
Xenia Tan pagi itu melangkahkan kaki nya memasuki ruangan manager perencanaan. Setelah dia menikah dengan Darren Alexander, Xenia langsung dipercaya menjadi manager perencanaan. Xenia menangani beberapa project baru.
Xenia duduk di kursi kerjanya. memeriksa beberapa berkas.
"Aku harus menarik perhatian Piter shu agar bisa menang tender." gumam Xenia, "bagaimana caranya?"
"Xia, mungkin aku harus memanfaatkannya." Xenia tersenyum licik. "Cukup untuk menyingkirkannya dari Darren. Jika aku bisa membuatnya terlihat sebagai gadis murahan yang menjual tubuhnya pada pria hidung belang."
"Hmmmpppp... hihihi... hahahah...."
****
Xia menatap pantulan diri di cermin. Hari ini hari pertama dia kerja setelah mengambil cuti untuk resepsi acara pernikahan adiknya Xenia dengan Darren.
"Xia? Masih belum siapkah?" seru Suzie dari luar kamar mandi.
"Iya." Xia keluar disusul suara siulan dari Susie.
Suuiitt.. suuiitt... Cantiknya engener kita." goda Suzie, Xia tersenyum malu.
"Sudahlah, ayo berangkat. Nanti telat." Xia menarik lengan sahabatnya itu keluar kosan.
Sesampai nya di perusahaan Xander. Xia dan Susie membeli sarapan di kantin, mengingat mereka belum sempat sarapan dirumah tadi.
"Xia, kau banyaklah makan sayur biar semakin glowing,"
"Aku udah glowing kok Suzie."
"Yaahh, biar tambah glowing lagi, biar mantan mu itu nyesel ninggalin kamu nikah." kekeh Suzie membawa nampan berisi sarapannya pagi ini.
"Hmmmmpp... tidak perlu. Sudah hidup tak berhubungan dengan mereka lagi sudah cukup." ucap Xia tersenyum kecil."Ayo makan keburu masuk."
Suzie dan Xia menyantap sarapannya dikantin.
"Xia."panggil seorang dari belakang Suzie duduk. Xia mendongak meliat siapa yang memanggil.
"Tumben sarapan sini."
"Ariyo."sebut Xia."Kamu juga tumbem pagi-pagi udah dikantin."
"Duduk sini ya Suz." Ariyo menggeret kursi disamping Suzie lalu duduk disana.
"Heemmm..." dehem Suzie cuek. Xia memicingkan sebelah matanya menatap Sahabatnya itu. Lalu beralih menatap Ariyo. Xia mengangkat kepala, bertanya ada apa. Ariyo hanya mengendikkan bahunya.
"Kamu ngapain pagi-pagi udah sampai kantin." tanya Xia.
"Nyari rokok. Eh, dapetnya malah kalian."cengir Ariyo.
Dikejauhan terdengar riuh suara para wanita, seperti baru melihat artis saja.
"Ada apa itu?"Xia celingukan, "Apa ada pembagian sembako disana?" Gumam Xia tak ingin terlepas.
"Bukan!" tegas Suzie yang telah menyelesaikan makannya."Itu pak direktur Piter. Memang kedataangannya selalu disambut oleh riuhnya suara para wanita pengagumnya."
__ADS_1
"Benarkah? Jaman apa ini? Sampai masih ada yang begitu?"
"Iiisshhh... parah kamu Xia, Direktur Peter banyak yang mengidolakan, wajahnya tampan bagai pahatan dewa. Dia juga sangat kaya, tidak ada celah sedikitpun untuk keburukan dirinya."Ariyo ikut memberi pandangan pengetahuannya.
Xia terkekeh...
"Suzie apa kamu sudah selesai?" tanya Xia melihat Suzie beranjak dari duduknya.
"Sudah. Aku mau masuk skalian liat laporan"
"Aku ikut. Aku juga sudah selesai."
"Hey hey, jadi kalian meninggalkanku?" protes Ariyo sedikit kesal.
Xia dan Susie memasuki area kerja masing-masing. Xia yang lebih banyak bekerja dilapangan dari pada dibalik komputer meja kerjanya memilih langsung ke area produksi setelah membuat laporan dan mengecek beberapa email.
Xia berjalan di lorong kantor dengan membawa alat kerjanya juga helm proyek. Di tengah perjalanannya, Xia berpapasan dengan Piter atasannya. Xia tertegun, jujur saja ini pertama kalinya Xia bertemu dan melihat langsung Piter.
"Ternyata dia masih cukup muda. Wajar jika banyak wanita yang mengidolakannya." Batin Xia saat mereka berpapasan.
