
"Bagaimana dokter?" Zander sangat tak sabar dan cemas.
Sang dokter tersenyum maklum.
"Semuanya selamat dan berjalan dengan lancar. Selama beberapa jam kedepan pasien akan ditempatkan diruang isolasi dulu. Mohon bersabar."
Zender bernafas lega, tubuhnya lemas dan merosot kebawah, seolah dia sudah tak punya tulang lagi.
"Ba-bagaimana dengan bayi nya?"
"Sangat sehat dan sempurna. Sementara kami akan menempatkannya di ruang khusus. Anda bisa melihatnya nanti."
"Zene! Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat bahagia, juga bersyukur."
"Lakukan seperti biasanya tuan. Saya bisa menyiapkan segalanya."Zene ikut berjongkok disamping tuannya yang terduduk lemas dilantai.
"Tapi aku, seperti tak bertulang."
"Apa anda mau saya menggantikannya untuk anda tuan?"
Zander tersentak menatap Zene.
"kau mau?"
"Tidak!" jawab Zene yakin dengan gelengan kepala mantap.
"Sialan kau!"
"Anda bisa selebrasi nanti tuan. setelah melihat nyonya dan kedua anak anda yang lucu."
"Kau benar." Zander menepuk bahu Zene. "Bantu aku berdiri."
Zene membantu Zander berdiri dengan mengalunkan lengan tuannya di pundaknya.
Setelah beberapa saat lamanya, Xia sudah dipindahkan ke bangsal. Dan tidak lagi tempatkan di ruang isolasi. Zander masih menunggui Xia dengan sabar disampingnya.
Susi dan Jil pun pamit, karena selain kelelahan, mereka juga tak tau bisa apa. Dalam perjalanan kembali, susie masih merasa sedih. Jil hanya memperhatikan Susie melalui ekor matanya sesekali.
"Jangan kuwatir, disana sudah ada dokter terbaik. dan Kau tau? Zander bakal meledakkan tempat itu jika sesuatu yang buruk terjadi pada Xia."
Susie tersenyum mendengar lelucon suaminya itu.
"Nah, senyum gitu kan cantik."
Jil masih fokus pada jlan di depanya.
"Mmm.. Kamu mau makan sesuatu nggak?"
"Nggak. Langsung pulang saja. Aku lelah dan ingin istirahat."
"Oke."
Jil mengusap kepala istrinya itu dengan sayang.
Begitu sampai dirumah, Jil dan Susie masuk kedalam Kamar pengantin mereka. Susie terkesima. Kamar itu sangat indah, dengan banyaknya bunga berwarna-warni dilangit-langit kamar. dan dilantainya juga penuh dengan kelopak bunga mawar.
Susie menutup mulutnya saking terkesima nya. Dia menatap Jil, lalu kembali melihat seisi kamar itu. Di sisi yang lain dari sana, Susie melihat tumpukan kado pernikahan yang begitu banyak.
"Banyak sekali.."kagum Susie mendekati dan menyentuhnya."Apa ini kado pernikahan kita?"
Jil mengangguk dengan senyuman melihat istrinya itu.
"Aku nggak pernah dapat sebanyak ini." kekeh Susie saking senengnya. Masih terpaku menatap tumpukan kafo itu.
"Hmmm.. kita msih punya banyak waktu untuk itu." Jil menarik lengan Susie."Kita selesaikan urusan yang lain dulu."
"Tunggu, aku ingin membuka kado milik Xia dulu."
"Kita bisa membukanya besok."
"Iinniiii... Aja, aku sangat ingin membukanya, heeemmm?" Susie memohon..
"Oke deh, satu aja."
Susie mengambil kado pemberian dari Xia, satu tumpukan dengan milik Zander dan Zene. Susie membuka tutup kotak kado nya. Ada beberapa pasang pakaian dinas malam. Susi melihatnya sambil membentangkannya.
Jil melihat dengan bersemangat.
__ADS_1
"Pakai! Nanti pakai itu." pinta Jil bersemangat. Susie kesal. Silemparnya linggeri itu pada tubuh Jil.
Susie kembali melihat, kado milik Zene.
"Sekarang biar ku buka milik Zene."
"Arrgg! Sudah lah. Tak usah di buka. Itu ngak penting.
"Tapi Zene bilang untuk membukanya malam ini."
"Ya ampun!" Jil menepuk jidatnya.
Susie membuka kado milik Zene. Mata susie membola, melihat hadiah milik Zene. Satu persatu Susie keluarkan dari kotaknya.
"Ini.... apaaann..."
Susi mengeluarkan beberapa tisue magic dan dan obat kuat.
Jil menyentak nafasnya. "Sudah kukatakan padamu sebelumnya. Ngak usah dibuka. Kenapa kamu begitu bandel."
Susie beralih mengambil kado dari Zander. Itu adalah kado yang paling besar. Dengan semangat Susie membukanya. Jil hanya memutar matanya malas.
Bungkus kado Zamder ternyata berlapis-lapis. Susie sampai kelelahan membukanya.
