Gairah Cinta Semalam

Gairah Cinta Semalam
Chap 75


__ADS_3

"Suamiku?"


Xia, mengeratkan pelukannya pada tubuh Zander.. Sehabis pertempuran malam itu.


"Apa Zene sungguhan tak punya pacar?"


Zander menghela nafasnya dengan sabar.


"Kenapa menanyakannya lagi?"


"Aku hanya ingin tau."


"Kau menanyakannya berulang. Dan aku juga sudah menjawabnya sampai lelah."


"Bagaimana kalau kita dekatkan Susie dan Zene?"


"Tidak usah."


"Kenapa?" Xia memukul dada bidang suaminya itu dengan sedikit mengangkat tubuhnya menjauh dari suaminya.


"Zene tidak tertarik pada wanita."


Zander menarik kembali lengan Xia dan mendekapnya.


"Jangan terlalu jauh dariku. Aku bisa kangen."


"Apa sih? Orang masih disini juga."


"Tubuhku kanngen. Jika tidak menempel dikulitmu."


"Iiiisshhh.." Xia mencubit perut Zander.


"Auuu.. sakit sayang." Zander mengusap perutnya.


"Oo iya, kapan USG lagi? Aku sangat ingin melihat doble J laki-laki atau perempuan."


"Sebenarnya, besok juga bisa."


"Oh ya? Kalau begitu besok ke dokter ya."


Xia mengulas senyum.


"Ookkeeeyyy... Udah istirahatnya ya, waktunya jenguk Doble J lagi..." gumam Zander dengan riang dan bersemangat.


"Kamu.... Bolak balik apa tidak lelah?" kesal Xia, mendorong dada Zander yang sudah sibuk mengecupi tubuh Xia.


"Tidak ada kata lelah untuk mengekspresikan rasa cintaku..." Zander memegang dagu Xia dengan lembut dan mendekatkan wajahnya.


"Uuummmppp...."


Kedua bibir anak manusia itu sudah menyatu.


"...terserah kau saja...." dessaaahh Xia mengikuti permainan suaminya.


***


###


Esok menjelang siang, Xia tengah bersiap untuk USG. Menunggu Zander menjemputnya. Setelah memberi sentuhan akhir di bibirnya Xia tersenyum menatap pantulan wajahnya di cermin.


Hpnya Xia bergetar. Gegas Xia menggeser tombol Hijau.


📞:"Tunggu sayang, aku sedang bersiap."


📞:["Xia, ini aku...."]


Wajah Xia menunjukkan keterkejutan.


****


Disebuah restoran yang saat itu tak begitu ramai, Alan duduk dengan gelisah. Menatap beberapa kali arloji yang melingkar ditangannya. Beberapa waktu kemudian. Seseorang yang dia tunggu datang.


Xia datang berdiri didepannya dengan perut yang buncit.

__ADS_1


"Duduklah, nak."


"Kenapa papa memanggilku?"


"Aku hanya rindu pada anak gadisku."


Xia tertawa lucu mendengar ucapan Alan. Xia meletakkan bokongnya di kursi seberang papanya.


"Kau mau minum sesuatu?"


"Tidak papa. Aku sudah ada janji dengan Zander."


"Ooh, begitu?" ucap Alan lemas."Sudah berapa bulan? Sepertinya cukup besar."


Xia menelan ludahnya


"ini masuk bulan ke empat."


"Benarkah? Itu tidak terlihat seperti perut empat bulan."


"Twiinnss, papa."


"Benarkah?"wajah Alan terlihat begitu sumringah. "Jadi aku akan memiliki cucu kembar?"


"mKenapa Papa mencariku?"


"Xia. Papa tau hubungan kita selama ini sangatlah tidak baik. Papa sangat menyesalinya."


"Itu sudah berlalu papa, tidak perlu di ungkit lagi."


"Tetap saja, papa merasa menyesal. Karena itu, maafkan papa Xia."


"Aku sudah melupakannya."


Alan tersenyum kecil. "Mengenai hal lainnya, bisakah...."


Dengan berhati-hati Alan bertanya, dia sedikit melirik Xia. Gadis itu membuang nafasnya.


"Xiaaa...."


"Papa tenang saja. Aku masih punya hati pada kalian yang sudah pernah merawatku. Kalian tetap bisa bekerja disana. Tetap pada posisi kalian, hanya, akulah yang nanti nya menentukan setiap putusan dan langkah."


"Xia,, Kau sudah memiliki Zander. Dia sangat kaya, kenapa masih mau mengambil perusahaan kecil seperti ini?"


"Papa, sejak awal itu milikku. Dan aku hanya mengambil kembali apa yang menjadi milikku. Itu bukan kejahatan." ucap Xia tajam.


