Gairah Cinta Semalam

Gairah Cinta Semalam
Chap 32


__ADS_3

"Sisakan dia untukku." ujar Zander dengan mata tajamnya membuat siapa saja yang melihat ketakutan.


Xia masih berbincang dengan neneknya. Zander mendekat, dan duduk berjongkok di depan nenek.


"Apa nenek senang?"


"Tentu saja. Terima kasih nak, sudah merawat Xia untuk nenek. Dan semua perhatian yang sudah kamu berikan pada nenek." ucap Nenek dengan senyum teduhnya."Nenek sangat menghargainya."


Zander membalasnya dengan senyuman ramah juga. "saya juga senang kalau begitu."


"Nenek, boleh saya minta tolong untuk menjaga Xia sebentar untukku?" pinta Zander lembut. Wajah Xia terkejut.


"Apa kamu mau pergi?"


"Iya, hanya sebentar."


"Baiklah."Nenek menyetujui."Biar Nenek menjaganya untukmu."


"Terima kasih Nek, Akan ku bawakan oleh-oleh untuk nenek nanti."janji Zander ramah.


Zander berdiri menatap wajah istrinya.


"Kau mau pergi?" tanya Xia tak rela."Kemana?"


"Ada hal yang harus ku urus." kata Zander mendekat.


"Tapi..."


"Aku akan menempatkan beberapa orang disini."


Xia hanya diam tampa kata, tapi wajahnya cemberut. Entah itu justru membuat Zander gemas. Pria itu mengecup pelan kening istrinya.


"Sebelum matahari terbenam. Aku sudah akan kembali." janjinya pelan.


Xia mengangguk tanpa kata.


"Tolong jaga nenek untukku."


Xia menyungging senyum palsu.


"Aku pergi dulu." Pamit Zander mengusap lembut kepala Xia.


####


Setelah mengatur beberapa orangnya menjaga Xia dan nenek di rumah sakit Zander melakukan penerbangan kembali ke kota. Disana Zander langsung menuju gudang kosong tempat penyiksaaan.


Zander berjalan keluar mobil dengan langkah lebar menuju bangunan yang menjulang itu. Didalam bagunan yang dijaga beberapa orang diluar itu. Reina duduk dengan tubuh gemetar.


Terdapat beberapa memar di wajah cantiknya. Tergurat jelas ketakutan disana. Reina bahkan tak mengangkat wajahnya saking takutnya.


Langkah kaki terdengar begitu jelas ditelinga Reina, se bisa mungkin dia menunduk tanpa melihat siapa. Dia takut akan kematian menantinya jika lancang menatap wajah-wajah yang menakutkan baginya itu.


Langkah kaki yang baru saja datang itu berhenti tak jauh darinya terduduk dilantai. Dengan dentuman keras dijantungnya yang tak henti-hentinya berdetak, menyalurkan rasa takutnya.


"Lihatlah kemari."


Suara yang baru Reina dengar, begitu tegas dan berat membuatnya takut. Reina masih menundukkan kepalanya.


"Hei! Apa kau tidak dengar?" sentak seseorang yang sejak awal memang ada disana."Angkat kepalamu." dengan nada tinggi tak sabar.


"Ma-maafkan saya! Saya salah! Ampuni saya. Saya tidak melihat apapun, saya tidak mendengar apapun. Tolong lepaskan saya." mohon Reina dengan derai airmata.


"Angkatlah kepalamu."


Dengan perasaan yang jelas dipenuhi rasa takut dan jantung yang mengentak kuat, Reina memberanikan diri mengangkat kepalanya.


Seorang pria berbadan kekar tersenyum tipis menatapnya dengan dingin. Buru-buru Reina menundukkan lagi kepalanya. Dia mencoba mengingat-ingat. Siapa pria itu? Yang begitu serasa tak asing.

__ADS_1


Ooohh Iya , dia adalah pria yang berdiri didepan Xia saat seseorang yang dihasutnya melemparkan telur kearah wanita itu. Gawat! Aku tidak ada disana. Padahal aku sudah sengaja bersembunyi jauh dari kumpulan itu untuk merekam. Tapi kenapa? Apa aku ketahuan? Pikir Reina semakin takut.


Aku tidak tau backing Xia orang yang semenakutkan ini. Aku pasti habis... batin Reina lagi makin kacau.


"Kenapa tidak menegakkan kepalamu?" tanya Zander pelan tapi penuh penekanan."Kau begitu sombong membuat berita menjijikkan seperti ini. Dimana kepercayaan dirimu?"


Zander melemparkan tablet didepan Reina, dimana disana terpampang jelas berita diforum karyawan yang memberitakan tentang Xia.


Mata Reina membulat, tubuhnya menggigil,badannya bergetar hebat.


"Bu-bukan aku! Ini pasti jebakan! Sungguh, bukan aku!" Elak Reina mengangkat kepala dan menatap Zander dengan menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


Zander tergelak.


"Hacker ku membukanya melalui akunmu."kekeh Zander melipat tangannya didada.


"Hmmm,, Sepertinya kau sangat suka membuat cerita bualan." ujar Zander berjalan mengelilingi Reina dengan langkah pelan.


Pria itu lalu berhenti dan berjongkok dibelakang Reina.


"Bagaimana jika aku buatkan satu untukmu. Aku akan sebarkan melalui akun pribadi dan anonim yang kau buat itu." sambung Zander pelan berbisik dibelakang telinga Reina. Tentu membuat wanita itu semakin bergidig ngeri.


