
"Sebenarnya pesta apa ini?"
"Pesta ulang tahun salah satu rekanku." jawab dokter Jil pelan.
"Begitu?"
Susie melihat sekeliling, ada banyak orang disana, dan semua dari kalangan atas.
"Dokter Jil, sepertinya ini adalah pesta orang kaya. Aku takut akan mempermalukanmu nanti."bisik Susie.
"Jangan kuwatir. Mereka melihat apa yang kamu tunjukan."Jil ikut berbisik. "Tetaplah di sisiku, agar tidak tersesat. Tapi...."
Karena ucapan Jil terjeda, Susie melihat padanya. Pria itu mengulas senyum, melihat Andi mantan Susie berdiri disamping wanita yang sedang berulang tahun itu.
Jantung Susie terpacu, antara marah, kesal, sedih, bercampur menjadi satu. Pria yang pernah beberapa tahun berpacaran dengaannya. Terlihat begitu bahagia dengan senyum yang mengembang diwajahnya.
Jil berjalan mendekat pada pasangan itu, dengan melepaskan tangan Susie secara perlahan dan lembut.
Awalnya pasangan itu bersama dengan beberapa orang yang mengelilingi. Melihat Jil mendekat, si wanita tertegun.
"Jil dari keluarga Lycone."
"Pria itu benar-benar datang? Tidak disangka."
"Padahal dia seorang pemilih. Bagaimana dia bisa bersedia hadir kemari?"
"Sepertinya dia punya perasaan khusus dengan mu Lyn."
"Bukankah dia tinggal di gedung apartemen yang sama dengan mu, Lyn?"
"Yyaahh, benar. Mungkin saja dia tertarik padamu sejak awal."
Bisik obrolan itu mengiringi langkah Jil mendekat, tentu saja Andi kesal mendengarnya.
"Hei kalian. Bisa tidak, untuk jangan asal bicara."
"Nona Lyn." Jil mendekat dan berhenti tepat didepan Lyn. Tangan nya menengadah, Lyn meletakkan tangannya pada tangan Jin.
"Selamat ulang tahun." ucap Jil sambil mencium tangan Lyn.
Tentu saja itu membuat Lyn tersipu malu. Sedangkan Andi jadi marah dan kesal. Di pisahkannya tangan keduanya segera. Lalu merangkul pinggang Lyn.
"Dia pacarku! Jangan sembarangan menyentuhnya."
Jil tercengang, begitupun dengan orang-orang disekitarnya.
"Sayang sekali kau sudah punya pacar." oceh Jil lembut dengan memasang wajah sedih.
"Ya ampuunn... Tangkapan besar lepas demi ikan teri."
"Sayang sekali ya, padahal Jil terlihat begitu berharap."
"Aku tidak menyangka selera Lyn begitu rendah dengan memilih pria yang tak ada apa-apanya itu."
Gumaman-gumaman teman Lyn sangat menggelitik telinga Andi. Tentu saja dia sangat kesal dengan ocehan teman-teman Lyn.
"Tidak!" Lyn segera melepaskan tangan Andi dari pinggangnya.
"Dia bukan pacarku. Kamu jangan salah paham."
"Apa?" Andi tak terima dengan ucapan Lyn yang tidak mengakuinya.
"Benarkah? Tapi dia bilang pacarmu."
"Tidak! Itu hanya halu nya dia saja."
"Apa?" Andi semakin kesal dan marah. Dia merasa dipermalukan seperti itu." Bagaimana bisa kau mengatakan itu Lyn."
Andi mencengkram lengan Lyn.
"Lepaskan aku Andi. Kau jangan bermimpi! Bangunlah, atas dasar apa
__ADS_1
hubungan kita. Kau terlalu banyak menghayal."
"Bukankah kita sama-sama suka?"
"Apa maksudmu? Hanya kau yang suka."
"Lyn!"
Andi yang kesal dan tersulut amrah itu mengangkat tangannya hendak memukul tapi dia tahan sendiri.
"Apa? Kau mau memukulku?" sentak Lyn menatap Andi nyalang.
"Haaahh , siapa juga yang mau berpacaran dengan pria kasar sepertimu. Aku tidak sudi. Pergiah dan kembali pada pacarmu yang bodoh dan. polos itu." Sambung Lyn mencemooh.
Andi tertawa getir.
"Benar! Aku akan kembali padanya. Dia mencintai ku jadi dia pasti mau kembali padaku Tapi, setidaknya dia masih murni. Tidak sepertimu yang sudah tidak perawan lagi."
"Kurang ajar! Pergi kau!" usir Lyn menuding pintu keluar.
"Cih!" Andi melangkah menuju pintu keluar.
Lyn berbalik melihat Jil dengan lembut.
"Maaf sudah melihat pertengkaran yang tidak pantas ini."ucap Lyn."Sekarang aku bebas, apa kau benar-benar berniat menjadikanku pacarmu?"
Jil tersenyum lalu tertawa remeh.
"Aku? Berpacaran dengan mu? Aku tidak ingat pernah memintanya." ujar Jil enteng."Aku rasa kamu hanya berhalusinasi aja?"
