
Susie meniup luka diwajah Jil. Dia mengobati bekas pukulan Andi. Susie menatap pria yang terus memperhatikannya itu.
"Kenapa?" tanya Susie masih mengolesi luka diwajah Jil.
"Seorang dokter tidak boleh terlihat memiliki memar seperti ini." ucap susie lagi.
"Aku sangat bersyukur pria itu memukulku sampai seperti ini."
Susie menghentikan pergerakan tangannya,
"Dengan begitu aku bisa sedekat ini denganmu."
Susie terkekeh kecil.
"Jangan menggombal." cibir Susie masih terkekeh."Harusnya kau yang menghajar dia. bukan bersikap sok gagah seprti tadi, tapi justru kena pukul lebih banyak." Ejek Susie dengan senyum geli.
"Sudah kubilang aku ini dokter. Mana boleh dokter menambah jumlah pasien rumah sakit dengan tangannya yang berharga ini."
Susie tergelak.
"Jangan kau samakan dokter dengan ganster macan doble Z."
Susie terdiam sejenak mendengar doble Z.
"Siapa doble Z?"
"Zene dan Zender. Mereka lebih pantas disebut gangster."
Susie merungkai senyumnya, tentu membuat Jil berdetak kencang.
"Sudah berapa lama kalian saling kenal?"
"Sejak kecil." balas Jil dengan kesal."Mereka sudah jadi gangster sejak kecil."
"Ada apa diantara kalian? Apa kau ditindas mereka?"
Jil melirik Susie.
"Tidak. Kami berteman. Diantara kami bertiga aku memang yang paling lemah dalam hal berkelahi."
"Kau seorang dokter yang hebat." susie meletakan krim pereda bengkak dan menggesernya jauh.
"Tentu saja."
"Ceritakan tentang masa kecilmu." Susie melipat kaki dan memeluk lututnya."Aku ingin mendengarnya."
Jil tersenyum, pria itu mulai bercerita tentang masa kecilnya. Susie mendengarkannya dengan senyum yang membuat Jil makin terpesona...
***
####
Beberap minggu kemudian.
Xia ternganga melihat benda biru ditangannya. Itu adalah undangan pernikahan Susie dengan Dokter Jil yang akan diselenggarakan beberapa minggu kedepan.
"Kau, sungguh akan menikah dengan dokter Jil?"
"Heeemm." Susie mengangguk mantap.
"Ini sulit dipercaya."
"Sekarang percayalah."
Xia memeluk Susie dwngan perut buncitnya. Mata Zander membulat, tak terima.
"Hei hei, apa yang kalian lakukan? Mau membuat Doble J -ku tergencet?" Zander memisahkan pelukan Susie dan Xia.
Susie menatap Zander yang mengelus perut Xia dengan hati-hati itu dengan pandangan aneh.
"Apa dia selalu begini?"
Xia mengangguk geli. Susie pun tergelak.
"Jil juga akan seperti ini jika punya baby nanti." Zander merangkul pundak Xia."Bahkan mungkin lebih parah."
Susie mencibir.
__ADS_1
"Aku kangan kamu , Xia, Sudah lama kita tidak bertemu." Susie menggenggam tangan Sahabatnya itu.
"Aku juga." Xia merentangkan tangannya hendak memeluk Susie. Tapi Zander sudah mbelokkannya dan membuat Xia beralih memeluknya.
"Susie kembali terkekeh.
"Oohh iya kapan hpl nya?"
"Bulan depan." Balas Xia masih dalam pelukan Zander.
"Sayang, bisakah kau tinggalkan kami? Aku tidak akan berpelukan lagi." Xia menatap Wajah Zander dari bawah dengan memasang wajah imut menggemaskannya, serta tangan yang membentuk huruf V.
"Baiklah."
Zander mencapit pipi Xia , mendekatkan wajahnya dengan cepat menyatukan bibirnya dengan mulut Xia. Menggisap habis apa apa yang ada didlamnya. Hingga Xia kehabisan nafas.
"Oke. Jika kau membutuhkanku, Aku ada ruang kerjaku." kata Zander melangkahkan kakinya meninggalkan para wanita yang butuh ruang.
Xia mengangguk.
"Tuan Zander sangat menyayangi mu ya Xia."
Xia mengangguk menyetujui ucapan temannya itu.
"Jika hpl mu bulan depan. Kamu tak mungkin bisa datang keacara pernikahan kami."
"Yaahh, aku sangat menyesalinya. Yah, tapi aku akan kirim kan kado terindah padamu."
Susie tersenyum senang,
"Kamu bisa melahirkan dengan lancar dan sehat saja sudah sebuah kado buatku, Xia."
Susie mendekat dan memeluk tubuh Xia lagi. Xia terkekeh.
"Jangan lama-lama." Xia menepuk punggung Susie. Susie pun melepaskan pelukannya.
