Gairah Cinta Semalam

Gairah Cinta Semalam
chap 36


__ADS_3

Xia melihat keluar jendela di lantai atas. menatap kerlipan cahaya lampu kota dan kendaraan yang bergerak mengikuti alur jalanan. Sesekali Xia membuang nafasnya, entah mengapa setelah kepergian Zander kerumah lama dadanya serasa sesak dan seperti ditindih ribuan ton pemberat.


"Nyonya, apa anda mau makan sesuatu?" tanya Bibi Ana dibelakang Xia.


Xia menoleh, melihat wajah tua bibi Ana.


"Bibi sudah lama bekerja disini bukan?" tanya Xia.


"Sudah Nyonya."


"Apa selama itu Bibi pernah mengabdi di rumah lama?"


"Tentu nyonya."


Xia mengulas senyum kecil.


"Ada apa disana?"


Bibi Ana terkekeh kecil.


"Bibi..." sebut Xia sedikit kesal karena bibi Ana seperti sedang menertawainya.


"Apa anda sudah merindukan tuan yang sedang ke rumah lama?"goda Bibi Ana.


"Bibi Ana mau menjawabnya atau tidak?"


"Di rumah lama hanya ada tuan besar, nyonya dan tuan muda Peter."


Xia terdiam sejenak.


"Kenapa Zander tidak ikut tinggal disana?"tanya Xia sedikit penasaran."Sejak kapan dia keluar dari rumah itu?"


"Ceritanya sangat panjang, Nyonya."


"Aaahhh, kebetulan aku harus menunggu dia kembali, bagaimana jika bibi cerita. Mungkin sedikit teh atau colkat hangat bisa membunuh kejenuhan."


Xia menarik Bibi Ana ke dapur dengan bersemangat. Tentu bibi Ana mau tak mau mengikuti juga.


Setelah didapur, dan membuat teh ditemani dengan beberapa kukies dan snack cumi kering. Bibi Ana mulai bercerita.


"Tuan Zander saat itu masih bersekolah, Saat nyonya besar pertama meninggal. Beberapa hari kemudian tuan besar membawa nyonya besar kedua beserta anaknya. Yaitu tuan muda Peter."


"Maksud bibi Ana, mereka bukan saudara kandung?"


"Mereka satu darah dari tuan besar."


Xia terkejut, menutup mulutnya secara reflek.


"Aku pikir jarak usia mereka tidak jauh."


"Benar hanya dua taun."


Xia makin terkejut, netra nya membulat bersamaan dengan mulutnya yang membuka. Xia menutup mulutnya tak percaya.


"Tuan Zander langsung pindah kemari begitu keluarga baru itu masuk ke rumah lama. Sampai sekarang. Hanya sesekali saja tuan kembali, itupun hanya untuk jamuan dan makan malam." lirih Bibi Ana prihatin.


"sejak itu pula, tuan tidak pernah tersenyum. Karena itu, saya sangat senang sekali nyonya datang."ucap Bibi Ana yang terlihat sangat bersyukur."Nyonya membawa wajah tersendiri buat tuan Zander."


Malam itu Bibi Ana menceritakan semuanya, bahkan tentang perselingkuhan ayah Zander dengan mama Anggie, ibunya Peter. Hingga kini semua menjadi seperti ini.


Xia menatap ribuan bintang dilangit malam itu, pandangan matanya masih terasa sendu.


###


Di rumah Lama. Di meja makan.

__ADS_1


"Beberapa hari tak melihatmu, kenapa Papa mendengar keluhan tak mengenakkan."


"Hmmmpptt.... Siapa yang mengeluh? Jika ditujukan padaku kenapa tidak mendatangiku?"


"Tentu saja aku mendatangi vilamu! Tapi kau tidak ada!" Anggia kesal mendengar ucapan Zander itu.


"Baiklah! Sekarang katakan apa keluhanmu, Nyonya?"


"Zander! Jaga bicaramu!" sentak papa Zander."Dia mamamu."


"Aku sudah sangat sopan, Papa."balas Zander pelan."Lagipula mamaku sudah meninggal."


"Zander!"


"Eheemm..."dehem Anggia, "Suamiku, tidak usah diperpanjang lagi. Kita masih ada tamu. Tidak baik bertengkar."


"Ehemm..." Dehem Papa sedikit malu.


"Zander! Papa akan pertanyakan masalah perusahaan Peter nantinya."


Papa merubah ekspresinya menjadi lebih bersemangat. Melirik gadis cantik yang duduk disamping Zander dan Mama Anggia.


"Alexa sengaja datang kemari untukmu... Bersikap baiklah padanya, Papa akan mengatur pertunangan kalian."ucap Papa dengan wajah senang.


Tentu saja Alexa tersenyum senang. Akhirnya pertunangan mereka di singgung. Hal yang sangat Alexa nantikan.


"Aku tidak tertarik. Berikan saja dia pada Peter! Dia lebih berminat." tolak Zander tidak perduli. Membuat gadis disampingnya menoleh padanya terkejut.


"Zander!" pekik Alexa kesal dengan sikap Zander yang justru melemparkannya pada Peter.


