
Xia tertegun, melihat Peter berdiri diujung lorong, sepertinya dia menyaksikan drama tak mengenakkan tadi. Wajah Xia berubah jadi tak enak. Peter menatapnya datar.
"Kau melihatnya."
"Pertengkaran kalian begitu keras, bagaimana aku tidak tertarik untuk melihat?" terang Peter tersenyum kecut.
"Huuhh.. Memalukan. Ini dirumah sakit."Xia menepuk jidatnya sendiri. Dan melangkahkan kakinya lagi untuk pergi. Peter menyesuaikan langkah.
"Ternyata kalian punya hubungan yang rumit."ucap peter.
"Itu ranah pribadiku, PAK PETER." tegas Xia menekankan sebutan nama atasannya.
"Baiklah. Kau sampai ngucapkan sebutan tak ramah itu." kata Piter tersenyum geli.
Sesampainya mereka di depan gedung rumah sakit.
"Tunggulah disini. Aku ambil mobil dulu." kata Peter berlari kecil.
"Nggak usah aku sudah panggil taksi online."tolak Xia cepat.
"Cancel." sahut Peter sampai tubuhnya tak terlihat lagi.
Xia menghela nafasnya.
"Siapa peduli. Aku sudah menolak. Juga, sudah katakan pesan taksi online." guman Xia melangkah menuju taksi online yang sudah dia pesan menunggu.
Beberapa saat kemudian. Peter kembali ketempat Xia berdiri dan menunggu tadi. Namun tak mendapati gadis itu disana. Peter celingukan mencari.
"Kemana dia?" gumam Peter masih mengedarkan pandangan matanya. Peter tertawa geli.
"Tak mungkin dia benar-benar meninggalkanku untuk naik taksi online, kan?" gumamnya lagi. Peter memutar kemudinya. Mengelilingi hingga keluar dari areal rumah sakit.
Dia tertawa lucu.
"Jadi aku benar-benar ditinggalkan?" Gumamnya tak menyangka."Xia, kau harus mendapat hukuman besok karena meninggalkan pria yang dikejar-kejar para gadis, hanya untuk naik taksi online." Geli Peter bergumam sendiri.
Pria itu terus tersenyum sepanjang perjalanan pulang ke rumah besarnya. Ini untuk pertama kalinya, ditinggalkan saat dia dengan baik hati menawarkan tumpangan. Peter hanya tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya.
Sepertinya sangat menarik menaklukkan wanita ini. Pantas saja Zander terpikat padanya. Apa aku juga begitu? Pikir Peter dengan senyum geli.
***
Xia turun dari taksi online nya tepat didepan pintu gerbang vila Zander.
"Terima kasih paman. Hati-hati dijalan." Ramah Xia melambai pada supir taksi dengan senyuman.
Zander yang mengintip dari CCTV yang terpasang didepan Vilanya itu melihat kesal.
"Kenapa dia bisa begitu ramah dengan sopir taksi online itu."geram Zander bangkit dari duduknya di ruang kontrol keamanan. Tampa dia sadari beberapa orangnya yang gemetar melihat wajah kekesalannya itu.
Di depan pintu utama Xia disambut wajah kesal Zander yang berdiri dengan tangan yang disembunyikan di saku. Xia tertegun.
Apa? Kenapa wajahnya kesal begitu? Apa dia masih marah aku tak mengijinkannya datang? Aku sangat kuwatir dia akan berbuat aneh-aneh lagi dengan perusahaan papa. Batin Xia menatap Zander waspada.
Pikir Xia, pikir! Jangan membuat dia marah.. Luluhkan hatinya. Batin Xia lagi.
"Apa kau sudah makan?" tanya Xia pelan. Menatap wajah Zander yang terlihat kesal itu.
"Belum."
"Aku ingin mencoba masak sesuatu. Kau mau mencobanya?" tanya Xia berjalan perlahan."Aku tidak pernah masak untuk orang lain sebelumnya." lanjut Xia dengan sikap acuh.
Zander terdiam. Belum pernah masak untuk orang lain? Jadi aku yang pertama? pikir Zander mulai membaik suasana hatinya.
"Baiklah." Zander menyetujui dengan muka merona.
Xia tersenyum tipis. Berhasil !!!
Didapur Xia sudah siap dengan celemeknya. Mulai memotong sayuran dan beberapa bahan keras. Zander hanya memperhatikan kegiatan Xia. Zander terlihat gelisah, Menatap istrinya, lalu menunduk, menatap lagi, lalu menggosok lengannya. Zander ingin membantu namun ragu.
Xia yang membaca pergerakan kecil Zander itu tersenyum kecil.
"Mau membantuku memotong cabe?" tawar Xia melirik suaminya.
__ADS_1
"Iya." jawab Zander mantap.
Zander berjalan mendekat, selangkah dua langkah sudah begitu percaya diri, kakinya malah terantuk kaki meja. Tubuhnya condong kearah Xia. Gadis itu terkejud melihat Zander ambruk kearahnya.
"Hei! Apa kamu..."
BRUUUUKKK!
"Uuuuugghhhhh....."
Xia mengangkat kepalanya. Dia tepat berada diatas tubuh Zander. Tangannya masih memegang pisau.
"Kaaauuuu...." geram Xia, Kenapa jadi dia yang di bawah.. Rasanya jatuh itu cepat sekali. pikir Xia.
Pisau yang dia bawa mengenai leher Zander hingga meninggalkan goresan disana.
"Aaaarrrrrggggg.. Ya ampun kau terluka."
"Turunlah dari atas tubuhku."
"Waaaa.... maaaff..."
Xia segera bangkit. Begitupun dengan Zander yang sedikit kikuk. Darah di leher Zander terlihat mengalir pelan dari sayatannya.
