
Xia menatap pintu bangsal rumah sakit dimana Alan terbaring menunggu untuk dioperasi. Xia sudah tak punya waktu lagi. Ini sangat mendesak, nyawa papa nya harus segera ditolong.
Akan kutebalkan mukaku untuk menemuinya. batin Xia bertekat bulat. mencengkram kuat hpnya didepan dada.
Malam itu Xia menghubungi Zander.
###
Digedung pencakar langit milik Zander.
"Tuan Zander!"panggil Zene begitu Zander keluar dari ruang rapat.
Zander menoleh.
"Telpon dari nona Xia." Zene tersenyum kecil menyerahkan ponsel Zander yang dibawa Zene selama rapat.
"Apa?" Zander langsung menyautnya dan menempelkannya ke telinganya. "Halo! halo!"
Tak ada sahutan.
"Tadi tuan." kekeh Zene menahan tawanya melihat Tuannya begitu antusias menerima telpon padahal dia sudah serahkan hp dalam keadaan layarnya mati.
Tentu itu sukses merubah ekpresi Zander jadi bete dan menakutkan.
"Zene!"
"Iya tuan." jawab Zenne dengan senyum dipaksakan karena merasakan aura membunuh Zander padanya.
"Potong gaji."
"Ahahahhaha.... tuan anda sungguhh murah hati..."
Tega sekali anda padaku tuan. tangis Zene dlam hati.
Tak lama hp Zander berdering lagi. Zander melihat layar pada hpnya.
Xia!
Zander menjadi kacau antara senang dan gugup.
"Eheemm!" Zander berdehem lalu menempelkan benda pipih itu ketelinganya.
"Ada apa?" tanya nya sok Cool.
"Apa syarat mu?" suara Xia langsung ke intinya."Aku butuh dana yang besar."
Zander tersenyum lebar.
****
Di vila milik Zander.
Zander menunggu Xia dengan sabar. Beberapa kali membenarkan posisi duduk dan bajunya. Pria itu duduk diatas sofa ruang utama vila nya. Xia masuk, begitu kepala pelayan Ana mempersilahkan. Wanita tua itu selalu tersenyum senang setiap kali melihatnya di vila.
Xia berdiri beberapa meter didepan Zander.
"Duduklah! Apa kamu tak lelah setelah perjalanan kemari?"
Xia menghela nafasnya lalu mengikuti duduk.
"Apa syarat nya?"
Zander tersenyum kecil.
"Kenapa begitu buru-buru?"
"Oprasi jantung papa tidak bisa menunggu lebih lama." ucap Xia tegas menatap Zander."Apa syaratmu?"
__ADS_1
"Kau membicarakan syarat untuk biaya operasi jantung papamu atau menyelamatkan perusahaan keluarga?" melipat kakinya.
"Kau lebih tau Tuan Zander."
Zander mengulas senyum menang.
"Dari awal syaratku hanya satu. Menjadi istriku."
Xia menarik nafas lalu menghembuskannya. "Bukankah anda sudah punya calonnya?"
Lihat bagaimana pria sampah ini menjawabnya. batin Xia yang memang tidk pernah suka dengan perselingkuhan dan penghianatan. Mengingatkan pada Mamanya yang telah meninggal.
"Sudah! Kamu!"tegas Zander menatap Xia serius. Xia tersenyum remeh dan muak.
"Bagaimana dengan Nona Alexa."
"Dia bukan siapa-siapa. Hanya benalu yang sudah ku singkirkan jauh-jauh."jawab Zander tenang.
Laki-laki sampah selalu pandai merangkai kata. kini malah seperti terlihat pria sungguhan. Memuakkan. batin Xia kesal
Xia membuang nafasnya kuat kuat.
"Setelah menikah denganku kau akan tau." tegas Zander serius.
Saat ini yang terpenting adalah nyawa papa. Harus segera menjalankan operasi. pikir Xia. Tak ada waktu untuk berpikir ataupun mempertimbangkan dirimu sendiri Xia.
"Baiklah." Xia menyetujui, dia menelan ludahnya dengan sangat susah.
Zander mengulas senyuman.
"Zene!" panggil Zander.
Asisten setianya itu memasuki ruang utama.
"Segera kirimkan dana untuk biaya operasi Alan Tan."titah Zander padanya."Dan juga perusahann keluarga Tan."
"Lalu siapkan berkas pernikahan kami!"
"Baik tuan Zander."
"secepatnya."
###
Beberapa hari kemudian, Alan siuman setelah melakukan operasi. Xia pun sudah mendapatkan buku nikahnya. Xia menatap buku berwarna hijau itu dengan dengan tatapan sedih.