"Kurasa akan cukup untuk menaikan harga saham perusahaannya yang kini mulai jatuh. Kesepakatan yang sangat bagus bukan?" sindir Zander menatap tajam Peter dengan menyungging senyum ejekan.


"Zander!"Peter pun kini ikut bersuara.


"Benar, bukan?" Zander melirik sinis pada Peter."Bukankah kau sedang membutuhkan dukungan. Keluarga wanita itu cukup untuk membawamu naik saat ini."


"Zandeer! Bagaimana bisa kau begitu kejam padaku?" protes Alexa berapi-api.


"Zander! Tidak sepantasnya kau berkata begitu." tegur Anggia.


"Siapa kau berani bersuara padaku?"


"Zander! jaga bicaramu! Dia itu mamamu." sentak papa mulai emosi.


"Mamaku sudah lama meninggal." tegas Zander mulai beranjak."Aku sudah selesai."


"Zander! Kauu!! Minta maaflah pada mamamu." teriak papa berdiri dari duduknya.


Zander menatap papa tajam dingin menusuk. Membuat papanya sedikit gentar.


"Aku tidak punya mama. Dia mama Peter. Aku tak butuh mama lain untuk mengurusiku. Baik dulu ataupun sekarang." ucap Zander mulai melangkah.


"O iya, aku sudah menikah. Resepsi pernikahan kami akan diadakan bulan depan. Undangan akan kukirimkan setengah bulan lagi. Datanglah jika tertarik." ucap Zander menoleh.


"Tapi jika kalian datang untuk mengacau, kaliam harus bersiap untuk menanggung resikonya!" tegas Zander melangkah pergi."Aku kemari hanya untuk memberi peringatan. Tidak lebih."


Alexa lemas, jelas sekali dia ditolak. Gadis itu terisak kecil. Peter menatapnya sedih. Masih ada rasa di libuk hati nya untuk gadis itu. Walau Peter sadari tak sedalam dulu.


"Tenanglah Alexa. Tante tidak akan tinggal diam. Akan tante cari tau wanita seperti apa dia. Sudah tentu tak akan sehebat kamu."hibur Anggia mengusap punggung Alexa.


"Benar , Tante?"


"Akan kusingkirkan dia untukmu." bujuk Anggia dengan senyum diwajahnya.


Tentu saja. Akan kulihat dulu wanita itu. Lalu jika mereka gagal, akan ku jodohkan Alexa dengan Peter. Seperti yang Zander bilang, latar belakang Alexa sangat bagus untuk mendukung Peter. pikir Anggia licik.

__ADS_1


****


#####


Zander tiba di vila dan disambut oleh Bibi Ana. Wanita paruh baya itu menunduk hormat pada Zander.


"Dimana Nyonya?"


"Ada di atap, tuan."


Zander mengernyit.


"Apa yang dia lakukan di atap?" gumam Zander melangkah pelan menaiki tangga.


"Tuan!"panggil Zene. Zander menghentikan langkahnya dan menoleh.


"Hadiah anda terlupa."Zene mengangsurkan sekotak berbungkus warna merah dengan pita yang indah.


"Aahh baiklah. Terima kasih sudah menyiapkannya."ucap Zander tulus.


"Apa ini isinya?"


"Yang pasti membuat tuan dan nyonya senang." sringai Zene dengan penuh percaya diri.


"Oh, begitu? Terima kasih. kau boleh pulang Zene." ucap zander dengan senyum kecil diwajahnya."Kau akan ku naikkan gajimu."


"Trima kasih tuan."Riang Zene.


Sesampainya Zander di atap. Dia melihat Xia dari belakang, sedang mendongakan kepalanya melihat ribuan bintang dilangit. Zander melepas jas nya dan menyelimutkannya pada tubuh Xia. Gadis itu menoleh, karrna kaget seseorang menyelimutinya.


"Sudah terlalu larut, kenapa malah diluar?" ucap Zander. "Ayo masuk! Disini dingin." ajak Zander.


Xia menurut saja.


"Ini, hadiah untukmu." Zamder menyerahkan kotak kado pada Xia. Gadis itu mwnghentikan langkahnya.


"Kenapa tiba-tiba memberikan kado?"selidik Xia menatap Zander curiga.


"Kau sudah melakukan kesalahan apa?" tanya Xia menatap Zander mengintimidasi.


"Ti-tidak Nyonya Zander." jawab Zander sedikit tak enak hati.


"Apa yang terjadi dirumah lama?"


"Tidak ada. Hanya makan malam undangan untuk pesta resepsi pernikahan kita."


"Benarkah?"


"Iya! Tidak ada yang lain."


"Baiklah! Aku terima ini." Xia mencelos.


Sesampainya di kamar. Xia duduk dikamar menatap pada bungkus kado itu.


"Kenapa hanya dilihat saja? Ayo buka!" Zander berdiri ditepian ranjang berkata dengan semangat, Dia sendiri juga penasaran dengan hadiah yang Zene siapkan itu.


Xia membuka bungkus kadonya..


____€€€____


Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.


like dan komen ya


Terima kasih.

__ADS_1


Salam___


😊


__ADS_2