
Sore itu Xia sudah bekerja seperti biasa. Didepan tempatnya bekerja, Xia menunggu jemputan. Dia memang tidak membawa mobil sendiri. Zander ingin menjemput katanya.
Di tempat biasa para karyawan menunggu jemputan, Xia duduk di bangku panjang. Menanti suaminya.
"Kenapa lama sekali?" gumamnya, saat satu persatu para karyawan sudah pulang. Xia mengambil hpnya, memghubungi Zander.
π:"Sayang, masih lama nggak? Aku pulang dulu ya, ada ojek mangkal disini."
π:["Jangan! Sebentar lagi aku kesana."]
π:"Apa? Sebentar lagi kemari? Jadi kamu belum Otewe?" Suara Xia kesal.
π:"Aku sudah menunggu satu jam!"
π:["Iya! Sebentar lagi selesai. Jangan kemana-mana. Apalagi numpang sama pria lain!"]
π:"Tu....."
TUTUTUTUT.
"Apa? diputus? Hiiihhh!" gemas Xia melihat layar hpnya yang sudah tidak tersambung lagi.
Xia memasukkan hpnya kedlam tas.
Sebuah mobil yang sudah terperkir cukup lama di depan kantor tempatnya bekerja itu, bergerak mendekat dan berhenti tak jauh dari Xia menunggu. Kaca pintu pengemudi turun. bersamaan dengan suara klason yang cukup mengagetkan.
Xia menoleh padanya, Peter menyembulkan kepalanya.
"butuh tumpangan?" tawarnya dengan senyuman yang sangat tampan.
"Tidak, terima kasih." tolak Xia melambai.
"Ayolah. Kamu sudah disini satu jam lebih."
"Aku memang berniat lebih lama disini. Jika tidak, aku sudah naik ojek dari pada duduk diam disini." tukas Xia membuang mukanya.
"Ayolah, sudah sangat lama kita tidak berjumpa kan? Apa kamu sudah lupa dengan temanmu ini?"
Xia menoleh dan menatap Peter dengan malas dan kesal tentunya.
"Teman katamu?" Xia mengumbar senyum palsunya."Seorang teman tidak akan mengambil kesempatan saat temannya tertidur pulas dengan masih menyimpan rasa percaya padanya."
Wajah Peter berubah, dia tertegun
"Apa dia sudah mengetahuinya?" batin Peter.
"Suamiku sudah datang. Maaf. Jangan datang lagi!" sinis Xia melangkah melihat mobil Zander yang baru saja berhenti.
Zander keluar dari mobil dengan wajah merah menahan kesal, Xia langsung menarik lengannya dan mendorong suaminya kembali ke mobil.
"Asisten Zene! Jalan!"
"Baik!"
Peter masih mencoba mengejar dengan mendekat dan menepuk pintu mobil yang Xia tumpangi,
"Xia!"
__ADS_1
"Xia! Aku bisa jelaskan!"
Hingga mobil itu bergerak menjauh.
"Xia!" teriaknya menatap berharap Xia kembali. Tapi mobil yang ditumpangi gadis itu berlalu makin jauh.
###
Di dalam mobil hanya ada keheningan. Baik Zander maupun Xia tak mengatakan sepatah katapun. Mereka hanya saling menunggu, salah satu memulai.
Zene yang menyetir didepan memilih menekan tombol penyekat agar bosnya itu lebih leluasa dan beri privasi.
"Suamiku." / "Istriku."
Suara Xia dan Zander bersamaan. Juga menoleh secara bersamaan.
Karena merasa kikuk akhirnya keduanya malah saling diam dan mengalihkan pandangan.
"A-aku tidak tau dia ada disini. Aku juga sudah memblokir nomornya. Aku.... ummpp...."
Zander sudah membungkam mulut Xia dengan ciumannya.
"Jangan dipikirkan." ucap Zander menyatukan keningnya dengan kening Xia.
"Selama kamu tidak tergoda. Itu sudah cukup."
"Kamu sungguh-sungguh nggak marah? Kamu nggak menyalahkanku?"
Zander menggeleng kecil. "Sebenarnya aku agak terlambat karena menyiapkan sesuatu untukmu."
"Kejutan?"
"Zen! Ke vila Air mengalir."
"Baik."
