
"Kenapa kita kemari?"
Sandi bergidig curiga karena Zene menbawanya ke sebuah lokasi diatas bukit, yang disisi lainnya adalah jurang yang langsung menghadap laut.
"Tentu saja untuk membicarakan kompensasi." seringai Zene.
Malam itu begitu sunyi,hanya suara ombak yang bertemu karang dilautan mendebur membentuk nyanyian malam yang indah. Bulan yang sedikit malu bersembunyi di balik awan gelap yang berarak dibawa angin. Perlahan Bulan memancarkan sinarnya.
Di keremangan malam itu, Sandi tersungkur dengan mulut berdarah dan nafas tersengal.
"Sandi Harmawan. Lahir pada tahun Xx penjudi yang lebih sering kalah. Dirumah judi sudah memiliki hutang hingga satu juga dolar. Seorang peminum aktif dan pengguna ekstasi."
Zene melempar lembaran kertas dan foto ditangannya.
"Sampah!"
Sandi bergidig kengerian.
"Ap-apa maumu? Aku bisa melaporkanmu kepolisi atas tindakan kekerasan ."
Zene terkekeh.
"Apa kau memiliki syarat untuk bisa bicara seperti itu padaku? Apa. kau yakin bisa lepas dari ini dengan membawa utuh tubuhmu? Apa kau yakin masih bisa bernafas sampai ke kantor polisi?"
Sandi tersentak. Wajahnya menjadi pucat. Tubuhnya secara reflek bergetar hebat.
"Monster dari mana ini?"
Zene mendekat, menginjak bahu Sandi dan menjambak rambut depan pria itu agar mendongak melihatnya.
"Ini adalah kompensasi karena kau sudah menyinggung tuanku . Aku akan memberimu pilihan, mengingat kau adalah kaka Susie. Aku akan lunak padamu."
Sandi menelan ludahnya dengan sangat susah,
"Pertama, Piaraan tuanku sudah lama tidak makan daging, jadi aku akan memotong sebagian dari dagingmu untuk makanan mereka. Jika mereka tidak cukup kenyang, aku akan memotong bagian lainnya. Agar kau lihat sendiri bagaimana mereka memakan dagingmu!"
"Kedua, Aku akan melemparkanmu ke tengah laut. dengan pelampung agar kamu tidak tenggelam. Agar kamu merasakan kehausan saat disekitarmu penuh dengan air." Seringai Zene dengan mata yang mengintimidasi.
"Aku akan menghitung sampai 5 untuk berfikir." Zene melepas tangannya dengan mendorong. Hingga kepala sandi sampai terpental kebelakang.
Wajah Sandi menegang. Tentu rasa takut yang mendominasi.
"Satu."
Zene berbalik dan melangkah sedikit menjauh.
"Dua."
Pria itu menggigit rokok dimulutnya.
"Tiga."
Zene menyalakan pemantik. Dan mulai mennyalakan ujung batang rokoknya.
"Empat."
Dia berbalik menatap rendah Sandi yang masih tergeletak dengan wajah menyedihkannya.
"Lima."
Zene mengambil udud dimulutnya, perlahan menyembulkan asap.
"Lemparkan dia ke laut!"
Pekikan suara Sandi terdengar melengking bersamaan dengan beberapa orang Zene yang menyeret tubuh pria malang itu.
Zene tak peduli dengan itu. Dia berjalan santai memasuki mobilnya, perlahan menjauh.
__ADS_1
****
Malam itu, disebuah hotel yang tak begitu jauh dari rumah Susie di kampung. Xia merebahkan diri ranjang kamar suits itu. Zander membaringkan tubuhnya lebih rendah, hingga kepalanya bisa sejajar dengan perut Xia. Dimana doble J berada.
Zander meneluk dan mengusap lembut perut yang agak buncit itu. Zander menyingkap bluse yang menutupi perut istrinya hingga sebatas bawah dada. Mengelus langsung kulit perutnya. Xia menggeliat.
"Geli Daddy Zi."
Zander terkekeh.
"Hmmhehehe.. Biar. doble Ji merasakan lembutnya tangan Daddy Zi."
"Tapi, itu geli..."
Zander mengecup perut samping wanitanya. Kalian jangan nakal ya, Jangan membuat Mommy susah. Kalau momy lagi tidur kalian juga istirahatlah. Kalau siang, kalian mau berlarian di perut mommy juga boleh. Jungkir balik juga boleh.." oceh Zander pada perut istrinya.
"Apa? Mau kayang?" Zander mendekatkan telinga ke perut sang istri, seolah sedang mendengarkan yang didalam sana berbicara.
