
"Aauuu..."
"Aaauuuu..."
"Sakit Xia.. Bisa pelan sedikit tidak?"Rengek Peter,
Xia yang merasa bersalah pada Peter karena suaminya sudah membuatnya babak belur begini. Mau tak mau ikut Peter pulang dan merawat luka-luka Peter.
"Bagaimana kalian bisa bertengkar?"tanya Xia yang masih merawat wajah Peter yang luka.
"Aku tidak tau. Dia tiba-tiba menggebrak lalu memukuliku." jawab Peter.
Xia terdiam. Mengingat perangai Zander yang marah tiap melihatnya dekat dengan seseorang membuatnya percaya pada Peter.
"Tapi, dia tak pernah memukul orang selama ini. Apakah ada pemicu lain, atau karena aku selalu menenangkannya, jadi aku tak tau sifat asli Zander." batin Xia bermonolog.
"Sudah."ucap Xia menutup kotak p3k setelah menyelesaikan merawat luka Peter.
"Aku pulang dulu." Xia branjak dari duduknya, mata Peter mengikuti wajah Xia yang bergerak naik.
Tangan Peter terulur menahan lengan Xia. Xia menatap tangannya dan wajah Peter bergantian.
"Jangan pergi."
"Aku haru pulang."
"Menginaplah disini malam ini. Kau... Harus merawat lukaku. Ini aku dapat karena suamimu..."pinta Peter dengan wajah memohon.
Xia tertawa kecil.
"Aku sudah merawat lukamu. Aku juga sudah menawarimu untuk kerumah sakit tapi kamunya nggak mau." Xia melepaskan tangan Peter dengan tangannya yang lain.
"Aku harus kembali jika tak ingin membuat suamiku semakin salah paham. "sambung Xia lagi.
"Apa kamu pikir kamu akan selamat jika aku menginap di sini? Mungkin saja nanti pria itu akan datang dan membakar rumah ini agar kita berdua terpanggang didalamnya."kekeh Xia melebih-lebihkan.
"Aku pulang dulu."
"Biar kuantar." Peter mulai beranjak.
"Tidak usah."
"Bagaimana jika pakai mobilku, disini sulit menemukan angkutan."Peter mengangsurkan kunci mobilnya.
"Tidak usah."tolak Xia tegas. "Aku pulang."
Xia melangkah lebar-lebar keluar dari kediaman Peter. Xia berjalan di sisi trotoar. Mengambil hp nya untuk memesan taksi online. Xia tertegun.
"Kenapa ini?"
"Kenapa tak bisa?"
Xia mencoba mengecek quotanya. Lalu menepuk jidatnya.
"Quotaku abis. Kok bisa? Disaat seperti ini lagi." gerutunya pelan. Xia kembali berjalan, dan berhenti di halte bis. Xia mendudukkan bokongnya disana. Menatap lalu lalang kendaraan. Pikirannya kembali terpaut pada suaminya, Kenapa Zander begitu marah sampai memukul adiknya seperti itu? Xia ingat dia dan Peter hanya pulang bareng dan Xia tertidur. Bangun-bangun malah melihat pertunjukan gladiator Zander.
Xia menghela nafasnya, bersamaan dengan bus yang berhenti. Dengan pandangan kosong dan lemas Xia memasuki bus itu. Membayar dan duduk di dekat jendela.
Di dlam bus, Xia kembali kepikiran Zander. Teringat dengan wajah marah dan kecewanya pria itu, membuat hati Xia bergemuruh. Entah apa yang pria itu lakukan, bahkan sampai sekarangpun belum menghubunginya. Atau pun menyusulnya. Mungkin dia beneran marah, tapi tindakannya itu tidak bisa dimaafkan.
Tanpa terasa Xia memejamkan matanya, menikmati goyangan bus yang melaju. Sungguh menyenangkan. Tiba-tiba bahunya diguncang. Xia membuka matanya. Melihat sang kondektur bus menggoyang bahunya dan menatapnya. Xia membuka matanya lebar-lebar.
"Mbak, ini sudah sampai pemberhentian terakhir. Mau turun nggak?" ucap kondektur itu.
__ADS_1
"Hhaaahh?"
Xia terperanjat.
"Pemberhentian terakhir?" Tanya Xia memastikan dengan wajah terkejut yang tidak dapat disembunyikan.
"Iyaa! Ini pemberhentian terakhir."
"Tapi.... Bukan inj tujuanku..."Xia bergumam pelan."Ini dimana?"