"Aku ambilkan kotak p3k dulu." Xia meletakkan pisaunya dimeja. Lalu pergi mengambil.P3K.
Xia kembali beberapa saat kemudian dengan p3k ditangannya. Xia menarik Zander duduk dikursi dapur. Dia sendiri duduk didepan pria itu.
Xia mengambil betadin dan mengoleskannya ke luka Zander dengan cotton bat. Sesekali Xia meniupnya.
Bibirnya terlihat begitu seksi, menggoda.. Batin Zander.
Zander menelan ludahnya kasar. Xia melihat jakun Zander yang turun naik. Xia mengoles lagi betadin dan meniupnya. Zander menelan ludahnya lagi.
Apa ini? Dia menelan ludah lagi. Kenapa aku merasa buruk? batin Xia melirik Zander yang juga meliriknya.
"Tegakkan kepalamu, Aku kesulitan mengoles betadin di lehermu." ucap Xia mengoles lagi betadin disepanjang luka Zander.
Jujur saja Xia merasa bersalah, luka itu juga disebabkan olehnya yang membawa pisau tadi, walau tak disengaja. Xia meniup lagi luka Zander. Sekali lagi Xia melihat jakun Zander yang turun naik.
Xia melirik sinis pada Zander.
"Kau..."
Zander balas melirik Xia,
"Kenapa terus menelan ludah?" ketus Xia berdiri dengan menenteng P3Knya.
"Apa aku bahkan tidak boleh menelan ludah sekarang?" Zander balik bertanya.
"Aaa... sudahlah.."balas Xia dengan wajah sedikit memerah, malu juga. Pikiran Xia jadi ngawur gara-gara Zander sempat menyebut 'itu' waktu di telpon tadi.
Kenapa aku jadi berpikiran buruk terus padanya.. Batin Xia menggeleng pelan dan melangkahkan kaki. Sedang Zander menatap jejak Xia di balik pintu dapur dengan wajah bersemu.
Xia kembali kedapur dan kembali pada aktifitasnya.
"Kamu masih mau membantu?" tanya Xia mengambil pisau.
"Heeemmm..." Zander mengangguk yakin.
"Baiklah. Potong cabe dan kupas bawang bombai."
"Baik." Zander mengambil cabe dan dan bawang. Lalu memotongnya. Xia melirik dan tersenyum kecil.
"Kamu lumayan juga."
Zander senang mendapat pujian Xia.
"Tentu! Aku bisa segalanya."
"PPppffffffftttt..."
"Kamu tak percaya?" menatap Xia protes.
__ADS_1
"Yaaaa.. yaaa.. Aku percaya."
"Nada bicaramu tak percaya."
"Aku percaaayaaaa..." suara Xia dengan nada seriosa. "Bagaimana?" mengedipkan sebelah matanya.
Zander memalingkan wajahnya. Xia terkekeh.
"Kamu, mau masak apa?" tanya Zander setelah beberapa saat terdiam.
"Kari! Kamu suka?"
"Heeemmm.." Zander mengangguk.
"Baguslah! Nanti makan yang banyak." Ucap Xia dengan mengulas senyumnya.
DEG!
Jantung Zander berdetak lebih cepat melihat Xia yang tersenyum begitu manis untuknya.
"Jangan!" Zander menelan ludahnya susah.
"Ng?" Xia menoleh.
"Jangan tersenyum pada orang lain selain aku."
"Haaaa?"
Zander memotong bombai dengan sembarang hingga jarinya teriris. Xia yang melihat jari Zander berdarah segera menarik tangan suaminya itu. Lalu memasukkan jari yang berdarah kemulutnya. Jantung Zander kembali berdetak kencang. Wajahnya mulai merona.
"Sudah!" ucap Xia melepaskan tangan Zander. "Lain kali hati-hatilah."
Xia kembali pada aktifitasnya. Sementara Zander membeku. Zander tersadar lalu mengiris lagi jarinya yang lain. Dan menyodorkannya kewajah Xia.
"Astaga!? Sudah teriris lagi?" seru Xia memasukkan lagi jari Zander kemulutnya menghentikan darahnya dengan air ludahnya.
"Sudah! Hati-hatilah. Jangan sampai teriris lagi." ucap Xia kembali memotong kentang.
Lagi- lagi Xia disodori jari Zander yang lain. Yang juga berdarah.
Mata Xia membola."Lagi?" pekiknya. Xia menghisap jari Zander.
"Hati-hatilah jangan sampai teriris lagi." seru Xia merasa kasihan juga ZNder sedari tadi terus teriris. Xia menoleh melihat Zander. Agar tak usah membantu. Namun Mata Xia terkejut dan terlonjak. Zander dengan semgaja mengiris jarinya sendiri.
"Kauuuuu!!" Geram Xia, "Keluar sana!"
Xia menendak Zander keluar dari dapur.
"Jariku teriris, beluum..."
BLLLAAAMM! (Suara pintu dapur dibanting Xia)
Dengan sedih Zander menghisap jarinya yang berdarah sendiri, Berjalan lunglai ke meja makan.
*****
Di dapur,
Xia memotong kasar kentangmya dengan jengkel.
"Sialan! Aku sudah sempat merasa kasian padanya tadi." gumam Xia marah.
"Xixixi.... Tuan Zander sengaja mengiris tangannya agar mendapat perhatian dari nyonya.. Tuan Lucu sekali... xixixi..." kekeh Bibi Ana yaang mengintip mereka sedari tadi dibalik tembok bersama beberapa pelayan.
"Cinta ternyata menyakitkan ya bibi Ana." sahut pelayan yang lain berdecit.
____€€€____
Reader kuuh , kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
__ADS_1
Salam___
😊