"Boleh." ucap Zander sambil manggut-manggut. "Tapi, kalau momy bobok, kalian juga bobok ya."
Xia terkekeh, mendengar ocehan Zander. Suaminya itu sekali lagi mendekatkan telinganya ke perut Xia.
"Apa?"
Zander terdiam sebentar.
"Kangen Daddy? Mau dijengukin?"
Mata Xia membulat, kepalanya melongok melihat Zander yang sedang berkomunikasi dengan jabang baby nya.
"Iya deh, Daddy jengukin. Jangan ngambek gitu donk."
Zander menggeser tubuhnya mengangkat badannya melewati atas Xia.
"Mereka ingin dijenguk. bagaimana menurutmu?"
"Beneran! Mereka merengek tadi. Kangen sama Daddy."
Xia terkekeh.
"Sudah lama kita tidak melakukannya."
Zander memasang wajah seriusnya. Xia menatap bola mata indah Zander, perlahan menutup matanya. Zander dengan sendirinya menyatukan bibir. Bergerak perlahan dengan lembut. Merasakan rahangnya melebar dan mengatup. Lidah yang bergoyang mengikuti gerak irama tubuh.
Gelayar-gelayar indah menjalari setiap aliran darah. Menembus jantung dan memacu detaknya lebih kuat. Nafas berat bersautan, mengirringi setiap lapisan tubuh yang tertanggal oleh panasnya gairah yang membakar jiwa.
Derring ponsel Xia memecah kesunyian, dan memporak-porandakan semua diksi yang tercipta.
"Mungkin itu Susie, mungkin saaja penting." lirih Xia mendorong lembut tubuh suaminya.
Rontok tanpa sisa, tepat saat semuanya tinggal menyisakan satu langkah akhir.
Zander menghempaskan tubuhnya kesamping. Dengan sedikit kesal yang memupuk amarahnya. Sedikit lagi, mungkin akan meledak.
Xia meraih hpnya, Ng? Zene? Kenapa dia menelpon kemari?
"Apa? Kenapa airmukamu begitu?"
Tanpa menjawab zander, Xia menempelkanya ditelinga.
π:"Hallo."
π:["Maaf Nyonya, nomor tuan tidak aktif. Jadi aku menelpon kemari."]
π:"Yyaaahhh.... Tidak masalah buatku...."
π:["Tuan Zander..."]
__ADS_1
π:"Aahh,, dia ada diatasku sekarang?"
Zander langsung menatap Xia, dengan gerakan bibir tanpa suara, Zander bertanya:"Siapa?"
Xia pun membalas dengan hal yang sama:"Zene."
π:["Apaa?? Waduuhh mati aku...."]
π:"Karena menelpon kemari itu pasti penting, kan?"
π:["Tidak! Tidak ada yang lebih penting, Nyonya. Selamat malam."]
Zander mengangkat tangannya menyentuh tangan Xia yang memegang hape ditelinga.
"Berikan padaku." ucap Zene pelan.
π:"Tunggu sepertinya, dia ingin bicara padamu."
π:["Aaaakkkhhh, tidak nyonya. Katakan saja aku sudah menggantung diri...."]
π:"Zene! Aku hampir diujung..."
π:["Maaf tuan. Ini tidak akan terjadi lagi."] Zene di sebrang sana sambil mengelap keringat diwajahnya dengan sapu tangan.
π:"Kau tau hukuman apa yang pantas untuk orang yang menjeda kehampiranku?"
π:["Po-potong gaji, tuan...."]
π:"Salah! Potong kepala!" Suara Zander berteriak memekakan telinga, hingga Zene terpaksa menjauhkan hpny dari pendengaran.
π:"Jadi,sebaiknya kamu membawa berita bagus."
π:["Baik tuan, mengenai kakak nona susie sudah saya bereskan."]
π:"next."
Zene nelan ludahnya,
π:["Mengenai berkas berkas rahasia milik Nyonya, saya menemukan hal yang menarik."]
Wajah Zander menunjukkan ketertarikan.
π:"baiklah! Datanglah ke kamarku."
π:["Saya sudah didepan pintu, tuan."]
π:"Shiitt!! Mati kau Zen!"
Zander langsung bangkit dan merapikan pakaiannya. Xia menetap penuh tanya.
"Pakai bajumu! Zene didepan pintu!" ucap Zander membantu Xia mengenakan pakaian dalamnya.
"Apa yang terjadi?" Xia menaikkan sendiri sampai batas paha atas. Tangan Zander menahannya tepat dipusat Xia .
"Kiss dulu.. See you latter, my Apam."
_____β¬β¬β¬_____
Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
π
__ADS_1