
Malam itu Xia masih menunggu diatas balkon. Menatap pintu utama yang tak juga menunjukkan Suaminya datang. Xia menghela nafasnya, melihat jam di ponselnya. Sudah pukul 8 malam, dan masih tak ada pesan atau teplon dari Zander.
Xia menghela nafasnya.
"Tak biasanya dia belum pulang jam segini. Juga tidak menghubungi." gumam Xia.
Dia mencari kontak Zander, mengetik pesan, lalu terdiam, dia hapus lagi. Begitu berulang.
"Haaahhh.... Sudahlah. Mungkin dia memang sibuk."
****
####
Zander meninggalkan Club Pasific dengan Xenia yang masih histeris dikerubungi oleh pria-pria berwajah beringas bin mesum diruangan private itu. Zander tidak perduli apa yang Xenia pilih, semua tidaklah penting bagi nya. Dia hanya ingin memberi wanita laknut itu pelajaran.
Zander sedang dalam perjalanan kembali, menatap keluar jendela dengan memangku wajahnya.
Zene yang saat itu sedang menyetir, menerima panggilan.
"Kabur?" suaranya membuat Zander meliriknya.
"Baiklah. Biarkan saja." ucapnya pada seseorang disebrang sana.
"Ada apa?" tanya Zander begitu Zene menutup telponnya.
"Wanita itu kabur, tuan."
Zander tersenyum tipis.
"Melihat bagaimana wajahnya, aku yakin itu cukup membuatnya menjauh."
"Benar."
Sesampainya divila Zander memasuki melalui pintu utama. Waktu itu sudah menunjukkan pukul 10malam.
"Tuan, anda sudah kembali?" Bibi Ana menyambut didepan pintu.
"Ada apa?"
"Nyonya sedari tadi menunggu anda kembali."
Zander menoleh dengan wajah datar.
"Nyonya juga membuat makan malam. Sampai sekarng juga belum disentuh. Apakah saya perlu memanaskannya?"
Zander tertegun. Dia masih terdiam dalam keterkejutannya. Tak biasanya Xia sampai mau menunggu juga menyiapkan makan malam sendiri.
Zander mengangguk pelan.
"Dimana Nyonya?"
"Dikamarnya, Tuan. Sedari tadi juga nyonya hanya berdiri dibalkon."
"Aku mengerti."
Zander berjalan dengan langkah lebar menuju kamarnya. Zander menggenggam handel pintu, lalu membukanya.
Kamar itu tampak kosong. Zander melangkah pelan menuju balkon kamarnya yang tirai putih tampak melambai dimainkan angin. Langkahnya terhenti,melihat istrinya berdiri diambang pintu.
"Kau sudah pulang?" lirih Xia melangkah mendekat.
"Heemmm...." ada rasa bersalah di hati Zander, membuat wanita itu menunggunya.
"Sudah makan malam?"
"Belum."
Xia berhenti tepat didepan Zander. Pria itu menatap wajahnya dan memeluknya spontan. Mata Xia melebar.
__ADS_1
"Maaf!" ucap Zander lirih. "Sudah membuatmu menunggu." sesal Zander.
Xia tertegun wajahnya yang tenggelam didada suaminya itu membaui sesuatu yang asing.
"Bau parfum wanita? Apa dia terlambat kembali karena sedang bersama wanita? Seberapa dekatnya sampai bau parfumnya menempel dibaju? pikir Xia melepas pelukan Zander.
Pria itu meraih dagu Xia, wajahnya semakin mendekat. Xia yang sudah merasa hatinya kalut itu, memalingkan wajahnya menjauh. Zander menelan ludahnya. Merasa Xia sedang menolaknya saat ini.
"Ma-mandilah dulu. A-akan kusiapkan air hangat untukmu." ucap Xia lirih, melangkah cepat ke kamar mandi. Zander menatap sendu pada punggung Xia yang menghilang dibalik Pintu.
Xia menyentuh dadanya yang sesak. Serasa sedang ditindih benda berat ratusan ton, menghimpit dadanya tanpa ruang sekedar untuk bernafas.
Xia menutup matanya merasakan debaran yang tak biasa. Merasakan sesak yang semakin menekan hatinya hingga menyekat tenggorokannya dengan sangat sakit.
Xia kembali membuka matanya, membuang nafasnya, lalu melangkah dan mengisi bak mandi untuk suaminya. Menuang sabun aroma terapi. Hingga dirasa cukup. Xia mematikan kran air hangat. Dia melangkah keluar kamar mandi.
Zander sedang melepas pakaiannya, Xia menunduk canggung.
"Sudah siap semua."
"Baiklah. Terima kasih."
Zander berjalan melewati istrinya dengam hanya mengenakan celana boxer. Xia sempat menahan nafasnya, sampai pintu kamar mandi benar-benar sudah menutup.
Xia mengambil nafas banyak-banyak.
"Haaaa.... haaaaa..... Ada apa denganku?" gumamnya.