"Turunlah mbak. Kami juga mau pulang."
Xia akhirnya turun dari bus di ikuti sang kernet.
"Mas, ini... Apa akan ada perjalanan bus lagi?"
"Tidak. ini yang terakhir."
"Apa?"
"Sudah ya mbak. ini sudah malam. Kami harus pulang." pamit sopir dan kernet itu berlalu.
"Tunggu!"
Xia menyentak nafasnya kuat-kuat. keluar dari halte bus terakhir.
"Aku pikir aku hanya tertidur sebentar tadi." gumam Xia lemas melirik jam yang melingkar di lengannya sudah jam 9 malam.
Xia terduduk lemas di trotoar, melihat sekeliling. Tempat itu sangat gelap dan sunyi hanya suara jangkrik dan kodok yang terdengar.
"Ini dimana?" gumamnya lemas.
Xia melihat di ujung jalan ada penjual makanan. Xia berjalan mendekat dan masuk kedalam tenda penjual makanan itu. Tampak ibu-ibu paruh baya yang sedang mengoreng gorengan dan beberapa orang pelanggan yang jajan disana.
"mie rebus satu ya, bu."
Ibu penjual melirik sedikit pada Xia, karena dia tampak asing.
"Ya." jawab ibu penjual singkat.
Xia mengambil gorengan yang berada dinampan diatas meja depan. Lalu menggigit kecil. Xia memandang sekitar. Disana hanya duduk dirinya dan sepasang paruh baya.
Xia menghela nafasnya.
"Ini mie nya Mbak." ucap Ibu penjual meletakkan mie pesanan Xia didepannya.
"Makasih, bu." jawab Xia mengambil sumpit dan sendok.
"Bu, ini nama kotanya apa?"
Ibu penjual tersenyum ramah.
"Mbak nya orang asing ya? Ini desa Rawa."
Xia tertegun.
"Aku baru dengar ada desa Rawa."
"Mbaknya kesini ada apa?"
"Saya tersesat bu."jalas Xia, "Dimana saya bisa ketemu hotel ya? atw tempat menginap mungkin."
"Wah, jauh itu mbak, kalau dari sini." timbrung wanita paruh baya yaang duduk diseberangnya.
__ADS_1
Xia menoleh.
"Oohh ya?"
"Kalau dari sini, ikut jalan ini saja lurus mentok belok kanan skitar 100 meter baru ada Penginapan." terang si ibu pelanggan.
"Aahh,, begitu." lemas Xia kembali memakan mie nya.
Xia mengunyah sambil berfikir. Dia teringat Zander, mungkin saja pria itu menghubunginya saat dia tertidur.
Gegas dia mengambil ponsel ditasnya. Lalu memencet tombol power, sayangnya ponselnya sudah kehabisan batre.
Xia kembali menghela nafasnya. Lalu kembali makan. Dan memasukan kembali ponselnya. Setelah cukup kenyang Xia berniat membayar.
"Bu, berapa semua? Teh hangat, mie dan dua goremgan."
ibu penjual menyebutkan nominalnya. Xia sibuk mengobrak-abik tasnya, Mata mendelik, tak menemukan dompetnya yang dia simpan ditas.
"Mana? Mana dompetku?" gumam Xia panik.
"Hilang? Jangan donk!" Xia merogoh kantongnya, memcari sisa-sisa uang recehan.
"Yang penting bisa buat bayar makan dulu." pikir Xia saat itu.
Setelah mendapatkan uang sisa sedikit dikantongnya Xia memberikannya pada ibu penjual. Lalu dia pamit pergi.
Xia berjalan gontai,
"Kenapa aku sial begini? Salah naik bis, nyasar, hape mati, dompet hilang."rintih Xia sedih..
"Sudah semakin malam..."
Xia berjongkok lemas memeluk lututnya di pinggiran trotoar. Dan terisak kecil.
"Mulai dingin...."
Xia jadi teringat lagi pada suaminya Zander.
"Apa ini hukuman karena aku pergi meninggalkan suami dan marah?" isaknya,
"Maaf Zander!"
Xia menenggelamkan kepalanya di lutut.
"Maafkan aku! Aku pasti sedang dihukum Tuhan karena marah pada suamiku...." lirihnya memeluk erat lututnya.
"Kamu memang patut dihukum!"
Mendengar suara yang tak asing ditelinganya, mata Xia membulat dan mendongak cepat...
_____€€€_____
Coba tebak siapa yang datang?? 😁
Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
😊
__ADS_1