"Haaa, benar. Nanti tuan posesif marah." Susie menjulurkan lidahnya sedikit.
"Apa kamu masih akan bekerja di Xander?"
Susie menggeleng.
"aaahh begitu. Bagus donk. Kita jadi lebih bisa ketemu.." Xia sumringah.
***
Hari berlalu, tibalah hari dimana Susie mengadakan acara pernikahannya. Susie sudah tampil cantik dengan gaun putih yang bermekaran. Begitu pun dengan Jil, pria itu tampak sangat gagah dengan toxedo warna senada dengan gaun Susie.
Zander dan Zene datang tanpa Xia. Zander terpaksa pergi karena Xia terus merengek untuk pergi, tapi karena kawatir jika sewaktu-waktu Xia melahirkan, Zander pun pergi untuk Xia. Walau sebentar sekedar memberi kado lalu pulang.
"Kalian sungguh-sungguh harus pulang secepat ini?"
"Heemm" Zander menepuk lengan Jil. "Aku menghawatirkan Mommy nya doble Ji. Aku harus berada disana saat kedua baby ku pertama kali melihat dunia. Akulah orang pertama yang dia lihat."
"Ck! Dasar!"
"Kami pergi dulu. Selamat atas pernikahannya."
Zander berbalik dan melambaikan tangannya sambil melangkah.
"Selamat, kau harus lebih kuat menjaga istri dan anakmu kelak." ucap Zene menyalami Jil dan Susie bergantian.
"Tenang saja. Tapi aku tidak akan memakai kekerasan. Tapi, aku akan pakai suntikan kematian. hahaha."
"Dasar dokter gadungan." Zene pun mengambil langkahnya, "Jangan lupa, buka kadoku nanti malam."
"Karena itu spesial." Zene menoleh dengan megedipkan sebelah matanya.
Sebelum pria itu kembali pada langkahnya.
Zander melangkah menuju mobilnya, hpnya bergetar, Zander mengambil hp dari saku celananya.
Panggilan dari bibi Ana. Gegas Zander mengangkatnya.
π:"Ada apa bi?"
π:["Tuan, Nyonya...."]
__ADS_1
Mata Zander melebar. Wajahnya berubah menjadi begitu panik.
π:"Baik. Aku akan menyusul kerumah sakit. Tolong lakukan yang terbaik Bi."
Zander bergegas memasuki mobilnya, tepat saat Zene berada di belakangnya.
"Zene! Cepat! Kita ke rumah sakit sekarang."
"Baik Tuan."
Zene segera melajukan roda mobilnya dengan cepat.
"Tak bisa kah lebih cepat?"
"Ini sudah yang tercepat tuan."
Wajah Zander semakin panik, banyak ketegangan dan kecemasan terserat di wajah tampannya.
"Zene! Cepatlah!"
Dirumah Sakit dalam sebuah ruang bersalin, Xia sedang berjuang menahan rasa sakit diperutnya. Dorongan dari dalam perutnya begitu kuat. Tubuh Xia serasa sangat lemas. Air ketuban juga sudah bercecer dimana-mana.
Wajah Xia semakin pucat,
"Gawat! Jika begini terus. Bayi nya bisa terancam."
"Kita lakukan tindakan caesar saja."
"Dimana keluarganya?"
Bibi Ana mendekat, "Su-suaminya sedang dalam perjalanan kemari."
"Kita harus segera bertindak, nyonya."
Tepat saat itu Zander datang dengan berlari. Nafasnya terengah.
"Bagaimana istri dan anak saya dokter?"
"Anda suami dari nyonya Xia?"
"Kita harus segera melakukan tindakan operasi. Mohon kerja samanya." seorang suster menyerahkan sebuah berkas prosedur operasi.
Dengan lemas Zander mengambil dan menandatanginya.
"Tolong lakukan yang terbaik."
"Tentu tuan Zander."
Selama beberapa jam Zander, Zene, dan juga Bibi Ana menunggu di depan ruang operasi. Zender begitu gelisah dan tak tenang.
"Kenapa lama sekali?"
Dokter Jil dan Susie yang baru saja selesai dengan pesta pernikahannya pun langsung datang kerumah sakit dan bergabung. Begitu memdengar kabar.
"Bagaimana?" Jil bertanya pada Zene.
"Masih didalam."
Zander yang sudah tak sabar, semakin kesa krena operasi tak kunjung selesai. Zander menggeretakkan giginya.
"Kenapa lama sekali? Jika terjadi apa-apa pada mereka akan kuledakkan tempat ini!"
"Tenangkan dirimu! Jangan membuat malu dengan berperilaku barbar." Jil menahan lengan Zander yang kalap.
Pintu ruang operasi dibuka, Dokter pun keluar dengan pakaian hijaunya.
"Keluarga pasien."
Zander berlari mendekat. Menatap dokter itu penuh harap.
____β¬β¬β¬____
Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
__ADS_1
Salam___
π