Xia melihat pakaian Zander yang tergeletak begitu saja di atas ranjang. Xia mendekat dan mengambilnya. Xia mendekatkan baju itu ke hidungnya.
Xia tertawa kecil.
"Ini memang bau parfum wanita." sendunya lirih. Sorot matanya terpancar rasa kecewa dan juga sedih.
Selang beberapa lama Zander keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Xia sudah menyiapkan pakaian ganti untuknya. tentu setelah menyingkirkan pakaian bekas Zander tadi.
"Duduklah."
Xia mengambilkan makanan untuk Zander. Setelah mengisi piringnya. Xia mengisi piring miliknya sendiri. Mereka makan dalam keheningan, tanpa suara satu sama lain.
Xia mengelap bibirnya dan menelan air putih setengah gelas.
"Sudah selarut ini, kamu belum makan. Apa yang menahanmu?" suara xia meletakkan lengannya di meja.
"Heeeemm?" Zander menoleh kearahnya. Hingga tatapan keduanya beradu.
"Kenapa pulang larut? Tidak seperti biasanya."
"Hmmmm... Aku ada hal yang harus di urus."
Xia berpikir sejenak.
"Apa?"
"Hanya pengembalian dana."
Xia memelengkan kepala. "Pengembalian dana?"
"Tidak mungkin kamu berhutang?"sambung Xia sangsi.
Zander tergelak.
"Tentu saja. Aku hanya menagih hutang."
"Kenapa tidak Zene saja yang lakukan? Bukankah biasanya kau memakai Zene?"selidik Xia.
"Ini hutang pribadi. Tidak bisa diwakilkan."
"Aaah... begitu." Xia manggut-manggut.
__ADS_1
"Apakah itu banyak?"sambung Xia lagi.
"Kenapa menanyakannya terus?"
"Aku... hanya penasaran. Tidak biasanya kamu pulang larut."
Zander mengangkat sudut bibirnya.
"Apa kau sangat merindukanku? Kau merasa kehilangan?" goda Zander.
Xia terkekeh. Dia beranjak dan menepuk pundak Zander masih dengan kekehannya. Dan melangkah menjauh.
Xia berdiri dibalkon. Tanganya menyentuh pinggiran pembatas balkon yang setinggi pinggangnya. Dari belakang, Zander menelusupkan tangannya melingkar di perut Xia. Pria itu meletakkan dagunya dipundak Xia. Xia menoleh kearahnya, tanpa melewatkan kesempatan itu, Zander langsung menyambar bibir Xia. Menciumnya dalam-dalam.
"Aku menginginkannya. Sangat menginginkannya. Aku harus memakanmu sekarang."
Zander mengeratkan pelukannya. Semakin lama ciumannya semakin menuntut.
"Kenapa rasanya begitu hambar? Dia bahkan tidak membalasku. Apakah ada yang salah dengan posisinya?"
Zander menjeda ciumannya. Membalik badan Xia.
"Berbalik."
"Peluk leherku."Zander meletakkan tangan Xia d melingkar di lehernya.
Zander kembali memakan Xia dengan rakusnya. Mengangkat tubuh Xia dengan memggendongnya. Melangkah pelan kembali ke kamar.
Dengan hati-hati Pria itu membaringkan istrinya di ranjang. Bibir lembutnya menyusuri hingga ke ceruk leher Xia.
Xia hanya terdiam, hati dan pikirannya terlanjur jauh pada bau parfum wanita yang menempel di baju Zander.
Kenapa? Aku merasa di hianati? Kenapa aku bahkan tak rela? Hutang pribadi yang tak bisa di wakilkan? Hutang macam apa itu? Hutang pribadi.....
Tak terasa bulir bening keluar dari netra Xia yang indah. Zander yang sedang menikmati aktifitasnya menyesapi kulit dada Xia, mengangkat kepalanya. Melihat istrinya yang sedang menangis saat sedang pemanasan. Membuat hatinya tergugah.
"Apa yang tidak nyaman? Bagian mana yang sakit?" cemas Zander menatap wajah Xia.
Xia menunjuk bekas merah yang tepat berada didadanya, tepat dimana hatinya terletak. Zander terkesima. Dia menelan ludahnya.
Apa aku terlalu bersemangat?
Zander mengusap pelan pada bagian yang Xia tunjuk, lalu mengecupnya dengan lembut.
"Maaf...."
Zander bangkit dan duduk dipinggiran ranjang. Menghisap dalam-dalam udara.
"Tenanglah junior.... Tenang! Jangan memaksakan....."
Xia menyentuh bibirnya, yang bergetar. Dia menggigit kecil.
Aku harus bertanya. Bukankah hubungan yang baik harus diawali dengan komunikasi yang baik? Jangan buat salah paham ada diantara kalian. pikir Xia.
"Hutang apa yang kamu tagih?" lirih Xia dengan bibir yang bergetar. Zander menoleh padanya.
"Kenapa ada bau parfum wanita dibajumu? Itu bukan parfum milikku."
_____€€€_____
Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
😊
__ADS_1