'Auranya sangat tidak ramah' batinnya lagi.
'Semoga tidak ada kontak lebih sering dengan orang ini' pikirnya lagi.
Begitu sampai di area produksi, Xia segera mengerjakan beberapa pekerjaan yang ditinggalkan terdahulunya yang belum selesai.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Xia mengambil ponselnya melihat telpon dari siapa itu.
Setelah beberapa kali panggilan yang terabaikan, Xia menerima pesan masuk. Xia mengeceknya,
(Kamu dimana? kenapa tidak pulang? Mama mencarimu! Dan nanti pulanglah! Ada yang mau dibicarakan.) Xenia.
"Huuuhh!! memangnya apa yang mau dibicarakan denganku?" gumam Xia melanjutkan pekerjaannya.
****
Malam itu Xia pulang ke rumah. Mengingat ada beberapa barangnya yang masih tertinggal dan dia harus ambil.
Di meja makan, semua duduk tenang malam itu. Dikarenakan adanya Darren disana. Mereka harus menjaga sikap. Jangan sampai mereka di cap sebagai keluarga yang tak harmonis.
"Xia, umurmu sudah tak muda lagi, bagaimana kalau kamu juga menikah." ucap Silvia Tan menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Aku tak berminat menikah, ma."jawab Xia acuh.
"Lalu apa kamu mau membayang-mbayangi adikmu?"
"Apa maksud Mama, aku membayang-mbayangi?" ucap Xia dingin dengan pandangan tak suka.
"Kau tau sendiri Daren dan kamu pernah punya hubungan, kalau sampai berita ini tersebar di luar, bukankah akan jadi hal yang tak baik? Kamu mau dicap jadi pelakor?"
"Hahahaha... kita tau siapa yang pelakor disini."sinis Xia dengan senyum tipisnya.
"Kak, Kenapa kaka begitu? Kaka tau keadaan yang sebenarnya,"tukas Xenia memprotes, jangan sampai Darren tau jika dia dan mamanya sudah menrencanakan ini semua.
__ADS_1
"Aahh, memang apa yang sebenarnya terjadi? aku tak begitu jelas." ujar Xia dengan senyum dan tatapan menantang.
"xia!" seru Darren. "Cukup! Aku tau aku yang bersalah disini. kamu tak perlu menegaskannya."
"Baiklah."jawab Xia pelan dan melanjutkan makannya.
Xixixi.... akhirnya kak Darren membelaku. Aku harus menggunakan kesempatan ini. batin Xenia.
"Kak, Kaka lepaskanlah Darren untukku. Kami saling mencintai. Kaka harus terima kenyataan." ucap Xenia sok sedih dan merasa bersalah.
"Hahaha.... Saling mencintai?" ujar Xia dengan nada menyindir.
"Aku tak pernah menggenggamnya begitu kuat. Aku sudah tidak memikirkannya sejak kalian kepergok. Nikmati saja kebahagiaan kalian. itu jika kalian bahagia." tukas Xia dengan senyum sinis.
"Xia! kenapa kau begitu kasar pada adikmu?" sentak Silvia meninggikan suaranya. "Sudah sejak tadi mama menahan diri. Ternyata kamu makin kelewat batas!"
"Benar! Aku tau kaka sangat dendam padaku. makanya..." isak Xenia berakting.
"Diam!" Alan meninggikan suaranya hingga beberapa oktaf. "Kita sedang makan! Jangan membuat perdebatan disini!"
Semua terdiam. Dan melanjutkan makan malam.
"Aku sudah selesai. Aku akan pergi."ucap Xia beranjak dari duduknya.
"Kau mau kemana?" tanya Alan tak suka Xia meninggalkan meja makan sementara makanannya masih tersisa.
"Tiba-tiba saja seleraku hilang. Terima kasih untuk jamuannya. Aku sangat menghargainya. Selamat malam." Xia melangkah pergi.
Alan pun tak mencegah. Mungkin lebih baik begini. Daripada berkumpul namun hanya ada pertengkaran.
Silvia ikut beranjak.
"Kau mau kemana?" tanya Alan dingin.
"Aku akan membujuknya sbentar." Silvia menusul Xia cepat.
Tepat di depan pintu, Silvia menarik lengan Xia. Hingga gadis itu berbalik dan saling bertatapan dengan mamanya.
"Ingat! Untuk makan malam mu dengan direktur Morgan."
___€€€____
Reader kuuh , kasih semangat donk, biar aku up terus setiap hari.
like dan komen ya
Terima kasih.
Salam___
😊
●●●
__ADS_1