Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
π
__ADS_1