Akhirnya, aku menjual diriku untuk biaya berobat papa. Memalukan. hahaha !! Xia tertawa hambar.
Xia memasukan bukti buku Nikahnya kedalam tas. Xia melangkah di lorong menuju bangsal dimana Papanya dirawat. Pintu ruangan Papanya terbuka sesikit.
Xia mengintip. Dia tertawa kecut.
"Kemana mereka selama ini? Sekarang malah berlagak dan menjilat." gumam Xia menatap Silvia dan Xenia yang ada diruangan papanya. Xia memilih melangkah pergi menjauh.
Alan saat itu sudah sadar. Terduduk bersandar pada kepala brankar. Tertawa dan berbincang dengan Silvia.
"Dimana anak itu? Apa dia tidak peduli sedikitpun pada papanya? Sampai sekarang bahkan belum menampakan dirinya." ucap Alan lemah , kecewa membicarakan Xia. Tanpa dia tau pengorbanan yang Xia lakukan untuknya.
"Aahh, kau tau sendiri bagaimana Xia. Dia berwatak keras seperti ibunya."cemooh Silvia.
"Silvia, jangan bawa-bawa ibunya. Kita saja sudah cukup menikmati semua peninggalannya. Kau jangan menjelekkan yang sudah pergi."
"Iya aku tau." Dengus Silvia melengos.
"Papa! kami pergi dulu. Masih harus mengurus perusahaan." pamit Xenia memasang tas bahunya.
"Aahh ya, bagaimana dengan kantor?"
__ADS_1
"Sudah mulai stabil." jawab Silvia singkat."Entah kenapa Z2x grub berhenti menekan kita dan malah memberi kucuran dana."
"Benarkah?" Alan tersentak.
"Padahal saat aku kesana Tuan Zander sangat dingin dan berperangai tak jelas." lanjut Alan mengingat-ingat saat dia datang ke gedung utama Zander.
"Benar! Saat kami kesana pun dia tak mau menemui kami sama sekali."gumam Xenia.
"Mungkin kah ada sesuatu yang merubahnya?" tebak Silvia.
"Hmmmm......" Serentak berpikir.
"Sudahlah! Kami harus segera kembali ke kantor papa." pamit Xenia."Jaga diri papa selama kami pergi."
"Sayang, kapan kamu sudah bisa pulang?"tanya Silvia.
"Tiga hari lagi bila masa observasinya bgus." jelas Alan.
"Bagus, nanti kita adakan pesta kesembuhanmu." ucap Silvia.
"Undang tuan Zander juga."titah Alan.
"Tentu saja." jawab Silvia.
Silvia menutup pintu ruangan Alan. Lalu dia dan Xenia berjalan di lorong rumah sakit.
"Apa menurut mama Tuan Zander akan bersedia menerima undangan kita nanti?"
"Entahlah. Dia bukan orang yang mudah ditebak."jawab Sintia
"Benar mah, dia bahkan bisa tiba-tiba memberi kucuran dana yang sudah kita cari jungkir balik." ucap Xenia. "Tapi asisten yang dia utus itu terlihat bodoh."
"Sudahlah tak usah membicarakannya lagi."
****
Xia berjalan di trotoar hendak menuju halte yang berjarak tak jauh dari rumah skit dimana Alan dirawat.
Hari ini memang hari libur di tempatnya bekerja. Hingga dia santai saja. Karena sudah ada yang menjaga papa nya, Xia memutuskan untuk kembali kerumah. Sebenarnya ke kosan Susie. Dia memang belum pindah, baru hari ini Xia mendapatkan buku nikahnya.
Dari belakang terdengar suara klakson. Xia merasa terganggu, Xia menoleh. Sebuah mobil yang kelihatannya mahal berhenti disampingnya. Kaca mobil samping turun. Menyembullah kepala Peter.
"Apa yang kamu lakukan disini?"tanya nya."Masuklah."
"Tidak pak Peter, saya berencana naik bis." Xia menunjuk halte tak jauh didepannya.
"Tak apa. Ikutlah denganku ada yang ingin aku diskusikan."
Mendiskusikan masalah apa? Apa pekerjaan? Tapi kenapa denganku? Apakah tawaran naik jabatan? Xia berandai-andai.
"Luxia Luna!"
Xia gelagapan. Terkejut dipanggil dengan nama lengkapnya oleh bos besarnya. Sukses membuatnya tersipu.
"Masuk!"
Dengan reflek Xia memasuki mobil Peter.
____€€€____
Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
__ADS_1
😊