"Yang jahat itu adalah, menghiati, lalu membuat mati. Memgambil semua milik istrinya, dan membodohi anaknya."


Xia beranjak dari duduknya.


"Aku permisi! Zander bisa meledakkan tempat ini jika aku terlalu lama disini tanpa sepengetuhuannya."


Xia melangkah meninggalkan Alan yang lemas. Xia melangkah dengan menahan perih dihatinya. Bahkan saat papanya datang mencarinya pun itu untuk perusahaan Tan.


"Memang sekalipun aku tak pernah dianggap keluarga. Tidak perduli apa yang sudah aku lakukan. Aku tak pernah berarti apapun untuk kalian. Aku hanyalah orang asing yang dianggap keluarga saat butuh bantuan." Batin Xia mengusap lelehan di pipinya.


Diluar pintu Kafe, Xia tertegun, mendapati Zander sudah berdiri disana menyambutnya dengan senyuman hangat. Mata Xia semakin berembun.


"Kenapa hanya dia yang menerimaku? Kenapa hanya dia yang menyambutku? Hanya Dia keluargaku sekarang...."


Xia berhambur memeluk suaminya. Dalam pelukannya, Xia menangis sesenggukan. Zander mengusap sayang kepala Xia, memeluk tubuhnya dengan hangat.


***


####


Dalam ruang Dokter Obgyn, Xia diperiksa. Mata-mata melihat pada layar dikomputer yang tersambung dengan alat USG.


"Perkembangan sesuai dengan usia kandungan. semua sehat dan baik." ucap Dekter Obgyn.


"Dan ini sudah telihat jenis kelaminnya."


Dokter menjeda ucapannya melihat reaksi yang Zander perlihatkan. Pria itu terlihat datar. Namun Dokter itu yakin, suami pasiennya itu sangat antusias mengingat bagaimana dulu pria itu bereaksi saat tau istrinya hamil.

__ADS_1


"Mungkin dia sedang menahannya sekuat tenaga. Aku sangat menantikan reaksi tuan Xander saat mengetahui jenis kelamin anaknya. xixixi..." suara dalam hati sang dokter.


"Ini adalah laki-laki."


"Apakah semuanya laki-Laki?"


"Ini sepasang. laki-laki dan perempuan."


Dokter itu melirik Zander lagi. Pria itu masih terlihat datar. Dokter terlihat sedikit kecewa.


"Apa tuan Zander tidak menginginkannya? Kenapa dia datar saja?"


Setelahnya Xia dan Zander keluar dari gedung rumah sakit. Zander mengantar Xia kembali kerumah, sedangkan Dia sendiri kwmbali kekantor.


Zene yang sedari tadi melihat Zander begitu datar dan tak berekpresi mengulas senyum.


"Aku penasaran seberapa kuat anda menahannya tuan." batin Zene dengam wajah bahagia.


Zander berjalan dan berhenti didepan ruangannya. Di ikuti Zene dibelakangnya.


"Zene!"


"Iya Tuan."


"Hari ini harusnya ada meting dengan Karyawan bagian sekertariat bukan?"


"Tidak ada tuan."


"Aku bilang ada! Itu berarti ada!" Zander melirik tajam asistennya itu.


"Ia.. Iya.. Ada tuan!" ucap salah satu sekertaris Zander yang melihat aura gelap disekitar Zander.


"Ayoo tuan Zene kita meeting dulu." ajaknya, "Semuanya cepat tinggalkan pekerjaan dan meting keruang teratai lantai 5."


Zene terkekeh. "Tuan, Jika anda membutuhkan soundsistem, saya sudah meyiapkanya di ruangan anda."


"Cepat! Pergi meeting!" usir Zander dengan jengkel karena anak buah nya tak ada yang beranjak.


Setelah melihat para karyawannya berlarian. Zander menghela nafasnya.


Dia membuka pintu ruangannya dan tersemyum dengan riang.


Zander mengeluarkan foto USG dari saku jasnya. Bahu pria itu berguncang.


"Hi... hi... hi... huahahahaha....."


Zander menghidupkan sounsistem yang sudah Zene siapkan. Pria itu bergojet dengan riangnya..


CEKLEK!


Zander yang sudah kayang-kayang melihat kearah pintu.


Kepal Zene dan para karyawan laknut nya mengintip dibalik celah pintu dengan wajah menahan tawa.


Tentu saja Zander geram dan malu setangah mati.


"tidak pergi juga? Zene! kalian tidak gajian bulan ini!"


___€€€___


Udah mau End aja nih, tinggal beberapa bab aja. Yuk mampir juga ke karya on going othor lainnya,


GADIS BERDARAH PANAS.


Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.


like dan komen ya


Terima kasih.


Salam___


😊

__ADS_1


__ADS_2