Jil melangkah meninggalkan kelompok orang-orang toxic itu.
"A-apa?"
Andi yang kesal mengambil langkah lebar. Andi tertegunn melihat susie juga ada disana tengah mengambil minuman berwarna kuning. Melihat mantan kekasihnya itu terlihat begitu cantik dan mempesona. Andi mendekat.
Hanya orang-orang dari kalangan atas yang bisa datang kemari. Bagaimana bisa Susie ada disini? Mungkinkah sebernarnya dia orang kaya? Batin Andi bergumam.
"Susie!"
"Apa yang membawamu kemari? Kau cantik sekali."
Susie hanya menanggapinya dengan senyum tipis. Lalu mendekatkan gelas yang dia bawa ke bibirnya. Menyesapnya perlahan.
"Susie, maafkan aku dengan kejadian sebelumnya. Ayo kita mulai lagi dari awal."
Dengan penuh kepercayaan dirinya Andi. mengangkat tangannya, menunggu Susie menyambutnya. Namun wanita itu abai.
"Susie! Maafkan aku. Ayoo kita..."
"Sayang ku!" suara Jil begitu lantang dan mendekat.
Andi menoleh.
"Pria ini lagi." batin Andi geram.
Jil mendekat pada Susie.
"Kenapa meninggalkanku? Aku tersesat." protes Susie yang setengah mabuk itu.
"Walau tersesat, tapi kalau kamu, aku bisa temukan."
Jil menarik tangan Susie dan memeluknya.
"Kau!" geram Andi pada Jil.
"Kenapa kau bersamanya? Apa kau mengenalnya, Sayang?"
Susie terkekeh, "Siapa? Bagaimana aku bisa kenal. Dia hanya menggoda karena melihatku sendirian." cemooh Susie, "Lagi pula, orang yang pantas bersamanya hanyalah wanita kaya dan berpengaruh, tidak sepertiku."
Susie melirik Andi dengan mata merendahkan. Jil terkekeh.
__ADS_1
"Kau sangata berpengaruh sayang, Berpengaruh di hati dan hidupku." Jil mendekatkan wajahnya dan menempelkan hidungnya dengan hidung Susie lalu menggesekkannya.
Susie mendorong sedikit tubuh Jil, "Disini tidak nyaman. Aku ingin pulang."
"Sesuai keinginanmu."
Mereka melangkah meninggalkan pesta itu.
"Susie! Bagaimana bisa kau lakukan ini padaku! Aku tau kau masih mencintaiku." pekik Andi meneriaki Susie yang perlahan menjauh.
"Susie!"
Begitu sampai di luar Susi sedikit oleng. Jil menahannya.
"Kau baik-baik saja?"
"Aku hanya sedikit mabuk. Maaf, aku mungkin merusak rencanamu, tapi aku sungguh tak ingin berlama-lama disana."
"Tak masalah. Yang penting kamu nyaman."
Jil membawa Susie kembali kosannya.
"Terima kasih. Bagaimana dengan bajunya?"
"Itu untukmu."
"Tapi ini mahal."
"Apa kau bermaksud mengembalikannya padaku?" Jil terkekeh, "Apa menurutmu aku lebih pantas memakainya dari pada kamu."
Susie tertawa kecil.
"Baiklah, terima kasih untuk malam ini."
Susie mendorong pintu disampingnya.
"Tunggu."
Susie menoleh, dan menutup kembali pintu itu.
"Saat aku bilang, kau berpengaruh dalam hati dan hidupku. Aku bersungguh-sungguh."
Susie terdiam. Menatap jauh manik mata Jil.
"Apa kau tak ingat sedikitpun tentang aku?"
Susie masih terdiam.
"Kau pernah menolongku dulu, mengobati lukaku hingga aku memutuskan untuk menjadi dokter."
"Aku tidak ingat. Mungkin kau salah orang." Susie tersenyum tipis. Dia kembali mendorong pintu dengan cepat Jil menariknya kembali hingga tertutup.
Susie dan Jil beradu pandang. Pria itu mengambil dagu Susie dan memakan habis bibir ranum wanita di depannya itu.
Susie memejamkan matanya, membiarkan lidah Jil masuk dan mengorek rongga mulutnya. Merasa mendapat sambutan dari Susie, Jil semakin memperdalam ciumannya. Hingga kedua nya kehabisan nafas.
Jil melepaskan bibir Susie tapi masih enggan untuk menjauh darinya. Nafas keduanya saling bersahutan. Jil melahab lagi bibir seksi milik Susie.
Menyatukan benda kenyal yang beradu. Jil mengigit sayang bibir indah wanita di depannya. Dan kembali menggulum dengan lembut.
Malam yang dingin serasa panas di ruangan bersangkar besi itu. Jil dengan tak sabar melepas jasnya, menanggalkan satu persatu yang melekat padanya. Tangannya bergentayangan di setiap inci tubuh Susie.
Gadis itu melenguh.
____€€€____
Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
__ADS_1
Salam___
😊