*****
Sesampainya di vila Air mengalir, Zander keluar lebih dulu lalu membukakan pintu untuk xia, tangannya terangkat menyambut istrinya. Xia meletakkan tangannya diatas tangan Zander dan menjejakan kaki ditanah, keluar perlahan dari dalam mobil.
Di dalam halaman Vila Air mengalir sudah penuh dengan payung-payung terbuka yang menggantung dari untaian-untaian lampu kecil yang menyala yang dibentuk diatas kepala.
Xia menatap dengan takjub. Xia menutup mulutnya. Melihat pada suaminya, yang tersenyum percaya diri.
"Ini baru dihalaman." bisiknya.
Zander menempatkan tangan Xia di lengannya, dan melipat sikunya didada. Xia melangkah pelan, dibawah berserakan daun-daun kering berwarna-warni. Dan beberapa pohon maple terlihat di sisi kiri dan kanan.
"Aku ingat terakhir kali maple ini belum ada."
"Aku mendapatkannya secara eksklusif." bisik Zander sedikit mencondongkan tubuhnya kearah Xia dengan senyum kepercayaan dirinya.
Mereka berdua kembali melangkah dari halaman menuju pintu utama. Begitu pintu dibuka,
Kembali membuat Xia terkesima. Langit-langit bangunan itu dipenuhi oleh bunga berwarna warni. dengan hamparan karpet hijau yang menyerupai rumput halus. Xia menutup mulutnya saking terhore-nya. Dia menatap wajah Suaminya dengan penuh kekaguman dan haru.
__ADS_1
Entahlah, semua menjadi satu, bercampur di dadanya.
"Apa kau suka?"
Xia mengangguk dengan mantap beberapa kali. saking senangnya. Zander memeluk bahu Xia dan membawanya ke dadanya. Mengecup pelan punca kepala wanita itu.
Tak terasa air mata Xia menetes juga, rasa bahagia, senang haru dan entah apa lagi memenuhi seluruh rongga dadanya. Hingga ingin meledak saja. Dan menari-nari mengelilingi ruangan itu.
"Ini akan jadi tempat pernikahan kita nanti. Bagaimana menurutmu?"
Zander mengedarkan pandangannya berkeliling ruangan yang kini penuh dengan bunga itu.
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Semua ini."
Zander terkekeh.
"Aku pernah menjanjikan acara pernikahan yang megah. Dan ini belum seberapa."
Zander melepaskan pelukannya. Lalu menyentuh lengan Xia, menatap kedua bola mata gadis itu.
"Saat acara pernikahan kita dimulai. Dan semua tamu sudah hadir, kita mengikrarkan janji. Kau adalah milikku seutuhnya. Begitupun diriku, milikmu seutuhnya. Tidak akan bisa mundur lagi." ucap Zander serius."Jadi Xia, siapkah kamu benar-benar untuk menjadi istriku? Melahirkan anak keturunanku? Karrna sampai mati tidak akan aku lepaskan."
"Istriku, aku beri kamu kesempatan satu kali untuk pergi hari ini..."
Zander menelan ludahnya, "Kau boleh pergi sekarang..... Jangan kembali.. Tapi jika kamu memutuskan untuk tinggal jangan pernah berfikir untuk pergi.."
Zander melepaskan tangan Xia. Dan mundur satu langkah. Netranya menatap Xia yang juga menatap bola matanya.
"Pilihan mana yang akan kau ambil?"
Zander mengulurkan tangannya, dan membiarkannya mengambang. Xia tersenyum kecil lalu berubah jadi tawa geli.
"Kenapa kau ini? Bukankah kita sudah menikah? Kenapa masih ingin memberiku pilihan seperti ini? Apa kau mulai ragu menjalani rumah tangga denganku?"
Zander tersentak.
"Tentu saja tidak!"
"Lalu?"
"Aku hanya butuh keyakinan diri, akan dicintai olehmu. Jika kau pergi. Mungkin kau tidak. Tapi jika kau tinggal..."
Xia melangkah maju memeluk tubuh kekar suaminya."Aku sedang, belajar mencintaimu.."
"Sepertinya ini berhasil, dengan semua sikap manismu... Aku luluh...."
____β¬β¬β¬____
Readers, Kasih semangat donk, biar Othor up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
__ADS_1
Salam___
π