"Haaiissshh.. apaaan ini? kapan habisnya?" rajuk Susie menlempar kesal kado Zander yang masih tetap tampak besar itu dan masih berkungkus kado yang cantik.
Jil menghela nafasnya. "Biar aku saja."
Jil mengambil pisau dan mulai memotong bagian kado itu agak ketengah. Susie mendelik.
"Hei! kenapa begitu dalam? Bagaimana jika kadonya rusak."
"Sayang! Mereka temanku. Aku yang paling hapal bagaimana mereka."
Jil memotong dengan mantap. Lalu Jil mengambil sekotak kecil di bagian tengah nya. Jil menunjukkan pada susie sambil menggoyangkannya.
Jil membuka bungkusnya. Masih ada lapisan bungkus lain.
"Dari sini, harus sedikit hati-hati membukanya."
Hingga tiba di lapisan bungkus terakhir.
"Jaa jaaammm..."
Susie yang melihat isi dalam kotak itu berbinar. menutup mulutnya saking terkejut sekaligus takjub.
"Apa isinya?"
Jil memutar kotak ditangannya dan melihat isi didalam kotak panjang itu. Ada dua lembar vocher.
Jil membaca pesan yang tertulis di tutup kado sebelah dalam.
"Ini adalah vocher bulan madu ke maldives. Semua kebutuhan mulai dari tiket hingga makan malam romantis. Kalian tinggal membawa tubuh kalian dan pemberian dari Istriku tercinta dan juga Zene. Selamat berjuang."
Begitulah isi pesab dari Zander. Jil tertawa lucu.
"Dasar sialan!" gumamnya dengan senyum diwajahnya melirik Susie.
"Maldives, itu adalah tempat yang indah dan romantis."
"Kau mau kesana?"
"Heemmm." Susie mengangguk mantap.
Jil tersenyum geli.
***
###
"Kenapa dia masih belum sadar juga? Ini sudah sangat lama?"
Zander menatap tajam dokter yang menangani Xia.
"Tetap tenang tuan Zander, Reaksi setiap pasien berbeda. Mohon tunggu dengan tenang dan sabar."
"Kau yakin tidak salah?"
__ADS_1
"Te-tentu saja tuan."
"Lalu kenapa dia masih belum bangun?" Zander mencengkram kerah sang dokter yang terlihat gemetar namun mencoba tetap tenang.
"Seperti yang saya katakan sebelumnya reaksi setiap pasien berbeda."
"Kapan dia akan akan bangun?"
"Ku-kurasa sebentar lagi tuan."
"Cih! Kau terus mengatakannya berulang-ulang tapi samapai sekarang istriku tidak bangun-bangun. Jika sampai terjadi apa-apa dengannya. Kau yang pertama kali kali kupotong-potong sebelum meledakkan tempat ini."
"Tuan! Tenanglah."
zene tersenyum, membantu sang dokter lepas dari cengkraman Zander.
"Tenang lah dokter. Itu tidak akan terjadi. Selama semua baik-baik saja. Jangan memasang wajah begitu." ucap Zene menenangkan sang dokter. "Duduklah dahulu."
Zander kembali melihat wajah Xia. Istrinya itu masih terbaring lemah diatas brangkar. Jari tangan Xia mulai bergerak. Xia melenguh.
"Uuuuggghh..."
Dengan segera, Zander siap mengambil tangan Xia.
"Sayang, bagaimana perasaanmu? Apa yang kamu rasakan?"
"Tuan, biarkan dokter memeriksanya dulu."
Zander masih menatap tajam sang dokter. Akan tetapi, Zander minggir juga memberi jalan dokter untuk memeriksa istrinya.
Zander manatap tubuh istrinya dengan cemas dan kawatir.
"Nyonya bagaimana perasaan nyonya?" Tanya dokter sambil memeriksa pasiennya.
"Apa yang terjadi dok? Anakku."
Dokter tersenyum."Anda baru saja melewati masa yang sulit. Selamat. anda berhasil. Anda memiliki dua bayi yang lucu dan sehat."
Xia tersenyum lega walau sedikit masih lemas.
"Dimana? Bayi ku?"
"Bayi nyonya masih ditempatkan diruang kusus.Kita bisa memindahkannya nanti."
Xia menyungging senyum lagi.
"Suamiku..."
Zander mendorong dokter minggir dan mengambil tangan istrinya. Menggenggam dengan erat.
"Aku disini."
"Apa kau sudah melihat anak kita?"
Zander menggeleng. "Aku masih mencemaskanmu. Mereka bilang Baby J sehat dan sempurna. Karena itu..."
"Harusnya kau melihat mereka dulu, agar bisa kau ceritakan bagaimana lucunya mereka." ucap Xia lemas.
"Jangan bicara banyak. Kau masih pemulihan. Setelah ini aku akan melihat mereka untuk menceritakannya padamu. Heemmm?"
Xia hanya tersenyum. Dia masih dalam pengaruh obat bius.
"Dokter. Kepalaku pusing dan aku mau muntah."
"Itu adalah reaksi diri obat bius nyonya."
"Aahh... begitu... Terima kasih, dokter."
_____€€€_____
Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
__ADS_1
😊