
"Mengenai malam ini,..." suara Xia dalam perjalanannya kembali dari kota B."Kita lupakan saja. Dan tidak saling mengganggu."
Zander tertegun."Kenapa?"
"Aku tidak akan meminta pertanggung jawaban apapun darimu."kata Xia lagi. "Disini akulah yang bersalah."
Walau sebenarnya aku juga korban dari wanita tua itu. Aku harus membuat perhitungan juga dengannya nanti. Tak akan kubiarkan dia berlaku seenaknya padaku. batin Xia dengan sorot mata dendam.
Zander mengeratkan cengkraman pada roda kemudi.
"Kau tidak! Aku yang meminta." balas Zander tanpa menoleh.
"Apa?"Xia terkejut menoleh pada Zander.
"Aku meminta pertanggung jawabanmu!" Zander masih fokus menyetir.
"Hei! Kenapa jadi kamu yang minta pertanggung jawaban?"protes Xia tak mengerti.
"iya!Kamu keberatan?"datar Zander."Gara-gara kau, aku kehilangan keperjakaanku..."
"Ahahahaa... lelucon macam apa ini, tuan Zander?"gelak xia mencibir.
"Ayolah, kau bilang kau masih perjaka saat pertama bersamaku?"Xia masih tergelak, mengusap matanya yang sedikit berair karena tawa.
"Bukankah kamu juga begitu?"Zander balik bertanya. Xia tertegun.
"Kalau begitu, kita sudah i saja sampai disini. Kita sama sama rugi bukan?" Nego Xia.
"Tidak. Aku yang rugi besar." sanggah Zander masih memancangkan pandangan matanya kedepan.
"Tolong Tuan Zander diperjelas. Aku tidak mengerti." ucap Xia dengan sedikit tersinggung.
"Kita sudah sejauh ini dan aku tidak memakai pelindung."
"Lalu? Apa itu salahku?"
"Tentu saja! kau yang datang ke kamarku."ucap Zander ringan."Aku tidak bermaksud berhubungan dengan wanita malam itu, atau pun semalam."
Xia merasa kesal, entah kenapa dia seperti wanita jallaaanngg saja, yang akan memanfaatkan pria disebelahnya ini.
"Kau yang menahanku. Saat itu aku sudah mau pergi."elak Xia melipat tangannya didada dan memalingkan wajah dari Zander.
"Maksudmu pergi setelah melihat tubuhku?"
Xia menyentak nafasnya keras-keras tak percaya.
"Kau tau aku tidak sengaja Tuan Zander." ketus Xia sangat kesal.
"Siapa yang tau."
"Haaaaahhh...." sentak Xia. "Laki-laki macam apa kamu ini?"
"Aku seorang pengusaha. Aku hanya tak mau rugi."balas Zander datar.
Tenang xia tenang, seperti yang dia bilang, dia seorang pengusaha yang tak mau rugi. Memang dalam hal ini akulah yang bersalah. Lalu apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku terjebak dalam perangkapnya? pikir Xia
"Baiklah. Apa maumu?" tanya xia akhirnya.
"Bertanggung jawab."singkat Zander.
"Dengan?"
"Tentu saja menikahiku. Aku sudah tidak perjaka lagi sekarang."sahut Zander.
"Ahahhahaha.."Xia tergelak,"Kau naif sekali tuan Zander."
"Lagi pula aku sudah banyak melepaskan kecebongku padamu. Apa kau pikir kau bisa lolos?"menatap Xia dingin.
__ADS_1
Sialan, kenapa dia bisa membuatku merasa dia yang rugi sekarang. batin Xia kesal.Tapi bukankah dia sudah memiliki calon istri? melirik curiga.
"Kau yakin itu waktu pertamamu?"
"Tentu saja."menjawab yakin.
"Bukankah kau sering melakukannya dengan banyak wanita?"
"Tidak pernah."
"Bagaimana kamu menjelaskan keberadaan pakaian dan keperluan wanita dikamarmu?"jawaban Zander membuat Xia kesal dan marah.
"Itu aku siapkan untukmu."
"Waaaooooowww mengesankan sekali?!"cibir Xia, "Bagaimana dengan calon istrimu bernama alexa itu?"ketus Xia
"Jangan menganggapnya serius."
"Dasar sampah!"
"Kamu mengataiku sampah?"
"Lelaki yang tidak mengakui calon istrinya malah asyik menggoda wanita lain sama dengan sampah." cibir Xia ketus dan jengkel.
"sepertinya kita masih ada banyak pembicaraan Nona Xia." kesal Zander dengan senyum dipaksakan.
"Aku rasa tidak tuan Zander." tersenyum ramah terpaksa.