"Seorang wanita muda berpesta sek dengan kawanan pria asing ditepi pantai. Bagaimana menurut?"Seringai Zander berdiri dan berjalan hingga ke depan Reina.


"Am-ampuni aku.." Reina memohon dengan menyentuh kaki Zander.


"Singkirkan tangan kotormu dari kakiku!" ujar Zander dingin dan tajam, membuat Reina semakin takut dengan segera melepaskan kaki Zander.


"Ampuni aku tuan.. Aku sangat menyesal. Mohon ampuni aku." melas Reina dengan menyatukan tangannya memohon.


Zander menghela nafasnya kesal.


"Bereskan dia! Setelah urusan kalian selesai lemparkan ke rumah sakit jiwa." perintah Zander tegas tanpa bantahan.


"Baik tuan." menunduk hormat. Zander melangkah pergi.


"Tolong beri aku kesempatan."


"TUUUAAAAANNN!!!"


###


Di kota S sore itu Xia masih menemani Neneknya. Namun kini mereka berada di dalam kamar. Nenek Xia sudah tertidur diatas brankar. Xia hanya menatapnya menunggui. Terdengar suara pintu dibuka, Xia menoleh. Zander berjalan dengan membawa sekeranjang buah ditangannya juga sekotak makanan. Pria itu datang mendekat.


"Nenek tidur?"


"Heemmm.." Xia kembali menatap Neneknya.


"Ayo kembali. Sebentar lagi malam." ajak Zander setelah meletakkan barang-barang ditangannya ke atas meja.


Xia mengangguk. Dengan berat berdiri dan meninggalkan Neneknya.


Zander menuntun Xia masuk kedalam mobil yang menunggu didepan RS itu. Xia tersentak, melihat Zene sudah standby disana. Dari kemarin dia tidak melihat Zene ikut serta. Xia menatap Zander yang duduk disampingnya.


"Kenapa?" tanya Zander melihat tatapan Xia yang sedikit berbeda.


"Kenapa tiba-tiba Zene ada disini? Apa dia menjemput kita kembali?" tanya Xia menatap manik mata Zander.


Zander tersenyum kecil. "Dia menyerahkan beberapa dokumen kemari. Besok dia kembali lagi. Kita masih ada perjalanan ketempat lain."


"Oohh.. begitu." Xia duduk merenung.


Mobil bergerak menuju hotel tempat mereka menginap. Sepanjang jalan pikiran Xia treveling.


Semoga Zander tidak bertindak berlebihan. Tapi, kupikir sekedar memberinya sinyal tidak masalah. Batin Xia melirik Zander.


Xia mendekatkan tubuhnya menempel pada suaminya, Zander menatapnya dengan tanya.

__ADS_1


"Urusan apa yang tadi kamu kerjakan?"


"Heemmm?"


"Seharian ini pergi cukup lama, urusan apa yang menyita waktumu?"


"Mmmmm,, hanya membereskan masalah yang tertinggal."Jawab Zander dengan senyum tipis.


"Kamu tidak bertindak jauh untuk masalah kemarin kan?"


"Haaaa?"


Xia mengulas senyum termanisnya. "Aku harap kamu tidak melakukan sesuatu pada perusahaan adikmu. Itu adalah tempatku bekerja selama ini."


Zander mengernyit.


"Kau tau itu milik Peter?"


"Heemm.. kami pernah bertemu secara personal karena terlibat dalam project A." jelas Xia pelan, "Dia orang yang cukup baik, Kamu juga orang terbaik yang pernah aku temui. Jadi, bolehkah masalah ini selesai begini saja?"


Xia menatap penuh harap, Zander masih mengernyit.


Sepertinya dia memang melakukan sesuatu untuk kejadian kemarin. Batin Xia, Pikirannya teringat samar kata-kata yang Zander ucapkan sebelum suaminya itu membawanya masuk kedalam mobil.


"Buat mereka bahkan tak bisa mengangkat wajahnya lagi." Seketika membuat Xia bergidig.


Xia mendekatkan wajah, mengecup ringan sudut bibir Zander.


"Kumohon, lupakan kejadian kemarin. Dan jangan menekan prusahaan itu." ucap Xia masih menempelkan bibirnya disana. Zander terdiam sesaat. Menikmati rasa yang berdeyar disepanjang nadinya.


"Zene kau dengar itu?"


"Dimengerti Tuan."


******


Malam itu Zader duduk dipinggiran ranjang, pria itu sedang menelpon saat Xia sedang dikamar mandi.


"Kau dapatkan seorang lagi?"


Zander menjeda ucapannya, menunggu seseorang disebrang sana berbicara. Matanya mengernyit.


"Adiknya? Kau yakin? Bagaimana hubungan mereka?"


Sekali lagi Zander terdiam. "Baiklah! Aku tidak akan sungkan kalau begitu."


CEKLLEEEKKK. (Suara pintu kamar mandi dibuka)


Buru-buru Zander mengakhiri telponnya. Lalu meletakkan ponselnya diatas nakas. Xia terlihat lebih segar dengan rambut basah yang dibiarkan terurai kedepan. Zander menatapnya tanpa berkedip.


Xia melangkahkan kakinya mendekat dan berdiri satu meter didepan Zander.


"Tuan...."


Zander masih menatap wajah Xia, dengan membisu, Xia menarik tali bathrobe nya, dan membiarkan tubuhnya terekspose.


"Biarkan aku melayanimu...."


____€€€____


Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.


like dan komen ya


Terima kasih.


Salam___

__ADS_1


😊


__ADS_2