Zander menghentikan mobilnya.
"Kenapa berhenti? Kau mau menurunkan aku disini karena kesal?" ledek Xia dengan senyum cemooh.
Tak ada jawaban. Xia membuka sabuk pengaman nya. "Terima kasih tuan Zander. Kelak jangan ada pertemuan lagi."
Xia mendorong pintu disampingnya agar terbuka, namun cepat-cepat ditarik Zander.
"Tak ada pertemuan lagi hah?" suara Zander kesal."Setelah mencuri barang milikku kau mau kabur begitu saja?"
"Apa? kapan aku mencuri darimu?" kesal Xia mencibir, "apa maksudmu keperjakaanmu itu? Ahahahaha." tawa menghina.
"Tentu saja kita masih belum selesai dengan urusan kecebong."menatap Xia tajam.
"Ahahahha..."
Xia menyusuri wajah Zander dengan jari lentiknya lalu berhenti di lekuk bibir pria itu. Dan mengulas senyum, membuat Zander menelan ludahnya, Xia melihat jakun Zander yang turun naik.
"Kau yang melepaskannya sendiri tuan Zander. Jadi kau tanggung sendiri konsequensinya." cemooh Xia dengan senyum sinis dan mendorong Zander hingga membuat ruang baginya Xia bergerak dan keluar dari mobil Zander. Lalu melenggang pergi.
Zander menatap langkah gadis yang sudah mencuri hati dan waktunya itu. Zander mengambil hpnya dan menghubungi asistennya.
"Zene, beri tekanan pada perushaan keluarga Tan."
Zene terkejut, bukankah itu keluarga nona Xia? Kenapa? Apa mereka sedang bentrok? tapi itu terlalu kekanakan. batin Zene bermonolog.
"Zene kau dengar aku?" suara Zander terdengar kesal.
"Baik tuan."
Zene menyimpan ponselnya disaku jasnya.
"Sembari melakukan tugas, aku akan memcari tau tuan. hmmmppppttt..." kekeh Zene.
Sementara Xia yang baru saja keluar dari mobil tertegun.
"Loh, sudah sampai sini rupanya? Jadi dia mengantarku ke kosan susie?" kekeh Xia.
###
__ADS_1
Darren menatap biru nya langit dan hamparan kota dibawahnya melalui jendela kaca gedung ruangannya. Darren menghela nafasnya.
"Darren!"
Darren menoleh, Mama Hellen baru saja masuk keruangannya.
"Ada apa Ma?"
"Nanti malam ajak Xenia ke rumah ya, Mama mau membicarakan beberapa hal padanya."ucap Helen sembari duduk di sofa tamu ruangan itu.
"Xenia kan ada di bawah ma, kenapa ngk bicara sendiri padanya?" tanya Darren heran. melangkah mendekat lalu duduk si sebrang mamanya.
"Udah sih tadi. ini mama ngingetin kamu aja."balas Hellen.
###
Di gedung perusahaan Xander.
Xia tengah menyusun laporan mingguannya. Hari ini dia cukup sibuk karenanya. Xia juga masih harus mengejar deadline nya.
"Huuuuffftttt.."Xia merenggangkan otot ototnya karena terlalu lama duduk didepan komputer.
"Akhirnya selesai juga." gumam Xia lega sambil menguap.
"Udah selesai ya?" tanya pak Dira mengagetkannya. Membuat Xia langsung menoleh kearah sumber suara.
Xia tertawa kikuk. "Ya pak."
Semoga pak kepala botak ini nggak menambah tugas kerjaku batin Xia was was.
"Habis ini ke Alexander Grub ya."
"Apa?"Xia tersentak kaget."Saya pak?"
"Iya kamu!"tekan Pak Dira."Disini kan cuma ada kamu Xia."
"Tapi kenapa pak?"
"Bapak ada meting Xia. Pas banget sama waktu rundingan ke Alexander grub." jelas Pak Dira.
"Yang lain pak?"
"Pada banyak kerjaan Xia, lagian yang pegang projek product ini kan kamu Xa."
Xia tersenyum kecut.
"bisa ya?"
Xia masih terdiam memutar otak buat cari alasan. Xia malas bertemu dengan Darren. Secara Alexander Grup adalah perusahaann keluarga Darren.
"Bisa lah ya." Pak Dira mengendikkan alisnya."Cuma kasih proposal product aja kok Xa. Sama presentasi dikit sama manager projectnya. Bisa ya?"
Xia hanya melempar senyum. Bagaimanapun Pak Dira tetap mengharuskan Xia setuju.
____€€€____
Reader kuuh , kasih semangat donk, biar othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
😊
●●●
__ADS_1